LOGIN“Kamu anggap putriku mainan? Kalau memang mau melepaskan ya lepaskan!” hardik Arya Pradipta lagi.Satria tidak tergesa-gesa menyambar kemejanya. Ia menyapu pandangan dingin ke arah Raden Arya dan pejabat kepatihan yang berdiri di ambang pintu, lalu beralih menatap Prameswari yang duduk menunduk di sudut ranjang."Tampaknya," ucap pejabat kepatihan itu seraya mencatat sesuatu di buku saku resminya, "gugatan pembatalan pernikahan yang Anda ajukan kemarin gugur demi hukum, Ndoro Satria. Hubungan suami istri yang terjadi secara sah di wisma ini membuktikan bahwa perkawinan kalian masih berjalan."Satria berdiri dari ranjang, mengenakan celananya dengan gerakan kaku dan tenang yang dipaksakan. Matanya mengunci Raden Arya lurus-lurus."Permainan yang rapi, Paman," desis Satria rendah.Raden Arya menyunggingkan senyum tipis seraya memperbaiki letak tongkat kayunya. "Ini bukan permainan, Satria. Ini hukum karesidenan. Sekarang, siapkan dokumen pembatalan penahanan komoditas Tirtawening jika
"Berapa banyak uang yang dibayarkan ayahmu untuk jebakan kotor ini, Prameswari?" Suara Satria rendah, kaku, dan serak. Rasa pening yang luar biasa masih menghantam bagian belakang kepalanya saat ia memaksa matanya terbuka. Saat itu, cahaya matahari pagi menerobos celah jendela Wisma Transit Hilir, menyilaukan dan membawa udara dingin yang menusuk.Di sisinya, Prameswari berpura-pura tersentak “Hah, ya ampun! Apa yang terjadi!”. Ia menarik kain penutup dada dengan gerakan panik seolah tidak tahu apa-apa, napasnya memburu. "Mas Satria... kamu sudah sadar?"Satria merapatkan giginya. Ia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang kayu, menatap wanita di sampingnya dengan pandangan dingin seakan siap membunuh."Jangan berlagak bodoh dan pura-pura kaget," pangkas Satria datar. Suaranya kaku, meski dahinya berkerut menahan pening akibat sisa obat bius. "Kamu yang menyusun semua jebakan ini sejak awal."Prameswari mematung sejenak. Namun, bukannya mundur atau meratapi tuduhan itu, ia justru
“Ndoro Ayu lupa kalau Ndoro Ayu harus menuruti apa yang saya mau.”Agung menarik kain yang menutupi tubuh Prameswari dalam satu gerakan kasar. Kain itu terlepas, menyisakan dada yang terbuka di bawah cahaya lampu minyak yang temaram.“Agung… jangan di sini…” bisik Prameswari, suaranya gemetar. Matanya sempat melirik ke arah Satria yang masih terbaring kaku di sisi lain ranjang, napasnya berat dan tidak teratur.Agung mendekatkan tubuhnya, menekan Prameswari hingga punggung perempuan itu menempel ke sandaran kayu. Ia berbisik tepat di telinga Prameswari, napasnya hangat dan kasar.“Justru itu… Kalau tidak melakukannya, Ndoro Den tidak akan percaya kalau kalian sudah melakukannya.”Setelah berbisik seperti itu, Agung mulai mencium leher Prameswari. Bibirnya basah, gigitannya tidak hati-hati. Tangannya naik, meremas payudara Prameswari dengan kuat, ibu jari menggosok puting yang sudah mengeras karena udara malam dan ketegangan.“Teriak, Ndoro Ayu…” desis Agung di sela kecupan. “Biarkan o
Kedua tangan Satria mendarat di kedua sisi lengan Nismara, sudut bibirnya sedikit terangkat."Karena mereka ingin membuat arus kas perkebunan macet malam ini," pangkas Satria seraya membetulkan gulungan kemejanya. "Aku harus menyelesaikannya sebelum subuh. Kamu tetap di kamar, kunci pintu."Satria melangkah lebar meninggalkan kaputren, membelah kegelapan malam perkebunan menuju jalur hilir.Satu jam kemudian.Gerimis tipis turun mengguyur jalur makadam di kawasan hilir perkebunan. Wisma Transit Hilir—sebuah bangunan kayu tua peninggalan era awal perkebunan yang sepi—tampak remang-remang di bawah naungan pohon beringin.Satria menuntun kudanya mendekati teras wisma. Suasana terlalu sunyi. Tidak ada truk terparkir, tidak ada penumpukan barang seperti yang dilaporkan Sastro.Naluri bahaya Satria mendadak menyala. Pria itu menyadari ada yang tidak beres dan berbalik hendak memutar arah kudanya.BUK!Sebuah hantaman kayu keras mendarat telak di punggung dan bahu kiri Satria dari balik baya
Pintu kamar mendadak ketuk dua kali secara santun dari luar, sebelum Asih melangkah masuk membawa baki berisi cangkir teh hangat. Gadis itu menundukkan kepala dalam-dalam, menaruh baki di meja tanpa berani membuka suara atau mengangkat pandangan. Tata krama abdi kaputren dijaga ketat—ia hanya menjalankan tugas rutinnya, lalu segera membungkuk pamit mundur saat langkah kaki berwibawa mendekat dari lorong.Satria melangkah masuk ke dalam kamar. Kemeja dril abu-abunya tergulung sebatas siku, dan wajahnya tampak kaku penuh kesibukan setelah seharian berurusan dengan surat-menyurat pendopo.Satria merogoh saku kemejanya, mengeluarkan kertas segel baru berstempel notaris karesidenan yang tintanya masih basah, lalu meletakkannya di samping cangkir teh Nismara."Dokumen pendaftaran hak waris tanah bapakmu sudah masuk ke notaris karesidenan," kata Satria datar, tanpa basa-basi. "Tiga hari lagi salinan resminya keluar. Bramantya atau Raden Arya tidak bisa lagi menggunakan surat tua itu untuk
Prameswari berdiri kaku. Kalimat Bramantya yang membandingkannya dengan Nismara membuat dadanya sesak oleh amarah. Jemarinya meremas mantel tipis yang ia kenakan hingga kusut, namun sebelum ia sempat membalas, pintu depan rumah berarsitektur Indische itu didorong terbuka kasar dari luar.Langkah sepatu kulit menapak berat di atas lantai ubin. Prameswari menoleh cepat dengan jantung berdebar.Seorang pria paruh baya berkulit gelap dengan setelan beskap karesidenan melangkah masuk. Tongkat kayu berukir di tangan kanannya menghentak ubin dengan bunyi nyaring. Pria itu adalah Raden Arya Pradipta. Wajahnya yang biasa tenang kini memerah kaku oleh kemurkaan."Prameswari!" bentak Raden Arya, suaranya yang berat memenuhi ruang tamu yang sepi. "Apa yang kamu lakukan di sini?"Prameswari tersentak, mundur satu langkah. "Bapak...""Kamu berlari ke kota sendirian tanpa memberitahuku?" Raden Arya melangkah mendekat, mengabaikan Bramantya yang berdiri di dekat meja jengki. "Kamu pikir tindakan ter







