LOGIN"Kenapa kau ingin membangun rumah kecil dan itu dari kayu?" tanya Bu Latih.
"Aku ingin hidup sederhana mulai sekarang, aku ingin suatu hari menjadi seperti bu Latih yang berhasil karena kegigihan sendiri, memanfaatkan peluang dan juga tidak lupa balas budi," jawabnya.
Bu latih tersenyum mendengarnya.
"Kau bukan hanya cantik, Srini. Tetapi, sangat menarik."
Srini tersenyum.
Bu Latih memiliki 2 anak, yang pertama laki-laki, bernama Tirta usianya 15 tahun. Dan yang kedua perempuan, bernama Hera usinya 8 tahun. "Ibumu punya anak berapa?" tanya bu Latih.
"Hanya aku saja," jawab Srini.
"Sudah lebih dari 15 tahun aku belum sempat ke Distrik Kates lagi, terakhir aku ke sana, saat bersama Hera itupun berkunjung sebentar, sampai saat ini, jujur aku sangat merindukannya."
"Mainlah ke sana, Ibu pasti akan senang sekali melihat sahabatnya lagi," ucap Srini.
"Aku pasti akan sangat bahagia bisa bertemu dengannya, jika nanti ada waktu apa kau mau menemaniku bertemu Ibumu, Srini"
Srini terdiam, bukan ia tak mau menemani, hanya saja ayahnya. Ia takut ayahnya akan marah lagi.
Meski begitu, Srini yang sejak awal tidak menceritakan alasannya ke sini karena lari dari perjodohan dan pertengkaran ayahnya, mengiyakan kata-kata bu Latih.
"Tentu saja," jawab Srini.
"Oh, ya Srini. Di mana suamimu? Kenapa yang ke sini hanya kau dan Kembang?" Bu Latih yang mengira, Kembang adalah anak kandung Srini pun mempertanyakan di mana suaminya.
Srini terdiam, kemudian menjawab.
"Aku belum menikah, Kembang adalah anak angkatku," jawabnya. Seusai jawaban itu, Srini berharap kalau bu Latih tidak akan mempertanyakan di mana Srini menemukan Kembang. Dia tidak mau memberi tahu orang lain, kalau Kembang dulunya adalah budak yang dijual belikan.
Tanpa di duga, bu Latih tersenyum.
"Kau orang yang sangat baik," kata bu Latih.
Kembang pergi memancing dengan Pandu, dia duduk di sisi sungai bersama anak gempal itu. Memegangi kayu kecil dan panjang, menunggu umpan mereka di makan oleh ikan.
Karena mereka tidak punya joran, Pandu pun membuat dengan cara yang sangat sederhana. Yaitu, menggunakan kayu.
Sebetulnya, Kembang tidak berniat ikut memancing. Hanya saja, karena dia bosan di rumah bu Latih sendiri, dia memutuskan tidak ikut pada Srini yang akan melihat para pekerja membangun rumah baru mereka bersama bu Latih.
Tirta dan Hera, sudah pergi main sendiri-sendiri.
Sebelumnya, pak Bejo melihat Kembang duduk di depan rumah sendirian. Ia pun menghampiri gadis cilik itu dan bertanya. "Kembang, kenapa kau masih di sini? Kenapa tidak ikut Ibumu?"
Gadis itu menoleh. "Ah, aku hanya sedang tidak ingin ikut saja, Pak."
Lalu, tiba-tiba anak gempal lewat jalan setapak yang tidak jauh dari rumah bu Latih.
Anak itu membawa ember, dan membawa kayu kecil yang cukup panjang, sambil memakan paha ayam goreng.
"Pandu?" gumamnya.
"Kalau kau bosan di rumah, ikut main saja dengan Pandu. Sepertinya dia akan memancing," kata pak Bejo.
Kembang pun tertarik, daripada dia diam di rumah tetapi enggan menyusul ibunya juga. Lebih baik, dia ikut Pandu saja.
"Ah, benar ... kalau begitu, aku pergi dulu, ya," ucapnya, bangun menengadah melihat pak Bejo.
Lelaki itu memegangi tangan di belakang tubuh, tersenyum. "Pergilah, jika Ibumu nanti pulang akan aku katakan kau pergi main dengan Pandu."
