Home / Romansa / Madu Untuk Ndoro / Saat Kebebasan Bukan Lagi Jalan Keluar

Share

Saat Kebebasan Bukan Lagi Jalan Keluar

Author: Strawberry
last update publish date: 2026-09-21 17:26:46

Nismara duduk di atas ranjang dengan kedua kaki ditekuk merapat ke dada, menyandarkan keningnya di atas lutut. Beberapa kali ia menarik napas panjang, mencoba mengurai beban berat yang menghimpit ulu hatinya.

"Belum tidur?" suara lembut Satria memecah sunyi. Pria itu mengulurkan tangan, menyentuh lengan Nismara pelan. "Kenapa? Banyak yang dipikirkan?"

Nismara tidak langsung menjawab. Pikirannya memang terlalu bising oleh keraguan dan ketakutan yang berkecamuk.

"Ndoro Den… apakah benar kelak Ndo
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Madu Untuk Ndoro   Tawaran Bramantya

    Sebuah ketukan keras di pintu utama Kaputren tanpa jeda dan tanpa salam. Suara keras dan berisik itu mengusik ketenangan pagi, membuat Nismara yang sedang merapikan tempat tidur di dalam kaputren menghentikan gerakannya dengan kening berkerut.‘Siapa jam segini datang? Para pelayan tidak akan bertindak selancang ini sepagi ini,’ batin Nismara gusar.Nismara menyapu sisa rasa pegal di bahunya, melangkah menuju depan kaputren. Begitu ia membuka pintu kayu berukir berbentuk kupu-tarung itu, tubuhnya langsung membeku. Kedua tangannya tertahan di tepi daun pintu, membentang kaku menutupi jalan masuk."Bramantya... kenapa kamu datang ke sini?" tanya Nismara dingin.Pria di hadapannya menyunggingkan senyum tipis yang memprovokasi. Pakaian khas priyayi mudanya tampak rapi, namun sorot matanya yang tajam tidak bisa menyembunyikan maksud tersembunyi."Apa kabar, sepupuku?" sahut Bramantya santai, seolah-olah ia sedang mengunjungi kerabat dekat.Nismara menyunggingkan senyum sinis. Tanpa ragu,

  • Madu Untuk Ndoro   Idealisme

    "Satria... kamu sangat keterlaluan! Aku bisa mengerti jika pria tergila-gila dengan gundiknya yang lebih muda, tapi bukan berarti buta sepertimu!"Suara berat Raden Arya Pradipta menggema di ruang kerja Satria keesokan harinya. Pria paruh baya itu berdiri tegak di depan meja kayu jati, menatap menantunya dengan raut wajah penuh amarah yang tertahan.Masih terlalu pagi untuk memprovokasi.Satria tidak langsung merespons. Tangannya masih santai merapikan beberapa lembar berkas di atas meja. Setelah selesai, ia bersandar pada sandaran kursi, lalu menatap Raden Arya dengan senyum miring."Putri kesayangan Paman Arya sudah mengadu apa?" tanya Satria santai.“Kamu!!! Kamu benar-benar keterlaluan!” Geram Raden Arya dengan tangan mengepal kuat dan siap melayangkan tinju kapan saja.Raden Arya menepuk meja kerja Satria dengan cukup keras. "Nasihati gundikmu itu agar memiliki sopan santun! Bisa-bisanya dia menghina istri sah di tengah taman!""Nismara tidak akan bicara kalau tidak diprovokasi l

  • Madu Untuk Ndoro   Menarik Benang Merah

    "Mas Satria... Ndoro Ayu pasti sekarang sedang gelisah..." ucap Nismara pelan.Satria tersenyum tipis. "Biar saja. Orang yang pikirannya hanya berisi rencana jahat pasti akan gelisah."Jadi, ini tadi Satria dan Nismara tahu kalau ada yang mengikuti sampai ke kaputren itu kenapa Satria sengaja mengucapkan kalimat tersebut.Nismara mengangguk. Ia mengulas senyum tipis sambil tangannya telaten meracik teh di dalam teko keramik China antik. Aroma daun teh hangat menguar perlahan, memenuhi udara sore di ruang tengah kaputren."Kenapa kamu terus-terusan memikirkan Prameswari? Orang yang terang-terangan memikirkanmu di sini, tidak pernahkah kamu pikirkan?"Nada suara Satria sedikit meninggi, namun Nismara tahu pria itu tidak bersungguh-sungguh marah. Tak lama kemudian, tangan besarnya sudah melingkar hangat di pinggang ramping Nismara dari belakang."Mas Satria... saya sedang meracik teh panas," Nismara mengingatkan pelan, berusaha menjaga tangannya agar tidak tumpah."Kalau begitu hati-hati

