مشاركة

Bertukar Nyawa

مؤلف: DELEPU
last update تاريخ النشر: 2022-09-22 18:14:59

“Sayang… ini Mama, Nak.”

Tangis Alea pecah saat melihat bayi laki-lakinya. Wajah mungil itu tampak pucat, matanya terpejam rapat, dan tubuhnya diselimuti kain tipis.

Dengan tangan gemetar, Alea mengangkat putranya.

Ia memeluk bayi itu erat ke dada, lalu mengecup kening dan pipinya berulang kali. Setelah semua yang terjadi, Alea akhirnya bisa menyentuh putranya sendiri.

“Maafkan Mama,” bisik Alea. “Mama terlambat datang.”

“Nyonya, hanya ini yang bisa saya lakukan.” Perawat paruh baya itu menatap lorong dengan cemas. “Pergilah sebelum Dokter Kevin datang.”

Alea tersentak saat nama Kevin disebut.

Kini ia benar-benar yakin bahwa perawat di hadapannya mengetahui sesuatu. Wanita itu tidak sekadar merasa iba, tetapi juga memahami bahwa Alea dan bayinya sedang dalam bahaya.

“Dengarkan saya baik-baik.” Perawat itu mengeluarkan selimut bayi dari dalam troli. “Bayi Anda masih dalam pengaruh obat. Kemungkinan dua jam lagi dia baru akan sadar sepenuhnya. Selama itu, Anda harus mendekapnya dan menjaga tubuhnya tetap hangat.”

Perawat itu membungkus tubuh mungil sang bayi dengan selimut.

“Dia sangat lemah,” lanjutnya. “Jangan sampai dia kedinginan terlalu lama.”

Alea mengangguk dengan air mata yang terus mengalir.

“Terima kasih, Suster.”

Perawat itu kembali melihat ke kanan dan kiri lorong. Lalu, ia mengeluarkan sebuah botol kecil dan suntikan dari sakunya.

“Saya tahu rasa sakit Anda tidak akan tertahankan,” katanya. “Ini obat pereda nyeri. Jika Anda mau, saya bisa menyuntikkannya.”

Alea ragu sesaat.

Ia masih trauma terhadap suntikan yang diberikan Kevin. Namun, jika harus kabur sambil menahan nyeri setelah operasi, ia mungkin tidak akan mampu membawa bayinya jauh.

“Berikan, Suster,” ucap Alea sambil menyodorkan lengannya.

Perawat itu segera menyuntikkan obat tersebut.

“Pergilah,” katanya dengan suara lirih. “Semoga kalian selamat.”

“Terima kasih.”

Hanya itu yang mampu Alea ucapkan sebelum membawa putranya pergi.

Alea tahu perawat itu akan terkena masalah karena menolongnya. Namun waktu tidak berpihak padanya. Ia harus menyelamatkan bayinya sebelum Carlos, Fiona, atau Kevin menemukan mereka.

Alea menuju tangga darurat.

Awalnya, setiap anak tangga yang dilewati terasa seperti menusuk luka di perutnya. Namun perlahan, obat pereda nyeri mulai bekerja. Rasa sakit itu tidak hilang sepenuhnya, tetapi cukup berkurang untuk membiarkannya terus berjalan.

Alea menunduk dan mengecup kepala bayinya.

“Kita akan pergi dari sini, Nak,” bisik Alea. “Mama janji kita akan hidup.”

Alea keluar dari pintu belakang rumah sakit. Ia berjalan cepat menuju jalan raya.

Namun langkahnya segera terhenti.

Carlos berdiri di depan rumah sakit bersama beberapa pria berbadan besar.

“Carlos…”

Panik, Alea langsung berbalik. Tetapi Carlos telah melihatnya.

“Alea! Tunggu!” teriaknya. “Kamu mau ke mana?”

Alea berlari.

“Sial!” Carlos mengumpat. “Kejar mereka! Bawa istri dan anakku kembali!”

Suara langkah kaki mengejar dari belakang.

Alea memeluk bayinya semakin erat. Napasnya memburu. Kakinya terasa lemah, sementara luka operasi di perutnya kembali berdenyut setiap kali ia berlari.

