LOGINBeberapa minggu berlalu sejak Rian dan Lina secara sah diangkat menjadi anak oleh Martis dan Mia. Kehidupan di Desa Lembah Asri berlangsung dengan penuh kedamaian dan kehangatan. Setiap hari, Rian dan Lina menikmati kasih sayang yang melimpah dari Mia dan Rafaela, serta bimbingan tegas namun penuh kehangatan dari Martis. Namun, tinggal di lingkungan yang dikelilingi oleh para entitas terkuat di Benua Utama perlahan-lahan menyulut sebuah percikan baru di dalam jiwa kedua anak tersebut. Rian, yang kini berusia 11 tahun, kerap memperhatikan Martis dan Estias saat mereka bersila memicu energi alam. Sementara Lina kecil yang berusia 7 tahun selalu berbinar-binar setiap kali melihat pendaran cahaya sihir pemurni milik Rafaela. Suatu sore di tepi Danau Lembah Asri, Rian dan Lina duduk berdua di atas dermaga kayu, menatap pantulan bayangan mereka di atas air jernih. "Lina..." buka Rian seraya memegang gagang pedang kayu latihan yang dibuatkan oleh Estias. "Aku ingin menjadi kuat. Aku
Pagi yang cerah menaungi Desa Lembah Asri. Angin pegunungan yang sejuk bertiup lembut, menggoyangkan dedaunan hijau di sekeliling rumah kayu Martis dan Mia. Di teras depan, aroma harum teh herbal yang diseduh Rafaela menyatu dengan wangi roti gandum hangat yang baru saja dipanggang. Rian dan Lina duduk berdua di bangku kayu teras, membantu Mia merapikan keranjang buah-buahan. Meskipun duka di hati mereka perlahan mulai mengering setelah pemusnahan Klan Serigala Hitam, tatapan mata kedua anak kecil itu masih menyimpan keraguan akan masa depan mereka. Mereka menyadari bahwa mereka hanyalah dua yatim piatu yang menumpang di desa asing. Martis melangkah keluar dari dalam rumah dengan jubah tempurnya yang melambai tenang. Mata keemasannya menatap lembut ke arah Rian dan Lina, lalu beralih ke arah Mia yang tersenyum hangat padanya. Sebuah kepastian yang telah mereka diskusikan sepanjang malam kini siap untuk diwujudkan. Martis berjalan mendekat, lalu berlutut perlahan di hadapan Ria
Sinar mentari pagi membiaskan cahaya keemasan yang hangat di atas bukit-bukit yang mengapit Desa Lembah Asri. Angin sejuk berembus lembut, membawa aroma wangi bunga teratai purba dan tanah basah. Di halaman depan rumah kayu, Mia dan Rafaela sedang membimbing Rian dan Lina menyiram tanaman herbal. Senyuman tipis dan rona merah di pipi kedua bocah malang itu menandakan bahwa trauma di dalam jiwa mereka perlahan mulai memudar oleh kasih sayang dan kehangatan tempat tinggal baru mereka. Sejatinya, Mia dan Rafaela sudah menganggap kedua anak itu seperti anak mereka sendiri. Mereka berdua tau, bahwa anak seusia Rian dan Lina saat ini sangat membutuhkan yang namanya rasa kasih sayang dan cinta dari keluarga. Rafaela tau betul bagaimana rasanya hidup sebatang kara. BOOOOOOOOOOMMMM! Kemudian, tiga pilar cahaya keemasan menerobos lautan awan pagi dan mendarat mulus di halaman utama desa. Pijakan kaki Martis, Estias, dan Brakas memicu gelombang udara hangat yang membuat warga desa berham
Tiga hari tiga malam telah berlalu di atas tanah berdebu bekas Desa Karang Biru. Angin laut yang berembus tidak lagi membawa kesegaran lautan, melainkan terpaan uap panas Api Suci Merah Membara dan bau darah yang memecah keheningan pesisir. Di tengah lapangan, ratusan anggota Klan Serigala Hitam tergeletak tak berdaya. Tubuh mereka penuh dengan luka-luka bakar meridian, memar kebiruan, serta patahan tulang lengan dan kaki yang tak lagi berbentuk secara wajar. Selama tiga hari berturut-turut, tanpa makanan, tanpa minuman, dan di bawah pengawasan dingin Martis serta dua raksasa Dominion, para perampok kejam itu merasakan secara nyata apa yang dinamakan siksaan versi neraka di atas bumi. Jeritan sombong yang dulu pernah mereka lontarkan saat meratakan desa kini telah berganti sepenuhnya menjadi ratapan histeris yang memilu hati. Rasa sakit fisik yang meremukkan daging dipadukan dengan guncangan mental dari penindasan jiwa milik Martis membuat akal sehat para penjahat itu hancur berke
