แชร์

Rencana Keji

ผู้เขียน: DELEPU
last update วันที่เผยแพร่: 2022-09-22 18:12:44

“Berbagi suami?”

Alea menggeleng perlahan. Kalimat itu terdengar absurd hingga sulit diterima akal.

Bagaimana mungkin Fiona menyuruhnya berbagi suami dengan perempuan yang selama lima tahun ia panggil ibu?

Sungguh tidak tahu malu.

Alea menatap Fiona tajam. Air mata masih membasahi pipinya, tetapi hanya ada kemarahan dalam sorot matanya.

“Ambil saja Carlos untukmu,” kata Alea dingin. “Aku tidak sudi berbagi pria. Terlebih menerima pria bekasmu.”

Fiona mengeraskan rahang. Sementara Carlos tampak terkejut mendengar kalimat itu.

Tatapan Alea beralih kepada suaminya.

“Kita cerai!” ucapnya tegas. “Hubungan kita berakhir.”

Senyum lebar langsung menghiasi wajah Fiona. Berbanding terbalik dengan Carlos yang kaget.

Dengan sisa tenaganya, Alea beringsut turun dari tempat tidur. Namun Carlos buru-buru menahan lengannya. Wajah pria itu pucat pasi. Tidak menyangka Alea akan menceraikannya.

“Tidak, Alea. Kita tidak akan bercerai. Aku mencintaimu.”

Carlos menarik tubuh Alea ke dalam pelukannya.

“Lepaskan aku!”

Alea memberontak.

Carlos justru mengecup bahunya berkali-kali, seolah sentuhan itu dapat menghapus pengkhianatan yang baru saja dilakukannya.

“Ingat, bayi kita Alea. Dia akan segera lahir,” ujar Carlos dengan suara memohon. “Dia membutuhkan kita.”

“Bayi kita?”

Alea mendorong tubuh Carlos sekuat tenaga, hingga terlepas dari dekapannya. Mata Alea terpejam dan tangannya mengusap perutnya yang membuncit. Air mata Alea kembali jatuh.

“Setelah kamu mengkhianatiku dan menghamili ibuku, masih ingat kamu dengan bayi ini?”

Carlos terdiam.

Alea mengeratkan rahang, mencoba menahan amarah dan kepedihan yang menyesakkan dadanya.

“Kamu menjijikkan, Carlos,” lanjut Alea dengan suara gemetar. Dia menatap Carlos tajam. “Aku tidak sudi bayiku memiliki ayah sepertimu.”

Carlos terpaku.

Selama tiga tahun pernikahan, Alea belum pernah bicara kasar atau membentaknya. Alea selalu menjadi istri yang lembut, sabar, dan percaya penuh pada suaminya.

Carlos sadar semua kepercayaan itu hancur karena perbuatannya sendiri. Tapi, dia tidak mau kehilangan Alea.

“Kalian berdua, bersiaplah pergi dari rumah ini.”

Alea menatap Carlos dan Fiona bergantian. Telunjuknya terangkat, menunjuk keduanya.

“Aku dan Papah akan mengurus perceraian. Setelah itu, kalian harus angkat kaki dari rumah keluarga Rahardja.”

“Tidak Alea. Tunggu!”

Carlos berusaha mendekat lagi. Namun Alea tidak ingin mendengar sepatah kata pun lagi darinya.

Alea berjalan keluar kamar dengan langkah tidak stabil. Dari belakang, suara Fiona terdengar jelas.

“Jangan kejar dia, Carlos,” kata Fiona manja. “Biarkan saja dia pergi. Lebih baik kita lanjutkan malam kita yang tertunda.”

Dada Alea kembali sesak.

Fiona dan Carlos sungguh menjijikan!

Selama hampir tiga bulan, Carlos memang tidak pernah menyentuhnya. Dokter melarang Alea berhubungan suami istri hingga bayinya lahir, karena kondisi plasentanya bermasalah.

Alea kira Carlos memahami itu. Apalagi selama ini Carlos tidak pernah mempermasalahkannya. Namun rupanya, Carlos justru mencari kepuasan pada Fiona.