"Terimakasih, Pak!" Kembang tersenyum lebar, dan segera mencicing kain jarik yang melebihi lututnya, dan berlari mengejar Pandu.
"Pandu!" Bocah itu berbalik, dan menoleh.
"Mau ke mana?" tanya Kembang.
Pandu membuang tulang ayamnya ke sembarang arah, lalu menjawab."Mau mancing di sungai."
"Boleh aku ikut?"
"Kau tidak sakit 'kan?"
Kembang bingung. "Memangnya kenapa?"
"Tidak ada. Hanya saja, sudah 2 minggu kita tidak bertemu setelah kau pindah ke rumah Bibi Ati, dan setiap aku menemuimu untuk mengajak main, kau selalu tidak mau menemuiku ...."
Kembang terdiam, ia tergagap ingin berkata dan menyangkalnya, tetapi tidak ada kata yang pas untuk menjadi alasan.
"A-aku bukan tidak mau menemuimu ... akhir-akhir ini, aku juga sibuk membantu Bu Os di dapur menyiapkan makan," Alasannya.
Pandu diam saja. Dia tau Kembang berbohong, tetapi dia tidak mempermasalahkannya.
"Ja-jadi, bagaimana ... aku boleh ikut?"
"Ayolah," jawab Pandu, dia berbalik dan berjalan duluan.
Kembang diam-diam bersorak senang, mengatakan 'Yes!' tanpa suara lalu mengikuti Pandu.
*
Saat sedang memancing, kail Kembang dimangsa lebih dulu oleh ikan.
"Eh, kenapa punyaku goyang-goyang dan rasanya berat?" tanya Kembang, Pandu melirik.
"Punyamu dapat itu!" Pandu segera berdiri dan mengambil alih kayu milik Kembang, menariknya, tampak ikan nila tergelepak di atas rumput karena mulutnya lepas dari kail.
Secepatnya, Pandu mengambil ikan itu dan memasukannya ke dalam ember yang sudah diisi air seperempat oleh Pandu.
"Waaaah ...." Kembang terkesan, ikan yang memakan kailnya sebesar dua telapak tangannya ketika dijejerkan.
"Kau hebat," puji Pandu.
Kembang tersenyum, dan tak lama kemudian kail milik Pandu juga mendapat ikan.
7 tahun berlalu, secepat membalik halaman buku, dua bocah itu tumbuh dewasa.
usia Kembang 17 tahun, dan Pandu 16 tahun. Pandu tidak lagi gempal seperti dulu, tubuhnya menjadi langsing. Sekarang dia menjadi salah satu jajaran anak laki-laki tampan di Distrik Waringin.
Kembang menjadi gadis yang sangat cantik, rambutnya panjang lurus seperti dulu, kulitnya jauh lebih bersih dari saat dia kecil.
"Kembaaaaaang! Lariiii!" Teriak Pandu.
Kembang berlari di belakang Pandu, dan Pandu tertawa terbahak-bahak di tidak jauh dari Kembang. Mereka berdua dikejar 3 angsa.
"Pandu! Tunggu!" teriak Kembang.
"Cepaaat!"
Pandu berhenti di bawah pohon, menunggu Kembang. Lalu setelah Kembang sampai, dia membantunya naik ke pohon jambu, setelahnya dia pun ikut naik.
Di atas pohon jambu, mereka berdua tertawa renyah sambil ngos-ngosan. Menertawakan angsa yang tidak bisa naik, dan beberapa menit angsa-angsa itu pergi.
Pandu melompat turun, lalu Kembang dia turun perlahan.
"E-E-Eh! Pandu!" Kaki Kembang merosot dari dahan pohon.
Bruk!
Reflek, Pandu menangkapnya.
Di atas sanggaan tangan pandu, Kembang melebarkan matanya, kedua tangan Kembang merangkul leher Pandu.
Sepasang mata saling bertatapan, lalu berhembus angin sempoi-sempoi yang menerbangkan rambut-rambut tipis milik Kembang.
"Ekhem!"
Kembang dan Pandu tersadar, segera Pandu menurunkan Kembang saat ada bocah berumur 12 tahun yang memergoki mereka saling diam menatap tanpa kata.
