Share

Bab 3

Penulis: Tia
Pada malam ketiga, Yuna datang seorang diri.

Dia berdiri di depan pintu dengan mengenakan jaket Kenzo, sambil memeluk boneka kelinci abu-abu itu erat-erat.

Pengait di bagian belakang gaun pengantin kelinci itu rupanya rusak.

Matanya tampak berkaca-kaca.

"Giana, aku nggak berani pergi ke toko."

"Semua orang di sana kenal Kenzo."

"Kamu 'kan pandai menjahit. Bisa bantu perbaiki ini?"

Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa.

"Kamu datang ke sini buat nyuruh aku jahitin renda dari gaun pengantinku, pada kelincimu?"

Yuna menggigit bibir.

"Aku tahu kamu masih marah."

"Tapi dulu kamu pernah bilang kita ini sahabat sejati."

"Hal-hal baik seharusnya dibagi bersama, 'kan?"

Ada senyum tipis yang berusaha disembunyikannya, tetapi tetap terlihat di matanya.

"Aku cuma nggak nyangka kamu akan ngeributin sepotong renda sekecil itu."

Dia terdiam sejenak, lalu kembali melanjutkan,

"Kenzo selalu bilang kamu paling pengertian. Kukira kamu nggak akan marah."

Kebetulan, Kenzo baru saja keluar dari ruang kerja dan mendengar kalimat terakhirnya.

Wajahnya seketika berubah.

"Yuna."

Yuna buru-buru menundukkan kepala.

"Maaf, aku salah omong."

Kemudian dia menatapku, dan air matanya langsung jatuh.

"Giana, jangan salah paham. Aku hanya terlalu iri sama kamu."

"Aku iri karena kamu punya suami sebaik itu."

"Aku cuma pengin tahu gimana rasanya jadi seseorang yang begitu diperhatiin sama dia."

Menjijikkan sekali.

Dia menyebut mencuri sebagai rasa iri.

Dia menyebut pengkhianatan sebagai sekadar ingin mencoba.

Aku menerima kelinci itu, lalu duduk di sofa.

Kenzo mengernyit.

"Giana, kamu nggak harus layani dia."

Aku tidak menjawab.

Aku mengambil jarum dan benang, lalu mulai menjahit kembali pengait di bagian belakang gaun itu, satu per satu.

Yuna duduk di sampingku dan berkata dengan suara lembut, "Giana, kamu baik banget."

"Pantas saja Kenzo selalu bilang kamu paling pengertian."

Ujung jarum tiba-tiba menusuk jariku.

Setetes darah muncul di sana.

Hampir seketika, Kenzo meraih tanganku.

"Kenapa sampai terluka begini?"

Untuk sesaat, hatiku masih terasa agak nyeri.

Bukan karena aku masih mencintainya.

Aku hanya tiba-tiba teringat bahwa dulu, dia juga pernah begitu menyayangiku.

Namun, belum sempat rasa itu menetap, Yuna berdeham pelan.

Kenzo langsung melepaskan tanganku.

"Sesak lagi?"

Yuna menggeleng.

"Nggak apa-apa. Aku masih bisa tahan."

Katanya dia masih bisa menahannya.

Namun, matanya terus tertuju pada Kenzo.

Kenzo berbalik, lalu mengambil inhaler dari dalam laci.

Aku yang membeli inhaler itu.

Pertama kali Yuna datang makan ke rumah, dia sempat bilang kalau dia alergi pengharum ruangan.

Sejak hari itu, semua lilin beraroma gardenia di rumah kusingkirkan.

Padahal, gardenia adalah aroma kesukaanku.

Kenzo menyerahkan inhaler itu kepada Yuna sambil merendahkan suaranya.

"'Kan sudah kubilang jangan maksain diri?"

Yuna menghirup obat itu, dan matanya makin memerah.

"Aku takut Giana kira aku hanya berpura-pura."

Kenzo melirikku.

"Dia nggak sepicik itu."

Kedengarannya seperti dia sedang membelaku.

Namun, orang yang sebenarnya ingin dia lindungi tetaplah Yuna.

Aku menyelesaikan jahitan pada kelinci itu, lalu menyerahkannya kepada Yuna.

"Bawa pergi."

Yuna menerimanya dan berkata pelan, "Terima kasih."

"Lain kali, aku akan lebih hati-hati."

Aku menatapnya. "Nggak akan ada lain kali."

Ruang tamu seketika sunyi.

Tangan Kenzo yang hendak bergerak pun terhenti.

"Apa maksudmu?"

Aku berdiri sambil menutup kotak jahit.

"Besok aku akan pindah."

"Perjanjian perceraian akan aku kirim padamu lewat pengacaraku."

Mata Yuna sempat berbinar, tetapi dia segera menyembunyikan kegembiraan itu.

"Giana, jangan begini."

"Mulai sekarang, aku nggak akan nyariin Kenzo lagi. Sungguh."

Aku menatapnya.

"Nggak perlu. Kamu memang suka ngambil barang bekas milik orang lain."

