登入"Istriku menyuruhmu belajar dari buku ini... tapi apa kamu tahu apa yang sebenarnya diinginkan seorang pria dari wanita di atas ranjang?"
tanya Satria seraya melirik buku panduan yang terdekap erat di dada Nismara.
Nismara menunduk makin dalam. Mengingat ancaman dan perintah Ndoro Ayu Prameswari untuk pura-pura bisu, ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar, hanya gelengan kepala pelan yang ia berikan sebagai jawaban.
Satria mengamati keheningan gadis di hadapannya dengan alis sedikit terangkat. "Jadi... bagaimana caramu akan melayaniku malam ini?" Suara Satria merendah, bernada lembut namun sarat akan dominasi yang menuntut.
Pria itu bergerak perlahan, lalu duduk di tepi ranjang berukuran besar yang dilapisi sprei sutra.
"Kesini. Duduk di sini," perintah Satria seraya menepuk area kosong di sisinya.
Nismara makin merapatkan tubuhnya, gemetar. Ia kembali menggelengkan kepala pelan, melangkah mundur satu tapak karena cemas.
"Siapa namamu?" tanya Satria lagi.
Nismara teringat pesan Prameswari bahwa ia tidak boleh menggunakan suaranya sama sekali. Dengan jemari bergetar, Nismara memberanikan diri mendekat selangkah.
Ia mengulurkan tangannya, meraba jemari Satria, lalu menggunakan ujung jari telunjuknya untuk menuliskan huruf demi huruf di atas telapak tangan pria yang lebar dan hangat itu:
N-I-S-M-A-R-A
Satria merasakan goresan halus jemari Nismara di kulitnya. Pandangan pria itu berganti dari telapak tangannya ke paras polos Nismara.
"Nismara..." gumam Satria, lalu menatapnya heran. "Kamu... tidak bisa bicara? Jadi kamu bisu?"
Nismara menelan ludah payah. Terjebak dalam sandiwara yang dipaksakan sang nyonya besar, ia akhirnya mengangguk pelan, membiarkan Satria mempercayai hal tersebut.
Satria menghembuskan napas halus. "Kemarilah, Nismara... duduk di sampingku dan bawa bukumu," ulang Satria, kali ini dengan nada yang jauh lebih lembut.
Menyadari ia tak bisa terus menghindar, Nismara melangkah dengan teramat berat lalu mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang.
"Coba kamu buka bukumu. Aku memberimu waktu untuk membacanya," ucap Satria santai.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, Nismara menuruti perintah itu. Namun, baru saja ia membuka halaman pertama, wajahnya langsung merona merah sempurna.
Buku di tangannya ternyata tidak sekadar berisi deretan kalimat instruksi, melainkan ilustrasi dewasa yang amat eksplisit.
Suhu tubuh Nismara meningkat drastis, dadanya naik turun tak beraturan, dan ada desiran aneh berdenyut hangat yang menjalar tepat di area bawah perutnya.
Satria yang memperhatikan perubahan warna kulit dan napas Nismara yang memburu, menyunggingkan senyum tipis. Ia tidak lantas menerkam atau memanfaatkan kepasrahan gadis itu.
Sebaliknya, pria itu menggeser duduknya sedikit menjauh, memberikan ruang agar Nismara tidak merasa terlalu terdesak.
"Wajahmu merah sekali, Nismara," gumam Satria. Suara beratnya terdengar bagai bisikan hangat di udara malam yang dingin. "Apa gambarnya terlalu mengejutkan untukmu?"
Nismara dengan cepat menutup buku itu dan menunduk dalam-dalam, menyembunyikan parasnya yang terbakar malu.
Satria menghembuskan napas pelan, lalu menjangkau tangan Nismara. Jemari pria itu yang lebar, hangat, dan sedikit kasar mengusap punggung tangan Nismara yang terasa dingin. "Dengar," tutur Satria lembut namun tegas, matanya menatap dalam pada manik mata Nismara yang bergetar.
"Aku tahu situasi ini gila. Istriku yang memintamu, dan kamu berada di sini karena kewajiban keluargamu. Tapi aku tidak akan menyentuhmu.”