Dan Fiona, perempuan bersuami tetapi sudah lama tidak disentuh karena Andrean lumpuh sejak kecelakaan. Dia memilih mengkhianati suami serta anak tirinya sendiri.

Tidak ada alasan untuk membenarkan perbuatan mereka. Pengkhianatan mereka hanya membuat Alea jijik.

Alea mengusap air mata. Perceraian memang jalan terbaik. Alea hanya ingin fokus melindungi dirinya, bayi dalam kandungannya, dan Andrean—satu-satunya keluarga yang tersisa.

Dengan langkah cepat, Alea berjalan menuju kamar ayahnya. Alea tahu Andrean pasti lebih terpukul darinya karena kejadian ini.

Alea membuka pintu kamar. Tubuhnya membeku saat melihat pemandangan di hadapannya.

“PAPAH!” jerit Alea, histeris.

Tampak tubuh tua andrean tergeletak kaku di atas lantai dengan busa putih keluar dari sudut mulutnya.

Alea berlari menghampiri ayahnya. Dia memeluk tubuh pria tua itu dengan erat. Kulit Andrean terasa dingin. Tidak ada sedikitpun gerakan di tubuhnya.

“Papah, bangun…”

Alea mengguncang bahu Andrean dengan tangan gemetar. Berharap mendapat sedikit respon. Tapi tubuh pria itu hanya kaku.

“Jangan tinggalkan Alea. Papah!”

Beberapa jam kemudian…

Rasa nyeri menyergap tubuh Alea.

Sakit kepala yang berdenyut membuatnya ingin membuka mata, tetapi kelopak matanya terasa sangat berat. Perut Alea juga nyeri, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam.

Alea mencoba menggerakkan jari-jarinya. Namun tubuhnya terasa sangat lemah. Bahkan bibirnya pun tak mampu terbuka untuk memanggil bantuan.

Kepanikan mulai menyelimuti.

Apa yang terjadi?

Samar-samar, terdengar suara pintu dibuka.

“Sialan,” suara Fiona terdengar penuh kekesalan. “Kenapa pria tua itu harus mati? Padahal aku hanya memberinya beberapa butir obat tidur saja.”

Jantung Alea seperti diremas.

Fiona memberi obat tidur?

Ingatan Alea kembali perlahan. Setelah menemukan Andrean tergeletak di lantai, seseorang menghampirinya. Lalu, ada jarum yang menembus kulitnya. Setelah itu, semuanya gelap.

Batin Alea menjerit.

Ayahnya meninggal dan Fiona pembunuhnya?

Tidak lama kemudian, suara pria lain terdengar. Alea mengenal suara itu dengan baik.

Kevin.

Kakak Fiona sekaligus dokter kandungannya.

“Tenanglah, kakak,” kata Kevin santai. “Bukankah ini justru bagus? Sekarang kamu menjadi janda kaya raya.”

“Tetap saja aku kesal,” balas Fiona. “Carlos belum menceraikan perempuan ini.”

“Ayolah, Fiona. Jangan khawatir.” Suara Kevin terdengar dingin. “Aku akan mengurus Alea dan bayinya. Akan kupastikan mereka tidak selamat.”

“Kamu memang bisa diandalkan, Saudaraku,” sahut Fiona.

Tawa mereka menggema pelan, membuat tubuh Alea semakin gemetar dalam ketidakberdayaan.

Tiba-tiba, seseorang mengusap air mata yang mengalir dari sudut mata Alea. Aroma parfum Fiona tercium begitu dekat.

Kemudian, sebuah tangan mencengkram leher Alea.

“Tapi bagaimanapun lebih baik wanita ini segera mati,” bisik Fiona sambil menguatkan cengkramannya. “Matilah! Susul ayahmu ke neraka.”

Alea kesulitan bernapas.

Ia ingin melawan. Ingin melindungi bayinya. Namun tubuhnya tidak bergerak sedikitpun. Tangannya mati rasa. Suaranya tertahan di tenggorokan.

Tolong… seseorang tolong aku. Bayiku tidak boleh kenapa-kenapa.

