Share

Bab 4

Penulis: Tia
Pada hari aku pindah, Kenzo tidak pulang.

Dia hanya mengirim satu pesan.

[Yuna sedang nggak sehat. Aku akan pulang nanti. Tenangkan dirimu. Jangan lagi bahas perceraian hanya karena sedang emosi.]

Aku menatap pesan itu lama, lalu tersenyum.

Sampai sekarang, dia masih mengira aku hanya sedang menunggunya pulang agar dia bisa membujukku.

Ketika perusahaan jasa pindahan membunyikan bel, aku baru saja menutup kardus terakhir.

Aku tidak menghancurkan barang-barang atau menggunting foto-foto kami.

Aku hanya memasukkan salinan surat nikah, dokumen properti, riwayat transaksi rekening, dan kotak gaun pengantin ke dalam sebuah map, satu per satu.

Sementara itu, semua pemberian Kenzo kutinggalkan di atas lemari dekat pintu masuk.

Kalung, parfum, tas, jam tangan.

Di bawah masing-masing barang, kuselipkan secarik catatan.

[Yuna yang bantu memilih.]

[Yuna juga punya yang sama.]

[Yuna suka aroma ini.]

[Yuna bilang warna abu-abu cocok untukku.]

Catatan terakhir kutaruh di bawah kalung kelinci itu.

[Ganti suasana.]

Kata-kata itu kini terasa begitu menjijikkan bagiku.

Menjelang malam, Kenzo akhirnya pulang.

Yuna mengikutinya dari belakang. Matanya merah, sementara kelinci abu-abu itu masih dipeluk erat di dadanya.

Begitu melihat kardus-kardus di ruang tamu, wajah Kenzo seketika berubah.

"Giana, apa yang kamu lakukan?"

Aku mendorong map berisi dokumen ke atas meja.

"Pindah."

Dia melangkah cepat menghampiriku, berusaha menahan amarahnya.

"Bukankah aku sudah nyuruh kamu untuk tenang?"

"Aku sangat tenang."

Aku mengambil dokumen pertama dari dalam map.

"Ini surat perjanjian perceraian."

Lalu kuambil dokumen kedua.

"Ini daftar pembagian harta."

Aku mengeluarkan dokumen ketiga.

"Ini pesanan hotel kalian, catatan transaksi di studio kerajinan, dan tangkapan layar unggahan media sosial."

"Dokumen aslinya sudah kuserahkan pada pengacaraku."

Ekspresi Kenzo seketika membeku.

Wajah Yuna sempat memucat, tetapi dia segera menggigit bibirnya.

"Giana, apa kamu nggak merasa keterlaluan sudah ngumpulin semua ini? Kamu benar-benar nyakitin orang."

Aku menatapnya.

"Nyakitin orang?"

"Waktu kamu ngambil renda dari gaun pengantinku untuk dibuatkan pakaian kelinci, kenapa kamu nggak mikir apa itu nyakitin orang?"

Air mata Yuna langsung jatuh.

"Aku benar-benar nggak tahu kalau renda itu peninggalan ibumu."

"Aku hanya bilang renda itu cantik, dan Kenzo mengingatnya."

Dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan suara pelan.

"Giana, aku juga nggak nyangka dia akan ingat semua ucapanku."

Kenzo mengernyit.

"Yuna, hentikan."

Dengan wajah murung, Yuna pun terdiam.

Namun, satu kalimat itu sudah cukup.

Dia bisa mengingat satu ucapan spontan tentang sesuatu yang disukai Yuna, tetapi lupa alasan mengapa gaun pengantinku tidak boleh disentuh.

Aku mendorong sebuah pena ke hadapan Kenzo.

"Tanda tangani."

Dia menunduk dan membaca sekilas isi perjanjian itu. Wajahnya makin lama makin muram.

"Kamu nggak mau rumah ini?"

"Nggak."

"Mobil juga nggak?"

"Nggak."

"Tabungan hanya dibagi sesuai ketentuan hukum?"

"Ya."

Dia langsung mengangkat kepala dan menatapku.

"Giana, apa maksudmu?"

"Maksudku, aku nggak mau lagi terlibat terlalu jauh denganmu."

Rasa kaget sekaligus kepanikan melintas di matanya.

Kenzo melempar perjanjian itu kembali ke atas meja.

"Aku nggak akan tanda tangan."

"Bukan kamu yang nentuin apa pernikahan ini bisa berakhir atau nggak."

