Share

Bab 5

Penulis: Miss Sunny
Sudut Pandang Irene.

Aku tersedak. "Maaf. Apa?"

"Bukan pernikahan palsu." Justin mengklarifikasi, sorot matanya menggelap. "Sebuah ikatan yang sah secara hukum dan mengikat. Kau akan menjadi istri Justin Sorea. Sebagai pasangan warga Negara Amarilas, statusmu langsung terjamin. Mario nggak akan bisa menyentuhmu. Leon juga nggak bisa mengancammu."

"Kau gila," bisikku. "Kau saja nggak mengenalku."

"Aku tahu kau yang terbaik dalam pekerjaanmu. Aku tahu kau sangat setia sampai bisa dikhianati. Dan aku tahu kau juga butuh perlindungan." Dia mencondongkan tubuh ke depan, intensitasnya hampir membuatku merasa tercekik, tetapi sekaligus juga membuatku terpesona, ini sungguh aneh. "Aku butuh seorang istri agar dewan direksi berhenti menjodohkanku. Kau butuh perisai. Ini transaksi bisnis."

Sebuah transaksi bisnis .... Sama seperti Leon dan Sofia.

"Aku ... nggak bisa," kataku, tanganku langsung refleks kembali menutupi perutku. Rahasia yang kusimpan terasa menekan dada. "Justin, hidupku sedang berantakan sekarang. Kau nggak tahu. Aku ... aku mungkin punya masalah kesehatan yang harus kutangani."

Aku memikirkan janji temu itu. Aborsi kandungan.

Mata Justin turun ke tanganku yang menutupi perut. Tatapannya berhenti di sana cukup lama. Apakah dia curiga? Tidak, itu tidak mungkin.

"Apa pun bebanmu ...." kata Justin tegas sambil menatap mataku lagi. "Aku bisa mengatasinya. Aku nggak peduli dengan Leon. Aku nggak peduli dengan masa lalumu. Aku menawarkanmu masa depan."

Dia pun mendorong kotak itu lebih dekat.

"Menikah denganku. Bergabunglah dengan Tim Sonar. Dan saksikan saat Leon menyesali semuanya."

Jantungku berdebar kencang. Balas dendam. Keamanan. Jalan keluar.

Tapi bisakah aku menyeret pria itu ke dalam kekacauan hidupku? Dan bagaimana dengan bayi ini? Jika aku menikahi Justin, aku tidak perlu khawatir tentang uang atau keamanan. Mungkin ... mungkin aku tidak perlu pergi ke klinik itu jam dua siang nanti?

Pikiran itu bagaikan percikan cahaya kecil di tengah kegelapan.

"Aku ...." Aku hendak bicara, tetapi ponselku berdering.

Itu adalah pemberitahuan dari klinik. [Pengingat: Janji temu Anda dalam empat jam.]

Kenyataan kembali menghantamku. Aku tidak bisa menikahi Justin sambil mengandung anak Leon. Itu sama saja dengan penipuan, bahkan sama buruknya dengan tipu daya yang dilakukan Leon.

Aku berdiri tiba-tiba. "Aku butuh waktu. Aku nggak bisa memberimu jawaban sekarang."

Justin tidak tampak kecewa. Dia tampak sabar. Seperti predator yang menunggu mangsanya sadar bahwa tidak ada tempat lain untuk melarikan diri.

"Kau punya waktu sampai tengah malam," katanya. "Ambil cincin itu."

"Aku nggak bisa."

"Ambil saja," perintahnya lembut. "Hanya untuk berjaga-jaga kalau kau berubah pikiran. Kalau kau nggak memakainya sampai tengah malam, aku akan menganggap jawabannya adalah tidak."

Aku ragu-ragu, lalu meraih kotak beludru itu. Terasa sangat panas di tanganku.

"Terima kasih," bisikku.

Saat aku berbalik untuk pergi, Justin berbicara untuk terakhir kalinya, "Irene?"

Aku menoleh.

"Janji temu apa pun yang kau punya jam dua siang ...." katanya dengan suara rendah dan serak. "Pastikan kalau itu memang benar yang kau inginkan. Bukan diputuskan oleh rasa takut."

Aku membeku. Dia tahu. Aku tidak tahu bagaimana bisa, tapi dia tahu.

Aku bergegas keluar dari pesawat, jantungku berdetak lebih cepat daripada yang pernah kurasakan saat bersama Leon.

Jam dua siang. Aku duduk di ruang tunggu Klinik Wanita Mutiara. Ruangan itu berbau antiseptik dan pengharum ruangan lavender. Itu adalah aroma yang dirancang untuk menenangkan, tetapi bagiku, itu berbau seperti keputusasaan.

Aku duduk di sudut, kacamata hitamku masih terpasang, sambil menggenggam formulir pendaftaran yang sudah kusut.

Alasan penghentian kehamilan: Baris itu masih kosong.