"Habis lari-larian dikejar soang, langsung mesra-mesraan, ya?" ucap bocah itu, menggoda. Mahesa, cucu almarhum pak De'eng yang rambutannya sering dipetik tanpa izin oleh Pandu, pun sudah tumbuh besar.
"Mana ada!" Bantah Kembang, sedangkan Pandu terdiam karena merasakan detakan aneh yang begitu awet di dalam dada.
Sesampainya di rumah kayu, Srini segera turun, dia sangat menyambut Damar dan Mung dengan raut gembira. Kembang hanya diam memerhatikan tingkah ibunya begitu antusias menyambut seseorang.'Ini baru pertama kalinya aku melihat Ibu seperti ini.'Srini mempersilakan Damar dan Mung untuk masuk. Menyuguhkan teh hangat dan singkong rebus tadi pagi, yang mendadak di panaskan.Melihat Srini sangat memerlakukan dia begitu baik, Damar merasa tidak enak. Karena takut merepotkan. "Nona, tidak usah repot-repot. Kau baru pulang berjualan, istirahatlah sebentar."Srini meletakan piring berisi kue lapis, di hadapan Damar dan Mung. "Aku jarang kedatangan tamu seperti ini. Aku hanya ingin memperlakukan tamuku dengan baik, sampai dia merasa sangat diterima."Obrolan di antara Srini dan Damar berlangsung hangat dan sangat sopan. Damar membicarakan rencana pasokan sayur dengan tutur kata yang santun, membuat Srini makin mengagumi keanggunan pria itu.Kembang yang merasa kurang nyaman di rumah, iq memilih
Kembang hanya bisa mengatupkan bibir, membiarkan rasa bingung itu mengendap di kepalanya. Di matanya, Pandu hanyalah sahabat yang sudah bersamanya sejak kecil. Sikap Pandu yang tiba-tiba datang memasang raut marah, bicara dengan nada tinggi, lalu pergi begitu saja terasa sangat asing dan tidak masuk akal baginya.'Ada apa sebenarnya dengan anak itu? Kenapa dia tiba-tiba marah-marah tak jelas begitu?' batin Kembang, heran dan sedikit jengkel dengan tingkah berubah-ubah kawan dekatnya itu.Tepat pukul sebelas siang, ketika matahari merambat lurus di atas kepala dan pasar mulai berangsur sepi, kereta kuda sederhana milik Damar sudah berhenti di pinggir jalan utama pasar. Damar turun lebih dulu, lalu melangkah menghampiri lapak Srini yang sudah bersih."Sudah siap, Nona Srini?""Sudah, Kang Damar. Mari."Kembang berjalan mengikuti di belakang Srini, memikul tenggok kosong yang tak terlalu berat. Saat ia melintas di samping Damar untuk naik ke atas kereta, langkahnya mendadak tertahan. Dam
Di dalam bilik yang remang. Suara aktifitas ringan kamar sebelah, di kamar Srini terdengar cukup jelas oleh Kembang. Namun, Kembang tetap bergeming, berbaring telentang menatap langit-langit bambu dengan kedua mata yang terbuka lebar.Pikirannya melayang jauh, mengingat sosok Mung yang Kembang yakini, pernah bertemu sebelumnya. Hingga ingatannya berhasil menerobos lorong waktu ke tujuh tahun silam, ke masa-masa paling gelap dalam hidupnya sebelum Kembang bertemu Srini. Masa ketika ia belum bernama Kembang, masih menjadi anak budak yang kurus kering, kotor, dan kelaparan di balik pasar distrik tua."Mung... wajah Mung yang tidak asing itu...."Kembang memiringkan badannya, memegang dadanya yang mendadak berdegup kencang. Bayangan masa lalu itu terangkai makin jelas.Tujuh tahun yang lalu, di sebuah gang sempit berdinding bata kusam, seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun duduk gemetar menahan lapar. Lalu, dua pasang kaki bersepatu kulit bersih berhenti tepat di hadapannya.Kala