Aku mengangguk.

"Kalau gitu, kita selesaikan di pengadilan."

Dia mencibir.

"Hanya karena masalah sekecil ini, kamu serius mau bawa ini sampai ke pengadilan?"

Aku mendorong dokumen lain ke hadapannya.

"Masalah sekecil ini?"

Kenzo baru meliriknya sekali, tetapi wajahnya langsung berubah.

Itu bukan sekadar kumpulan tagihan.

Melainkan tabel perbandingan yang kususun sendiri.

Di sebelah kiri tercantum catatan pengeluaran hotel, sementara di sebelah kanan ada foto kelinci abu-abu milik Yuna.

Tanggal tujuh belas September, paket ruang praktik serba putih.

Keesokan harinya, Yuna mengunggah foto kelinci abu-abu itu mengenakan seragam perawat.

Tanggal dua puluh enam Oktober, paket putri kerajaan.

Malam itu juga, dia mengunggah foto kelinci dengan gaun putri kerajaan.

Tanggal dua puluh empat Desember, paket permainan kantor.

Keesokan paginya, kelinci itu sudah berganti mengenakan setelan ala wanita kantoran.

Lalu, sehari sebelum ulang tahun pernikahan kami yang ketiga.

Kenzo memesan kamar bertema gaun pengantin.

Kelinci abu-abu milik Yuna mengenakan gaun pengantin kecil yang dibuat menyerupai gaun pengantinku.

Aku membalik halaman demi halaman.

"Kenzo, apa yang kalian lakukan bukan sekadar satu kesalahan sesaat."

"Setiap kali kalian tidur bersama, kalian mengganti pakaian kelinci itu."

"Dia gantungin itu di tas dan dia bawa-bawa tepat di hadapanku."

"Kamu lihat itu dan menganggap itu menyenangkan, bukan?"

Bibir Kenzo bergerak, tetapi tak satu kata pun keluar.

Akhirnya Yuna panik dan mengulurkan tangan untuk merebut tabel itu.

"Giana, kamu sakit, ya? Siapa yang mau repot-repot nyusun hal seperti ini?"

Aku menahan dokumen itu, lalu menatapnya.

"Kamu berani gantungin benda itu di depan mataku selama tiga tahun."

"Aku baru nyusun tiga halaman bukti, lalu aku yang dianggap sakit?"

Ruang tamu mendadak diliputi keheningan yang mencekam.

Kenzo menatap tabel perbandingan itu. Wajahnya perlahan makin pucat.

Karena pada saat itulah, akhirnya dia mengerti.

Aku bukan sekadar terobsesi pada seekor kelinci.

Aku telah menghitung satu per satu setiap pengkhianatan yang mereka gantungkan tepat di depan mataku.

Aku kembali mengeluarkan daftar terakhir.

"Dan ini."

Kenzo menunduk untuk melihatnya.

Sebuah cincin pernikahan.

Keterangan: [Dijual kembali sesuai harga emas.]

"Giana, kamu bahkan masukin cincin pernikahan ke dalam daftar?"

Aku menjawab tenang, "Itu logam mulia. Tentu saja harus dicantumin."

"Itu cincin pernikahan kita!"

"Sekarang itu termasuk harta yang harus dibagi."

Begitu kalimat itu terucap, matanya langsung memerah.

Dulu, aku sangat menghargai cincin itu.

Bahkan ketika melepasnya untuk mandi, aku selalu meletakkannya di piring kecil khusus.

Pernah suatu kali cincin itu jatuh ke saluran wastafel. Aku sampai panik dan menelepon teknisi tengah malam untuk membongkar pipa.

Waktu itu, Kenzo bahkan menertawakanku.

"Giana, kenapa kamu begitu menyayanginya?"

Karena saat itu, aku mengira cincin itu adalah rumah.

Sekarang, rumah itu sudah tidak ada.

Cincin itu pun tak lebih dari sepotong logam.

Aku meletakkan kunci, kartu cadangan, dan kartu akses satu per satu di atas meja.

"Mulai sekarang, semua ini nggak ada lagi hubungannya denganku."

Kenzo menatap rangkaian kunci itu, lalu bertanya dengan suara bergetar, "Giana, dulu kamu pernah bilang tempat ini adalah rumahmu."

"Sekarang sudah bukan."

Jakunnya bergerak perlahan.

"Hanya karena aku ngelakuin satu kesalahan?"