Bagaimana aku bisa menjelaskan? Suamiku melakukan poligami. Selirnya sedang mengandung anaknya. Aku hanyalah pion dalam sandiwara hubungan mereka.

"Irene Haryanto?"

Seorang perawat memanggil namaku dengan lembut. Aku tersentak.

Aku pun berdiri, kakiku terasa berat seperti timah. Aku berjalan menuju pintu, tanganku melayang di atas perutku yang masih rata.

Pastikan itu yang kau inginkan. Bukan diputuskan oleh rasa takut.

Suara berat Justin bergema di benakku, menenggelamkan suara dengung klinik.

Aku berhenti di ambang pintu.

Apa yang kuinginkan?

Aku ingin Leon terluka. Aku ingin Sofia mendapat balasan atas semuanya. Tapi apakah aku ingin menghapus kehidupan yang tumbuh di dalam diriku? Bayi ini memang setengah Leon. Tetapi dia juga setengah diriku. Dia adalah keluarga yang kudoakan selama malam-malam sepi itu saat Leon pergi “urusan bisnis”.

Jika aku melewati pintu itu, aku membiarkan Leon menang. Aku membiarkan pengkhianatannya mendikte tubuhku, masa depanku, dan sisi keibuanku.

Aku bukan pengecut. Aku seorang pejuang!

Aku menatap perawat, napasku bergetar.

"Aku ... aku nggak bisa," bisikku.

Perawat itu tampak simpatik. "Nggak apa-apa kalau takut. Kita bisa menjadwalkan ulang."

"Nggak," kataku, suaraku semakin tegas. Aku meremas formulir di tanganku. "Nggak perlu penjadwalan ulang. Aku akan melahirkannya."

Aku pun berbalik dan berjalan keluar. Aku berjalan cepat, menerobos pintu klinik menuju terik matahari sore yang menyilaukan.

Aku akan mempertahankan bayiku. Dan aku akan memastikan Leon tidak pernah sekali pun mendapatkan bayiku.

Dua jam kemudian, aku sudah berdiri di depan cermin besar di kamar tidurku, menatap orang asing.

Leon telah mengirimkan gaun. Tentu saja. Dia ingin “istri”nya ini terlihat sempurna untuk pesta kejutan yang dia pikir aku tidak tahu.

Itu adalah gaun panjang hingga lantai berwarna hijau zamrud, warna Tim Toreto. Gaun itu ketat, terbuka di bagian punggung, dan sangat menakjubkan. Itu sebuah seragam.

Aku menutup resletingnya. Gaun itu pas seperti sarung tangan, menyembunyikan rahasia kecil di perutku yang belum terlihat.

Aku pun merias wajahku. Celak mata tajam. Lipstik merah darah. Aku berpakaian seperti akan pergi berperang.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 30

    Sudut Pandang Irene.Satu Tahun Kemudian.Matahari terbenam di atas tebing kompleks perkebunan Justin, mewarnai samudra dengan nuansa emas dan ungu.Sebuah lorong sutra putih membentang di atas halaman hijau zamrud, menuju altar yang terbuat dari kayu apung dan mawar putih. Itu adalah upacara pernikahan yang ditunggu-tunggu dunia, "Pernikahan Terbaik Abad Ini" menurut tabloid berita. Tapi bagiku, itu hanyalah sebuah janji yang dibuat di depan orang-orang yang penting.Aku berdiri di lobi rumah besar itu, memandang diriku sendiri di cermin besar.Gaunku adalah mahakarya dari renda dan sutra terbaik, dirancang untuk bisa menangkap cahaya dengan setiap gerakan. Gaun itu anggun, elegan, dan sangat indah. Di leherku ada liontin safir sederhana, hadiah pernikahan dari Justin.Suara gemericik lembut terdengar dari buaian di dekat jendela. Levi yang kini berusia satu tahun dan tegap mengenakan setelan jas kecil, sibuk mencoba memakan dasi kupu-kupunya sendiri."Kau tampak menakjubkan, Dokter I

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 29

    Sudut Pandang Irene."Utangnya sudah lunas," kataku dengan suara tenang. "Sang penyelamat dan sang bintang ... kita sudah selesai."Aku membelakangi kuburan dan berjalan menuruni bukit.Dengan setiap langkah, aku merasakan beban semu selama sepuluh tahun ini akhirnya menghilang. Aku bukan lagi dokter “Master Hoki”. Aku bukan lagi istri rahasianya. Aku hanya Irene.Justin sedang menunggu di dekat pintu mobil. Ketika melihatku, dia tidak bertanya bagaimana perasaanku. Dia hanya membuka pintu, membaringkanku di kursi kulit yang hangat, dan mencium keningku."Sudah siap?" tanyanya."Siap," jawabku.Kami pun pergi, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak melihat ke belakang di kaca spion....Tiga bulan kemudian, Sonar Barica menuju babak pasca musiman. Aku kembali bekerja, gelar Kepala Dokter Tim sekarang menjadi simbol departemen medis paling sukses di liga."Protokol Leon" milikku telah diubah namanya menjadi "Metode Irene". Dan, telah dilisensikan oleh tim-tim di seluruh nege

