LOGIN
“Suamimu lebih memilihku daripada kamu, Alea. Dan sekarang, aku sedang mengandung anaknya.”
Alea terbeliak melihat dua tubuh polos yang bersenggama di atas sofa. Nampak tubuh polos Fiona, ibu Alea, sedang menunggangi tubuh polos Carlos, menantunya sendiri. Air mata Alea menetes. Kakinya lemas. Alea kaget sekaligus shock melihat pengkhianatan yang dilakukan ibu dan suaminya. Bab 01 — Pengkhianatan Tengah Malam Angin malam berhembus membawa udara dingin, Alea Rahardja terjaga saat rasa dingin menyergap tubuhnya. Alea berbalik. Merapatkan selimut. Tangannya terulur ke sisi ranjang, mencari kehangatan tubuh suaminya. Kosong. Alea membuka mata dengan rasa kantuk yang mendera. Bantal Carlos di sebelahnya masih rapi. Tidak ada sedikitpun jejak seseorang yang pernah tidur diatasnya. “Carlos?” panggil Alea lirih. Tidak ada jawaban. Pandangan Alea jatuh pada jam digital di atas nakas. Pukul 23.15. Sudah hampir tengah malam, tetapi Carlos belum juga masuk kamar. Akhir-akhir ini, Alea memang sering tidur lebih awal. Kehamilannya telah memasuki trimester ketiga, tetapi kondisinya justru mengkhawatirkan. Dokter mengatakan Alea mengalami solusio plasenta dan harus banyak beristirahat. Obat-obatan yang diresepkan membuatnya mudah mengantuk. “Carlos pasti masih bekerja,” gumam Alea. Dengan hati-hati, ia menurunkan kaki dari ranjang. Satu tangan menopang perutnya yang membuncit, sementara tangan lainnya berpegangan pada sisi kasur. Bayi dalam kandungannya bergerak kecil, membuat Alea meringis. “Jangan nakal, Sayang. Mama cuma mau cari Papa.” Alea berjalan keluar kamar menuju ruang kerja Carlos. Namun, lampu ruangan itu padam. Pintu sedikit terbuka, tetapi bagian dalamnya gelap dan kosong. Kening Alea berkerut. “Tidak di ruang kerja?” Perasaan tidak nyaman mulai mengusik. Alea pun beranjak menuruni tangga. Rumah besar keluarga Rahardja sunyi, tetapi saat Alea hampir mencapai lantai bawah, ia mendengar suara samar dari arah ruang keluarga. Suara napas berat. Lalu, sebuah rintihan pelan. “Carlos…” Tubuh Alea membeku. Suara itu sangat dikenalnya. Dengan langkah goyah, Alea berjalan menuju ruang keluarga. Jantungnya berdegup keras. Dunia Alea hancur melihat adegan dihadapannya. “Carlos? Mamah? Apa yang kalian lakukan?!” Alea terbeliak melihat dua tubuh polos yang bersenggama di atas sofa. Nampak tubuh polos Fiona, ibu Alea, sedang menunggangi tubuh polos Carlos, menantunya sendiri. Air mata Alea menetes. Kakinya lemas. Alea kaget sekaligus shock melihat pengkhianatan yang dilakukan ibu dan suaminya. “Biadab kalian! Kalian selingkuh di rumah ini?!” Dua insan tanpa busana itu terperanjat. Carlos segera mendorong Fiona, lalu menyambar jubah tidur untuk menutupi kepolosannya. Sementara Fiona dengan santainya meraih tisu, lalu mengusap cairan kental yang keluar dari selangkangannya. Tanpa rasa malu sedikitpun. “Alea, Sayang, dengarkan aku,” Carlos berkata tergesa-gesa sambil melangkah mendekat. “Jangan mendekat!” bentak Alea, melangkah mundur. “Kalian berdua binatang!” Alea memalingkan wajah, barulah ia menyadari satu sosok lain yang berada di ruangan itu. Andrean, ayah Alea, duduk di kursi roda di sudut ruangan. Wajah pria tua itu pucat. Air mata mengalir dari kedua matanya saat memandang putrinya. “Papah…” suara Alea lemah. Dada Alea semakin sesak. Bukan hanya karena Carlos dan Fiona mengkhianatinya, tetapi karena mereka tega melakukan semua itu di hadapan Andrean yang tak berdaya. "BIADAB KALIAN! BINATANG!" Alea menerjang tubuh Carlos dan memukulinya dengan membabi buta. Tangis Alea pecah seiring pukulan yang mendarat di tubuh suaminya. Carlos pun tidak tinggal diam, dia mencengkram tangan Alea, lalu memeluk tubuh istrinya dengan paksa. "Tenang sayang! Aku bisa menjelaskan semuanya. Tolong jangan seperti ini!" Carlos