Share

Pengorbanan Hati sang Ibu Angkat
Pengorbanan Hati sang Ibu Angkat
Author: Dayura Dalidayulia

1. Membeli Budak

last update Petsa ng paglalathala: 2023-05-08 15:39:39

"Bersiaplah untuk nanti malam.".

Perempuan yang tengah duduk sambil meminum teh di ruang tamu, menatap ayahnya. "Bersiap untuk apa, Ayah?"

"Putra Juragan sawah, akan ke mari untuk melamarmu." Sang Ayah—Bahar, ikut duduk di kursi kosong di hadapan Si Perempuan.

"Apa? Ayah akan menjodohkanku lagi? Setelah 4 laki-laki yang kutolak kemarin? Apa Ayah yakin ... tidak akan malu lagi, bila nanti aku menolak Pria itu juga?" Srini meletakan gelas tehnya, ia tidak jadi menyesap karena sudah kadung tidak berselera.

"Srini!" Bahar berdiri,"turuti saja apa kata Ayah! Kamu ini sudah dewasa umurmu sudah 30 tahun .... kamu seharusnya sudah punya anak 3 tapi ini malah masih asik-asikan melajang. Apa kamu pikir, Ayah tidak menginginkan seorang cucu?!"

Srini mengembuskan napas kasar, dia ikut berdiri. "Aku tau, aku paham ... tapi bagaimana jika aku belum menemukan jodoh yang baik untukku, Ayah?"

"Tau apa kamu tentang jodoh! Setiap laki-laki yang Ayah jodohkan padamu itu adalah orang baik, pilihan terbaik!"

"Aku tidak mau! Aku akan mencari pendamping hidupku sendiri Ayah. Berhentilah memaksa dan menjodohkan dengan lelaki pilihan Ayah!"

"Srini! Apa kamu melawanku!?"

"Aku mau keluar ...!" Srini melenggang keluar rumah, meninggalkan ayahnya yang terus berteriak memanggil namanya dan meminta kembali. Sampai, seorang wanita datang menenangkannya. "Sudah, Pak ... sudah ...."

"Putrimu sudah kurangajar sekarang!? Dia sudah berani melawan!" 

"Biarkan Srini tenang dulu, ayo kita minum teh bersama. Aku akan memijatmu juga." Satem, yang menjadi istrinya sedikit meredakan amarah di dada, dia menuntun lembut Sang suami ke salah satu tempat di rumah itu. Duduk lesehan di sisi kolam ikan, dengan angin sejuk di kelilingi tanaman pohon yang tingginya hanya 2 meter saja. 

Sementara itu, Srini berjalan-jalan di pasar untuk menghilangkan rasa kesal pada Sang ayah yang selalu mengatur hidupnya dengan seenaknya tanpa memikirkan perasaanya.

Tidak jauh dari tempat Srini sedang bertanya-tanya tentang harga tusuk konde yang bagus. Ada seorang anak perempuan, meringkuk penuh ketakutan dengan rantai melingkar di tangan dan kakinya. 

Baju kumal yang sudah sobek itu, pasti tidak mampu menahan kedinginan saat malam.

Dia anak gadis malang, yang dijual sebagai budak. 

Gadis itu, bukanlah satu-satunya budak yang tengah dijual. Ada beberapa anak lain, yang usianya lebih tua ataupun lebih muda darinya. 

Di tengah pasar, dirinya sedang dijajakan oleh pria bertubuh gendut. 

Selesai membeli tusuk konde, Srini mengedarkan pandang hanya untuk mencari sesuatu yang menarik untuk dia beli, tanpa disengaja dia melihat gadis malang tersebut. Yang secara kebetulan sedang melihat ke arahnya, menatap dengan pendar mata yang penuh akan ketakutan dan meminta pertolongan. 

Srini sangat iba pada bocah itu. Sudah beberapa detik keduanya saling bertatapan dalam jarak yang lumayan jauh tapi jelas terlihat mereka sedang saling melihat. Hati Srini tersentuh, membuat dirinya bergerak mendekat ke arah si bocah. 

"Berapa anak ini?" tanya Srini, pada pria bertubuh gempal yang tengah berusaha menjual para budak itu. 

Melihat Srini, pria itu tersenyum senang. Terlihat sekali jika Srini adalah perempuan dari kalangan sangat mampu. Lalu, dia melihat ke arah bocah yang ditunjuk Srini. 