Aku menunjuk kelinci yang masih dipeluk Yuna.

"Tanya pada kelinci itu."

"Pakaian mana yang dikenakannya yang bukan kenang-kenangan dari setiap kesalahanmu?"

Wajah Yuna seketika pucat pasi.

Kenzo pun tidak mampu berkata apa-apa.

Aku menarik koper dan berjalan menuju pintu.

Saat pintu lift terbuka, tiba-tiba dia memanggilku.

"Giana!"

Aku tidak menoleh.

Suaranya terdengar bergetar.

"Sebenarnya, kamu mau aku ngapain?"

Aku menjawab, "Aku sudah nggak mau apa-apa lagi."

Pintu lift perlahan menutup.

Di celah terakhir sebelum pintu itu tertutup sepenuhnya, aku melihat Kenzo masih berdiri di dekat pintu masuk.

Yuna berdiri di belakangnya sambil memeluk kelinci itu, lalu bertanya dengan suara lirih di sela tangisnya,

"Kenzo, apa dia sudah nggak mau sama kamu lagi?"

Kenzo tidak menjawab.

Karena pada saat itu, akhirnya dia mengerti.

Aku tidak merobek foto, tidak menghancurkan cincin, dan tidak mengamuk sambil memaksanya memilih.

Aku hanya mengubahnya, dari orang yang kucintai menjadi satu hal dalam daftar yang harus dibereskan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 9

    Setelah bercerai, aku pindah ke sebuah apartemen kecil di selatan kota.Aku membeli seprai merah, cangkir merah, dan sebuah payung merah untuk diriku sendiri.Saat pertama kali datang ke rumahku, temanku tertawa dan berkata aku seperti sedang merayakan Tahun Baru sekali lagi.Aku mengangguk. "Memang benar.""Merayakannya lagi dari awal."Gaun pengantin itu tidak kuperbaiki.Renda lama peninggalan Ibu kusimpan terpisah dan tidak pernah lagi kujahitkan ke pakaian apa pun.Aku juga tidak menjadikannya benda kenang-kenangan.Renda itu terbaring tenang di dalam sebuah kotak kayu, seperti dulu Ibu diam-diam mencintaiku.Yuna akhirnya pergi.Kudengar dia menghapus semua unggahan di media sosialnya.Ada juga yang bilang dia pernah mendatangi Kenzo, tetapi ditolak dan tidak diizinkan masuk.Aku tidak pernah memastikan kebenarannya.Bagaimanapun juga, apa pun akhir kisahnya dengan Kenzo, itu sudah tidak ada hubungannya denganku.Sedangkan Kenzo ....Dia tidak pernah datang mencariku lagi.Dia ha

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 8

    Setelah mengajukan perceraian, kami sepakat untuk datang bersama mengambil akta cerai.Di depan kantor catatan sipil, dia berdiri di bawah tangga sambil membawa sebotol soda jeruk.Embun membasahi permukaan botol kaca itu.Saat aku mendekat, suaranya terdengar begitu pelan."Giana."Aku mengangguk."Masuklah."Namun, dia tetap berdiri di tempatnya."Aku sampai harus pergi ke beberapa tempat untuk dapatkan ini.""Dulu, ini minuman kesukaanmu."Aku menatap botol soda itu.Dulu, aku pasti akan menerimanya.Hanya karena dia masih mengingat sedikit kenangan dari masa lalu, aku akan memaklumi semua luka yang telah diberikannya.Namun, sekarang aku hanya berkata, "Aku sudah nggak minum yang manis."Dia tertegun.Aku tersenyum tipis."Manusia bisa berubah."Jemari yang menggenggam botol itu perlahan memutih."Kalau begitu, akan kuingat lagi.""Apa yang sekarang kamu sukai dan nggak kamu sukai, akan kupelajari lagi dari awal."Aku menatapnya."Kamu tahu apa yang paling nggak aku sukai sekarang?

