LOGINSatem hendak melangkahkan kaki menghampiri putrinya, dia sangat khawatir. Tetapi, tak bisa karena Bahar sudah mencengkal kuat lengannya.
"Kau Srini! Sudah mempermalukanku! Pergilah kau dari sini! Enyahlah anak durhaka!"
JDAR!
Bagai petir, bagai ledakan tak terduga. Bahar akhirnya mengusir putri semata wayangnya.
Satem menutup mulut, kepalanya menggeleng perlahan menatap Srini dan matanya kabur karena cairan yang menumpuk di pelupuk mata.
Kembang mendelik tak percaya.
Sementara Srini perlahan mulai tersenyum, menyeringai menatap Sang ayah dengan kecewa.
Alih-alih mendengarkan keinginan hati dan perasaanya, ayahnya justru memilih mengusirnya.
"Ayah mengusirku? ... baik, itu artinya aku bebas? ... baik, aku pergi," kata Srini, dia berbalik menangis dengan senyuman yang sebenarnya senyum penutup amarah. Tak lupa, ia juga menarik tangan Kembang supaya ikut dengannya.
"Apa yang kau lakukan! Dia anak kita satu-satunya!?" Satem berteriak tak terima putrinya diusir. Sedangkan Bahar, terus menatap ke arah putrinya masuk, dengan dada yang menggebu-gebu tak mengindahkan istrinya yang ikut marah dan menangis tak rela.
Dengan menahan segala rasa yang bertumpuk jadi satu dalam dada. Srini mengambil tas besar, dia memasukan baju-bajunya, bahkan ia juga memilih baju-baju lawasnya saat kecil, untuk dipakai Kembang.
Sementara Kembang, dia berdiri mematung memperhatikan Srini yang berulang kali mengusap air mata secara kasar, bolak-balik dari lemari ke sisi kasur, membenahi pakaiannya.
Setelah cukup, ia keluar kamar. Bersama Kembang yang mengikuti dengan perasaan tak nyaman.
Di pintu ke luar, ada Bahar dan Satem yang tengah berdiri berhadap-hadapan, tampak mereka pun tengah berdebat, terlihat dari Satem yang menangis dan membentak-bentak suaminya. Namun, Bahar membalas juga dengan sentakan.
Srini berhenti di ambang pintu, seketika dua pasangan yang itu pun berhenti berdebat. Mereka serentak menatap ke arah Srini. Tali tas besar tersampir di pundak kanannya. Juga Kembang yang berada di belakang Srini.
"Srini ... Nak, tolong jangan pergi." Satem berjalan mendekati putrinya, raut wajah tak rela begitu tergambar jelas, dan tangisan yang berat cukup nyata sebagai ungkapan bahwa dia tidak ingin Srini pergi.
"Jangan pergi, Srini ... jangan tinggalkan Ibu."
Srini rapuh, langsung memeluk erat ibunya dan menangis sejadi-jadinya. Dagu perempuan itu bertumpu di atas pundak Sang ibu, meringis karena berat meninggalkan ibunya tetapi tidak kuat jika terus bertahan di rumah.
"Aku minta maaf, Bu ... aku harus tetap pergi," ucap Srini dengan parau.
Ibunya melepaskan pelukan, mata dan pipi basah, Satem menggeleng perlahan sebagai jawaban.
"Jangan ... Ibu mohon jangan ...."
Langsung Srini memeluk ibunya lantaran tak kuasa memberi penolakan kedua kalinya. Dia, harus tetap pergi.
Srini melepaskan pelukan, matanya masih terus meluruhkan air hangat, ia menatap Si ayah, Bahar.
Niat hati ingin berpamitan, karena bagaimanapun Bahar adalah ayahnya. Terlepas pertengkaran mereka tadi, Srini tetap tidak ingin meninggalkan Ayahnya dengan cara tidak sopan.
Untuk saat ini, dia menekan rasa marah dan kecewanya. Srini berjalan ke arah Bahar, sedangkan ayahnya langsung berkacak pinggang, membuang muka enggan melihat putrinya.
Hatinya sudah abu, dia sangat marah pada Srini.
"Ayah, aku ingin berpamitan," kata Srini.
"Pergilah! tanpa harus basa-basi, kau sudah mengecewakanku!"
Srini terdiam setelah mendengar jawaban ayahnya. Dia perlahan berlutut, bersimpuh lalu bersujud di depan kaki Bahar.
