Share

Bab 4

Author: Miss Sunny
Sudut Pandang Irene.

Mereka adalah musuh bebuyutan Tim Toreto.

Kapten mereka, Justin Sorea, adalah kebalikan total dari Leon. Jika Leon adalah “Master Hoki” yang sempurna, maka Justin adalah “Sang Penakluk”. Brutal, efisien, dan terkenal sulit diajak bekerja sama. Dia telah memecat tiga dokter tim dalam setengah tahun terakhir.

Rumor mengatakan dia membenci ketidakkompetenan.

Aku membuka email. Jari-jariku melayang di atas papan ketik. Aku tidak perlu mengirimkan daftar riwayat hidup, karena reputasiku di liga sudah cukup. Aku pun mengetik judul email sederhana.

[Subjek: Dr. Irene Haryanto - Melamar Kerja.]

Aku langsung mengirimkannya ke manajer umum Tim Sonar. Aku menduga baru akan mendapat balasan dalam beberapa hari, atau mungkin seminggu.

Aku menutup laptop dan pergi ke dapur untuk membuat kopi, lalu teringat pada kehamilanku. Aku akhirnya menuangkan segelas air sebagai gantinya.

Dering ponsel.

Ponselku menyala di atas meja dapur.

Itu adalah pesan teks dari nomor yang tidak dikenal.

[Nomor tidak dikenal: Bandara Minaharpa. Hanggar Pribadi 4. Datang dalam satu jam.]

Aku pun mengerutkan kening. Siapa ini?

Pesan teks lain segera menyusul.

[Nomor tidak dikenal: Bawa paspormu. J. Sorea.]

Napasku tercekat. Justin Sorea? Dia punya nomor pribadiku? Dan dia sedang berada di Arpaz?

Ini gila. Ini berbahaya. Jika ada yang melihatku bertemu dengan kapten tim lawan, itu bisa dianggap pengkhianatan.

Sempurna.

Aku mengambil tas, paspor, dan tas medis yang selalu kusiapkan.

Empat puluh lima menit kemudian, aku sedang memarkir mobil di bawah bayangan Hanggar 4.

Sebuah jet pribadi berwarna hitam mengkilap terparkir di landasan, mesinnya berbunyi pelan. Seorang pria berdiri di kaki tangga pesawat, diapit oleh dua pengawal bersetelan jas.

Bahkan dari kejauhan, sosok Justin tampak mengintimidasi. Dia lebih tinggi dari Leon, bahunya lebih lebar. Dia mengenakan setelan abu-abu gelap yang harganya lebih mahal daripada mobilku, tanpa dasi, kancing atas kemejanya terbuka memperlihatkan sedikit kulitnya yang kecoklatan. Rambut hitamnya disisir ke belakang, tajam dan tegas.

Aku keluar dari mobil dan berjalan ke arahnya. Angin menerpa rambutku ke wajah, tetapi aku tidak bergeming.

Saat aku semakin dekat, matanya sedang menatapku. Matanya berwarna abu-abu tajam, seperti awan badai di atas lautan. Matanya tidak mengamati tubuhku seperti yang sering dilakukan Leon, sebaliknya dia seakan menatap langsung ke jiwaku.

"Dokter Irene." Suaranya dalam, bariton yang bergetar di udara. "Kau tepat waktu. Aku suka itu."

"Pak Justin." Aku mengangguk, menggenggam tasku. "Saya mengirim email ke manajer Anda dua puluh menit yang lalu. Bagaimana Anda ...."

"Aku sudah memasang notifikasi khusus untuk namamu." Dia menyela dengan santai. "Kami sudah mencoba merekrutmu selama dua tahun ini, Irene. Apa aku boleh memanggilmu Irene?"

Cara dia mengucapkan namaku membuat tubuhku merinding, tapi bukan karena kedinginan.

"Nggak masalah," kataku. "Tapi sepertinya ada kesalahpahaman. Saya masih terikat kontrak dengan Tim Toreto."

"Kontrak yang bergantung pada sponsor visa," kata Justin, tatapannya tertuju pada cincin di jariku. "Ada rumor yang mengatakan Mario mengancam akan membatalkan kontrak kalau kau nggak bersikap baik."

Mataku melebar. "Bagaimana Anda bisa tahu?"

Justin terkekeh, senyumnya tampak berbahaya. "Aku tahu semua yang terjadi di liga ini. Aku tahu Leon itu bodoh. Aku tahu Mario itu licik. Dan aku tahu kau adalah satu-satunya alasan lutut Leon belum hancur berkeping-keping."

Dia menunjuk ke arah pintu jet yang terbuka. "Masuklah. Di luar sangat dingin, dan kau terlihat ... pucat."

