Share

Hukuman

Author: Strawberry
last update publish date: 2026-09-19 19:01:59

“Kamu harus dihukum, Nismara…”

Napas Nismara masih pendek saat Satria masih berbisik di telinganya.

Dan kuda yang mereka tunggangi akhirnya berhenti di depan gubuk. Nismara merasa tubuhnya pegal, paha dalam terasa basah dan perih, sementara jejak jari Satria masih terasa panas di kulitnya.

Satria turun lebih dulu, lalu mengangkat Nismara dari pelana seolah Nismara tidak memiliki tenaga sama sekali.

Satria bungkam, hanya tatapan dinginnya yang mengunci Nismara sepanjang jalan menuju bilik. Ia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Benih Keraguan

    "Murni! Karyo!"Teriakan Prameswari terdengar dari dalam kamar di sudut rumah utama. Ruangan bernuansa gelap itu kini tak ubahnya tempat pengasingan baginya. Sudah berminggu-minggu Satria tak pernah lagi tidur di sana. Kalaupun pria itu sesekali pulang, langkah kakinya tak pernah sekalipun mengarah ke ambang pintu kamarnya. Namun, sampai saat ini Prameswari belum menyadari bahwa seluruh rahasia dan rencana telah terbongkar di mata Satria. Pria itu hanya sedang menyusun langkah, menunggu saat yang tepat untuk menghantamnya.Pintu terdorong pelan. Budhe Murni dan Pak Karyo masuk melangkah terburu-buru dengan kepala tertunduk dalam, mereka langsung duduk di lantai."Apa yang kalian temukan tadi malam?" tuntut Prameswari dingin, matanya menyipit, gesturenya menunjukkan kalau dia sudah menunggu dengan tidak sabar. "Jangan beri aku berita buruk lagi. Kalian paham?"Pak Karyo menelan ludah sebelum memberanikan diri bersuara. "Saya dan istri saya bertemu Ndoro Den Satria, Ndoro Ayu… tapi Ndo

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Begini Saja, Keluar?

    "Siapa pun kamu, keluar!" bentak Satria.Pria itu berdiri di ambang pintu gubuk, dadanya bertelanjang dengan kedua tangan bersedekap, menatap lurus ke arah kegelapan rimbunnya pepohonan. Sunyi. Hanya desis angin malam yang menyapu dedaunan kering."Keluar, atau aku yang ke sana!" ulangnya, suaranya rendah dan penuh tekanan.Tak lama kemudian, semak-semak berkresek pelan. Dua sosok melangkah keluar dari kegelapan—Budhe Murni dan suaminya, Pak Karyo. Wajah keduanya pucat pasi. Begitu melangkah ke area tanah terbuka, mereka langsung berlutut di hadapan Satria."Maafkan kami, Ndoro Den… maafkan kami. Kami datang atas perintah Ndoro Ayu," cicit Karyo dengan tubuh gemetar karena ketakutan."Apa yang dia inginkan?" tanya Satria dingin."Ndoro Ayu meminta kami memastikan tempat keberadaan Ndoro Den dan Nismara," jawab Karyo pelan, tak berani mendongak.Kening Satria berkerut tipis. Matanya menyipit, mengunci dua sosok di bawahnya. "Mustahil kalian bisa menemukan tempat ini kalau tidak tahu se

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Di Bawah Kuasa Satria

    Nismara tak langsung menjawab, bahkan menghindari tatapan mata Satria. “Aku tidak peduli apakah kamu mencintaiku atau tidak, Nismara! Karena yang aku tahu kamu milikku!” putus Satria memaksa Nismara untuk menatap matanya dengan mencengkram dagunya.“Ndoro Den…Saya…saya memiliki perasaan yang sama dengan Ndoro Den…” suara Nismara pelan dan parau.“Tunjukkan padaku, kalau memang kamu memilikinya!” tantangnya“Bukan kabur dariku,” bisiknya lagi, kali ini suaranya lebih rendah. “Bukan sengaja menjebakku seperti tadi pagi, bukan?.” tanyanya pelan namun penuh penekanan dan ibu jarinya kini menyentuh puting Nismara perlahan, memutar dengan tekanan yang sengaja dibuat tidak nyaman. “Sekarang kamu akan mengingatkanku… bahwa kamu hanya milikku. Dengan cara yang aku tentukan.”Nismara menggigit bibir. Tubuhnya mulai bereaksi meski ia mencoba menahan. Satria merasakan perubahan itu dan tersenyum tipis—senyum yang tidak hangat.Ia mendorong Nismara telentang, tubuhnya menindih separuh, lututnya