"Bocah ini harganya 100 ribu rupiah atau 10 keping perak, apa kau akan membelinya?"

"Mungkin. Tapi, kau dapat dari mana anak ini?" tanya Srini lagi.

"Aku mendapatkannya di jalanan, dia anak jalanan yang selalu lontang lantung ke sana ke mari sendirian."

Srini terdiam, kemudian dia menatap gadis kecil itu dan berjongkok di depannya. 

"Apa benar? Yang dikatakannya? Kau anak jalanan?" Dia bertanya sangat lirih, dan hati-hati agar si pria gendut tak mendengarnya.

Dengan wajah cemong, dan bulu mata yang basah, bocah itu mengangguk. Membenarkan.

Srini kembali berdiri, lalu meraih uang dari kantung kain kecil dari balik saku bajunya. 

"Ini, aku membelinya." Lalu, ia menyodorkan uang kertas berjumlah 100 ribu rupiah pada pria itu. 

Saat itu, uang dengan nominal tersebut. Sangatlah besar jumlahnya, Srini memanglah anak dari orang berada. 

Pria itu menerima uang Srini dengan cepat, memasukannya ke dalam saku secepat mungkin. Takut nanti Srini berubah pikiran. 

Kemudian, melepas rantai di tangan dan kaki bocah perempuan itu. 

"Silahkan, anak ini sudah jadi milikmu!" kata pria gendut itu dengan senyum lebar. 

"Hei, bangun. Cepat ikuti majikan barumu!" kata pria itu, menarik satu lengan gadis kecil tersebut hingga dia berdiri. 

 *****

Di perjalanan pulang, Srini melihat bocah kecil itu tengah berjalan di sisinya dengan menunduk. 

Dalam hati, dia bingung kenapa ingin sekali membeli anak ini sampai rela mengeluarkan uang yang besar.

'Kenapa aku sangat ingin sekali membeli anak ini? Kalau soal kasihan bisa bisa saja aku sekarang menyuruhnya pergi karena sudah tidak dijajakan lagi. Tetapi, rasanya ... aku ingin membawanya pulang.'

Namun, begitu memilikinya Srini merasa bahagia. Ia merasa telah melakukan hal yang benar, bahkan dia tersenyum tipis diam-diam. 

"Siapa namamu?" tanya Srini.

Gadis itu menengadah, menatap mata Srini takut-takut, lalu menjawab.

"Kembang."

"Ke mana orang tuamu? Sampai kau hidup di jalan?"

"Aku tidak punya orang tua."

"Mereka telah meninggal?"

"Ibu pergi, dan bapak menikah lagi, tetapi terakhir kali mereka pamit pergi ke ladang dan tidak pernah kembali lagi."

"Kapan terakhir kali kau melihat orang tuamu?"

"5 tahun lalu."

Srini tertegun, kala melihat bahu gadis cilik itu bergetar. Kembang merindukan orang tuanya, dan Srini tahu itu. 

"Kau merindukan orang tuamu?" tanya Srini.

Gadis cilik tersebut terus menangis, tanpa menjawab pertanyaan Srini. Beberapa saat kemudian, Kembang berkata lirih akan tetapi jelas terdengar olehnya.

"A-aku telah dibuang ...."

Srini melihat ke depan dan terus berjalan, lalu terucap dari mulutnya.

"Panggil aku Ibu. Mulai sekarang, kau jadi anakku."

Kembang langsung berhenti melangkah, dengan mata basahnya, ia melihat wajah Srini.

Nampak, wajah dan sorot mata tak percaya setelah mendengar ucapan tersebut. Namun, pada akhirnya Kembang mengangguk lalu kembali menangis. 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pengorbanan Hati sang Ibu Angkat   21. Sindiran kekesalan

    Sesampainya di rumah kayu, Srini segera turun, dia sangat menyambut Damar dan Mung dengan raut gembira. Kembang hanya diam memerhatikan tingkah ibunya begitu antusias menyambut seseorang.'Ini baru pertama kalinya aku melihat Ibu seperti ini.'Srini mempersilakan Damar dan Mung untuk masuk. Menyuguhkan teh hangat dan singkong rebus tadi pagi, yang mendadak di panaskan.Melihat Srini sangat memerlakukan dia begitu baik, Damar merasa tidak enak. Karena takut merepotkan. "Nona, tidak usah repot-repot. Kau baru pulang berjualan, istirahatlah sebentar."Srini meletakan piring berisi kue lapis, di hadapan Damar dan Mung. "Aku jarang kedatangan tamu seperti ini. Aku hanya ingin memperlakukan tamuku dengan baik, sampai dia merasa sangat diterima."Obrolan di antara Srini dan Damar berlangsung hangat dan sangat sopan. Damar membicarakan rencana pasokan sayur dengan tutur kata yang santun, membuat Srini makin mengagumi keanggunan pria itu.Kembang yang merasa kurang nyaman di rumah, iq memilih