Aku ragu-ragu. "Saya ada janji jam dua siang. Saya nggak bisa meninggalkan kota."

Justin berhenti sejenak. Dia menatapku, benar-benar menatapku. Tatapannya melembut sesaat, seolah-olah dia bisa merasakan gejolak yang berkecamuk di dalam diriku.

"Kita nggak akan meninggalkan landasan," janjinya. "Hanya bicara saja."

Aku pun mengikutinya naik tangga.

Interior dalam jet itu sangat mewah, kulit krem, kayu mahoni, aroma espresso dan parfum mahal. Dia mempersilakanku duduk, lalu dia duduk di seberangku.

"Langsung saja ke intinya," kataku, tanganku sedikit gemetar di pangkuan. "Aku butuh pekerjaan. Aku butuh sponsor visa. Kalau Anda bersedia menerima saya, saya bisa membawa semua penelitian, protokol rehabilitasi, semuanya. Tapi saya butuh proses yang cepat. Status saya ... rumit."

Justin bersandar, menyilangkan kakinya yang panjang. "Aku bukan hanya menginginkan protokolmu, Irene. Aku menginginkanmu. Timku kuat, tapi mereka mudah cedera. Kami membutuhkan dokter terbaik di dunia."

"Jadi, Anda akan mempekerjakan saya?"

"Aku bisa melakukan yang lebih baik dari itu."

Dia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru. Dia pun meletakkannya di atas meja di antara kami.

Aku menatapnya. "Apa itu?"

"Sebuah solusi," kata Justin dengan tenang. "Visa kerja membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk diproses, terutama jika Mario mencoba menghalangi. Dia punya koneksi di imigrasi. Dia bisa mengulur waktu permohonanmu sampai kau terpaksa harus pergi dari sini."

Dia benar. Mario memang mengancam persis seperti itu.

"Hanya ada satu cara untuk melewati waktu tunggu itu dan membuatmu tak tersentuh," lanjut Justin. Dia membuka kotak itu.

Di dalamnya terdapat sebuah cincin. Itu tidak seperti berlian sederhana yang diberikan Leon untukku. Itu adalah safir besar yang dibentuk dengan teknik khusus, dan dikelilingi oleh berlian. Terlihat berat, seperti milik bangsawan.

"Menikahlah denganku," kata Justin.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 30

    Sudut Pandang Irene.Satu Tahun Kemudian.Matahari terbenam di atas tebing kompleks perkebunan Justin, mewarnai samudra dengan nuansa emas dan ungu.Sebuah lorong sutra putih membentang di atas halaman hijau zamrud, menuju altar yang terbuat dari kayu apung dan mawar putih. Itu adalah upacara pernikahan yang ditunggu-tunggu dunia, "Pernikahan Terbaik Abad Ini" menurut tabloid berita. Tapi bagiku, itu hanyalah sebuah janji yang dibuat di depan orang-orang yang penting.Aku berdiri di lobi rumah besar itu, memandang diriku sendiri di cermin besar.Gaunku adalah mahakarya dari renda dan sutra terbaik, dirancang untuk bisa menangkap cahaya dengan setiap gerakan. Gaun itu anggun, elegan, dan sangat indah. Di leherku ada liontin safir sederhana, hadiah pernikahan dari Justin.Suara gemericik lembut terdengar dari buaian di dekat jendela. Levi yang kini berusia satu tahun dan tegap mengenakan setelan jas kecil, sibuk mencoba memakan dasi kupu-kupunya sendiri."Kau tampak menakjubkan, Dokter I

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 29

    Sudut Pandang Irene."Utangnya sudah lunas," kataku dengan suara tenang. "Sang penyelamat dan sang bintang ... kita sudah selesai."Aku membelakangi kuburan dan berjalan menuruni bukit.Dengan setiap langkah, aku merasakan beban semu selama sepuluh tahun ini akhirnya menghilang. Aku bukan lagi dokter “Master Hoki”. Aku bukan lagi istri rahasianya. Aku hanya Irene.Justin sedang menunggu di dekat pintu mobil. Ketika melihatku, dia tidak bertanya bagaimana perasaanku. Dia hanya membuka pintu, membaringkanku di kursi kulit yang hangat, dan mencium keningku."Sudah siap?" tanyanya."Siap," jawabku.Kami pun pergi, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak melihat ke belakang di kaca spion....Tiga bulan kemudian, Sonar Barica menuju babak pasca musiman. Aku kembali bekerja, gelar Kepala Dokter Tim sekarang menjadi simbol departemen medis paling sukses di liga."Protokol Leon" milikku telah diubah namanya menjadi "Metode Irene". Dan, telah dilisensikan oleh tim-tim di seluruh nege

