Share

Bab 3

Author: Miss Sunny
Sudut Pandang Irene.

Aku menyeka wajahku dengan punggung tangan lalu mengangkat telepon. Mario adalah orang yang menandatangani slip gajiku. Jika aku ingin keluar dari kekacauan ini dengan karir tetap utuh, aku harus menghadapinya.

"Halo, Mario," jawabku. Suaraku ternyata terdengar cukup tenang.

"Irene." Suara serak Mario menggema. "Di mana kau? Leon hampir gila. Dia bilang kau meninggalkan arena tanpa mengucapkan sepatah kata pun."

"Aku merasa nggak enak badan," kataku dingin.

"Dengarkan aku, Irene. Aku mendapat telepon dari pihak imigrasi. Dia bilang ada kendala dengan akta nikahmu. Sesuatu tentang belum pernah diajukan?"

Berita menyebar dengan cepat.

"Itu bukan kendala, Mario. Melainkan palsu. Leon nggak pernah mendaftarkannya. Dia sudah menikah secara sah dengan Sofia."

Aku menunggu reaksi keterkejutannya. Aku menunggu Mario marah karena pemain bintangnya adalah seorang bajingan dan penipu.

Sebaliknya, hanya ada jeda. Dan kemudian, desahan napas kesal.

"Dengar, Irene, aku nggak peduli soal dokumen itu," kata Mario dengan acuh tak acuh. "Itu urusan pribadi. Yang aku pedulikan adalah citranya. Babak pasca musiman sedang berlangsung. Nilai Tim Toreto sedang berada di puncak tertinggi karena citra “Pasangan Emas” yang kau dan Leon tampilkan. Para penggemar menyukai pemain bintang dan istrinya yang jenius sebagai dokter tim."

Darahku membeku. "Kau ... kau nggak terkejut?"

"Aku ini seorang pebisnis, Irene. Aku tahu Leon itu ... rumit. Dan aku juga tahu tentang Sofia. Dia bisa menanganinya dengan baik."

Dia tahu. Pemilik tim ternyata tahu bahwa Leon sudah menikah dengan manajernya, dan masih berpura-pura menikah denganku.

"Jadi, kau nggak masalah dengan ini?" tanyaku. Genggamanku pada ponsel semakin erat. "Kau nggak masalah dia melakukan penipuan? Memanfaatkanku?"

"Aku nggak masalah dengan apa pun, selama Leon terus mencetak gol!" bentak Mario.

"Jadi kau harus menyelesaikan masalah visa ini secara diam-diam. Kalau kau butuh pengacara, aku akan membayarnya. Kau akan tetap di sisi Leon sampai musim ini berakhir. Nggak boleh ada skandal. Nggak akan ada perpisahan. Kalau kau meninggalkannya sekarang, kau akan menghancurkan psikologis tim. Dan kalau itu sampai terjadi, Irene ... aku akan pastikan kau nggak akan pernah bekerja di bidang kedokteran olahraga lagi. Aku akan menghancurkan reputasimu."

Ancaman itu menggantung di udara, berat dan mencekik.

Mereka semua terlibat. Leon, sang bintang. Sofia, sang pengatur. Mario, sang pendukung.

Bagi mereka, aku bukan manusia. Aku hanyalah alat. Sebuah properti untuk memperbaiki cedera Leon dan memoles citra publiknya.

"Aku mengerti," kataku pelan.

"Gadis pintar." Nada suara Mario melunak, penuh dengan sikap merendahkan. "Pulanglah. Berdamai dengan Leon. Dia sedang merencanakan pesta kejutan besar untukmu di akhir pekan ini. Tersenyumlah di depan kamera."

Dia pun menutup telepon.

Aku menatap ponsel itu. Gadis pintar?

Aku kembali melihat alat tes kehamilan di lantai. Dua garis.

