LOGINSrini dan Kembang turun dari kereta delman.
"Ini Paman, sesuai perjanjian awal. 1 koin perak." Srini memberikan 1 benda bulat yang ukurannya sebesar tutup botol tapi lebih tipis lagi.
Tukang delman itu menerima dengan senang.
"Terimakasih."
Srini tersenyum. "Tidak, aku yang harusnya berterimakasih."
Saat Tukang delman memasukan koin itu ke dalam saku baju, Srini dan Kembang memperhatikan sesaat.
"Ah iya, Paman ... sebentar lagi akan petang. Apa kau akan kembali sekarang?"
"Iya, saya akan langsung pulang lagi ke Distrik Kates. Mungkin sampai sana akan malam, tetapi tidak terlalu malam juga."
"Baiklah, hati-hati di jalan ... semoga perjalanmu lancar sekali lagi terima kasih."
.
"Sama-sama, ya sudah ... saya pamit dulu." Srini mengangguk sembari tersenyum simpul.
Tukang delman menaiki delmannya, lalu membuat kuda-kudanya berbalik arah dan mulai mencambuk pant4t kudanya. Kemudian melambaikan tangan pada Srini dan Kembang.
Mereka pun mengangkat tangan, membalas lambaian sembari senyum.
"Orang yang ramah," celetuk Kembang, terus menatap ke arah perginya Tukang delman. Membuat Srini menoleh ke arahnya.
Sadar sedang diperhatikan, Kembang grogi dan hal itu membuat Srini tertawa.
"Benar, Paman itu sangat ramah dan baik, mau mengantarkan kita ke sini."
Srini menengadah, melihat langit yang perlahan akan petang. Perutnya tiba-tiba saja merasa lapar, ia pun melihat salah satu tukang jualan dan mengajak Kembang ke sana.
"Nah ... Kembang, bagaimana sekarang kalau kita makan dulu. Aku pun sudah merasa lapar sejak tadi siang makan bersamamu."
Kembang mengangguk saja.
"Ayo kita ke sana."
Ada beberapa orang yang sedang makan di sana, tempat itu tidak besar, tetapi dilihat dari banyaknya orang yang makan di sana sepertinya makannya cukup enak.
Kembang dan Srini duduk di sebrang kursi kayu panjang yang di sebrangnya lagi sudah ada ibu-ibu yang umurnya sekitar 37 tahun, bersama anak laki-laki seusia Kembang.
Sebelum duduk, Srini dan ibu anak itu tak sengaja bertemu tatap. Sehingga membuat Srini reflek tersenyum padanya, ibu anak itu juga membalas senyuman Srini.
Pemilik tempat makan itu menghampiri Srini dan Kembang. "Berapa porsi, Dik? Lauknya mau pakai apa?"
"Ah, 2 porsi, lauknya ayam sama sayur gulai nangka saja," kata Srini.
"Minumnya?"
"Air teh tawar hangat saja."
"Baik." Laki-laki yang usianya sekitar 50 tahunan itu pergi setelah menerima pesanan Srini.
Ibu-ibu dengan anak laki-laki di hadapan Srini tidak memesan. Nampaknya, mereka sudah memesan sebelum Srini dan Kembang tiba di sana hanya saja pesannya belum datang.
"Dari mana, Nduk?" tanya ibu-ibu itu pada Srini. Nduk adalah panggilan Jawa untuk anak perempuan.
"Saya dari rumah, Bu ...," jawab Kembang.
"Dari rumah? Memangnya di mana rumahmu?"
"Di Distrik Kates ...."
"Distrik Kates? Wah, di sana tempat terkenal karena banyaknya kebun Kates, ya?"
"Iya, benar ... Ibu tau Distrik itu? Apa pernah ke sana?"
"Dulu saya dan orang tua saya tinggal di sana, tapi setelah Ibu kami menikah dengan orang sini. Kami semua pindah ke sini, dan menetap di sini."
Di tengah perbincangan Srini dan Ibu itu, Kembang dan anak laki-laki yang duduk di depannya tak sengaja bertemu pandang.