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 7

    Sebelum gugatan resmi diajukan, pengacaraku menjadwalkan satu kali perundingan terakhir.Pertemuan itu berlangsung di kantor pengacara.Kali ini, Kenzo akhirnya bersedia berkompromi dan menyetujui perceraian secara baik-baik. Dia mengenakan pakaian formal, setelan hitam dengan dasi abu-abu tua.Dasi itu dulu kubelikan untuknya.Waktu itu, aku pernah berkata bahwa warna abu-abu membuatnya terlihat lebih berwibawa.Baru belakangan aku tahu, ternyata bukan aku yang menyukai warna abu-abu.Yuna-lah yang menyukainya.Di ruang rapat, pengacara mendorong rancangan pembagian harta ke hadapanku."Pak Kenzo bersedia melepaskan rumah yang diperoleh selama pernikahan beserta seluruh tabungannya."Aku menjawab, "Bagi saja sesuai ketentuan hukum."Kenzo langsung mengangkat kepala."Giana, aku mau kasih semuanya padamu."Aku menatapnya."Berikan saja pada Yuna.""Dia suka barang-barangmu.""Aku sudah nggak suka."Wajahnya seketika pucat."Aku dan dia sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi.""Itu urusa

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 6

    Yuna segera mengunggah sesuatu di akun media sosialnya.Sembilan foto sekaligus dalam satu unggahan.Setiap pakaian milik kelinci abu-abu itu ditata di bagian tengah, seolah sengaja dipamerkan.Ada setelan kerja, gaun ala putri kerajaan, jas dokter, hingga gaun pengantin mini.Keterangannya berbunyi, [Ada kebersamaan yang seharusnya tidak disalahpahami.]Unggahan itu sengaja disembunyikannya dariku.Namun, dia lupa bahwa kami memiliki terlalu banyak teman yang sama.Tak lama kemudian, tangkapan layar unggahan itu sudah dikirim ke ponselku.Seorang teman bahkan meneleponku dengan marah."Giana, dia sudah gila, ya?""Mau aku suruh orang memakinya?"Aku menjawab tenang, "Nggak perlu.""Biarkan saja dia mengunggahnya."Dua jam kemudian, unggahan itu tersebar di internet.Awalnya, orang-orang hanya menganggapnya sebagai tontonan untuk hiburan.Sampai seseorang mulai menguliknya dan menemukan bahwa setiap pakaian boneka yang dipamerkan Yuna ternyata persis sama dengan paket bertema yang pern

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 5

    Pada hari ketiga setelah meninggalkan rumah, aku pergi ke tempat perawatan gaun pengantin.Pegawai toko membentangkan gaun pengantinku di atas kain lembut.Satu sudut tudung pengantinnya hilang, menyisakan tepian yang kasar dan berjumbai.Dia mengenakan sarung tangan putih, lalu memeriksanya cukup lama sebelum akhirnya menggeleng."Renda lama ini nggak mungkin dikembaliin sepenuhnya seperti semula.""Kalau hanya renda biasa, masih bisa diganti.""Tapi Anda bilang ini peninggalan keluarga. Jadi, kami nggak menyarankan Anda perbaiki sembarangan."Aku menatap bagian yang hilang itu sejenak, lalu mengangguk."Tolong buatin surat keterangan kerusakannya."Pegawai itu tampak tertegun."Anda mau ngajuin ganti rugi?""Bukan."Aku menutup kotak gaun pengantin itu."Aku cuma mau nyimpan buktinya."Baru saja aku selesai bicara, lonceng angin di pintu berbunyi.Kenzo berdiri di luar.Kelihatannya dia tidak tidur semalaman. Kemejanya kusut, sementara bayangan jambang mulai terlihat di dagunya.Di t

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 4

    Pada hari aku pindah, Kenzo tidak pulang.Dia hanya mengirim satu pesan.[Yuna sedang nggak sehat. Aku akan pulang nanti. Tenangkan dirimu. Jangan lagi bahas perceraian hanya karena sedang emosi.]Aku menatap pesan itu lama, lalu tersenyum.Sampai sekarang, dia masih mengira aku hanya sedang menunggunya pulang agar dia bisa membujukku.Ketika perusahaan jasa pindahan membunyikan bel, aku baru saja menutup kardus terakhir.Aku tidak menghancurkan barang-barang atau menggunting foto-foto kami.Aku hanya memasukkan salinan surat nikah, dokumen properti, riwayat transaksi rekening, dan kotak gaun pengantin ke dalam sebuah map, satu per satu.Sementara itu, semua pemberian Kenzo kutinggalkan di atas lemari dekat pintu masuk.Kalung, parfum, tas, jam tangan.Di bawah masing-masing barang, kuselipkan secarik catatan.[Yuna yang bantu memilih.][Yuna juga punya yang sama.][Yuna suka aroma ini.][Yuna bilang warna abu-abu cocok untukku.]Catatan terakhir kutaruh di bawah kalung kelinci itu.[G

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status