Jeritan kesakitan yang melengking parau membumbung tinggi di atas puing-puing Desa Karang Biru. Udara pesisir yang semula dipenuhi embusan angin laut kini terasa berat oleh kepulan uap panas Api Suci Merah Membara yang membakar meridian ratusan anggota Klan Serigala Hitam. Setelah beberapa puluh menit kemudian,Ketua Vargan dan para anak buahnya mulai nampak terkulai lemas di tanah hitam berdebu. Kulit mereka kini nampak memucat, urat-urat hitam di tiap tubuh mereka merayap di sekeliling leher, dan napas mereka terasa tersengal-sengal menahan penderitaan luar biasa saat aliran sihir serta daya batin di dalam tubuh mereka terbakar habis dari dalam. Rasa sakit tiada tara ini sengaja Martis berikan. Martis ingin menunjukkan karma buruk atas perbuatan jahat mereka selama hidupnya menjadi perampok yang keji dan kejam. Di sorot mata Martis, ia sedikitpun tidak ada rasa iba. Dari tatapan matanya, Martis justru terlihat masih kurang puas dengan siksaan yang baru saja ia berikan. Ia merasa in
Aura Api Suci Abadi Tingkat Dewa membumbung tinggi di atas Pegunungan Batu Hitam, mengurung seluruh Lembah gersang dalam kurungan keemasan yang tak tertembus. Ratusan perampok Klan Serigala Hitam yang berada di dalam benteng bergetar ketakutan, berlutut di tanah saat merasakan penindasan jiwa yang begitu dahsyat dari raga Martis. Ketua Vargan mengacungkan kapak raksasanya dengan tangan gemetar. "Siapa kalian?! Berani-beraninya mencampuri urusan Klan Serigala Hitam!" Martis tidak menjawab ancaman murahan tersebut. Mata keemasannya menatap dingin ke arah ratusan penjahat di bawahnya, lalu melirik lembut ke arah Estias dan Brakas. "Jangan bunuh mereka sekarang," ujar Martis dengan suara datar yang teramat dingin. "Ikat mereka semua. Kita bawa para pembantai ini ke atas tanah bekas Desa Karang Biru." Estias dan Brakas menyunggingkan seringai raksasa yang mengerikan. Dua raksasa Dominion itu melompat turun dari puncak tebing bagaikan meteor kembar yang menghantam bumi! BOOOOM-B
Jeritan minta tolong itu menggema di tengah derasnya hujan dan gemuruh petir. Martis berlari sekencang mungkin ke arah sumber suara dengan jantungnya yang berdebar-debar. Saat Martis tiba, ia melihat tenda Aidit sudah porak-poranda, kainnya terkoyak dan tercabik-cabik oleh tubuh raksasa anaconda it
Akhirnya pengintai yang berhasil Martis tangkap langsung dibawa oleh Odele untuk diinterogasi.Namun nampaknya, kali ini orang itu benar-benar mengunci mulutnya dengan rapat. Setiap kali diancam dan bahkan dipukuli, orang itu hanya menyeringai. Dan lagi, ia seperti tidak merasakan sakit sedikitpun.Od
Martis memukuli wajah Anton sampai wajah Anton menjadi babak belur.Beberapa menit kemudian Martis berhenti untuk menarik nafas sejenak.Ternyata Anton belum juga kalah. Anton masih bisa bangkit. Namun sayangnya, Martis tidak membiarkan Anton untuk memulihkan dirinya. Martis takut kalau Anton mengguna
Kali ini Martis terlihat agak kesulitan mengindari serangan dari Anton.Nampaknya kekuatan elemen api Anton berbeda dari kekuatan elemen api yang biasanya. Bagaimana tidak? Martis sudah mencoba elemen tanah dan elemen besi untuk menghalau kekuatan api Anton. Akan tetapi, hasilnya tetap sama saja. Api







