Se connecterBeberapa bulan berlalu sejak Rian dan Kiki melangkahkan kaki meninggalkan Desa Lembah Asri. Waktu yang singkat bagi seorang kultivator, namun bagi keberlangsungan takdir Kiki, bulan-bulan tersebut adalah masa peremajaan jiwa yang teramat menentukan. Sore itu, perbatasan selatan Desa Lembah Asri kembali dipayungi oleh pendaran mentari jingga yang hangat. Di sepanjang jalan setapak utama yang membelah bukit batu, terdengar gema derap langkah ribuan kaki yang berderap kencang namun teratur. Debu-debu tipis membumbung tinggi ke angkasa, memicu kewaspadaan para penjaga gerbang desa. Estias dan Brakas yang sedang bersantai di pos penjagaan seketika berdiri tegak. Mata raksasa mereka membelalak kaget saat menyaksikan sosok Rian berjalan paling depan dengan Belati Naga Perak Yin di pinggangnya. Di sisinya, melangkah anggun sesosok pemuda berbadan tegap setinggi satu meter dengan zirah emas murni yang memancarkan pendaran petir keemasan, Kiki dalam wujud evolusi sejati. Namun, yang mem
Hawa dingin di puncak Gunung Petir Sambung terasa begitu pekat dan mencekat oleh daya batin petir murni yang membakar udara. Awan hitam raksasa berputar hebat membentuk pusaran pusaran energi raksasa tepat di atas sebuah altar batu kuno yang dipenuhi ukiran sejarah purba. Di tengah altar sakral tersebut, berdiri kokoh Pohon Buah Inti Petir Langit yang memancarkan pendaran cahaya keemasan yang amat menyilaukan mata. Di dahan tertingginya, menggantung sebutir buah berbentuk kristal petir murni yang berdenyut lambat bagaikan jantung kehidupan purba. SCREECHHHHHHHHHH! Sesosok elang raksasa bersayap petir biru Elang Badai Purba meluncur deras dari balik gulungan awan hitam dengan kepakan sayap yang memicu badai angin topan dan kilatan listrik menyengat. Elang penjaga wilayah sakral itu meraung murka, mengayunkan cakar petirnya yang tajam bagaikan pedang dewa, menyambar lurus ke arah Rian yang berdiri tegap membentengi jalan menuju altar! "Kiki! Serahkan elang raksasa ini padaku! Ja
Sinar mentari sore yang berwarna merah keemasan membias anggun di balik cakrawala pegunungan timur. Angin kencang berembus menyapu permukaan jurang-jurang terjal di batas Hutan Purba Binatang Buas, membawa hawa dingin yang menusuk tulang serta aroma muatan listrik alami yang kian pekat. Di hadapan Rian dan Kiki, menjulang tinggi sebuah puncak gunung misterius yang puncaknya terus-menerus diselimuti oleh awan hitam pekat bergelombang. Gunung itu tak lain adalah Gunung Petir Sambung wilayah sakral yang menjadi tempat bersemayamnya buah langka Pohon Buah Inti Petir Langit. Rian melangkah mantap menapaki susunan tangga batu alami yang tertutup lumut licin di lereng bawah gunung. Di pinggang kirinya, Belati Naga Perak Yin tersirat rapi, memancarkan getaran resonansi bayangan yang seolah berinteraksi dengan hawa petir di sekeliling mereka. Sementara itu, Kiki duduk dengan posisi bertapa anggun di atas pundak kiri Rian. Bulu-bulu emas di sekujur tubuh mungil kera itu berpendar lebih tera
Kabut tipis menyelimuti kawasan pegunungan terjal di ujung perbatasan selatan Hutan Purba Binatang Buas. Ketua kelompok Bandit Topeng Tengkorak yang semula lari terbirit-birit ketakutan, ternyata melarikan diri menuju ke markas besar persekutuan bandit wilayah selatan, sebuah benteng batu tersembunyi tempat berkumpulnya belasan kelompok bandit dari berbagai pelosok daerah. Namun, pengembaraan Rian dan Kiki yang melintasi jalur perbukitan itu tidak berhenti sampai di sana. Dalam perjalanan menyusuri hutan, setiap kali ada kelompok bandit regional yang berusaha menyergap atau menghadang mereka, Kiki selalu melompat paling depan. Dengan Petir Keemasan Kuno dan kelincahan gerakan yang telah menyatu dengan Sirkulasi Jiwa Yin-Yang, kera emas kecil itu bertarung secara tunggal secara berturut-turut. Di Wilayah Jurang Gelap, Kiki menumbangkan Kepala Bandit Serigala Merah hanya dengan dua pukulan petir. Di Lembah Batu Putih, Kiki mempermalukan Pemimpin Bandit Besi Hitam dengan menepuk da