Entah sudah berapa jauh Alea berlari sampai akhirnya ia tiba di sebuah jembatan di pinggir jalan.

Alea menoleh ke belakang.

Untuk sesaat, Carlos dan anak buahnya tidak terlihat.

Namun Alea tidak sempat merasa lega.

Di ujung jembatan, seorang pria berdiri di balik pagar pembatas. Tubuhnya kurus, pakaiannya lusuh, dan kedua tangannya mencengkeram besi pagar. Posisi pria itu membuat Alea tahu apa yang akan dilakukannya.

“Bodoh! Apa yang kamu lakukan?”

Alea berlari menghampiri pria itu. Dengan tenaga yang tersisa, ia menarik bagian belakang kemeja lusuh pria tersebut.

Pria itu kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk ke arah jalan.

Plak!

Tanpa sadar, Alea menampar wajahnya.

“Kenapa kamu ingin mati saat orang lain sedang berjuang keras untuk hidup?” bentak Alea, suaranya pecah oleh tangis.

Pria itu terkesiap. Namun sedetik kemudian, ekspresi wajahnya berubah datar.

“Hidup dan matiku tidak ada urusannya denganmu,” jawabnya dingin. Ia berdiri dan kembali berjalan menuju pagar jembatan.

Tangis Alea semakin deras.

Tuhan, kenapa hidup begitu tidak adil?

Alea dan bayinya ingin hidup, tetapi terus diburu oleh orang-orang yang ingin membunuh mereka. Sementara pria asing itu tampaknya memiliki hidup yang aman, tetapi justru hendak menyerah.

“Itu dia! Tangkap!”

Teriakan dari kejauhan membuat Alea tersentak.

Ia menoleh dan melihat beberapa anak buah Carlos mulai mendekat.

“Tidak…” lirih Alea.

Ia mencoba berdiri, tetapi rasa nyeri di perutnya menyambar hebat. Alea kembali terjatuh sambil mendekap bayinya.

“Tenang, Nak,” bisik Alea dengan suara gemetar. “Mama akan menyelamatkanmu.”

Alea panik melihat para pengejar semakin dekat, sebuah pikiran gila tiba-tiba muncul di kepalanya.

Alea menoleh kepada pria di dekat pagar.

“Tidak bisakah kita saling bertukar nyawa?”

Pria itu menoleh. Dia menatap datar.

Alea terisak sambil mengecup putranya.

“Kami ingin hidup. Aku dan bayiku ingin hidup,” katanya putus asa. “Anggap saja hari ini kamu sudah mati. Tapi tolong selamatkan kami.”

Tatapan Alea penuh permohonan. Nampak, keputusasaan dalam sorot matanya.  

“Berikan sisa umurmu kepada kami. Jangan biarkan mereka menangkap kami.”

Pria itu memandang sekelompok orang di belakang Alea. Orang-orang itu semakin dekat. 

“Mereka mengejarmu?”

Alea mengangguk. 

Ia kembali mencoba bangkit, tetapi tubuhnya tidak lagi mampu menurut. Luka di perutnya terasa semakin sakit dan hangat. Darah mulai merembes dari balik gaun pasien yang dikenakannya.

Tanpa berkata apa-apa, pria itu berjalan mendekat. Ia mengambil bayi dari pelukan Alea.

Alea terkejut.

Sebelum sempat memprotes, pria itu berjongkok membelakanginya.

“Naiklah,” ucapnya. “Aku akan berlari secepat mungkin.”

Alea menatap punggung pria itu dengan ragu.

Tetapi suara para pengejar semakin dekat.

Ia tidak punya pilihan.

Alea naik ke punggung pria asing tersebut dan memeluk bahunya erat. Pria itu menggendong bayi Alea dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menopang tubuh Alea agar tidak jatuh.

“Pegang erat,” katanya.

Pria itu langsung berlari.

Mereka melewati trotoar, menyeberangi jalan, lalu masuk ke gang-gang sempit. Meski pria itu bertubuh tegap, Alea dapat merasakan napasnya semakin berat. Bagaimana tidak? Ia membawa seorang wanita dewasa di punggungnya sekaligus bayi prematur dalam satu tangan.