Nismara melebarkan matanya, terkejut dengan ucapan sang tuan muda yang jauh dari perkiraannya.
Satria mengambil buku erotis itu dari pangkuan Nismara, lalu meletakkannya begitu saja di meja samping ranjang tanpa berminat membukanya lagi.
Nismara meraih lengan baju Satria secara refleks, menatapnya dengan tatapan memohon agar buku itu tidak disingkirkan—takut jika sang nyonya akan menganggapnya gagal melayani jika buku itu tidak dipelajari.
Namun ucapan Satria setelahnya membuat Nismara menyadari bahwa tuan mudanya jauh lebih bijaksana daripada sang nyonya.
"Sekarang, katakan padaku..." Satria meraih telapak tangan Nismara, membukanya perlahan.“Sampai kapan keluargamu berhutang?”
"Nismara! Nismara!"Seorang pelayan muda berusia belasan tahun berlari terengah-engah menghampiri mereka. Begitu menyadari keberadaan Satria di samping Nismara, langkahnya mendadak kaku. Gadis itu terburu-buru membungkukkan badan dalam-dalam, tak berani mengangkat wajahnya sedikit pun."Ndoro Den... maaf, Nismara dicari Ndoro Ayu di kamar mandi," ucap pelayan itu dengan suara gemetar."Hmm," Satria merespons singkat. Tatapannya beralih menatap Nismara. "Setelah membantu istriku, temui aku di ruang baca."Kepanikan seketika menyengat dada Nismara. Gerakan tangannya terangkat panik, memperagakan bahasa isyarat dengan cepat—isyarat sederhana yang belakangan mulai dipahami Satria.‘Jangan, Ndoro Den... Saya bersedia melakukan apa saja, asal jangan buat saya bermasalah dengan Ndoro Ayu.’"Kamu tidak usah khawatir," potong Satria tenang. "Aku hanya ingin bicara tentang Haryo Kalingga. Ayahmu."Mata Nismara membulat sempurna. Nama ayahnya langsung mengunci seluruh persendiannya. Ada apa sebe
"Istriku menugaskanmu di sini?"Nismara tersentak kaget. Untung saja ia tidak sedang bersenandung lirih saat mengelap daun dan kelopak bunga di taman belakang ini. Jika Satria sampai mendengar suaranya, ancaman Prameswari untuk memotong lidahnya benar-benar bisa jadi kenyataan.Pagi itu Nismara sedang menyirami dan merawat tanaman hias. Selain karena memang suka bunga, pekerjaan ini adalah jalannya untuk menghindar agar tidak terus-terusan bertatap muka dengan Satria. Harusnya, ia hanya perlu berhadapan dengan pria itu saat melayaninya di kamar.Dia langsung memutar kepalanya, melihat ke kanan dan ke kiri takut kalau ada pelayan lain yang melihat, khususnya beberapa pelayan yang melayani Prameswari langsung.“Kenapa kamu tampak ketakutan? Apa kamu melakukan kesalahan?” tanya Satria menatap Nismara penuh selidik.“Tidak! Tidak! Saya tidak melakukan kesalahan apa-apa. Tapi saya tidak bisa bertemu dengan Ndoro Den di sini!” jawab Nismara dengan bahasa isyarat sebisanya, kakinya sedikit g
"Bu-Bude... kenapa tanya begitu?"Kepala Nismara tertunduk kian dalam. Kepanikan yang membuncah membuat dadanya kembang-kempis, mengabaikan denyut kebas yang masih menyengat di area sensitif di antara kedua pahanya.Lantas, kenapa jika ia menyerahkan kegadisannya malam ini? Bukankah itu memang tugas utamanya melayani sang tuan di atas ranjang? Malam ini mungkin dia bisa lolos, apakah malam berikutnya akan sama?Mustahil baginya untuk mempertahankan kehormatan satu-satunya itu di bawah tubuh perkasa Satria yang begitu dominan."Karena... aku tidak melihat jejaknya," jawab Bude Murni ketus seraya melempar kain basah ke dalam ember dengan kecipak air yang kencang.Mata wanita tua itu memicing, menatap air bilasan yang bersih tanpa warna pendarahan malam pertama. Ada helaan napas berat yang lolos dari bibirnya."Dengar, Nismara. Aku tidak bisa melindungimu terus-menerus. Kita di rumah ini cuma abdi, cuma budak! Turuti apa pun yang dikatakan Ndoro Ayu dan Ndoro Den, tidak ada bantahan!" te