Matahari kini telah bergeser naik hingga berada tepat di puncak kepala, memancarkan terik panas yang menyengat di balik celah-celah ranting pohon purba. Udara di dalam hutan terasa agak kusam dan hangat, namun Rian dan Kiki terus melangkahkan kaki menyusuri jalur jurang batu terjal yang dikenal sangat rawan akan bahaya musuh. Saat Rian dan Kiki hendak melangkah melewati sebuah jembatan kayu gantung tua yang membentang di atas celah sungai berarus amat deras, mendadak belasan anak panah beracun meluncur deras dari balik semak-semak bukit batu di seberang. WUSSS-WUSSS-WUSSS! "Awas, ada hujan panah beracun!" teriak Rian seraya dengan sangat cepat memutar Belati Naga Perak Yin di tangannya, membentuk perisai angin bayangan berputar yang menangkis seluruh anak panah beracun hingga patah berkeping-keping! TAK-TAK-TAK! Dari balik celah bukit batu, lalu barulah bermunculan belasan pria berbadan tegap dengan raut wajah yang amat garang. Mereka mengenakan zirah kulit kusam serta meme
Mentari pagi baru saja terbit anggun di ufuk timur, membiaskan tirai cahaya keemasan yang menembus celah-celah kerapatan dedaunan pepohonan purba di perbatasan selatan Desa Lembah Asri. Embusan angin pegunungan bertiup sangat sejuk menyapu permukaan kulit, membawa aroma wangi tanah basah serta kesegaran dedaunan belantara yang selama ribuan tahun terisolasi dari jamahan peradaban luar. Suasana rimba yang sunyi hanya dihiasi oleh kepakan sayap burung-burung hutan serta desir gesekan ranting yang bergoyang pelan. Rian melangkah mantap menyusuri jalan setapak berbatu yang makin lama makin menyempit dan menyelinap ditelan rimbunnya semak beracun Hutan Purba Binatang Buas. Di pinggang kirinya, Belati Naga Perak Yin tersirat anggun dalam sarung kayu berukir sisik naga hitam, memancarkan getaran aura dingin yang amat stabil. Sementara itu, di atas pundak kakinya, Kiki si kera emas kecil yang telah mengikatkan kain merah membara di dahinya duduk dengan posisi sigap. Dua mata bulat merah d
Jeritan minta tolong itu menggema di tengah derasnya hujan dan gemuruh petir. Martis berlari sekencang mungkin ke arah sumber suara dengan jantungnya yang berdebar-debar. Saat Martis tiba, ia melihat tenda Aidit sudah porak-poranda, kainnya terkoyak dan tercabik-cabik oleh tubuh raksasa anaconda it
Sosok misterius itu menatap tajam petir yang Martis maksud. Ia pun berkata dalam hatinya, 'Apa...?! Bukankah Petir ini adalah petir putih? Petir putih adalah petir yang paling tinggi! Celaka, aku belum pernah sebelumnya melawan petir tingkatan ini. Tapi apa boleh buat, aku tidak akan mau dipermaluk
Dalam sejarah hidupnya, sampai saat ini hanya ada dua orang yang mampu menghadapi serangan meteor miliknya. Dan orang kedua itu adalah Martis. "Si-siapa kau sebenarnya?" tanya Edmiral Kaziru yang akhirnya penasaran. "Aku?" Martis menunjuk dirinya sendiri. "Bukankah kau sudah tahu, bahwa namaku ada
Martis dan Gozil melihat bahwa Edmiral Kaziru berhasil menahan serangan yang Gozil lakukan. Melihat itu, Gozil sangat frustasi. Matanya melotot dan ia mengeraskan rahangnya lalu berteriak, "Jangan remehkan kekuatan Ras Naga...!" Gozil pun kembali membuka mulutnya berniat sekali lagi menembakkan bola