  • Pengorbanan Hati sang Ibu Angkat   20. Izin bertamu

    Kembang hanya bisa mengatupkan bibir, membiarkan rasa bingung itu mengendap di kepalanya. Di matanya, Pandu hanyalah sahabat yang sudah bersamanya sejak kecil. Sikap Pandu yang tiba-tiba datang memasang raut marah, bicara dengan nada tinggi, lalu pergi begitu saja terasa sangat asing dan tidak masuk akal baginya.'Ada apa sebenarnya dengan anak itu? Kenapa dia tiba-tiba marah-marah tak jelas begitu?' batin Kembang, heran dan sedikit jengkel dengan tingkah berubah-ubah kawan dekatnya itu.Tepat pukul sebelas siang, ketika matahari merambat lurus di atas kepala dan pasar mulai berangsur sepi, kereta kuda sederhana milik Damar sudah berhenti di pinggir jalan utama pasar. Damar turun lebih dulu, lalu melangkah menghampiri lapak Srini yang sudah bersih."Sudah siap, Nona Srini?""Sudah, Kang Damar. Mari."Kembang berjalan mengikuti di belakang Srini, memikul tenggok kosong yang tak terlalu berat. Saat ia melintas di samping Damar untuk naik ke atas kereta, langkahnya mendadak tertahan. Dam

  • Pengorbanan Hati sang Ibu Angkat   19. Tingkah aneh Pandu

    Di dalam bilik yang remang. Suara aktifitas ringan kamar sebelah, di kamar Srini terdengar cukup jelas oleh Kembang. Namun, Kembang tetap bergeming, berbaring telentang menatap langit-langit bambu dengan kedua mata yang terbuka lebar.Pikirannya melayang jauh, mengingat sosok Mung yang Kembang yakini, pernah bertemu sebelumnya. Hingga ingatannya berhasil menerobos lorong waktu ke tujuh tahun silam, ke masa-masa paling gelap dalam hidupnya sebelum Kembang bertemu Srini. Masa ketika ia belum bernama Kembang, masih menjadi anak budak yang kurus kering, kotor, dan kelaparan di balik pasar distrik tua."Mung... wajah Mung yang tidak asing itu...."Kembang memiringkan badannya, memegang dadanya yang mendadak berdegup kencang. Bayangan masa lalu itu terangkai makin jelas.Tujuh tahun yang lalu, di sebuah gang sempit berdinding bata kusam, seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun duduk gemetar menahan lapar. Lalu, dua pasang kaki bersepatu kulit bersih berhenti tepat di hadapannya.Kala

  • Pengorbanan Hati sang Ibu Angkat   Ilusi mengganggu

    Langkah kaki Pandu terasa agak berat saat menyusuri jalan setapak menuju tanah lapang di balik kebun bambu. Di tangannya, ia membawa bola kulit jerami yang baru saja ia perbaiki tali pengikatnya. Pikirannya melayang menebak siapa orang yang mengantar surat pada Srini, dan yang penting. Kenapa dia merasa tidak suka saat Kembang mengaku pernah melihatnya."Dia hanya bilang pernah melihatnya, kenapa aku terlalu memikirkan?"Setelah Kembang menceritakan ada orang yang tidak asing baginya, mengantar surat perkenalan dari tuannya kepada Srini. Alih-alih penasaran siapa tuan dari Si Mung itu, Pandu justru penasaran pada siapa si Mung itu sendiri.Dia melambung-lambungkan secara rendah bola di tangannya sambil jalan. Di otaknya menciptakan beberapa wujud dan tampang dari Mung. Anehnya, di otak remaja itu ilusi tampang Mung justru semuanya sangat memesona. Pandu tidak tahu, kalo dibandingkan dengan dirinya, Pandu lumayan lebih unggul.Semua itu menganggu pikirannya. Pandu melambungkan bola di