"Kalau gitu, dia juga aku kasih ke kamu."

Wajah Kenzo seketika memucat.

"Giana!"

Aku memeluk kotak gaun pengantin itu dan berjalan menuju kamar tamu.

Dia mengejarku beberapa langkah, lalu mencengkeram pergelangan tanganku.

"Sampai kapan kamu mau bikin keributan?"

"Aku nggak sedang bikin keributan."

"Aku cuma ngasih tahu."

Dia menatapku dengan marah, tetapi ada sedikit kepanikan yang tak sempat disembunyikannya.

"Kamu sanggup ninggalin aku?"

Aku mendongak.

"Apa katamu?"

Dia mencibir, seolah baru saja menemukan kelemahanku.

"Giana, jangan terlalu yakin sama ucapanmu."

"Kamu sudah cinta sama aku selama bertahun-tahun."

"Kamu nggak akan bisa hidup tanpa aku."

Aku menatap pria di hadapanku dan tiba-tiba merasa begitu asing. Bahkan menakutkan.

Bukan karena dia tidak tahu betapa sakitnya aku. Dia bahkan terlalu yakin bahwa aku mencintainya.

Karena itulah, dia berani mengujiku sedikit demi sedikit.

Melihat sejauh mana aku bisa bertahan dan apakah aku benar-benar akan pergi.

Perlahan aku melepaskan satu per satu jarinya dari pergelangan tanganku.

"Kenzo. Dulu aku nggak bisa hidup tanpa kamu karena aku pikir kamu sungguh-sungguh cinta sama aku."

"Sekarang aku tahu, sejak dulu, kamu sudah milih dia."

Kenzo tertegun.

Yuna menangis pelan di belakangku.

"Kenzo, gimana kalau aku pulang saja dulu?"

Kenzo tidak menoleh. Tatapannya tetap tertuju kepadaku.

"Giana, kalau malam ini kamu masuk ke kamar tamu, aku nggak akan bujuk kamu lagi."

Dulu, kata-kata itu selalu berhasil.

Setiap kali dia memasang wajah dingin, aku selalu merasa takut.

Namun kali ini, aku hanya memeluk kotak gaun pengantin itu dan langsung masuk ke kamar tamu.

Di luar, suasana hening cukup lama.

Tidak ada suara ketukan di pintu.

Aku bersandar di pintu dan menunduk menatap ujung jariku.

Darah di sana sudah mengering.

Seolah-olah kehangatan terakhir dalam diriku akhirnya benar-benar habis.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 9

    Setelah bercerai, aku pindah ke sebuah apartemen kecil di selatan kota.Aku membeli seprai merah, cangkir merah, dan sebuah payung merah untuk diriku sendiri.Saat pertama kali datang ke rumahku, temanku tertawa dan berkata aku seperti sedang merayakan Tahun Baru sekali lagi.Aku mengangguk. "Memang benar.""Merayakannya lagi dari awal."Gaun pengantin itu tidak kuperbaiki.Renda lama peninggalan Ibu kusimpan terpisah dan tidak pernah lagi kujahitkan ke pakaian apa pun.Aku juga tidak menjadikannya benda kenang-kenangan.Renda itu terbaring tenang di dalam sebuah kotak kayu, seperti dulu Ibu diam-diam mencintaiku.Yuna akhirnya pergi.Kudengar dia menghapus semua unggahan di media sosialnya.Ada juga yang bilang dia pernah mendatangi Kenzo, tetapi ditolak dan tidak diizinkan masuk.Aku tidak pernah memastikan kebenarannya.Bagaimanapun juga, apa pun akhir kisahnya dengan Kenzo, itu sudah tidak ada hubungannya denganku.Sedangkan Kenzo ....Dia tidak pernah datang mencariku lagi.Dia ha

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 8

    Setelah mengajukan perceraian, kami sepakat untuk datang bersama mengambil akta cerai.Di depan kantor catatan sipil, dia berdiri di bawah tangga sambil membawa sebotol soda jeruk.Embun membasahi permukaan botol kaca itu.Saat aku mendekat, suaranya terdengar begitu pelan."Giana."Aku mengangguk."Masuklah."Namun, dia tetap berdiri di tempatnya."Aku sampai harus pergi ke beberapa tempat untuk dapatkan ini.""Dulu, ini minuman kesukaanmu."Aku menatap botol soda itu.Dulu, aku pasti akan menerimanya.Hanya karena dia masih mengingat sedikit kenangan dari masa lalu, aku akan memaklumi semua luka yang telah diberikannya.Namun, sekarang aku hanya berkata, "Aku sudah nggak minum yang manis."Dia tertegun.Aku tersenyum tipis."Manusia bisa berubah."Jemari yang menggenggam botol itu perlahan memutih."Kalau begitu, akan kuingat lagi.""Apa yang sekarang kamu sukai dan nggak kamu sukai, akan kupelajari lagi dari awal."Aku menatapnya."Kamu tahu apa yang paling nggak aku sukai sekarang?