Satem yang melihat hal tersebut, semakin kuat menangis karena merasa hancur menyaksikan suami dan anaknya seperti itu.
Perlahan, Srini kembali bangkit. Dia mengusap air matanya, lalu menatap Satem. Mengungkapan maaf lewat tatap mata, karena jika ia ungkapkan pasti jawaban Satem adalah tidak. Hal itu akan membuat Srini goyah akan keputusannya, dan merasa semakin sakit karena dirinya tetap memilih pergi.
Tali tas yang menggantung di pundak kanannya merosot, reflek Srini membenarkan hingga ia memanggil Kembang.
"Kembang." Sedari tadi Kembang memang terus melihat Srini.
"Ayo kita pergi," ajak Srini. Kembang mengembuskan napas panjang dengan lesu. Lalu melangkah, melewati Satem, hingga berdiri di samping Srini di hadapan Bahar.
Keduanya berbalik, Srini dan Kembang mulai pergi.
"Pak, Pak ... jangan mengusir Srini, Pak." Satem memegangi sebelah tangan suaminya, sambil menangis menatap punggung putrinya yang kian menjauh melewati halaman rumah.
"Pak! Tolong, panggil Srini, bujuk dia kembali, Pak!"
"Biarkan saja! Biarkan dia pergi! Daripada keluarga kita menjadi bual-bualan orang, karena dia membawa seorang anak kecil yang tidak jelas apalagi seorang budak!"
Satem tertegun. Dia menggigit bibir bawahnya. Srini semakin jauh, bahkan ia sudah berada di luar halaman depan rumah mereka.
Suaminya tak bisa diharapkan, anaknya sudah dewasa dan keputusan putrinya tak sanggup dia goyahkan.
****
"Srini! Srini tunggu!"
Terdengar dari belakang, suara ibunya memanggil. Srini berhenti, dan berbalik.
"Ini, bawa ini." Ibunya memberikan sekantung kain abu-abu, ketika Srini buka, isinya adalah koin emas dan uang yang jumlahnya sangat banyak.
"Untuk apa ibu memberiku ini?" tanya Srini.
"Bagaimanapun, kau tetap anakku. Sekali-kali kembalilah pulang. Tak usah memikirkan Bapakmu, tapi pikirkan aku. Karena semarah apapun, dan bagaimanapun aku tetap Ibumu."
Srini menangis mendengar itu, ia kemudian memeluk ibunya dan terisak mengucapkan terimakasih.
"Pergilah ke distrik Waringin, cari orang yang bernama Latih. Dia sahabat baik Ibu. Meski jauh, tapi Ibu yakin dia bisa menolongmu."
Srini terdiam. Awalnya ia ingin menolak bantuan ibunya yang ini, tetapi seakan tahu pikiran anaknya. Satem langsung berkata, sambil memegang kedua tangan Srini yang memegangi sekantung kain pemberiannya.
"Dengarkan Ibu kali ini, Nak. Biarkan Ibu membantumu ...."
Akhirnya, Srini mengangguk. Satem mengusap lembut sebelah wajah putrinya itu seraya terus meneteskan air mata dan tersenyum.
Dia mengizinkan putrinya pergi.
***
Pergilah Srini dan Kembang ke luar desanya. Menuju Desa Waringin, sesuai kata-kata Satem.
Mereka mendekati tukang delman, dan bertanya soal harga ke Desa Waringin.
"Permisi, Paman ...."
Laki-laki yang tengah duduk termenung menanti penumpang, sampai terkejut melihat satu perempuan cantik dengan satu gadis kecil.
"Y-ya?"
"Apa Anda tau Distrik Waringin?"
"Distrik Waringin? Distrik itu sangat jauh dari sini," jawab Tukang delman.
"Kira-kira berapa jauhnya?"
"Jika dari sini sekitar 3 jam sampai sana."
"Apa kau bisa mengantarku ke sana?"
"Bisa bisa, hanya saja ongkosnya mahal."
"Berapa?"
"Sekitar 10 ribu atau 1 koin perak."
"Baiklah, bisa Paman antarkan aku dan anakku ke sana sekarang?"
"Baiklah, silakan naik."
Tangan Kanan Srini merangkul bahu Kembang, ia mengangguk sekali pada anak itu. Membiarkan Kembang naik dulu.
