공유

5. Tawaran menginap

last update 게시일: 2023-05-08 21:29:32

Mereka selesai makan, Srini sudah membayar makannya dan keluar bersama Bu Ami juga Pandu. 

"Ibu sendiri habis dari mana bawa pakaian banyak seperti itu?" tanya Srini melihat kantung besar bewarna merah, yang dibuntal seperti menggendong bayi. 

Secuil kain terlihat menyembul keluar dari mulut kantung, membuat Srini mengetahui itu adalah pakaian. 

"Ibu habis dari rumah Paman. Dia sakit sudah 2 minggu, jadi Ibu harus menjenguknya. Sempat menginap 4 hari di sana karena Paman ingin Ibu menginap."

"Ooh, kalau boleh tau ... Paman Ibu sakit apa?"

"Dia jatuh, tergelincir dari hutan saat mencari kayu."

"Aaah ... bagaimana kondisinya sekarang?"

"Kakinya kesleo, dia masih kesulitan berjalan, tetapi sudah jauh lebih baik."

"Sukurlah ...."

"Kau sudah tau, kan? Rumah teman Ibumu itu?"

Srini membuang napas berat. "Belum, saya harus mencarinya dulu. Mungkin malam ini saya akan mencari penginapan dulu."

"Menginaplah di rumahku kalau begitu," tawar Bu Ami. 

Srini terkejut. "A-apa? Menginap di rumah Ibu?"

Kembang yang berdiri di samping Srini, langsung menoleh, menengadah cepat ke arah ibu angkatnya itu sedetik setelah ikut mendengar tawaran Bu Ami. 

Gadis cilik itu mulai gelisah. Dia menggigit bagian dalam bawah bibirnya sedikit, sebenarnya Kembang kurang setuju. Kembang menurunkan pandangan, melihat Pandu yang berdiri di sisi Bu Ami, tepat dua langkah di hadapannya. Tengah sibuk memakan sepotong sayap goreng. 

Sebelum keluar, Pandu ingin makan sayap goreng sambil pulang katanya. Bu Ami ibu yang sangat baik sekali, tidak tega menolak keinginan putranya. 

"Ah ... tidak usah, saya tidak mau merepotkan Ibu ... saya cari penginapan saja."

"Suamiku pulang larut malam, apalagi malam ini dia kebagian jaga ronda. Pulangnya akan jam 4 dini hari. Daripada mencari penginapan, mahal, uangnya simpan saja."

Srini terdiam. Dia tengah memikirkannya. 

Sementara itu, Kembang kembali melihat ke arah Srini untuk memastikan jawaban Srini adalah tidak. 

"Besok akan aku bantu tanyakan pada suamiku, barangkali dia tau teman baik Ibumu." Bu Ami tersenyum, berharap Srini mau menerima tawarannya. 

"Baiklah, kalau Ibu berkata begitu." Akhirnya Srini menerima tawaran menginap bu Ami. 

Membuat wanita itu tersenyum senang, karena tidak akan sendirian di rumah. 

Kembang mengembuskan napas berat. Raut wajahnya merengut dan lesu, karena itu tandanya dia akan bertemu lebih lama bersama Pandu. 

Setuju tidak setuju, Kembang tidak ada keberanian. 

'Aku mana berani mengatakan tidak setuju pada Ibu, setelah satu hari ini cukup banyak hal yang aku ketahui, bagiku sekarang bersamanya adalah anugerah,' batin Kembang, Srini sudah berhasil melekat di hatinya. Menatap lesu Pandu yang memanyunkan bibir, lalu mencebik singkat padanya. Ciuman jarak jauh.

"Ayo ayo," kata bu Ami, mengajak Srini ikut pulang. Srini tersenyum menanggapi, lalu mulai berjalan bersama. 

Mereka berjalan kaki 10 menit dari tempat itu. 

Kemudian, sampailah pada rumah bu Ami dan keluarganya. 

"Ini rumah Ibu, ayo masuk ...." Srini mengangguk, tersenyum. Rumah yang dindingnya dari bata merah, lalu lantainya tanah. 

"Silakan duduk dulu, saya buatkan minum," kata Bu Ami. 