mencoba menenangkan, namun Alea berontak keras. Berusaha melepaskan diri. "Lepas! Kamu sangat menjijikkan Carlos! Aku benci kamu!” Plak! Satu tamparan keras mendarat di pipi Alea. Alea terpaku. Wajahnya menoleh ke samping. Tidak peduli pada pipinya yang terasa panas. Ia menatap Fiona yang baru saja memukulnya dengan mata penuh luka. “Hentikan kegilaanmu, Alea!” bentak Fiona. “Beraninya kamu mengganggu kenikmatanku dan memukul kekasihku!” Mulut Alea terkatup. Kakinya melangkah mundur. Alea tidak menyangka Fiona memukul dan membentaknya. Fiona bukan ibu kandung Alea. Dia hanya ibu tiri. Selama lima tahun, Fiona selalu bersikap baik dihadapan Alea. Karena itu Alea menghormati dan menerimanya sebagai ibu. Andrean menikahi Fiona setelah Arumi, ibu kandung Alea, meninggal dunia. Namun tidak lama setelah pernikahan itu, Andrean mengalami kecelakaan hingga membuatnya lumpuh permanen. “Suamimu lebih memilihku daripada kamu, Alea.” Fiona berkata tanpa rasa bersalah. “Kami saling mencintai.” “Fiona, cukup!” Carlos membentak. Namun Fiona malah mendekat kepada Carlos. Ia menempelkan tubuhnya pada pria itu, sengaja ingin menyakiti Alea. “Biar istrimu tahu, Carlos.” Fiona bicara sambil tersenyum sinis, “apa yang kita lakukan setiap malam ketika dia tidur.” Alea terdiam. Setiap malam? Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan Fiona sebelumnya. Alea paham perbuatan mereka bukan hanya terjadi sekali. Tapi saat Alea tertidur dalam kondisi lemah, Carlos dan Fiona sudah berkali-kali mengkhianatinya. “Kami saling mencintai!” Fiona kembali bicara. “Dan kamu tidak bisa memisahkan kami.” Fiona tanpa malu meraup wajah Carlos, lalu mencium bibirnya dengan bringas. Carlos memberontak, tapi Fiona mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menahan. “BIADAB!” Kepala Alea berputar. Pandangannya mengabur. “ALEA!” Carlos berhasil melepaskan diri dari Fiona. Dia melangkah panik dan segera meraih tubuh Alea begitu melihatnya terhuyung. Alea jatuh terduduk di lantai, satu tangan memegangi perut, sementara air mata terus mengalir. Sebelum kesadarannya hilang, Alea sempat menoleh ke arah Andrean. Ayahnya menangis. “Pa… pah,” bisik Alea. Lalu, semuanya gelap. Beberapa jam kemudian… Prang! Suara benda pecah membangunkan Alea. Kepalanya berat, tapi Alea langsung mengenali ruangan tempatnya berada. Alea berada di kamar tidurnya. Bukan lagi di ruang keluarga, tempatnya memergoki Carlos dan ibu tirinya berselingkuh. “Aku akan bercerai dari tua bangka itu, Carlos!” suara Fiona terdengar tajam. “Dan kamu juga harus menceraikan Alea!” Alea memejamkan mata. Tubuhnya yang masih lemah kaku mendengar perkataan Fiona. “Kamu gila, Fiona,” balas Carlos. “Aku tidak akan pernah Bercerai dari Alea. Urusan kita berakhir setelah bayi itu lahir.” Bayi? Jantung Alea seperti berhenti. “Tidak!” Fiona tertawa pahit. “Aku dan bayi ini membutuhkanmu, Carlos. Kamu tidak bisa meninggalkan kami!” Alea menahan napas. Tangis kembali mengalir di pipinya. Fiona hamil. Dan anak itu adalah anak Carlos. “Sayang, kamu sudah bangun?” Carlos mendekat saat sadar Alea sudah membuka mata. “Apa ada yang sakit?” “Jangan sentuh aku,” kata Alea dengan suara parau seraya berusaha bangkit dari posisinya. Carlos berlutut di hadapan Alea. “Tolong dengarkan penjelasanku, Sayang. Beri aku kesempatan untuk bicara.” “Kamu pengkhianat,” desis Alea, beringsut mundur menghindari Carlos. “Kalian menjijikkan.” “Baguslah, akhirnya kamu bangun!” Fiona mendekat sambil membawa sesuatu ditangannya. Tanpa peringatan, ia melempar benda itu ke hadapan Alea. Dua garis merah terlihat jelas pada testpack yang baru saja dilempar Fiona. “Aku hamil anak Carlos. Dokter bilang usia kandunganku sudah delapan minggu,” ujar Fiona penuh kemenangan. Dunia Alea kembali runtuh. Tiga tahun menikah, baru