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 28

    Sudut Pandang Irene.Saat kami berjalan keluar dari gudang, sinar matahari pagi mulai menyinari Dermaga Barica. Udara terasa dingin, tetapi beban yang telah menghancurkan dadaku selama berbulan-bulan akhirnya menghilang.Tiba-tiba, aku merasakan denyutan kecil yang menantang di perut bawahku.Tendangan. Tendangan pertama bayi itu.Aku berhenti berjalan dan melihat ke bawah, lalu menatap Justin. Dia melihat ekspresi wajahku dan meletakkan tangannya di atas tanganku, matanya menelusuri wajahku dengan cemas."Dia baik-baik saja," bisikku. "Kita akan baik-baik saja.""Ayo pulang, Irene," kata Justin. Dia menarikku ke dalam kehangatan mobilnya. "Masa lalu telah berakhir. Hari ini adalah hari pertama dari sisa hidup kita."Debu dari ledakan gudang telah mereda, tetapi gelombang kejut hukum dan emosional baru saja mulai membentuk kembali kota ini.Dua minggu telah berlalu sejak malam saat Leon menukar hidupnya dengan hidupku.Pers yang pernah menikmati pemberitaan tentang dugaan menghilangnya

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 27

    Sudut Pandang Irene.Gudang itu dipenuhi perlengkapan taktis dan lampu darurat, tetapi bagi kami bertiga, dunia telah menyusut menjadi lingkaran kecil di atas beton yang berlumuran darah.Para petugas medis bergegas ke arah kami dengan tandu, langkah kaki mereka bergema di atas kayu, tetapi aku tahu mereka sudah terlambat.Aku bisa merasakan kehidupan perlahan meninggalkan Leon di bawah ujung jariku, kehangatan tubuhnya memudar menjadi hawa dingin lembap pagi itu.Justin berlutut di sampingku, tangannya bertumpu erat di bahuku. Biasanya, sentuhan Justin adalah sebuah klaim, pengingat posesif bahwa aku miliknya.Tetapi sekarang, genggamannya seperti sebuah dukungan. Tidak ada lagi rasa cemburu dalam dirinya, hanya rasa hormat yang berat dan muram kepada pria yang baru saja berjuang untuk keluarganya.Tangan Leon gemetar dan berat karena beban saat-saat terakhirnya, terangkat ke arahku.Dia ingin menyentuh pipiku yang telah dia abaikan selama pernikahan kami, yang telah dia ejek di depan

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 26

    Sudut Pandang Irene.Dalam sepersekian detik Sofia menerjang, otakku memproses semuanya dengan kejelasan yang menyakitkan.Aku melihat kilatan bilah baja tahan karat di tangannya, kegilaan di sorot matanya yang lebar dan tak berkedip, dan gerakan panik Justin yang putus asa saat dia menerobos pembatas dalam, tangannya terulur ke arahku, namun jaraknya masih sepuluh kaki, terlalu jauh untuk menghentikan arah serangan itu.Aku pun memejamkan mata, naluri primitif langsung mengambil alih. Aku membungkukkan tubuh ke depan sejauh yang memungkinkan oleh ikatan kabel, upaya terakhir untuk melindungi kehidupan kecil di dalam diriku dengan tulang rusukku sendiri.Aku menunggu gigitan dingin dan tajam dari pisau itu. Aku menunggu akhir dari mimpi yang baru saja mulai kupercayai.Namun, benturan yang kurasakan tidak tajam. Melainkan berat.Aku pun mendengar erangan serak penuh tenaga, diikuti oleh bunyi hantaman yang mengerikan, suara tubuh yang bertabrakan dengan tubuh.Terdengar suara napas ter

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 25

    Sudut Pandang Irene.Gudang itu adalah pusat industri yang sudah terbengkalai, bertengger dengan tidak stabil di tepi Dermaga Barica.Udara dipenuhi aroma air laut yang menggenang, besi berkarat, dan bau tembaga tajam dari keputusasaan Mario.Aku duduk terikat di kursi kayu berat, pergelangan tanganku lecet karena ikatan plastik yang menusuk kulitku.Setiap kali aku bergerak, plastik itu akan semakin menusuk, tetapi aku tetap memposisikan tanganku sebaik mungkin di atas perut.Kehamilanku bukan lagi sekadar rahasia, itu adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap waras dalam mimpi buruk ini.Aku seorang dokter, aku tahu statistik trauma selama trimester kedua, dan angka-angka itu berteriak di kepalaku.Di sebelah kiriku, Leon hanyalah bayangan hancur dari pria yang pernah kupuja. Dia terikat di kursi yang serupa. Setelan jasnya yang dulu merupakan baju Master Hoki, kini menjadi kain compang-camping yang berlumuran darah.Wajahnya penuh memar, kesombongannya digantikan oleh kesadaran y

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status