  • Madu Untuk Ndoro   Keraguan

    "Menangis malu? Kenapa aku harus menangis malu? Memangnya kenapa aku harus menangis malu?" sahut Prameswari, suaranya terdengar sangat sombong."Maaf Ndoro Ayu, saya juga tidak mengerti apa yang dimaksudkan Ndoro Den... Nismara itu benar-benar tidak tahu malu!" jawab Mbok Nah yang tadi diutus mencari informasi dan mengikuti Nismara serta Asih kembali ke kaputren."Ah... sudah, jangan bahas dia lagi," potong Prameswari cepat. “Aku langsung mual mendengar namanya saja” Prameswari mengomel.Padahal, sejatinya ia memang sudah merasa kalah, hanya saja ego tingginya sama sekali tidak bisa menerima kenyataan itu.Dari awal, Nismara hanyalah perempuan yang ia bawa masuk untuk dijadikan pengganti, dan seterusnya harus tetap seperti itu. Kenapa sekarang posisinya malah terbalik? Kenapa justru Nismara yang melangkah dengan kepala tegak, sementara dirinya yang terus-terusan mengelus dada memendam keprihatinan?"Mbok Nah... kamu belum ada kabar tentang keberadaan Budhe Murni?" tanya Prameswari ti

  • Madu Untuk Ndoro   Rahasia

    Asih menggamit lengan Nismara rapat-rapat. Jemari gadis itu gemetar, buru-buru mempercepat langkah kaki demi mengejar pergerakan Nismara yang memang lincah meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih."Nismara... tunggu dulu," bisik Asih setengah berbisik, matanya berkali-kali menoleh ke belakang, takut kalau-kalau Mbok Nah atau abdi lain membuntuti mereka dari taman samping. "Memangnya apa maksudmu tadi? Apa... apa Ndoro Ayu bukan darah biru asli?"Nismara menghentikan langkahnya sejenak sebelum menutupi ambang pintu lorong kaputren. Ia melirik Asih dengan raut tenang yang sulit dibaca."Kamu sangat pintar menebak, Asih," sahut Nismara pelan, menyunggingkan senyum tipis. "Tapi lebih baik kita tidak usah membahasnya lagi. Aku hanya menggertaknya."Asih menarik napas panjang, mengelus dadanya yang berdebar kencang. Ia ingin bertanya lebih lanjut, namun tatapan mata Nismara yang dingin menyiratkan batas yang tak boleh dilangkahi.Begitu mereka menginjakkan kaki di pelataran depan kaputren, la

  • Madu Untuk Ndoro   Bukan Dara Murni

    Mau lari ke mana lagi kamu, Nismara?"Suara dingin Prameswari mendadak memotong sunyinya lorong samping kediaman utama.Nismara menghentikan langkahnya seketika. Padahal, ia sengaja mengambil jalur lingkar yang sepi, meniti pelataran batu berlumut dengan bantuan Asih yang memegangi siku lengannya. Tubuhnya masih amat pegal dan lemas usai menghadap Pangarsa Sesepuh di Sasana Agung. Namun, menghindar dari keretakan rumah ini rupanya tidak semudah memutar arah langkah.Di bawah naungan pohon kamboja tua yang membatasi taman dengan paviliun utama, Prameswari berdiri mencegat jalan. Lengannya bersilang di dada, terbalut kebaya sutra pudar yang menyembunyikan kerapuhan fisiknya usai kejadian semalam. Di belakangnya, Mbok Nah berdiri bagai bayangan kelam yang siap menjalankan perintah.“Ada apa lagi mereka menghadang kita,” dumal Nismara merasa kesal. Dia sudah capek terus-terusan berseteru dan beradu argumen dengan Prameswari, namun tampaknya Prameswari memang sangat bersemangat mengajak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status