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 28

    Sudut Pandang Irene.Saat kami berjalan keluar dari gudang, sinar matahari pagi mulai menyinari Dermaga Barica. Udara terasa dingin, tetapi beban yang telah menghancurkan dadaku selama berbulan-bulan akhirnya menghilang.Tiba-tiba, aku merasakan denyutan kecil yang menantang di perut bawahku.Tendangan. Tendangan pertama bayi itu.Aku berhenti berjalan dan melihat ke bawah, lalu menatap Justin. Dia melihat ekspresi wajahku dan meletakkan tangannya di atas tanganku, matanya menelusuri wajahku dengan cemas."Dia baik-baik saja," bisikku. "Kita akan baik-baik saja.""Ayo pulang, Irene," kata Justin. Dia menarikku ke dalam kehangatan mobilnya. "Masa lalu telah berakhir. Hari ini adalah hari pertama dari sisa hidup kita."Debu dari ledakan gudang telah mereda, tetapi gelombang kejut hukum dan emosional baru saja mulai membentuk kembali kota ini.Dua minggu telah berlalu sejak malam saat Leon menukar hidupnya dengan hidupku.Pers yang pernah menikmati pemberitaan tentang dugaan menghilangnya

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 27

    Sudut Pandang Irene.Gudang itu dipenuhi perlengkapan taktis dan lampu darurat, tetapi bagi kami bertiga, dunia telah menyusut menjadi lingkaran kecil di atas beton yang berlumuran darah.Para petugas medis bergegas ke arah kami dengan tandu, langkah kaki mereka bergema di atas kayu, tetapi aku tahu mereka sudah terlambat.Aku bisa merasakan kehidupan perlahan meninggalkan Leon di bawah ujung jariku, kehangatan tubuhnya memudar menjadi hawa dingin lembap pagi itu.Justin berlutut di sampingku, tangannya bertumpu erat di bahuku. Biasanya, sentuhan Justin adalah sebuah klaim, pengingat posesif bahwa aku miliknya.Tetapi sekarang, genggamannya seperti sebuah dukungan. Tidak ada lagi rasa cemburu dalam dirinya, hanya rasa hormat yang berat dan muram kepada pria yang baru saja berjuang untuk keluarganya.Tangan Leon gemetar dan berat karena beban saat-saat terakhirnya, terangkat ke arahku.Dia ingin menyentuh pipiku yang telah dia abaikan selama pernikahan kami, yang telah dia ejek di depan

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 26

    Sudut Pandang Irene.Dalam sepersekian detik Sofia menerjang, otakku memproses semuanya dengan kejelasan yang menyakitkan.Aku melihat kilatan bilah baja tahan karat di tangannya, kegilaan di sorot matanya yang lebar dan tak berkedip, dan gerakan panik Justin yang putus asa saat dia menerobos pembatas dalam, tangannya terulur ke arahku, namun jaraknya masih sepuluh kaki, terlalu jauh untuk menghentikan arah serangan itu.Aku pun memejamkan mata, naluri primitif langsung mengambil alih. Aku membungkukkan tubuh ke depan sejauh yang memungkinkan oleh ikatan kabel, upaya terakhir untuk melindungi kehidupan kecil di dalam diriku dengan tulang rusukku sendiri.Aku menunggu gigitan dingin dan tajam dari pisau itu. Aku menunggu akhir dari mimpi yang baru saja mulai kupercayai.Namun, benturan yang kurasakan tidak tajam. Melainkan berat.Aku pun mendengar erangan serak penuh tenaga, diikuti oleh bunyi hantaman yang mengerikan, suara tubuh yang bertabrakan dengan tubuh.Terdengar suara napas ter

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 25

    Sudut Pandang Irene.Gudang itu adalah pusat industri yang sudah terbengkalai, bertengger dengan tidak stabil di tepi Dermaga Barica.Udara dipenuhi aroma air laut yang menggenang, besi berkarat, dan bau tembaga tajam dari keputusasaan Mario.Aku duduk terikat di kursi kayu berat, pergelangan tanganku lecet karena ikatan plastik yang menusuk kulitku.Setiap kali aku bergerak, plastik itu akan semakin menusuk, tetapi aku tetap memposisikan tanganku sebaik mungkin di atas perut.Kehamilanku bukan lagi sekadar rahasia, itu adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap waras dalam mimpi buruk ini.Aku seorang dokter, aku tahu statistik trauma selama trimester kedua, dan angka-angka itu berteriak di kepalaku.Di sebelah kiriku, Leon hanyalah bayangan hancur dari pria yang pernah kupuja. Dia terikat di kursi yang serupa. Setelan jasnya yang dulu merupakan baju Master Hoki, kini menjadi kain compang-camping yang berlumuran darah.Wajahnya penuh memar, kesombongannya digantikan oleh kesadaran y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status