LOGINSuara dengung helikopter di atas kepala mereka terasa seperti ribuan lebah yang mengamuk, memekakkan telinga dan mengaburkan pandangan. Leon terkapar di lumpur, darah merembes dari paha dan hidungnya yang patah, sementara Elena berdiri di atasnya dengan napas memburu. Keheningan yang sempat tercipta setelah letusan pistol Leon kini pecah oleh tawa dingin dari pria di helikopter."Sangat dramatis!" teriak suara dari pengeras suara itu. "Tapi kesabaran saya ada batasnya. Habisi mereka!"Laras senapan mesin dari pintu helikopter mulai berputar. Namun, tepat sebelum maut menghujani mereka, Leon—yang seharusnya sudah tak berdaya—melakukan gerakan yang mustahil bagi pria dengan luka tembak di paha. Dengan satu sentakan tangan kirinya, ia menarik kaki Elena hingga wanita itu jatuh tersungkur di atas tubuhnya."Diam atau kita berdua mati!" bisik Leon di telinga Elena. Suaranya bukan lagi suara pria yang sekarat. Itu adalah suara predator yang sedang menghitung langkah.Tratatatatata!Rentetan
Rafe terjatuh dari lantai atas, bahunya tertembak, tapi ia masih terus menembak dengan pistol cadangannya. Rumah Padang itu mulai terbakar di bagian belakang. Api menjilat dinding-dinding kayu tua yang kering, menciptakan pemandangan yang megah sekaligus mengerikan di tengah sawah yang gelap.Leon menarik Elena menuju pintu belakang. Di luar, sawah-sawah membentang luas tanpa perlindungan. Mereka harus berlari di antara pematang dalam gelap sementara peluru-peluru terus mengejar dari belakang."Cepat!" Leon mendorong Elena agar berlari lebih dulu.Suara ledakan besar kembali terdengar dari arah rumah. Bangunan bersejarah itu kini menjadi bola api raksasa. Elena menoleh sekilas dan melihat Leon berdiri di belakangnya, membelakangi api, menembaki dua SUV yang mencoba mengejar mereka melalui jalan tanah."Leon, ayo!" Elena berteriak.Leon baru saja hendak berlari saat sebuah peluru sniper menghantam paha kanannya. Ia terjatuh di atas lumpur sawah yang dingin."Leon!" Elena berlari kembal
"T-tidak bisa terbaca."Elena mulai meremas kertas tersebut dan membuangnya, aura wajahnya agak berbeda.Entah karena apa?Kertas itu masih tergeletak di atas lantai kayu yang kasar, nampak tidak berbahaya di bawah cahaya temaram lampu minyak. Elena mundur selangkah, lalu dua langkah. Ruangan yang tadinya terasa seperti tempat perlindungan yang hangat, tiba-tiba berubah menjadi penjara yang menyesakkan. Aroma kayu tua dan rempah kering kini tercium seperti bau busuk pengkhianatan.Leon, yang masih duduk di tepi ranjang dengan kemeja terbuka dan luka-luka yang mengerikan, menyipitkan mata. "Kamu tidak datang untuk menyelamatkan Ayah. Kamu datang untuk mendapatkan kartu ini. Dan kamu menggunakan ku... kamu menggunakan ku agar Ayah keluar dari persembunyiannya!"Leon terdiam. Ia tidak membantah, tapi wajahnya kembali mengeras menjadi topeng dingin yang tak terbaca. "Dunia ini tidak sesederhana itu, Elena. Ada harga yang harus dibayar untuk keamananmu.""Keamananku atau obsesimu?" Elena
Pintu terbanting terbuka.Sesosok bayangan masuk dengan napas tersengal. Bahunya miring ke satu sisi, bajunya yang semula berwarna abu-abu kini basah oleh noda gelap yang hampir hitam di bawah cahaya kemerahan."Leon!" Elena menjerit pelan, suaranya tertahan di tenggorokan.Leon tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Elena dengan mata yang tampak lebih gelap dari biasanya, mata yang telah melihat neraka dan membawa sedikit darinya pulang. Ia terhuyung, dan Elena segera menangkapnya. Bau mesiu, keringat, dan aroma tembaga yang tajam dari darah segera memenuhi indra penciuman Elena."Kita harus pergi," geram Leon, suaranya parau. "Rafe, kunci jalur belakang. Mereka sudah di gerbang depan.""Tuan, Anda terluka parah," Rafe memperingatkan."Jalankan saja!" bentak Leon.Rafe mengangguk singkat dan menghilang ke kegelapan lorong. Leon menyandarkan seluruh berat tubuhnya pada Elena. Elena bisa merasakan detak jantung Leon yang tidak beraturan melalui kemeja tipisnya.Kendaraan mel
Elena duduk sendirian di kursi logam ruang aman yang terlalu putih untuk disebut nyaman. Lampu neon di langit-langit berdengung pelan, seperti dengusan napas terakhir dari sesuatu yang kelelahan. Di depannya, meja kosong. Tidak ada peta. Tidak ada senjata. Tidak ada Leon.Tangannya masih menggenggam ponsel.Layar itu telah gelap sejak beberapa menit lalu, tapi pesan terakhir yang ia kirim terasa seperti luka terbuka yang menolak menutup.'Ayahku tidak ada di lokasi cadangan.'Ia menelan napas, menahannya terlalu lama, lalu mengembuskannya perlahan. Sejak kecil, Elena selalu percaya bahwa bernapas pelan bisa menghentikan dunia runtuh. Ia salah. Dunia tetap runtuh, hanya saja lebih sunyi.Rafe berdiri di dekat pintu, memberi jarak. Ia tahu kapan harus berbicara, dan kapan diam adalah satu-satunya bentuk penghormatan.“Tim sedang menyisir ulang semua titik,” katanya akhirnya. “Tidak ada jejak pemaksaan di lokasi cadangan.”“Itu artinya mereka masuk tanpa perlawanan,” jawab Elena lirih. “
Setelah beberapa saat. Andrian Romatov selalu datang tanpa suara peringatan.Tidak ada ledakan pembuka. Tidak ada ultimatum dramatis. Tidak ada pesan ancaman yang puitis. Yang ada hanyalah satu pola lama yang Leon kenal terlalu baik: wilayahnya berhenti bernapas, satu per satu.Gudang senjata di distrik pantai mati lampu pukul 02.13.Dua menit kemudian, jaringan distribusi di Sungai Besi menghilang dari radar.Lima menit setelah itu, salah satu kapten Leon tidak lagi mengangkat telepon, dan tidak pernah lagi.Leon berdiri di ruang taktis dengan layar-layar menyala di hadapannya. Peta kota yang biasanya penuh tanda hijau kini dipenuhi titik kuning yang berubah merah. Perlahan. Sistematis. Terlalu rapi untuk disebut kebetulan.“Elena sudah diamankan,” lapor salah satu orangnya, Rafe, suaranya tegang tapi terkontrol. “Kami pindahkan ayahnya ke lokasi cadangan.”Leon mengangguk singkat. Itu satu-satunya kabar baik malam itu.“Siapa yang memimpin di lapangan?” tanya Leon.Rafe menelan luda