Di seberang jalan, Alea melihat bangunan stasiun.

“Ada stasiun,” katanya lemah. “Masuk ke sana.”

Pria itu tidak menjawab. Ia segera menyeberang menuju stasiun.

Begitu masuk, pria itu membawa Alea ke bagian pinggir peron dan memasuki gerbong kereta tua yang tampak tidak digunakan. Di sana, pria itu menurunkan Alea di dekat kursi panjang.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.

Saat Alea turun dari punggungnya, pria itu melihat darah yang membasahi bagian bawah gaun pasien.

“Kamu baru menjalani operasi?” tanyanya.

Alea hanya mampu mengangguk.

“Bayiku…” pintanya lirih.

Pria itu segera menyerahkan bayi tersebut.

Alea memeluk putranya dan tersenyum tipis di tengah wajah pucatnya.

“Sayang, Mama menyayangimu,” bisiknya. “Kita akan selamat.”

Pria itu berjongkok di hadapannya. Tanpa banyak bicara, ia membuka kemeja lusuhnya, lalu menyingkap bagian bawah gaun pasien Alea.

“Argh…”

Alea meringis saat pria itu menekan kemejanya pada luka di perut Alea.

“Kita harus ke rumah sakit. Kamu kehilangan terlalu banyak darah.”

Alea menggeleng cepat. “Tidak. Kita harus pergi jauh dari sini.”

Tiba-tiba, suara kereta terdengar dari kejauhan.

Alea menoleh keluar gerbong. "Apa akan ada kereta yang berhenti?"  

Pria itu diam sejenak. “Kalau perkiraanku benar, itu kereta terakhir yang berhenti di stasiun ini.”

“Ayo naik kereta itu,” ajak Alea. “Sebelum Carlos menemukan kami.”

Pria itu mengangguk.

Alea menyerahkan bayinya kembali. Kemudian, dengan susah payah, ia naik ke punggung pria itu.

“Tekan kain itu ke bagian lukamu,” ucap pria tersebut. “Pendarahannya mungkin akan sedikit berkurang.”

Alea membenarkan kain di perutnya, lalu mengaitkan kedua kakinya pada tubuh pria itu.

Pria asing tersebut keluar dari gerbong tua dan berjalan menuju kereta yang berhenti tidak jauh dari mereka.

“Itu mereka!” terdengar teriakan dari belakang. “Cepat, kejar!”

Alea menahan napas. Bagaimana ini? Dia panik. 

“Lari…” 

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Pengkhianatan Suami & Ibu Tiri   Saling Mengancam

    "Nyonya Alea?" Kening Alea mengernyit. Mendengar seseorang memanggil namanya. Dia perlahan membuka mata, kemudian memutar sedikit kepala untuk melihat orang yang memanggilnya. Alea terkesiap melihat sosok pria yang semalam ditemuinya. Bibir Alea seketika tersenyum, lalu mengedarkan pandangan. Mencari keberadaan anak laki-laki yang semalam sudah berhasil mencuri hatinya. 'Akhirnya, kamu datang juga,' batin Alea. Tanpa mengindahkan keberadaan Liam.Liam mengeratkan rahang begitu melihat senyum di bibir Alea. Reaksi Alea yang tiba-tiba terlihat senang memberitahu Liam tentang Alea yang ingin kembali bertemu Ansel. Liam pun mendengus. Merutuki perbuatan licik yang Alea lakukan. Liam yakin, Alea memang sudah mengambil gantungan kalung milik putranya. "Anda tidak akan mendapatkan apa yang anda inginkan dengan mudah, nyonya," tutur Liam dengan nada dingin. Senyum di wajah Alea memudar. Tatapannya tertuju pada liam yang menatap datar dirinya. Alea sadar, anak laki-laki yang dari semalam