Jika aku mempertahankan bayi ini, aku akan terikat pada Leon selamanya. Dia akan memanfaatkan anak ini. Dia akan menggunakannya untuk mengendalikanku, seperti yang dia rencanakan untuk anak Sofia. Dia akan memamerkan kami sebagai keluarga bahagia sementara dia tidur dengan Sofia di sisi lain.

Dan Mario akan membantunya melakukan itu.

Aku tidak bisa membawa seorang anak ke dalam kubangan ini. Aku tidak bisa membiarkan nyawa yang tidak bersalah menjadi pion dalam permainan mereka yang busuk.

Aku mencintai anak-anak. Aku ingin menjadi seorang ibu lebih dari apa pun.

Tetapi bukan seperti ini. Bukan dengannya.

Hatiku hancur berkeping-keping, tajam dan bergerigi. Aku pun mengambil alat tes itu dan berjalan ke tempat sampah. Aku membungkusnya dengan beberapa lapis kertas tisu, menyembunyikan bukti keajaiban yang tidak mampu kupertahankan.

Aku pun mengambil ponselku lagi. Jari-jariku gemetar saat aku mencari nomor yang kuharap tidak akan pernah kugunakan.

Klinik Kesehatan Wanita - Janji Temu.

Aku menekan nomor itu.

"Terima kasih telah menghubungi Klinik Wanita Mutiara. Ada yang bisa saya bantu?" Sebuah suara wanita yang lembut menjawab.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan getaran dalam suaraku.

"Saya ingin membuat janji," kataku, suaraku sedikit bergetar.

"Oke. Janji untuk layanan apa?"

Aku menutup mata. Setetes air mata mengalir, panas dan membakar.

"Untuk aborsi," bisikku. "Secepatnya."

"Kami punya jadwal kosong besok jam dua siang. Bagaimana?"

"Boleh," kataku. "Saya bisa."

Aku pun menutup telepon dan berjalan ke cermin. Wanita yang menatapku tampak pucat seperti hantu. Namun, matanya sekarang kering. Kesedihan itu sudah digantikan oleh sesuatu yang lain.

Tekad yang dingin dan keras.

Mereka ingin aku tetap tinggal? Mereka ingin aku menjadi istri yang patuh di depan kamera?

Baiklah. Aku akan tetap tinggal. Cukup lama untuk mengurus visaku dengan cara lain. Cukup lama untuk bisa mengumpulkan setiap bukti penipuan mereka. Cukup lama untuk menyaksikan kerajaan mereka hancur lebur.

Leon ingin kejutan? Aku akan memberikannya.

Tapi pertama-tama, aku harus memotong bagian dirinya yang tumbuh di dalam diriku.

Aku berbaring di kamar tamu, kamar yang tidak pernah dimasuki Leon, menatap langit-langit sampai matahari mulai menembus tirai. Tanganku refleks menyentuh perut bagian bawah.

Perutku rata. Belum ada tanda-tanda kehidupan. Tapi aku tahu dia ada di sana. Sekumpulan kecil sel yang memiliki DNA sama dengan pria yang saat ini tidur di hotel mewah bersama manajernya.

‘Aku harus melakukannya,’ kataku pada diri sendiri untuk keseratus kalinya.

Jika aku mempertahankan bayi ini, Mario akan menggunakannya sebagai alat tawar-menawar. Leon akan menggunakannya sebagai properti. Dan, Sofia mungkin akan mencoba menyakitinya. Membawa seorang anak ke zona perang seperti ini bukanlah cinta, itu adalah kekejaman.

Tetapi setiap kali aku membayangkan harus berjalan ke klinik itu jam dua siang, dadaku terasa sesak hingga sulit bernapas.

Aku pun mengusir pikiran itu. ‘Harus bertahan hidup dulu, Irene. Emosi tidak penting.’

Aku duduk dan mengambil laptopku. Waktu menunjukkan pukul enam pagi.

Aku punya waktu tiga puluh hari.