Ceklek!

Pintu kamar terbuka.

“Sialan! Fiona, apa yang kamu lakukan?” suara Carlos menggelegar. “Berani kamu menyakiti istriku!”

Cengkeraman di leher Alea terlepas.

Alea menarik napas dengan susah payah. Dalam ketidakberdayaan, Alea sempat merasa lega. Carlos datang. Carlos menghentikan Fiona.

Namun harapan itu hanya bertahan sesaat.

“Carlos!” Fiona terdengar kesal. “Tua bangka itu sudah mati. Tinggal perempuan ini saja penghalang kita. Ayo lenyapkan dia, lalu kita menikah!”

“Jangan berani menyentuh Alea!” bentak Carlos. “Aku tidak segan membunuhmu jika kamu menyakitinya!”

Alea kembali menahan napas.

Carlos ternyata masih memiliki hati. Suaminya melindunginya. Namun, pikiran itu segera sirna begitu mendengar kalimat Carlos selanjutnya.

“Sudah cukup kamu berbuat bodoh dengan membunuh tua bangka itu, Fiona! Apa kamu sadar dia belum mewariskan sedikit pun hartanya kepada kita? Semua asetnya masih atas nama Alea!”

Dunia Alea kembali runtuh.

Ternyata Carlos tidak peduli pada keselamatannya. Dia hanya menginginkan hartanya.

Sebuah kecupan mendarat di pipi Alea dengan lembut. Jemari hangat membelai wajahnya.

“Aku harap kamu tidak tidur terlalu lama, Sayang,” bisik Carlos. “Masih banyak dokumen yang harus kamu tanda tangani untuk memindahkan aset ayahmu.”

Alea ingin menjerit. Ia ingin membuka mata dan memaki mereka semua. Namun tubuhnya tetap diam.

“Baiklah,” kata Fiona dengan nada melunak. “Aku akan menjaga Alea untukmu. Tapi kamu harus berjanji menikahiku. Anak kita membutuhkanmu, Carlos. Aku juga tidak bisa hidup tanpamu.”

“Tentu, Sayang,” jawab Carlos. “Kita akan menikah setelah Alea sadar. Kamu dan Alea akan sama-sama menjadi istriku.”

Air mata Alea kembali mengalir.

Dalam ketidakberdayaannya, Alea sadar satu hal.

Carlos dan Fiona bukan hanya pengkhianat. Mereka adalah iblis yang harus dimusnahkan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pengkhianatan Suami & Ibu Tiri   Saling Mengancam

    "Nyonya Alea?" Kening Alea mengernyit. Mendengar seseorang memanggil namanya. Dia perlahan membuka mata, kemudian memutar sedikit kepala untuk melihat orang yang memanggilnya. Alea terkesiap melihat sosok pria yang semalam ditemuinya. Bibir Alea seketika tersenyum, lalu mengedarkan pandangan. Mencari keberadaan anak laki-laki yang semalam sudah berhasil mencuri hatinya. 'Akhirnya, kamu datang juga,' batin Alea. Tanpa mengindahkan keberadaan Liam.Liam mengeratkan rahang begitu melihat senyum di bibir Alea. Reaksi Alea yang tiba-tiba terlihat senang memberitahu Liam tentang Alea yang ingin kembali bertemu Ansel. Liam pun mendengus. Merutuki perbuatan licik yang Alea lakukan. Liam yakin, Alea memang sudah mengambil gantungan kalung milik putranya. "Anda tidak akan mendapatkan apa yang anda inginkan dengan mudah, nyonya," tutur Liam dengan nada dingin. Senyum di wajah Alea memudar. Tatapannya tertuju pada liam yang menatap datar dirinya. Alea sadar, anak laki-laki yang dari semalam

