INICIAR SESIÓNMalam turun membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Kontrakan kami sudah jauh lebih rapi setelah seharian dibersihkan, tapi udara di dalamnya terasa berat, seolah dinding-dinding ini tahu bahwa pertempuran akan segera pecah.Kami berkumpul lagi di ruang tengah, duduk bersila di atas karpet. Hanya lampu bercahaya kuning di sudut ruangan yang menyala, memberikan nuansa temaram. Kotak kayu berisi surat-surat ancaman Pak Burhan tergeletak di tengah kami bak artefak berharga."Gimana, Ndi? Pak Ustaz bisa?" tanyaku memecah keheningan.Andi mengangguk pelan, meletakkan ponselnya di atas karpet. "Bisa. Beliau bilang bakal datang besok siang sehabis zuhur. Katanya kita disuruh nyiapin air putih yang banyak, daun bidara, sama garam krosok. Untung tadi sore gue udah beli semua di pasar.""Bagus," pangkas Heru. Ia mencondongkan badannya ke depan, menatap kami satu per satu dengan raut wajah serius. "Sekarang dengerin gue baik-baik. Kita harus satu suara. Malam besok itu bukan ruqyah biasa. Musuh
Pagi sudah tiba, dan udara terasa dingin, tapi bukan dingin yang mencekam seperti semalam. Ini dingin khas pagi hari di kota yang membawa sisa-sisa kelelahan kami.Kami berlima duduk melingkar di ruang tengah, menatap sebuah lemari jati tua di pojok dekat tangga. Lemari itu sudah ada di sana sejak hari pertama kami pindah, terkunci rapat dan tak pernah kami pedulikan. Sampai semalam, saat Pak Darmo memberikan kuncinya padaku."Buka sekarang, Ra?" tanya Andi, memecah keheningan. Ia menguap lebar, matanya merah karena kurang tidur.Aku mengangguk, menggenggam kunci kuningan berkarat di tanganku. "Iya. Kita harus tau apa yang disembunyikan Pak Darmo di sini."Aku bangkit, berjalan mendekati lemari jati itu. Ada bau kapur barus tua dan debu yang menyengat saat aku memasukkan kunci ke lubangnya. Krek! Pintu lemari terbuka. "Uhuk! Gila, debunya," keluh Ranti sambil mengipas-ngibaskan tangan di depan hidung."Ada apa aja di dalem?" Heru ikut berdiri, melongok dari belakang bahuku."Cuma
Ruangan depan rumah Pak Darmo terasa lebih terang setelah kami menyalakan lampu. Tapi terang itu tidak menghapus ketegangan yang masih menggantung di udara. Bu Lastri sudah sadar, duduk bersandar di sofa dengan selimut menutupi tubuhnya yang masih gemetar. Wajahnya pucat, matanya masih menyimpan sisa-sisa ketakutan.Mira menuangkan air putih ke gelas, lalu memberikannya pada Bu Lastri. "Minum dulu, Bu. Pelan-pelan."Bu Lastri menerima dengan tangan bergetar. Ia meneguknya sedikit, lalu menghela napas panjang. "Matur nuwun, Nduk. (Terima kasih, Nak.)"Aku duduk di lantai, tepat di depan Bu Lastri. Heru berdiri menyandar di dinding, Andi di sampingnya. Ranti duduk di ujung sofa, memijat-mijat kakinya sendiri—kebiasaannya kalau sedang cemas."Bu," aku memulai, hati-hati. "Ibu... lihat apa tadi? Sebelum pingsan?"Bu Lastri menatapku. Sorot matanya berubah. Bukan lagi ketakutan. Tapi sesuatu yang sudah lama disimpan. "Aku... aku lagi nyiapke wedang nang pawon. (Aku... aku lagi menyiapkan
Ruang kamar itu pengap. Bau obat dan sesuatu yang anyir. Jelas seperti tanah basah bercampur darah kering mengendap di udara. Cahaya dari satu lampu bohlam redup di sudut membuat bayangan-bayangan aneh menari di dinding.Pak Darmo terbaring lemah. Tubuhnya yang kurus tenggelam di antara selimut batik lusuh. Napasnya berat, setiap helaan seolah harus diperjuangkan.Aku masih berlutut di sisi ranjang. Tanganku dingin. "Pak... apa Bapak itu yang naruh bungkus itu, Pak?"Pertanyaan itu akhirnya terlontar.Pak Darmo membuka matanya perlahan. Sepasang mata cekung itu menatapku dengan sesuatu yang sulit kuartikan—campuran antara penyesalan, kemarahan, dan kelegaan. Ia menghela napas panjang, dadanya naik turun dengan susah payah."Iya, Nduk." Suaranya parau, nyaris seperti bisikan. "Sing naruh bungkusan iku ya Pak Burhan. (Yang menaruh bungkusan itu ya Pak Burhan.)"Meski sudah menduganya, tetap saja dadaku terasa ditusuk. Dari belakang, kudengar Ranti menarik napas tajam. Andi bergumam pela