Anak dengan pipi, juga perutnya yang bulat itu terus saja menatap Kembang sejak ia dan Srini pertama kali duduk.
Awalnya Kembang biasa saja, tapi matanya tiba-tiba melebar kala anak laki-laki itu mengedipkan mata dan tersenyum padanya.
"Siapa namamu, Nduk? Kalau saya Ami, panggil saja Bu Ami. Ini anak saja, namanya Pandu, usinya baru 9 tahun."
"Nama saya Srini, ini anak saja Kembang. Usinya 10 tahun," jawab Srini.
Untung saja Srini sempat menanyakan umur Kembang saat anak itu selesai mandi tadi, saat masih di rumahnya.
"Berapa umurmu?" tanya Srini saat itu.
"Aku tidak tahu," jawab Kembang sambil memakai baju.
"Apa kau tahu, kau lahir tahun berapa?"
"Ayah pernah bilang aku lahir tahun 82."
Srini terdiam, ia mengerti maksud ayah Kembang pasti tahun 1982. Sekarang sudah tahun 1992.
Berarti benar usia Kembang adalah 10 tahun.
Pesanan mereka datang. Bu Ami dan anaknya memesan nasi dengan lauknya Ayam goreng dan Sayur sop. Srini tersenyum saat melihat lauk anak Bu Ami—Pandu, lebih banyak dari ibunya.
2 ayam goreng, 1 potong gepuk sapi, dan sayur nangka kari.
Sambil makan, Bu Ami yang sepertinya penasaran kembali mengajak Srini bicara.
"Kalau boleh tau, memangnya kamu mau ke tempat siapa di sini sampai datang dari jauh? Apa ada sodara juga di sini?"
Walau tengah makan, Srini tidak keberatan menanggapi. Baginya itu lebih baik, daripada diam-diaman, karena mereka duduk berhadap-hadapan. Akan tidak nyaman jika semuanya diam. Dengan mengobrol seperti itu, membuat Srini dan Bu Ami tampak seperti sebuah keluarga yang sengaja makan bersama di tempat itu.
"Iya, saya ke sini untuk menemui teman baik Ibu saya."
Bu Ami mengangguk, sambil menyuap makanannya. Mereka terus lanjut mengobrol saling bertanya dan menjawab tentang hal-hal lain. Seperti Srini yang bertanya Pandu sudah sekolah kelas berapa, apakah Pandu punya kakak atau adik.
Kembang memakan makanannya dengan tenang, dia tidak memperhatikan ibu angkat berbicara apa saja.
Tiba-tiba saat tenggorokannya sedikit serat, ia mengambil minum yang ada di depan piringnya.
Kembang melihat ada beberapa tetesan air dari kuah gulai nangka di dekat piring Srini.
Melihat Srini masih asik berbincang, Kembang secara inisiatif ingin mengelapnya. Dia mengulurkan tangan hendak mengambil lap yang disediakan di sana, hanya saja elap itu lebih dekat dengan piring Pandu. Walau tidak dekat sekali.
Tangan Kembang tidak sampai, dia berniat akan berdiri lebih dulu tapi lagi-lagi Kembang di buat tercengang oleh Pandu. Anak gempal itu menggeser elap yang akan diambil oleh Kembang, mendekatkannya ke tangan gadis itu, seraya tersenyum aneh. Ditambah alis anak itu naik turun kala Kembang diam menatapnya.
Kembang mengambil elap tersebut secepat mungkin, ia mengelap tetesan kuah makanan di dekat piring Srini secara hati-hati sambil terus tidak memperdulikan Pandu.