  • Pengkhianatan Suami & Ibu Tiri   Perasaan Iri

    "Siapkan pesawat! Kita pergi menyusul mereka." "Apa?!" Darvin tercengang mendengar perintah atasannya. Tidak menyangka Liam akan repot-repot menyusul Alea dan keluarganya. Padahal, pekerjaan pria itu sangat banyak. Dan tidak biasanya Liam pergi meninggalkan pekerjaannya."Maaf tuan, apa maksud anda kita akan pergi menyusul Nyonya Alea?" tanya Darvin dengan hati-hati. Memastikan perintah yang baru saja didengarnya. Liam melayangkan tatapan dinginnya. "Apa perintahku kurang jelas? Aku tidak suka mengulang perintah." "Ma-maaf Tuan! Saya akan segera menyiapkan pesawat," sahut Darvin seraya menegakkan badan. Gugup mendapatkan tatapan dingin dari Liam. Meski atasannya tersebut tidak terlihat marah, tapi Darvin tahu Liam bukan pria yang banyak berkata. Dia tidak suka menunggu atau mengulang perintah. Pria itu lebih baik kehilangan bawahan dari pada harus mengulang perkataannya. Tidak mau kehilangan pekerjaan yang sudah lima tahun ini dijabatnya, Darvin pun segera undur diri dari hadapa

  • Pengkhianatan Suami & Ibu Tiri   Jalan untuk Bertemu

    "Tangisanmu tidak akan berpengaruh pada papah, Ansel. Jangan harap Papah akan memaafkanmu begitu saja." Liam menolak permohonan putranya dengan tegas. Ansel merapatkan bibir. Menahan isakannya agar tidak keluar. Takut Liam akan semakin marah. Aliana menatap kakak dan keponakannya bergantian. Merasa iba pada Ansel. Dia ingin membela keponakannya, namun takut Liam akan berbalik marah padanya. Aliana pun hanya diam tanpa mampu berbuat apa-apa. "Sekarang katakan! Kenapa semalam kamu membuat masalah?" Liam mempertanyakan alasan Ansel kabur dari pesta. Dengan tangan bergetar, Ansel mengambil buku tulisnya dari tangan Liam, lalu mengambil pulpen dari Aliana. Ansel menuliskan sesuatu pada kertas yang terbuka dihadapannya. 'Maaf!' Ansel menunduk seraya memperlihatkan tulisan tersebut. Liam menatap putranya dalam-dalam, jika kata maaf sudah keluar, artinya Ansel tidak akan memberikan penjelasan apapun. "Papah khawatir!" Ansel mendongak mendengar dua kata yang ayahnya ucapkan. Matanya be

  • Pengkhianatan Suami & Ibu Tiri   Bibi Berbaju Merah

    Keesokan harinya, terjadi kerusuhan di rumah keluarga Abraham. Ansel, cucu tunggal keluarga Abraham, mogok makan dan tidak mau membuka mulut sedikit pun. Aliana yang sudah Liam percaya untuk menjaga Ansel pun bingung. Dia tidak mau Liam menjauhkan Ansel darinya. "Ansel, tolong jangan membuatku susah. Ayahmu sudah marah padaku karena kejadian semalam, buka mulutmu dan makanlah!" pinta Aliana setengah memelas. Takut kondisi Ansel kembali drop hingga Liam menyalahkannya. Selama ini, Liam sangat protektif pada putranya. Dia tidak membiarkan siapapun berdekatan dengan Ansel, termasuk orangtua dan adiknya. Liam tidak mempercayakan pengawasan Ansel pada orang lain. Namun dua tahun lalu, setelah Aliana membujuk Liam dengan menjanjikan akan membuat Ansel sembuh dari speech delaynya dan tidak akan membiarkan Ansel kekurangan kasih sayang seorang ibu, Liam pun akhirnya mempercayakan pengawasan Ansel pada adiknya, mengingat dirinya yang memang tidak bisa berceloteh banyak seperti yang Aliana l