pada tahun ketiga Alea mengandung anak Carlos. Namun pada saat yang sama, perempuan yang ia panggil Mamah juga mengandung anak dari suaminya. Alea tidak bisa membayangkan sudah berapa lama Carlos dan Fiona mengkhianatinya? “Kamu harus menerima anak ini,” kata Fiona sambil menatap Alea dengan senyum dingin. “Bersiaplah berbagi suami denganku. Carlos akan jadi ayah dari bayi kita.”"Nyonya Alea?" Kening Alea mengernyit. Mendengar seseorang memanggil namanya. Dia perlahan membuka mata, kemudian memutar sedikit kepala untuk melihat orang yang memanggilnya. Alea terkesiap melihat sosok pria yang semalam ditemuinya. Bibir Alea seketika tersenyum, lalu mengedarkan pandangan. Mencari keberadaan anak laki-laki yang semalam sudah berhasil mencuri hatinya. 'Akhirnya, kamu datang juga,' batin Alea. Tanpa mengindahkan keberadaan Liam.Liam mengeratkan rahang begitu melihat senyum di bibir Alea. Reaksi Alea yang tiba-tiba terlihat senang memberitahu Liam tentang Alea yang ingin kembali bertemu Ansel. Liam pun mendengus. Merutuki perbuatan licik yang Alea lakukan. Liam yakin, Alea memang sudah mengambil gantungan kalung milik putranya. "Anda tidak akan mendapatkan apa yang anda inginkan dengan mudah, nyonya," tutur Liam dengan nada dingin. Senyum di wajah Alea memudar. Tatapannya tertuju pada liam yang menatap datar dirinya. Alea sadar, anak laki-laki yang dari semalam
"Siapkan pesawat! Kita pergi menyusul mereka." "Apa?!" Darvin tercengang mendengar perintah atasannya. Tidak menyangka Liam akan repot-repot menyusul Alea dan keluarganya. Padahal, pekerjaan pria itu sangat banyak. Dan tidak biasanya Liam pergi meninggalkan pekerjaannya."Maaf tuan, apa maksud anda kita akan pergi menyusul Nyonya Alea?" tanya Darvin dengan hati-hati. Memastikan perintah yang baru saja didengarnya. Liam melayangkan tatapan dinginnya. "Apa perintahku kurang jelas? Aku tidak suka mengulang perintah." "Ma-maaf Tuan! Saya akan segera menyiapkan pesawat," sahut Darvin seraya menegakkan badan. Gugup mendapatkan tatapan dingin dari Liam. Meski atasannya tersebut tidak terlihat marah, tapi Darvin tahu Liam bukan pria yang banyak berkata. Dia tidak suka menunggu atau mengulang perintah. Pria itu lebih baik kehilangan bawahan dari pada harus mengulang perkataannya. Tidak mau kehilangan pekerjaan yang sudah lima tahun ini dijabatnya, Darvin pun segera undur diri dari hadapa
"Tangisanmu tidak akan berpengaruh pada papah, Ansel. Jangan harap Papah akan memaafkanmu begitu saja." Liam menolak permohonan putranya dengan tegas. Ansel merapatkan bibir. Menahan isakannya agar tidak keluar. Takut Liam akan semakin marah. Aliana menatap kakak dan keponakannya bergantian. Merasa iba pada Ansel. Dia ingin membela keponakannya, namun takut Liam akan berbalik marah padanya. Aliana pun hanya diam tanpa mampu berbuat apa-apa. "Sekarang katakan! Kenapa semalam kamu membuat masalah?" Liam mempertanyakan alasan Ansel kabur dari pesta. Dengan tangan bergetar, Ansel mengambil buku tulisnya dari tangan Liam, lalu mengambil pulpen dari Aliana. Ansel menuliskan sesuatu pada kertas yang terbuka dihadapannya. 'Maaf!' Ansel menunduk seraya memperlihatkan tulisan tersebut. Liam menatap putranya dalam-dalam, jika kata maaf sudah keluar, artinya Ansel tidak akan memberikan penjelasan apapun. "Papah khawatir!" Ansel mendongak mendengar dua kata yang ayahnya ucapkan. Matanya be