Sesampainya di rumah kayu, Srini segera turun, dia sangat menyambut Damar dan Mung dengan raut gembira. Kembang hanya diam memerhatikan tingkah ibunya begitu antusias menyambut seseorang.'Ini baru pertama kalinya aku melihat Ibu seperti ini.'Srini mempersilakan Damar dan Mung untuk masuk. Menyuguhkan teh hangat dan singkong rebus tadi pagi, yang mendadak di panaskan.Melihat Srini sangat memerlakukan dia begitu baik, Damar merasa tidak enak. Karena takut merepotkan. "Nona, tidak usah repot-repot. Kau baru pulang berjualan, istirahatlah sebentar."Srini meletakan piring berisi kue lapis, di hadapan Damar dan Mung. "Aku jarang kedatangan tamu seperti ini. Aku hanya ingin memperlakukan tamuku dengan baik, sampai dia merasa sangat diterima."Obrolan di antara Srini dan Damar berlangsung hangat dan sangat sopan. Damar membicarakan rencana pasokan sayur dengan tutur kata yang santun, membuat Srini makin mengagumi keanggunan pria itu.Kembang yang merasa kurang nyaman di rumah, iq memilih
Kembang hanya bisa mengatupkan bibir, membiarkan rasa bingung itu mengendap di kepalanya. Di matanya, Pandu hanyalah sahabat yang sudah bersamanya sejak kecil. Sikap Pandu yang tiba-tiba datang memasang raut marah, bicara dengan nada tinggi, lalu pergi begitu saja terasa sangat asing dan tidak masuk akal baginya.'Ada apa sebenarnya dengan anak itu? Kenapa dia tiba-tiba marah-marah tak jelas begitu?' batin Kembang, heran dan sedikit jengkel dengan tingkah berubah-ubah kawan dekatnya itu.Tepat pukul sebelas siang, ketika matahari merambat lurus di atas kepala dan pasar mulai berangsur sepi, kereta kuda sederhana milik Damar sudah berhenti di pinggir jalan utama pasar. Damar turun lebih dulu, lalu melangkah menghampiri lapak Srini yang sudah bersih."Sudah siap, Nona Srini?""Sudah, Kang Damar. Mari."Kembang berjalan mengikuti di belakang Srini, memikul tenggok kosong yang tak terlalu berat. Saat ia melintas di samping Damar untuk naik ke atas kereta, langkahnya mendadak tertahan. Dam
Di dalam bilik yang remang. Suara aktifitas ringan kamar sebelah, di kamar Srini terdengar cukup jelas oleh Kembang. Namun, Kembang tetap bergeming, berbaring telentang menatap langit-langit bambu dengan kedua mata yang terbuka lebar.Pikirannya melayang jauh, mengingat sosok Mung yang Kembang yakini, pernah bertemu sebelumnya. Hingga ingatannya berhasil menerobos lorong waktu ke tujuh tahun silam, ke masa-masa paling gelap dalam hidupnya sebelum Kembang bertemu Srini. Masa ketika ia belum bernama Kembang, masih menjadi anak budak yang kurus kering, kotor, dan kelaparan di balik pasar distrik tua."Mung... wajah Mung yang tidak asing itu...."Kembang memiringkan badannya, memegang dadanya yang mendadak berdegup kencang. Bayangan masa lalu itu terangkai makin jelas.Tujuh tahun yang lalu, di sebuah gang sempit berdinding bata kusam, seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun duduk gemetar menahan lapar. Lalu, dua pasang kaki bersepatu kulit bersih berhenti tepat di hadapannya.Kala
Langkah kaki Pandu terasa agak berat saat menyusuri jalan setapak menuju tanah lapang di balik kebun bambu. Di tangannya, ia membawa bola kulit jerami yang baru saja ia perbaiki tali pengikatnya. Pikirannya melayang menebak siapa orang yang mengantar surat pada Srini, dan yang penting. Kenapa dia merasa tidak suka saat Kembang mengaku pernah melihatnya. "Dia hanya bilang pernah melihatnya, kenapa aku terlalu memikirkan?" Setelah Kembang menceritakan ada orang yang tidak asing baginya, mengantar surat perkenalan dari tuannya kepada Srini. Alih-alih penasaran siapa tuan dari Si Mung itu, Pandu justru penasaran pada siapa si Mung itu sendiri. Dia melambung-lambungkan secara rendah bola di tangannya sambil jalan. Di otaknya menciptakan beberapa wujud dan tampang dari Mung. Anehnya, di otak remaja itu ilusi tampang Mung justru semuanya sangat memesona. Pandu tidak tahu, kalo dibandingkan dengan dirinya, Pandu lumayan lebih unggul. Semua itu menganggu pikirannya. Pandu melambungkan b