"Terimakasih, maaf kami merepotkan."

"Ah! Tidak, tidak merepotkan ... saya malah senang dalat tamu. Apalagi dari Distrik tempat saya lahir dulu," jawab bu Ami, tersenyum sambil meletakan barang-barang di atas ranjang kayu, alasnya dari bambu. 

Bu Ami pergi ke belakang, lalu Pandu pergi ke salah satu ruangan yang Srini yakin itu pasti kamar. 

Rumah bu Ami memang jauh berbeda dari rumah Srini di Distrik Kates. 

Tetapi, rumah itu sangat rapi, bersih. Jadi, walau tidak terlalu lebar sangat nyaman rasanya berada di sana.

Pandu ke luar dari kamar, dia menghampiri Kembang dan Srini, bertepatan dengan Bu Ami yang membawa dua gelas teh manis hangat untuk mereka. 

"Kembang." Bukan hanya pemilik nama saja yang menoleh, Srini dan Bu Ami pun menoleh pada Pandu sesaat setelah bocah itu memanggil Kembang. 

"Ayo main," ajak Pandu. 

Kembang terdiam, dia melihat ke arah Srini seakan melihat tanggapannya. 

'Bu, tolong katakan sesuatu ...,' batinnya. Dia sangat berharap Srini akan berkata sesuatu yang membuat Kembang tidak usah repot-repot menerima ajakan Pandu. 

"Kembang akan kau ajak main apa?" Bu Ami yang bertanya. 

"Sesuatu yang sangat menyenangkan dan mengenyangkan perut," jawab Pandu. 

"Biarlah Kembang istirahat dulu," ucap Bu Ami. 

Kembang sedikit bernapas lega. Bu Ami mengerti.

Pandu ke luar rumah, entah dia ke mana. 

Srini dan Bu Ami kembali berbincang, Bu Ami bercerita kalau dia sangat senang bisa bertemu Kembang. 

"Ayo di minum," kata Bu Ami.

"Ah, Baiklah ... terimakasih sebelumnya."

"Ngomong-ngomong, aku sangat senang bisa bertemu denganmu ...," kata Bu Ami, duduk di sebrang bangku kayu di hadapan Srini. 

"Benarkah? Saya juga sangat senang bisa bertemu dengan Bu Ami."

Bu Ami tertawa ringan. "Ya, aku sangat senang. Karena bisa bertemu orang dari Distrik kelahiranku. Seperti dikunjungi oleh sodara."

"Terimakasih sekali, aku sangat tersanjung ... apa sodara Ibu yang ada di sana tidak pernah berkunjung ke sini?"

"Kami sudah tidak ada sodara lagi di sana. Entah kebetulan atau apa, semua keluarga kami berjodoh dengan orang sini. Jadi, kami semua pindah ke sini ...."

Srini mengangguk paham. 

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Pengorbanan Hati sang Ibu Angkat   21. Sindiran kekesalan

    Sesampainya di rumah kayu, Srini segera turun, dia sangat menyambut Damar dan Mung dengan raut gembira. Kembang hanya diam memerhatikan tingkah ibunya begitu antusias menyambut seseorang.'Ini baru pertama kalinya aku melihat Ibu seperti ini.'Srini mempersilakan Damar dan Mung untuk masuk. Menyuguhkan teh hangat dan singkong rebus tadi pagi, yang mendadak di panaskan.Melihat Srini sangat memerlakukan dia begitu baik, Damar merasa tidak enak. Karena takut merepotkan. "Nona, tidak usah repot-repot. Kau baru pulang berjualan, istirahatlah sebentar."Srini meletakan piring berisi kue lapis, di hadapan Damar dan Mung. "Aku jarang kedatangan tamu seperti ini. Aku hanya ingin memperlakukan tamuku dengan baik, sampai dia merasa sangat diterima."Obrolan di antara Srini dan Damar berlangsung hangat dan sangat sopan. Damar membicarakan rencana pasokan sayur dengan tutur kata yang santun, membuat Srini makin mengagumi keanggunan pria itu.Kembang yang merasa kurang nyaman di rumah, iq memilih