Suara pecut berbunyi setelah mengenai pantat dua kuda yang siap menarik kereta, lalu berjalanlah kedua kuda itu membawa Srini dan Kembang ke Distrik Waringin.
Sesampainya di rumah kayu, Srini segera turun, dia sangat menyambut Damar dan Mung dengan raut gembira. Kembang hanya diam memerhatikan tingkah ibunya begitu antusias menyambut seseorang.'Ini baru pertama kalinya aku melihat Ibu seperti ini.'Srini mempersilakan Damar dan Mung untuk masuk. Menyuguhkan teh hangat dan singkong rebus tadi pagi, yang mendadak di panaskan.Melihat Srini sangat memerlakukan dia begitu baik, Damar merasa tidak enak. Karena takut merepotkan. "Nona, tidak usah repot-repot. Kau baru pulang berjualan, istirahatlah sebentar."Srini meletakan piring berisi kue lapis, di hadapan Damar dan Mung. "Aku jarang kedatangan tamu seperti ini. Aku hanya ingin memperlakukan tamuku dengan baik, sampai dia merasa sangat diterima."Obrolan di antara Srini dan Damar berlangsung hangat dan sangat sopan. Damar membicarakan rencana pasokan sayur dengan tutur kata yang santun, membuat Srini makin mengagumi keanggunan pria itu.Kembang yang merasa kurang nyaman di rumah, iq memilih
Kembang hanya bisa mengatupkan bibir, membiarkan rasa bingung itu mengendap di kepalanya. Di matanya, Pandu hanyalah sahabat yang sudah bersamanya sejak kecil. Sikap Pandu yang tiba-tiba datang memasang raut marah, bicara dengan nada tinggi, lalu pergi begitu saja terasa sangat asing dan tidak masuk akal baginya.'Ada apa sebenarnya dengan anak itu? Kenapa dia tiba-tiba marah-marah tak jelas begitu?' batin Kembang, heran dan sedikit jengkel dengan tingkah berubah-ubah kawan dekatnya itu.Tepat pukul sebelas siang, ketika matahari merambat lurus di atas kepala dan pasar mulai berangsur sepi, kereta kuda sederhana milik Damar sudah berhenti di pinggir jalan utama pasar. Damar turun lebih dulu, lalu melangkah menghampiri lapak Srini yang sudah bersih."Sudah siap, Nona Srini?""Sudah, Kang Damar. Mari."Kembang berjalan mengikuti di belakang Srini, memikul tenggok kosong yang tak terlalu berat. Saat ia melintas di samping Damar untuk naik ke atas kereta, langkahnya mendadak tertahan. Dam
Di dalam bilik yang remang. Suara aktifitas ringan kamar sebelah, di kamar Srini terdengar cukup jelas oleh Kembang. Namun, Kembang tetap bergeming, berbaring telentang menatap langit-langit bambu dengan kedua mata yang terbuka lebar.Pikirannya melayang jauh, mengingat sosok Mung yang Kembang yakini, pernah bertemu sebelumnya. Hingga ingatannya berhasil menerobos lorong waktu ke tujuh tahun silam, ke masa-masa paling gelap dalam hidupnya sebelum Kembang bertemu Srini. Masa ketika ia belum bernama Kembang, masih menjadi anak budak yang kurus kering, kotor, dan kelaparan di balik pasar distrik tua."Mung... wajah Mung yang tidak asing itu...."Kembang memiringkan badannya, memegang dadanya yang mendadak berdegup kencang. Bayangan masa lalu itu terangkai makin jelas.Tujuh tahun yang lalu, di sebuah gang sempit berdinding bata kusam, seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun duduk gemetar menahan lapar. Lalu, dua pasang kaki bersepatu kulit bersih berhenti tepat di hadapannya.Kala
Langkah kaki Pandu terasa agak berat saat menyusuri jalan setapak menuju tanah lapang di balik kebun bambu. Di tangannya, ia membawa bola kulit jerami yang baru saja ia perbaiki tali pengikatnya. Pikirannya melayang menebak siapa orang yang mengantar surat pada Srini, dan yang penting. Kenapa dia merasa tidak suka saat Kembang mengaku pernah melihatnya. "Dia hanya bilang pernah melihatnya, kenapa aku terlalu memikirkan?" Setelah Kembang menceritakan ada orang yang tidak asing baginya, mengantar surat perkenalan dari tuannya kepada Srini. Alih-alih penasaran siapa tuan dari Si Mung itu, Pandu justru penasaran pada siapa si Mung itu sendiri. Dia melambung-lambungkan secara rendah bola di tangannya sambil jalan. Di otaknya menciptakan beberapa wujud dan tampang dari Mung. Anehnya, di otak remaja itu ilusi tampang Mung justru semuanya sangat memesona. Pandu tidak tahu, kalo dibandingkan dengan dirinya, Pandu lumayan lebih unggul. Semua itu menganggu pikirannya. Pandu melambungkan b