Di pasar, saat Kembang dan Srini tengah berjualan. Datang satu pria pendek, tampangnya sangat ramah, cara berjalannya saja semangat sekali ketika mendekati lapak jualan Srini dan Kembang. "Aku ingin beli 1kg lobak putihnya," kata Pria itu pada Srini, tanpa menanyakan berapa harga kiloannya. "Baik, tunggu sebentar, Pak," kata Srini, mengambil plastik dan memasukan beberapa lobak untuk ditimbang. "Jangan panggil aku 'Pak', Nona. Panggil saja aku Mung," ujarnya. Srini tersenyum ramah, mengangguk. "Baiklah, tunggu sebentar, Mung." Di sela apa yang yang tengah dilakukan oleh ibunya, yang melayani pria bernama Mung itu. Kembang diam-diam memperhatikan orang tersebut, dia seperti mengingatnya dan pernah melihatnya di suatu tempat. Namun, tak ingat jelas di mana. 'Aku sepertinya pernah melihat wajah itu, tetapi di mana?' batin Kembang. Mung berusia sekitar 45 tahun, tingginya sekitar 153cm, dia lebih pendek dari Pandu, dan jelas sekali lebih pendek dari Kembang. Sebab, Kemban
Kembang berjalan, menyusuri jalan setapak, yang di kanan kirinya adalah pohon singkong. Gelap, tetapi gadis itu tak merasa takut. Justru, dia berjalan sembari memegangi pergelangan tangan dan menempelkannya di dada. Tepat di mana Pandu menggenggam tangannya tadi. Kembang tak mengerti, ada apa dengan dirinya sendiri. Dia menunduk, terus mengingat adegan saat Pandu memegangi tangannya, dan memberinya tatapan mata yang dia sendiri susah untuk menjelaskan. Gadis itu seolah melihat sisi lain dari sahabatnya sendiri, entah apa. Langkah Kembang terhenti, saat ia merasa ada yang mengikuti di belakang. Dia berbalik, tak menemukan siapapun, dan tak melihat apapun, hitam karena gelap. Di ujung sana lampu depan rumahnya menyala, dan hanya itulah yang menjadi pacuan Kembang untuk terus berjalan lurus. Bulu kuduknya mulai meremang, ketika kakinya merasakan ada orang lain lagi yang menginjak tanah yang sama. Tidak jauh di belakangnya, dia berdiam merasakan detakan takut juga pundaknya
"Kenapa kau ingin membangun rumah kecil dan itu dari kayu?" tanya Bu Latih. "Aku ingin hidup sederhana mulai sekarang, aku ingin suatu hari menjadi seperti bu Latih yang berhasil karena kegigihan sendiri, memanfaatkan peluang dan juga tidak lupa balas budi," jawabnya. Bu latih tersenyum mendengar
Seorang wanita masuk ke dalam rumah, Bu Ami. Ia membawa rantang putih dan memanggil-manggil nama Bu Ami. "Ami ...!"Srini yang mendengarnya bergegas ke keluar untuk menemui orang tersebut. Begitu ia keluar, wanita itu tanpak bingung. "Kau siapa?" tanya wanita yang lebih tua dari Bu Ami. Usinya 44
Kembang berjalan di belakang Pandu yang terus memakan rambutan, meninggalkan banyak kulit rambutan di sepanjang jalan yang sudah mereka lewati. Baju Pandu yang besar, mampu menjadi kantong untuk wadah rambutan yang banyak. Anak itu membawanya dengan cara memeluknya di depan perut. Di belakang, K
Obrolan terus berlanjut sampai beberapa menit, sampai Pandu kembali. "Ayo Kembang, main denganku sebentar saja," katanya lagi. Kembang kembali gelisah. Namun, kesempatan kali ini tidak berpihak padanya. "Mainlah Kembang, akrabkan dirimu dengan teman barumu, sepertinya mulai detik ini, kita akan