  • Pengorbanan Hati sang Ibu Angkat   20. Izin bertamu

    Kembang hanya bisa mengatupkan bibir, membiarkan rasa bingung itu mengendap di kepalanya. Di matanya, Pandu hanyalah sahabat yang sudah bersamanya sejak kecil. Sikap Pandu yang tiba-tiba datang memasang raut marah, bicara dengan nada tinggi, lalu pergi begitu saja terasa sangat asing dan tidak masuk akal baginya.'Ada apa sebenarnya dengan anak itu? Kenapa dia tiba-tiba marah-marah tak jelas begitu?' batin Kembang, heran dan sedikit jengkel dengan tingkah berubah-ubah kawan dekatnya itu.Tepat pukul sebelas siang, ketika matahari merambat lurus di atas kepala dan pasar mulai berangsur sepi, kereta kuda sederhana milik Damar sudah berhenti di pinggir jalan utama pasar. Damar turun lebih dulu, lalu melangkah menghampiri lapak Srini yang sudah bersih."Sudah siap, Nona Srini?""Sudah, Kang Damar. Mari."Kembang berjalan mengikuti di belakang Srini, memikul tenggok kosong yang tak terlalu berat. Saat ia melintas di samping Damar untuk naik ke atas kereta, langkahnya mendadak tertahan. Dam

  • Pengorbanan Hati sang Ibu Angkat   19. Tingkah aneh Pandu

    Di dalam bilik yang remang. Suara aktifitas ringan kamar sebelah, di kamar Srini terdengar cukup jelas oleh Kembang. Namun, Kembang tetap bergeming, berbaring telentang menatap langit-langit bambu dengan kedua mata yang terbuka lebar.Pikirannya melayang jauh, mengingat sosok Mung yang Kembang yakini, pernah bertemu sebelumnya. Hingga ingatannya berhasil menerobos lorong waktu ke tujuh tahun silam, ke masa-masa paling gelap dalam hidupnya sebelum Kembang bertemu Srini. Masa ketika ia belum bernama Kembang, masih menjadi anak budak yang kurus kering, kotor, dan kelaparan di balik pasar distrik tua."Mung... wajah Mung yang tidak asing itu...."Kembang memiringkan badannya, memegang dadanya yang mendadak berdegup kencang. Bayangan masa lalu itu terangkai makin jelas.Tujuh tahun yang lalu, di sebuah gang sempit berdinding bata kusam, seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun duduk gemetar menahan lapar. Lalu, dua pasang kaki bersepatu kulit bersih berhenti tepat di hadapannya.Kala

  • Pengorbanan Hati sang Ibu Angkat   18. Ilusi mengganggu

    Langkah kaki Pandu terasa agak berat saat menyusuri jalan setapak menuju tanah lapang di balik kebun bambu. Di tangannya, ia membawa bola kulit jerami yang baru saja ia perbaiki tali pengikatnya. Pikirannya melayang menebak siapa orang yang mengantar surat pada Srini, dan yang penting. Kenapa dia merasa tidak suka saat Kembang mengaku pernah melihatnya. "Dia hanya bilang pernah melihatnya, kenapa aku terlalu memikirkan?" Setelah Kembang menceritakan ada orang yang tidak asing baginya, mengantar surat perkenalan dari tuannya kepada Srini. Alih-alih penasaran siapa tuan dari Si Mung itu, Pandu justru penasaran pada siapa si Mung itu sendiri. Dia melambung-lambungkan secara rendah bola di tangannya sambil jalan. Di otaknya menciptakan beberapa wujud dan tampang dari Mung. Anehnya, di otak remaja itu ilusi tampang Mung justru semuanya sangat memesona. Pandu tidak tahu, kalo dibandingkan dengan dirinya, Pandu lumayan lebih unggul. Semua itu menganggu pikirannya. Pandu melambungkan b