Di pasar, saat Kembang dan Srini tengah berjualan. Datang satu pria pendek, tampangnya sangat ramah, cara berjalannya saja semangat sekali ketika mendekati lapak jualan Srini dan Kembang. "Aku ingin beli 1kg lobak putihnya," kata Pria itu pada Srini, tanpa menanyakan berapa harga kiloannya. "Baik, tunggu sebentar, Pak," kata Srini, mengambil plastik dan memasukan beberapa lobak untuk ditimbang. "Jangan panggil aku 'Pak', Nona. Panggil saja aku Mung," ujarnya. Srini tersenyum ramah, mengangguk. "Baiklah, tunggu sebentar, Mung." Di sela apa yang yang tengah dilakukan oleh ibunya, yang melayani pria bernama Mung itu. Kembang diam-diam memperhatikan orang tersebut, dia seperti mengingatnya dan pernah melihatnya di suatu tempat. Namun, tak ingat jelas di mana. 'Aku sepertinya pernah melihat wajah itu, tetapi di mana?' batin Kembang. Mung berusia sekitar 45 tahun, tingginya sekitar 153cm, dia lebih pendek dari Pandu, dan jelas sekali lebih pendek dari Kembang. Sebab, Kemban
Kembang berjalan, menyusuri jalan setapak, yang di kanan kirinya adalah pohon singkong. Gelap, tetapi gadis itu tak merasa takut. Justru, dia berjalan sembari memegangi pergelangan tangan dan menempelkannya di dada. Tepat di mana Pandu menggenggam tangannya tadi. Kembang tak mengerti, ada apa dengan dirinya sendiri. Dia menunduk, terus mengingat adegan saat Pandu memegangi tangannya, dan memberinya tatapan mata yang dia sendiri susah untuk menjelaskan. Gadis itu seolah melihat sisi lain dari sahabatnya sendiri, entah apa. Langkah Kembang terhenti, saat ia merasa ada yang mengikuti di belakang. Dia berbalik, tak menemukan siapapun, dan tak melihat apapun, hitam karena gelap. Di ujung sana lampu depan rumahnya menyala, dan hanya itulah yang menjadi pacuan Kembang untuk terus berjalan lurus. Bulu kuduknya mulai meremang, ketika kakinya merasakan ada orang lain lagi yang menginjak tanah yang sama. Tidak jauh di belakangnya, dia berdiam merasakan detakan takut juga pundaknya
"Kenapa kau ingin membangun rumah kecil dan itu dari kayu?" tanya Bu Latih. "Aku ingin hidup sederhana mulai sekarang, aku ingin suatu hari menjadi seperti bu Latih yang berhasil karena kegigihan sendiri, memanfaatkan peluang dan juga tidak lupa balas budi," jawabnya. Bu latih tersenyum mendengar
Seorang wanita masuk ke dalam rumah, Bu Ami. Ia membawa rantang putih dan memanggil-manggil nama Bu Ami. "Ami ...!"Srini yang mendengarnya bergegas ke keluar untuk menemui orang tersebut. Begitu ia keluar, wanita itu tanpak bingung. "Kau siapa?" tanya wanita yang lebih tua dari Bu Ami. Usinya 44
Kembang berjalan di belakang Pandu yang terus memakan rambutan, meninggalkan banyak kulit rambutan di sepanjang jalan yang sudah mereka lewati. Baju Pandu yang besar, mampu menjadi kantong untuk wadah rambutan yang banyak. Anak itu membawanya dengan cara memeluknya di depan perut. Di belakang, K
Obrolan terus berlanjut sampai beberapa menit, sampai Pandu kembali. "Ayo Kembang, main denganku sebentar saja," katanya lagi. Kembang kembali gelisah. Namun, kesempatan kali ini tidak berpihak padanya. "Mainlah Kembang, akrabkan dirimu dengan teman barumu, sepertinya mulai detik ini, kita akan