Keesokan harinya, terjadi kerusuhan di rumah keluarga Abraham. Ansel, cucu tunggal keluarga Abraham, mogok makan dan tidak mau membuka mulut sedikit pun. Aliana yang sudah Liam percaya untuk menjaga Ansel pun bingung. Dia tidak mau Liam menjauhkan Ansel darinya. "Ansel, tolong jangan membuatku susah. Ayahmu sudah marah padaku karena kejadian semalam, buka mulutmu dan makanlah!" pinta Aliana setengah memelas. Takut kondisi Ansel kembali drop hingga Liam menyalahkannya. Selama ini, Liam sangat protektif pada putranya. Dia tidak membiarkan siapapun berdekatan dengan Ansel, termasuk orangtua dan adiknya. Liam tidak mempercayakan pengawasan Ansel pada orang lain. Namun dua tahun lalu, setelah Aliana membujuk Liam dengan menjanjikan akan membuat Ansel sembuh dari speech delaynya dan tidak akan membiarkan Ansel kekurangan kasih sayang seorang ibu, Liam pun akhirnya mempercayakan pengawasan Ansel pada adiknya, mengingat dirinya yang memang tidak bisa berceloteh banyak seperti yang Aliana l
Beberapa jam berlalu. Begitu Calros dan Fiona pergi ke kamar mandi, Alea membuka mata. Tadi, dia hanya berpura-pura tidur untuk menghindari Carlos. Alea tidak sudi melayani suaminya. Selama empat tahun ini, Alea harus bertahan dengan Calros dan Fiona yang tidak punya malu berhubung badan dihadapannya. Alea muak. Dia ingin menghentikan mereka, namun tidak ada yang bisa Alea lakukan selain menghindar. Biasanya, Alea pura-pura tidur atau mengamuk histeris untuk menghindari sentuhan Carlos. Namun, hal itu kadang tidak berguna jika Carlos ataupun Fiona menggunakan obat perangsang untuk membuatnya terlibat dalam percintaan. Air mata Alea menetes. Menangis tanpa suara. Tidak mudah bertahan hidup dalam kebobrokan moral yang dilakukan oleh suaminya. Carlos sebagai suami tidak memikirkan perasaan Alea yang harus melihat percintaannya dengan wanita lain. Alea sadar, dirinya mulai gila. Bahkan mungkin sudah gila seperti yang sering Fiona katakan. Tapi sayang, sejak empat tahun lalu, kesadara
Alea berjalan menuju rumah dengan langkah anggun. Senyum manis terukir di wajahnya. Tidak dipedulikannya sepatu dan ujung gaunnya yang kotor terkena lumpur, bahkan pakaiannya pun basah karena air hujan."Alea dari mana saja kamu?"Carlos menghampiri Alea dengan wajah cemas. Dia menilik penampilan istrinya. Carlos terkesiap melihat luka di pergelangan tangan Alea."Alea kamu melukai diri sendiri lagi?" Alea menarik tangannya dari genggaman Carlos. Dia menatapnya dengan tatapan dingin. "Jangan sentuh!" Alea menyembunyikan luka di tangannya.Plak! Tiba-tiba, sebuah tamparan mendarat di wajah Alea. Nampak, Fiona berdiri dihadapannya dengan wajah geram."Dasar wanita gila! Bisa-bisanya kamu pergi di tengah pesta. Kamu hampir menghancurkan pesta ulang tahun putraku," teriak Fiona. Dia hendak melayangkan kembali pukulannya, namun Carlos lebih dulu menahan laju tangannya. "Cukup!" cegah Carlos dengan tegas. "Jangan berlebihan!" Fiona mendelik. "Berlebihan? Dia–." "Oma, aku mengangtuk."
Carlos membuka pintu kamar. Nampak, Alea berdiri di depan jendela sambil bersenandung. Tatapan Carlos tertuju pada bantal yang Alea dekap. Carlos menarik napas. Dadanya sesak. Sedih melihat istrinya yang belum bisa menerima kematian bayinya. "Alea ..." Carlos mendekati Alea, lalu mengecup pipin
"Sayang … ini mamah, Nak!" Alea terharu melihat bayi di hadapannya. Dia segera membuka kotak inkubator, lalu mengeluarkan bayinya. Alea menciumi bayinya dengan sayang. Mendekapnya dengan erat. Tidak mau kehilangan bayinya. "Nyonya! Hanya ini yang bisa saya lakukan. Pergilah sebelum dokter Kevin da
"Aku harus mengurus pemakaman. Jaga Alea dan bayiku baik-baik!" Alea mendengar suara langkah kaki Carlos menghilang seiring pintu ruangan yang tertutup. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Alea merasakan napas seseorang menerpa wajahnya. "Kamu akan membiarkan anak ini tetap hidup?" "Tid
"Berbagi suami?" Alea menggeleng. Tidak habis pikir dengan pemikiran Fiona. Bagaimana bisa Alea berbagi suami dengan ibu tirinya sendiri. Sungguh! Fiona wanita tidak tahu malu. Alea melepaskan pelukan suaminya, lalu menatap ibunya dengan tajam. "Ambil saja Carlos untukmu! Aku tidak sudi berbagi