  • Pengorbanan Hati sang Ibu Angkat   17. Secarik Surat Perkenalan

    Di pasar, saat Kembang dan Srini tengah berjualan. Datang satu pria pendek, tampangnya sangat ramah, cara berjalannya saja semangat sekali ketika mendekati lapak jualan Srini dan Kembang. "Aku ingin beli 1kg lobak putihnya," kata Pria itu pada Srini, tanpa menanyakan berapa harga kiloannya. "Baik, tunggu sebentar, Pak," kata Srini, mengambil plastik dan memasukan beberapa lobak untuk ditimbang. "Jangan panggil aku 'Pak', Nona. Panggil saja aku Mung," ujarnya. Srini tersenyum ramah, mengangguk. "Baiklah, tunggu sebentar, Mung." Di sela apa yang yang tengah dilakukan oleh ibunya, yang melayani pria bernama Mung itu. Kembang diam-diam memperhatikan orang tersebut, dia seperti mengingatnya dan pernah melihatnya di suatu tempat. Namun, tak ingat jelas di mana. 'Aku sepertinya pernah melihat wajah itu, tetapi di mana?' batin Kembang. Mung berusia sekitar 45 tahun, tingginya sekitar 153cm, dia lebih pendek dari Pandu, dan jelas sekali lebih pendek dari Kembang. Sebab, Kemban

  • Pengorbanan Hati sang Ibu Angkat   16. Antar Pulang

    Kembang berjalan, menyusuri jalan setapak, yang di kanan kirinya adalah pohon singkong. Gelap, tetapi gadis itu tak merasa takut. Justru, dia berjalan sembari memegangi pergelangan tangan dan menempelkannya di dada. Tepat di mana Pandu menggenggam tangannya tadi. Kembang tak mengerti, ada apa dengan dirinya sendiri. Dia menunduk, terus mengingat adegan saat Pandu memegangi tangannya, dan memberinya tatapan mata yang dia sendiri susah untuk menjelaskan. Gadis itu seolah melihat sisi lain dari sahabatnya sendiri, entah apa. Langkah Kembang terhenti, saat ia merasa ada yang mengikuti di belakang. Dia berbalik, tak menemukan siapapun, dan tak melihat apapun, hitam karena gelap. Di ujung sana lampu depan rumahnya menyala, dan hanya itulah yang menjadi pacuan Kembang untuk terus berjalan lurus. Bulu kuduknya mulai meremang, ketika kakinya merasakan ada orang lain lagi yang menginjak tanah yang sama. Tidak jauh di belakangnya, dia berdiam merasakan detakan takut juga pundaknya

  • Pengorbanan Hati sang Ibu Angkat   9. Boleh Ikut?

    "Kenapa kau ingin membangun rumah kecil dan itu dari kayu?" tanya Bu Latih. "Aku ingin hidup sederhana mulai sekarang, aku ingin suatu hari menjadi seperti bu Latih yang berhasil karena kegigihan sendiri, memanfaatkan peluang dan juga tidak lupa balas budi," jawabnya. Bu latih tersenyum mendengar

  • Pengorbanan Hati sang Ibu Angkat   8. Sahabat Ibunya

    Seorang wanita masuk ke dalam rumah, Bu Ami. Ia membawa rantang putih dan memanggil-manggil nama Bu Ami. "Ami ...!"Srini yang mendengarnya bergegas ke keluar untuk menemui orang tersebut. Begitu ia keluar, wanita itu tanpak bingung. "Kau siapa?" tanya wanita yang lebih tua dari Bu Ami. Usinya 44

  • Pengorbanan Hati sang Ibu Angkat   7. Ke mana Bu Ami

    Kembang berjalan di belakang Pandu yang terus memakan rambutan, meninggalkan banyak kulit rambutan di sepanjang jalan yang sudah mereka lewati. Baju Pandu yang besar, mampu menjadi kantong untuk wadah rambutan yang banyak. Anak itu membawanya dengan cara memeluknya di depan perut. Di belakang, K

  • Pengorbanan Hati sang Ibu Angkat   6. Petik rambutan

    Obrolan terus berlanjut sampai beberapa menit, sampai Pandu kembali. "Ayo Kembang, main denganku sebentar saja," katanya lagi. Kembang kembali gelisah. Namun, kesempatan kali ini tidak berpihak padanya. "Mainlah Kembang, akrabkan dirimu dengan teman barumu, sepertinya mulai detik ini, kita akan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status