  • Pengkhianatan Suami & Ibu Tiri   Perasaan Iri

    "Siapkan pesawat! Kita pergi menyusul mereka." "Apa?!" Darvin tercengang mendengar perintah atasannya. Tidak menyangka Liam akan repot-repot menyusul Alea dan keluarganya. Padahal, pekerjaan pria itu sangat banyak. Dan tidak biasanya Liam pergi meninggalkan pekerjaannya."Maaf tuan, apa maksud anda kita akan pergi menyusul Nyonya Alea?" tanya Darvin dengan hati-hati. Memastikan perintah yang baru saja didengarnya. Liam melayangkan tatapan dinginnya. "Apa perintahku kurang jelas? Aku tidak suka mengulang perintah." "Ma-maaf Tuan! Saya akan segera menyiapkan pesawat," sahut Darvin seraya menegakkan badan. Gugup mendapatkan tatapan dingin dari Liam. Meski atasannya tersebut tidak terlihat marah, tapi Darvin tahu Liam bukan pria yang banyak berkata. Dia tidak suka menunggu atau mengulang perintah. Pria itu lebih baik kehilangan bawahan dari pada harus mengulang perkataannya. Tidak mau kehilangan pekerjaan yang sudah lima tahun ini dijabatnya, Darvin pun segera undur diri dari hadapa

  • Pengkhianatan Suami & Ibu Tiri   Jalan untuk Bertemu

    "Tangisanmu tidak akan berpengaruh pada papah, Ansel. Jangan harap Papah akan memaafkanmu begitu saja." Liam menolak permohonan putranya dengan tegas. Ansel merapatkan bibir. Menahan isakannya agar tidak keluar. Takut Liam akan semakin marah. Aliana menatap kakak dan keponakannya bergantian. Merasa iba pada Ansel. Dia ingin membela keponakannya, namun takut Liam akan berbalik marah padanya. Aliana pun hanya diam tanpa mampu berbuat apa-apa. "Sekarang katakan! Kenapa semalam kamu membuat masalah?" Liam mempertanyakan alasan Ansel kabur dari pesta. Dengan tangan bergetar, Ansel mengambil buku tulisnya dari tangan Liam, lalu mengambil pulpen dari Aliana. Ansel menuliskan sesuatu pada kertas yang terbuka dihadapannya. 'Maaf!' Ansel menunduk seraya memperlihatkan tulisan tersebut. Liam menatap putranya dalam-dalam, jika kata maaf sudah keluar, artinya Ansel tidak akan memberikan penjelasan apapun. "Papah khawatir!" Ansel mendongak mendengar dua kata yang ayahnya ucapkan. Matanya be

  • Pengkhianatan Suami & Ibu Tiri   Bibi Berbaju Merah

    Keesokan harinya, terjadi kerusuhan di rumah keluarga Abraham. Ansel, cucu tunggal keluarga Abraham, mogok makan dan tidak mau membuka mulut sedikit pun. Aliana yang sudah Liam percaya untuk menjaga Ansel pun bingung. Dia tidak mau Liam menjauhkan Ansel darinya. "Ansel, tolong jangan membuatku susah. Ayahmu sudah marah padaku karena kejadian semalam, buka mulutmu dan makanlah!" pinta Aliana setengah memelas. Takut kondisi Ansel kembali drop hingga Liam menyalahkannya. Selama ini, Liam sangat protektif pada putranya. Dia tidak membiarkan siapapun berdekatan dengan Ansel, termasuk orangtua dan adiknya. Liam tidak mempercayakan pengawasan Ansel pada orang lain. Namun dua tahun lalu, setelah Aliana membujuk Liam dengan menjanjikan akan membuat Ansel sembuh dari speech delaynya dan tidak akan membiarkan Ansel kekurangan kasih sayang seorang ibu, Liam pun akhirnya mempercayakan pengawasan Ansel pada adiknya, mengingat dirinya yang memang tidak bisa berceloteh banyak seperti yang Aliana l