  • Pengorbanan Hati sang Ibu Angkat   17. Secarik Surat Perkenalan

    Di pasar, saat Kembang dan Srini tengah berjualan. Datang satu pria pendek, tampangnya sangat ramah, cara berjalannya saja semangat sekali ketika mendekati lapak jualan Srini dan Kembang. "Aku ingin beli 1kg lobak putihnya," kata Pria itu pada Srini, tanpa menanyakan berapa harga kiloannya. "Baik, tunggu sebentar, Pak," kata Srini, mengambil plastik dan memasukan beberapa lobak untuk ditimbang. "Jangan panggil aku 'Pak', Nona. Panggil saja aku Mung," ujarnya. Srini tersenyum ramah, mengangguk. "Baiklah, tunggu sebentar, Mung." Di sela apa yang yang tengah dilakukan oleh ibunya, yang melayani pria bernama Mung itu. Kembang diam-diam memperhatikan orang tersebut, dia seperti mengingatnya dan pernah melihatnya di suatu tempat. Namun, tak ingat jelas di mana. 'Aku sepertinya pernah melihat wajah itu, tetapi di mana?' batin Kembang. Mung berusia sekitar 45 tahun, tingginya sekitar 153cm, dia lebih pendek dari Pandu, dan jelas sekali lebih pendek dari Kembang. Sebab, Kemban

  • Pengorbanan Hati sang Ibu Angkat   16. Antar Pulang

    Kembang berjalan, menyusuri jalan setapak, yang di kanan kirinya adalah pohon singkong. Gelap, tetapi gadis itu tak merasa takut. Justru, dia berjalan sembari memegangi pergelangan tangan dan menempelkannya di dada. Tepat di mana Pandu menggenggam tangannya tadi. Kembang tak mengerti, ada apa dengan dirinya sendiri. Dia menunduk, terus mengingat adegan saat Pandu memegangi tangannya, dan memberinya tatapan mata yang dia sendiri susah untuk menjelaskan. Gadis itu seolah melihat sisi lain dari sahabatnya sendiri, entah apa. Langkah Kembang terhenti, saat ia merasa ada yang mengikuti di belakang. Dia berbalik, tak menemukan siapapun, dan tak melihat apapun, hitam karena gelap. Di ujung sana lampu depan rumahnya menyala, dan hanya itulah yang menjadi pacuan Kembang untuk terus berjalan lurus. Bulu kuduknya mulai meremang, ketika kakinya merasakan ada orang lain lagi yang menginjak tanah yang sama. Tidak jauh di belakangnya, dia berdiam merasakan detakan takut juga pundaknya

  • Pengorbanan Hati sang Ibu Angkat   9. Boleh Ikut?

    "Kenapa kau ingin membangun rumah kecil dan itu dari kayu?" tanya Bu Latih. "Aku ingin hidup sederhana mulai sekarang, aku ingin suatu hari menjadi seperti bu Latih yang berhasil karena kegigihan sendiri, memanfaatkan peluang dan juga tidak lupa balas budi," jawabnya. Bu latih tersenyum mendengar

  • Pengorbanan Hati sang Ibu Angkat   8. Sahabat Ibunya

    Seorang wanita masuk ke dalam rumah, Bu Ami. Ia membawa rantang putih dan memanggil-manggil nama Bu Ami. "Ami ...!"Srini yang mendengarnya bergegas ke keluar untuk menemui orang tersebut. Begitu ia keluar, wanita itu tanpak bingung. "Kau siapa?" tanya wanita yang lebih tua dari Bu Ami. Usinya 44

  • Pengorbanan Hati sang Ibu Angkat   7. Ke mana Bu Ami

    Kembang berjalan di belakang Pandu yang terus memakan rambutan, meninggalkan banyak kulit rambutan di sepanjang jalan yang sudah mereka lewati. Baju Pandu yang besar, mampu menjadi kantong untuk wadah rambutan yang banyak. Anak itu membawanya dengan cara memeluknya di depan perut. Di belakang, K

  • Pengorbanan Hati sang Ibu Angkat   6. Petik rambutan

    Obrolan terus berlanjut sampai beberapa menit, sampai Pandu kembali. "Ayo Kembang, main denganku sebentar saja," katanya lagi. Kembang kembali gelisah. Namun, kesempatan kali ini tidak berpihak padanya. "Mainlah Kembang, akrabkan dirimu dengan teman barumu, sepertinya mulai detik ini, kita akan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status