Bab 07 Hanya BudakBrak!Pintu kamar mandi terbuka lebar, Budhe Murni yang berada di ambang pintu."Keluar kamu, Nismara!" suara Bude Murni terdengar panik dari balik pintu. "Nyonya Prameswari menyuruhmu minum jamu ini sekarang juga. Jangan sampai ada bibit haram yang tumbuh di rahimmu!"Nismara memejamkan mata erat-erat. Dengan tubuh gemetar dan hanya berbalut kain jarik basah, ia membuka pintu kamar mandi lebar.Bude Murni berdiri di sana memegang cangkir seng berisi racikan jamu pahit yang aromanya menyengat. Wanita tua itu langsung menyodorkannya ke hadapan Nismara dengan raut wajah tegang.Nismara menatap cairan hitam itu lama. Entah dari mana datangnya keberanian yang mendadak menyusup ke dadanya, Nismara menatap mata Bude Murni lurus."Memangnya kenapa kalau sampai aku hamil, Bude?" tanya Nismara tiba-tiba, suaranya parau dan bergetar.Bude Murni membelalak lebar, terkejut mendengar pertanyaan lancang itu."Lancang!" umpat Bude Murni seraya menempeleng bahu Nismara pelan. "Kamu
"Tugasmu sudah selesai, sekarang keluar! Jangan mengotori ranjangku!"Prameswari berdiri tegak di ambang pintu kamar yang setengah terbuka. Matanya menusuk lurus ke arah pembaringan.Di atas ranjang, jemari besar Satria menarik selimut sutra tebal, menutupi dada Nismara yang kembang-kempis. Pria itu beranjak turun tanpa terburu-buru, menarik celana sutranya naik membingkai pinggang. Dada bidangnya yang berpeluh dan penuh jejak pergulatan dibiarkan terbuka. Usai menyapu sisa peluh di pelipis, ia menyambar jubah tidur hitam di sisi ranjang, menyampirkannya di bahu, lantas menatap istrinya dengan sorot mata dingin teramat tenang. Nismara tersentak dengan kehadiran Prameswari, dia tidak menduga kalau perempuan itu bakal mendobrak masuk. Seluruh badannya membeku seketika. Dengan paha yang terasa gemetaran dan lemah, ia terburu-buru memeluk selimut rapat-rapat ke dadanya. Area bawah tubuhnya terasa perih dan panas, disusul lelehan hangat benih Satria yang perlahan merembes keluar membasa
"Aghh... Nismara..."Milik Satria berdenyut semakin keras di dalam bungkusan jemari Nismara. Erangan parau pria itu memecah keheningan kamar. “Le–lepas.” Namun, Nismara masih mencoba dan tak mau berhenti didorong oleh rasa takut jika Prameswari tahu dia masuk ke kamar ini tanpa melakukan apa-apa."Le–lepas, Nismara..." bisik Satria parau, menahan napasnya yang memburu tepat di depan bibir Nismara. "Lepas... kamu tidak tahu akan seperti apa jadinya kalau aku sampai hilang kendali." Tanpa peringatan, tangan perkasa Satria menyusup ke sela-sela rambut panjang Nismara, mencengkeramnya dengan tekanan yang menuntut namun tak menyakiti, memandu gerakan kepala gadis itu agar makin merapat ke tubuhnya.Nismara yang pada dasarnya masih sangat kaku dan awam, terus mencoba. Otaknya memutar ulang lembar-lembar ilustrasi dari buku erotis yang ia baca kemarin. Di sana tertulis ada titik-titik saraf di tubuh pria yang, jika diberi sentuhan atau tekanan yang tepat, tak akan sanggup ditolak oleh naf