  • Pengkhianatan Suami & Ibu Tiri   Saling Menginginkan

    Beberapa jam berlalu. Begitu Calros dan Fiona pergi ke kamar mandi, Alea membuka mata. Tadi, dia hanya berpura-pura tidur untuk menghindari Carlos. Alea tidak sudi melayani suaminya. Selama empat tahun ini, Alea harus bertahan dengan Calros dan Fiona yang tidak punya malu berhubung badan dihadapannya. Alea muak. Dia ingin menghentikan mereka, namun tidak ada yang bisa Alea lakukan selain menghindar. Biasanya, Alea pura-pura tidur atau mengamuk histeris untuk menghindari sentuhan Carlos. Namun, hal itu kadang tidak berguna jika Carlos ataupun Fiona menggunakan obat perangsang untuk membuatnya terlibat dalam percintaan. Air mata Alea menetes. Menangis tanpa suara. Tidak mudah bertahan hidup dalam kebobrokan moral yang dilakukan oleh suaminya. Carlos sebagai suami tidak memikirkan perasaan Alea yang harus melihat percintaannya dengan wanita lain. Alea sadar, dirinya mulai gila. Bahkan mungkin sudah gila seperti yang sering Fiona katakan. Tapi sayang, sejak empat tahun lalu, kesadara

  • Pengkhianatan Suami & Ibu Tiri   Kegemparan Saat Pesta

    Alea berjalan menuju rumah dengan langkah anggun. Senyum manis terukir di wajahnya. Tidak dipedulikannya sepatu dan ujung gaunnya yang kotor terkena lumpur, bahkan pakaiannya pun basah karena air hujan."Alea dari mana saja kamu?"Carlos menghampiri Alea dengan wajah cemas. Dia menilik penampilan istrinya. Carlos terkesiap melihat luka di pergelangan tangan Alea."Alea kamu melukai diri sendiri lagi?" Alea menarik tangannya dari genggaman Carlos. Dia menatapnya dengan tatapan dingin. "Jangan sentuh!" Alea menyembunyikan luka di tangannya.Plak! Tiba-tiba, sebuah tamparan mendarat di wajah Alea. Nampak, Fiona berdiri dihadapannya dengan wajah geram."Dasar wanita gila! Bisa-bisanya kamu pergi di tengah pesta. Kamu hampir menghancurkan pesta ulang tahun putraku," teriak Fiona. Dia hendak melayangkan kembali pukulannya, namun Carlos lebih dulu menahan laju tangannya. "Cukup!" cegah Carlos dengan tegas. "Jangan berlebihan!" Fiona mendelik. "Berlebihan? Dia–." "Oma, aku mengangtuk."

  • Pengkhianatan Suami & Ibu Tiri   Balasan Setimpal

    Carlos membuka pintu kamar. Nampak, Alea berdiri di depan jendela sambil bersenandung. Tatapan Carlos tertuju pada bantal yang Alea dekap. Carlos menarik napas. Dadanya sesak. Sedih melihat istrinya yang belum bisa menerima kematian bayinya. "Alea ..." Carlos mendekati Alea, lalu mengecup pipin

  • Pengkhianatan Suami & Ibu Tiri   Kelicikan dan Kepintaran

    Waktu berjalan dengan cepat. Empat bulan berlalu sejak Alea dibawa pulang dari rumah sakit jiwa. Selama itu, Alea dikurung dalam rumah. Fiona menempatkannya di ruang bawah tanah dengan pintu yang selalu terkunci rapat. Karena kesibukan di perusahaan, selama empat bulan ini Carlos mempercayakan penj

  • Pengkhianatan Suami & Ibu Tiri   Kebiadaban

    Tiga bulan berlalu, kondisi Alea semakin memburuk. Selama tiga bulan ini, Fiona meminta dokter untuk mencekoki Alea dengan obat halusinogen. Para dokter pun sudah tidak lagi peduli dengan efek samping dari obat yang mereka berikan. Mereka hanya menjalankan perintah dari Fiona yang ingin melihat Ale

  • Pengkhianatan Suami & Ibu Tiri   Akal Sehat yang Hilang

    Tanpa di minta dua kali, pria itu berlari. Tapi, tidak secepat saat berlari di jalanan. Batu kerikil yang menghiasi jalan kereta membuatnya kesulitan untuk melangkah. Eaaaa Eaaa! Alea semakin panik mendengar bayinya menangis. Dia menoleh ke belakang. Terlihat anak buah Carlos semakin dekat. "Tu

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status