Tiga puluh hari sebelum visaku habis masa berlakunya. Tanpa pernikahan yang sah dengan Leon, aku hanyalah orang asing dengan visa kerja yang terikat pada ... Toreto Arpaz.

Sialan.

Mario telah mengancam akan menghancurkan reputasiku. Jika aku mengundurkan diri, dia akan segera membatalkan sponsor kerjaku. Aku pun akan dideportasi dalam seminggu. Aku membutuhkan sponsor baru. Perusahaan baru yang cukup kuat untuk melawan Mario.

Hanya ada satu tim di liga yang memiliki uang dan pengaruh seperti itu.

Tim Sonar Barica.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 30

    Sudut Pandang Irene.Satu Tahun Kemudian.Matahari terbenam di atas tebing kompleks perkebunan Justin, mewarnai samudra dengan nuansa emas dan ungu.Sebuah lorong sutra putih membentang di atas halaman hijau zamrud, menuju altar yang terbuat dari kayu apung dan mawar putih. Itu adalah upacara pernikahan yang ditunggu-tunggu dunia, "Pernikahan Terbaik Abad Ini" menurut tabloid berita. Tapi bagiku, itu hanyalah sebuah janji yang dibuat di depan orang-orang yang penting.Aku berdiri di lobi rumah besar itu, memandang diriku sendiri di cermin besar.Gaunku adalah mahakarya dari renda dan sutra terbaik, dirancang untuk bisa menangkap cahaya dengan setiap gerakan. Gaun itu anggun, elegan, dan sangat indah. Di leherku ada liontin safir sederhana, hadiah pernikahan dari Justin.Suara gemericik lembut terdengar dari buaian di dekat jendela. Levi yang kini berusia satu tahun dan tegap mengenakan setelan jas kecil, sibuk mencoba memakan dasi kupu-kupunya sendiri."Kau tampak menakjubkan, Dokter I

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 29

    Sudut Pandang Irene."Utangnya sudah lunas," kataku dengan suara tenang. "Sang penyelamat dan sang bintang ... kita sudah selesai."Aku membelakangi kuburan dan berjalan menuruni bukit.Dengan setiap langkah, aku merasakan beban semu selama sepuluh tahun ini akhirnya menghilang. Aku bukan lagi dokter “Master Hoki”. Aku bukan lagi istri rahasianya. Aku hanya Irene.Justin sedang menunggu di dekat pintu mobil. Ketika melihatku, dia tidak bertanya bagaimana perasaanku. Dia hanya membuka pintu, membaringkanku di kursi kulit yang hangat, dan mencium keningku."Sudah siap?" tanyanya."Siap," jawabku.Kami pun pergi, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak melihat ke belakang di kaca spion....Tiga bulan kemudian, Sonar Barica menuju babak pasca musiman. Aku kembali bekerja, gelar Kepala Dokter Tim sekarang menjadi simbol departemen medis paling sukses di liga."Protokol Leon" milikku telah diubah namanya menjadi "Metode Irene". Dan, telah dilisensikan oleh tim-tim di seluruh nege

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 28

    Sudut Pandang Irene.Saat kami berjalan keluar dari gudang, sinar matahari pagi mulai menyinari Dermaga Barica. Udara terasa dingin, tetapi beban yang telah menghancurkan dadaku selama berbulan-bulan akhirnya menghilang.Tiba-tiba, aku merasakan denyutan kecil yang menantang di perut bawahku.Tendangan. Tendangan pertama bayi itu.Aku berhenti berjalan dan melihat ke bawah, lalu menatap Justin. Dia melihat ekspresi wajahku dan meletakkan tangannya di atas tanganku, matanya menelusuri wajahku dengan cemas."Dia baik-baik saja," bisikku. "Kita akan baik-baik saja.""Ayo pulang, Irene," kata Justin. Dia menarikku ke dalam kehangatan mobilnya. "Masa lalu telah berakhir. Hari ini adalah hari pertama dari sisa hidup kita."Debu dari ledakan gudang telah mereda, tetapi gelombang kejut hukum dan emosional baru saja mulai membentuk kembali kota ini.Dua minggu telah berlalu sejak malam saat Leon menukar hidupnya dengan hidupku.Pers yang pernah menikmati pemberitaan tentang dugaan menghilangnya