  • Pengkhianatan Suami & Ibu Tiri   Saling Menginginkan

    Beberapa jam berlalu. Begitu Calros dan Fiona pergi ke kamar mandi, Alea membuka mata. Tadi, dia hanya berpura-pura tidur untuk menghindari Carlos. Alea tidak sudi melayani suaminya. Selama empat tahun ini, Alea harus bertahan dengan Calros dan Fiona yang tidak punya malu berhubung badan dihadapannya. Alea muak. Dia ingin menghentikan mereka, namun tidak ada yang bisa Alea lakukan selain menghindar. Biasanya, Alea pura-pura tidur atau mengamuk histeris untuk menghindari sentuhan Carlos. Namun, hal itu kadang tidak berguna jika Carlos ataupun Fiona menggunakan obat perangsang untuk membuatnya terlibat dalam percintaan. Air mata Alea menetes. Menangis tanpa suara. Tidak mudah bertahan hidup dalam kebobrokan moral yang dilakukan oleh suaminya. Carlos sebagai suami tidak memikirkan perasaan Alea yang harus melihat percintaannya dengan wanita lain. Alea sadar, dirinya mulai gila. Bahkan mungkin sudah gila seperti yang sering Fiona katakan. Tapi sayang, sejak empat tahun lalu, kesadara

  • Pengkhianatan Suami & Ibu Tiri   Kegemparan Saat Pesta

    Alea berjalan menuju rumah dengan langkah anggun. Senyum manis terukir di wajahnya. Tidak dipedulikannya sepatu dan ujung gaunnya yang kotor terkena lumpur, bahkan pakaiannya pun basah karena air hujan."Alea dari mana saja kamu?"Carlos menghampiri Alea dengan wajah cemas. Dia menilik penampilan istrinya. Carlos terkesiap melihat luka di pergelangan tangan Alea."Alea kamu melukai diri sendiri lagi?" Alea menarik tangannya dari genggaman Carlos. Dia menatapnya dengan tatapan dingin. "Jangan sentuh!" Alea menyembunyikan luka di tangannya.Plak! Tiba-tiba, sebuah tamparan mendarat di wajah Alea. Nampak, Fiona berdiri dihadapannya dengan wajah geram."Dasar wanita gila! Bisa-bisanya kamu pergi di tengah pesta. Kamu hampir menghancurkan pesta ulang tahun putraku," teriak Fiona. Dia hendak melayangkan kembali pukulannya, namun Carlos lebih dulu menahan laju tangannya. "Cukup!" cegah Carlos dengan tegas. "Jangan berlebihan!" Fiona mendelik. "Berlebihan? Dia–." "Oma, aku mengangtuk."

  • Pengkhianatan Suami & Ibu Tiri   Balasan Setimpal

    Carlos membuka pintu kamar. Nampak, Alea berdiri di depan jendela sambil bersenandung. Tatapan Carlos tertuju pada bantal yang Alea dekap. Carlos menarik napas. Dadanya sesak. Sedih melihat istrinya yang belum bisa menerima kematian bayinya. "Alea ..." Carlos mendekati Alea, lalu mengecup pipin

  • Pengkhianatan Suami & Ibu Tiri   Kelicikan dan Kepintaran

    Waktu berjalan dengan cepat. Empat bulan berlalu sejak Alea dibawa pulang dari rumah sakit jiwa. Selama itu, Alea dikurung dalam rumah. Fiona menempatkannya di ruang bawah tanah dengan pintu yang selalu terkunci rapat. Karena kesibukan di perusahaan, selama empat bulan ini Carlos mempercayakan penj

  • Pengkhianatan Suami & Ibu Tiri   Kebiadaban

    Tiga bulan berlalu, kondisi Alea semakin memburuk. Selama tiga bulan ini, Fiona meminta dokter untuk mencekoki Alea dengan obat halusinogen. Para dokter pun sudah tidak lagi peduli dengan efek samping dari obat yang mereka berikan. Mereka hanya menjalankan perintah dari Fiona yang ingin melihat Ale

  • Pengkhianatan Suami & Ibu Tiri   Akal Sehat yang Hilang

    Tanpa di minta dua kali, pria itu berlari. Tapi, tidak secepat saat berlari di jalanan. Batu kerikil yang menghiasi jalan kereta membuatnya kesulitan untuk melangkah. Eaaaa Eaaa! Alea semakin panik mendengar bayinya menangis. Dia menoleh ke belakang. Terlihat anak buah Carlos semakin dekat. "Tu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status