Kakiku tidak bergerak.Namaku baru saja dipanggil dari dalam kegelapan rumah yang seluruh lampunya mati. Dengan suara yang asing. Suara pria yang lemah dan serak, seperti suara seseorang yang sudah lama terbaring sakit.Suara yang tidak seharusnya tahu namaku."Ra." Heru menyentuh lenganku pelan. "Lo nggak apa-apa?"Aku menelan ludah. "Itu... suara Pak Darmo kan?"Tidak ada yang menjawab.Karena tidak ada yang tahu."Masuk?" tanya Andi. Nada suaranya tidak mengandung humor sama sekali. Pertama kalinya sejak aku kenal dia.Heru sudah mendorong pintu pagar yang ternyata tidak terkunci. Besi tua itu berderit panjang, memecah keheningan kampung yang mencekam. "Masuk," jawabnya, bukan sebagai pertanyaan.Kami masuk satu per satu.Halaman depan rumah Pak Darmo dipenuhi rumput yang tidak terpotong rapi. Pohon mangga tua di sudut halaman berdiri gelap, daun-daunnya tidak bergerak meski seharusnya ada angin. Cahaya dari lampu jalan di luar pagar hanya cukup untuk membuat bayangan-bayangan yang
"Oke. Kita berangkat sekarang."Kalimat itu terlontar dari mulutku sendiri, tapi rasanya seperti diucapkan oleh orang lain. Seseorang yang lebih berani dariku. Seseorang yang tidak sedang gemetar di dalam.Heru mengangguk tanpa banyak bicara. Ia langsung berdiri, mengambil jaketnya yang tergantung di balik pintu."Gue ambil air putih sisa ruqyah Pak Ustaz dulu," ujar Heru singkat.Ranti yang masih duduk memeluk lutut di atas tikar langsung mendongak. "Kalian serius mau pergi sekarang? Tengah malam gini?""Kita nggak tau kondisi Pak Darmo kayak gimana. Kita mesti buru-buru. Semakin cepat, kita bakal tau rahasia rumah ini," jawabku. "Kita nggak bisa tunggu sampai pagi, Ran.""Tapi—""Ranti." Mira menyentuh lengan Ranti pelan. Suaranya masih lemah, tapi matanya sudah lebih jernih sebelum tadi. "Nara bener. Kita nggak bisa diem aja."Ranti menggigit bibir, matanya merah. Ia menoleh ke Andi yang dari tadi berdiri bersandar di tembok dengan tangan terlipat di dada."Lo diem aja, Ndi?" tanya
Uhuk... uhuk... uhuk...!Kami berlima membeku di atas tikar. Suara riuh rendah obrolan kami yang gugup seketika mati, ditelan oleh tiga kali suara batuk yang terdengar begitu nyata. Itu bukan suara batuk biasa. Itu suara batuk orang sakit. Lemah, penuh dahak, dan sarat akan penderitaan. Dan yang p
“Nara, kita nggak usah lewat jalan ini, deh,” kata Mira tiba-tiba, memecah keheningan.Aku menoleh. “Kenapa?”Mira menatap lurus ke depan, wajahnya agak pucat. “Tuh... liat deh pohon beringin gede itu. Gue... ngerasa nggak enak. Tadi pas gue ke toko kue aja, kayak ada yang berdiri di situ.”Aku ik
Kupacu sepeda motor maticku dengan kecepatan sedang setelah berteleponan dengan Mira. Meski pikiranku carut-marut, aku berusaha tetap fokus. "Tadi Mira di Warnet apa ya?" aku bergumam. Nggak, pokoknya nggak mau aku kembali ke kontrakan itu sendirian. Sungguh mati, disambar petir bareng-bareng juga a
Aku menelan ludah, mencoba menenangkan diriku. Dengan tangan gemetar, aku menggeser ikon hijau di layar ponselku dan menjawab panggilan itu."H—halo? Mira?" suaraku bergetar, nyaris tak keluar.Hening. Hanya ada suara statis di ujung telepon. Kemudian, sebuah suara terdengar—bukan suara Mira yang bias