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 7

    Sebelum gugatan resmi diajukan, pengacaraku menjadwalkan satu kali perundingan terakhir.Pertemuan itu berlangsung di kantor pengacara.Kali ini, Kenzo akhirnya bersedia berkompromi dan menyetujui perceraian secara baik-baik. Dia mengenakan pakaian formal, setelan hitam dengan dasi abu-abu tua.Dasi itu dulu kubelikan untuknya.Waktu itu, aku pernah berkata bahwa warna abu-abu membuatnya terlihat lebih berwibawa.Baru belakangan aku tahu, ternyata bukan aku yang menyukai warna abu-abu.Yuna-lah yang menyukainya.Di ruang rapat, pengacara mendorong rancangan pembagian harta ke hadapanku."Pak Kenzo bersedia melepaskan rumah yang diperoleh selama pernikahan beserta seluruh tabungannya."Aku menjawab, "Bagi saja sesuai ketentuan hukum."Kenzo langsung mengangkat kepala."Giana, aku mau kasih semuanya padamu."Aku menatapnya."Berikan saja pada Yuna.""Dia suka barang-barangmu.""Aku sudah nggak suka."Wajahnya seketika pucat."Aku dan dia sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi.""Itu urusa

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 6

    Yuna segera mengunggah sesuatu di akun media sosialnya.Sembilan foto sekaligus dalam satu unggahan.Setiap pakaian milik kelinci abu-abu itu ditata di bagian tengah, seolah sengaja dipamerkan.Ada setelan kerja, gaun ala putri kerajaan, jas dokter, hingga gaun pengantin mini.Keterangannya berbunyi, [Ada kebersamaan yang seharusnya tidak disalahpahami.]Unggahan itu sengaja disembunyikannya dariku.Namun, dia lupa bahwa kami memiliki terlalu banyak teman yang sama.Tak lama kemudian, tangkapan layar unggahan itu sudah dikirim ke ponselku.Seorang teman bahkan meneleponku dengan marah."Giana, dia sudah gila, ya?""Mau aku suruh orang memakinya?"Aku menjawab tenang, "Nggak perlu.""Biarkan saja dia mengunggahnya."Dua jam kemudian, unggahan itu tersebar di internet.Awalnya, orang-orang hanya menganggapnya sebagai tontonan untuk hiburan.Sampai seseorang mulai menguliknya dan menemukan bahwa setiap pakaian boneka yang dipamerkan Yuna ternyata persis sama dengan paket bertema yang pern

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 5

    Pada hari ketiga setelah meninggalkan rumah, aku pergi ke tempat perawatan gaun pengantin.Pegawai toko membentangkan gaun pengantinku di atas kain lembut.Satu sudut tudung pengantinnya hilang, menyisakan tepian yang kasar dan berjumbai.Dia mengenakan sarung tangan putih, lalu memeriksanya cukup lama sebelum akhirnya menggeleng."Renda lama ini nggak mungkin dikembaliin sepenuhnya seperti semula.""Kalau hanya renda biasa, masih bisa diganti.""Tapi Anda bilang ini peninggalan keluarga. Jadi, kami nggak menyarankan Anda perbaiki sembarangan."Aku menatap bagian yang hilang itu sejenak, lalu mengangguk."Tolong buatin surat keterangan kerusakannya."Pegawai itu tampak tertegun."Anda mau ngajuin ganti rugi?""Bukan."Aku menutup kotak gaun pengantin itu."Aku cuma mau nyimpan buktinya."Baru saja aku selesai bicara, lonceng angin di pintu berbunyi.Kenzo berdiri di luar.Kelihatannya dia tidak tidur semalaman. Kemejanya kusut, sementara bayangan jambang mulai terlihat di dagunya.Di t

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 4

    Pada hari aku pindah, Kenzo tidak pulang.Dia hanya mengirim satu pesan.[Yuna sedang nggak sehat. Aku akan pulang nanti. Tenangkan dirimu. Jangan lagi bahas perceraian hanya karena sedang emosi.]Aku menatap pesan itu lama, lalu tersenyum.Sampai sekarang, dia masih mengira aku hanya sedang menunggunya pulang agar dia bisa membujukku.Ketika perusahaan jasa pindahan membunyikan bel, aku baru saja menutup kardus terakhir.Aku tidak menghancurkan barang-barang atau menggunting foto-foto kami.Aku hanya memasukkan salinan surat nikah, dokumen properti, riwayat transaksi rekening, dan kotak gaun pengantin ke dalam sebuah map, satu per satu.Sementara itu, semua pemberian Kenzo kutinggalkan di atas lemari dekat pintu masuk.Kalung, parfum, tas, jam tangan.Di bawah masing-masing barang, kuselipkan secarik catatan.[Yuna yang bantu memilih.][Yuna juga punya yang sama.][Yuna suka aroma ini.][Yuna bilang warna abu-abu cocok untukku.]Catatan terakhir kutaruh di bawah kalung kelinci itu.[G

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status