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Hukuman

    “Kamu harus dihukum, Nismara…” Napas Nismara masih pendek saat Satria masih berbisik di telinganya. Dan kuda yang mereka tunggangi akhirnya berhenti di depan gubuk. Nismara merasa tubuhnya pegal, paha dalam terasa basah dan perih, sementara jejak jari Satria masih terasa panas di kulitnya. Satria turun lebih dulu, lalu mengangkat Nismara dari pelana seolah Nismara tidak memiliki tenaga sama sekali.Satria bungkam, hanya tatapan dinginnya yang mengunci Nismara sepanjang jalan menuju bilik. Ia menyibak kelambu tipis, lalu merebahkan tubuh Nismara ke ranjang berpilar empat. Kasur itu sangat empuk dan bersih, yang memang sengaja ia siapkan untuk Nismara.Satria masih berdiri di tepi ranjang tanpa baju, memandangi Nismara yang terbaring lemas. Helaan napasnya berat dan teratur. Tatapannya dingin dan tajam, namun di baliknya tersimpan keraguan yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Nismara menatap Satria dalam diam, sebelum akhirnya dia membuka mulutnya untuk bicara.“Ndoro Den…sa

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Desah di Atas Pelana

    Nismara menyadari janji kebebasan dari Bramantyo tak lebih dari sekadar hitungan politik. Tidak ada pertolongan mendadak, tidak ada pintu keluar yang siap menyambutnya. Kekecewaan itu tidak membuatnya menangis, melainkan mengubah cara pandangnya terhadap permasalahan ini. Nismara menaikkan kaki telanjangnya ke pijakan pelana, membalikkan kuda hitam itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Bramantyo. “Nismara, kamu sabar ya! Aku pasti akan membawamu pergi dari sini!” Janji Bramantyo, Nismara tidak menoleh sama sekali. Ia menarik tali kendali kuat-kuat, memacu kuda melesat kencang membelah rimbunnya hutan. Angin dingin menerpa wajahnya yang basah oleh sisa air mata. Ia membiarkan dedaunan tajam menggores lengannya, menahan perih di kulitnya.Namun, kejutan sebenarnya telah menunggu di depan gubuk.Satria berdiri tegak di pelataran tanah keras, hanya mengenakan celana kain hitam berpotongan longgar tanpa sehelai benang pun menutupi dada bidangnya. Kedua tangannya bersedekap, men

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Kembalilah!

    Nismara menarik tali kendali kuat-kuat untuk menghentikan laju kuda hitam milik Satria begitu derap langkahnya mendekati batas area proyek perkebunan. Napasnya tersengal, telapak tangannya memerah akibat gesekan tali.Dari balik rimbunnya semak-semak, matanya yang tajam memindai area terbuka di depannya. Bramantyo tampak berdiri di sana, namun di samping pria itu ada Sastro yang tengah mencatat sesuatu di atas papan kayu.“Itu Bramantyo…tapi kenapa ada Sastro di sana?” dia bergumam, menatap kedua orang itu dari atas pelana.Nismara segera bergeser turun dari punggung kuda. Dengan gerakan sembarangan, ia mengikat tali kendali kuda ke batang pohon rindang, lalu merayap pelan menyusuri bayang-bayang pepohonan untuk bersembunyi. Jantungnya berdegup kencang. Ia menunggu momen yang tepat, menahan napas setiap kali ada pekerja yang melintas di sekitarnya.Keberuntungan memihak padanya. Tak lama kemudian, Sastro pamit berbalik arah menuju jalan utama perkebunan. Tinggal Bramantyo yang tersis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status