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 27

    Sudut Pandang Irene.Gudang itu dipenuhi perlengkapan taktis dan lampu darurat, tetapi bagi kami bertiga, dunia telah menyusut menjadi lingkaran kecil di atas beton yang berlumuran darah.Para petugas medis bergegas ke arah kami dengan tandu, langkah kaki mereka bergema di atas kayu, tetapi aku tahu mereka sudah terlambat.Aku bisa merasakan kehidupan perlahan meninggalkan Leon di bawah ujung jariku, kehangatan tubuhnya memudar menjadi hawa dingin lembap pagi itu.Justin berlutut di sampingku, tangannya bertumpu erat di bahuku. Biasanya, sentuhan Justin adalah sebuah klaim, pengingat posesif bahwa aku miliknya.Tetapi sekarang, genggamannya seperti sebuah dukungan. Tidak ada lagi rasa cemburu dalam dirinya, hanya rasa hormat yang berat dan muram kepada pria yang baru saja berjuang untuk keluarganya.Tangan Leon gemetar dan berat karena beban saat-saat terakhirnya, terangkat ke arahku.Dia ingin menyentuh pipiku yang telah dia abaikan selama pernikahan kami, yang telah dia ejek di depan

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 26

    Sudut Pandang Irene.Dalam sepersekian detik Sofia menerjang, otakku memproses semuanya dengan kejelasan yang menyakitkan.Aku melihat kilatan bilah baja tahan karat di tangannya, kegilaan di sorot matanya yang lebar dan tak berkedip, dan gerakan panik Justin yang putus asa saat dia menerobos pembatas dalam, tangannya terulur ke arahku, namun jaraknya masih sepuluh kaki, terlalu jauh untuk menghentikan arah serangan itu.Aku pun memejamkan mata, naluri primitif langsung mengambil alih. Aku membungkukkan tubuh ke depan sejauh yang memungkinkan oleh ikatan kabel, upaya terakhir untuk melindungi kehidupan kecil di dalam diriku dengan tulang rusukku sendiri.Aku menunggu gigitan dingin dan tajam dari pisau itu. Aku menunggu akhir dari mimpi yang baru saja mulai kupercayai.Namun, benturan yang kurasakan tidak tajam. Melainkan berat.Aku pun mendengar erangan serak penuh tenaga, diikuti oleh bunyi hantaman yang mengerikan, suara tubuh yang bertabrakan dengan tubuh.Terdengar suara napas ter

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 25

    Sudut Pandang Irene.Gudang itu adalah pusat industri yang sudah terbengkalai, bertengger dengan tidak stabil di tepi Dermaga Barica.Udara dipenuhi aroma air laut yang menggenang, besi berkarat, dan bau tembaga tajam dari keputusasaan Mario.Aku duduk terikat di kursi kayu berat, pergelangan tanganku lecet karena ikatan plastik yang menusuk kulitku.Setiap kali aku bergerak, plastik itu akan semakin menusuk, tetapi aku tetap memposisikan tanganku sebaik mungkin di atas perut.Kehamilanku bukan lagi sekadar rahasia, itu adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap waras dalam mimpi buruk ini.Aku seorang dokter, aku tahu statistik trauma selama trimester kedua, dan angka-angka itu berteriak di kepalaku.Di sebelah kiriku, Leon hanyalah bayangan hancur dari pria yang pernah kupuja. Dia terikat di kursi yang serupa. Setelan jasnya yang dulu merupakan baju Master Hoki, kini menjadi kain compang-camping yang berlumuran darah.Wajahnya penuh memar, kesombongannya digantikan oleh kesadaran y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status