Langkah kaki Pandu terasa agak berat saat menyusuri jalan setapak menuju tanah lapang di balik kebun bambu. Di tangannya, ia membawa bola kulit jerami yang baru saja ia perbaiki tali pengikatnya. Pikirannya melayang menebak siapa orang yang mengantar surat pada Srini, dan yang penting. Kenapa dia merasa tidak suka saat Kembang mengaku pernah melihatnya."Dia hanya bilang pernah melihatnya, kenapa aku terlalu memikirkan?"Setelah Kembang menceritakan ada orang yang tidak asing baginya, mengantar surat perkenalan dari tuannya kepada Srini. Alih-alih penasaran siapa tuan dari Si Mung itu, Pandu justru penasaran pada siapa si Mung itu sendiri.Dia melambung-lambungkan secara rendah bola di tangannya sambil jalan. Di otaknya menciptakan beberapa wujud dan tampang dari Mung. Anehnya, di otak remaja itu ilusi tampang Mung justru semuanya sangat memesona. Pandu tidak tahu, kalo dibandingkan dengan dirinya, Pandu lumayan lebih unggul.Semua itu menganggu pikirannya. Pandu melambungkan bola di
Di pasar, saat Kembang dan Srini tengah berjualan. Datang satu pria pendek, tampangnya sangat ramah, cara berjalannya saja semangat sekali ketika mendekati lapak jualan Srini dan Kembang. "Aku ingin beli 1kg lobak putihnya," kata Pria itu pada Srini, tanpa menanyakan berapa harga kiloannya. "Baik, tunggu sebentar, Pak," kata Srini, mengambil plastik dan memasukan beberapa lobak untuk ditimbang. "Jangan panggil aku 'Pak', Nona. Panggil saja aku Mung," ujarnya. Srini tersenyum ramah, mengangguk. "Baiklah, tunggu sebentar, Mung." Di sela apa yang yang tengah dilakukan oleh ibunya, yang melayani pria bernama Mung itu. Kembang diam-diam memperhatikan orang tersebut, dia seperti mengingatnya dan pernah melihatnya di suatu tempat. Namun, tak ingat jelas di mana. 'Aku sepertinya pernah melihat wajah itu, tetapi di mana?' batin Kembang. Mung berusia sekitar 45 tahun, tingginya sekitar 153cm, dia lebih pendek dari Pandu, dan jelas sekali lebih pendek dari Kembang. Sebab, Kemban
Kembang berjalan, menyusuri jalan setapak, yang di kanan kirinya adalah pohon singkong. Gelap, tetapi gadis itu tak merasa takut. Justru, dia berjalan sembari memegangi pergelangan tangan dan menempelkannya di dada. Tepat di mana Pandu menggenggam tangannya tadi. Kembang tak mengerti, ada apa dengan dirinya sendiri. Dia menunduk, terus mengingat adegan saat Pandu memegangi tangannya, dan memberinya tatapan mata yang dia sendiri susah untuk menjelaskan. Gadis itu seolah melihat sisi lain dari sahabatnya sendiri, entah apa. Langkah Kembang terhenti, saat ia merasa ada yang mengikuti di belakang. Dia berbalik, tak menemukan siapapun, dan tak melihat apapun, hitam karena gelap. Di ujung sana lampu depan rumahnya menyala, dan hanya itulah yang menjadi pacuan Kembang untuk terus berjalan lurus. Bulu kuduknya mulai meremang, ketika kakinya merasakan ada orang lain lagi yang menginjak tanah yang sama. Tidak jauh di belakangnya, dia berdiam merasakan detakan takut juga pundaknya
Mereka selesai makan, Srini sudah membayar makannya dan keluar bersama Bu Ami juga Pandu. "Ibu sendiri habis dari mana bawa pakaian banyak seperti itu?" tanya Srini melihat kantung besar bewarna merah, yang dibuntal seperti menggendong bayi. Secuil kain terlihat menyembul keluar dari mulut kantun
Seorang wanita masuk ke dalam rumah, Bu Ami. Ia membawa rantang putih dan memanggil-manggil nama Bu Ami. "Ami ...!"Srini yang mendengarnya bergegas ke keluar untuk menemui orang tersebut. Begitu ia keluar, wanita itu tanpak bingung. "Kau siapa?" tanya wanita yang lebih tua dari Bu Ami. Usinya 44
Kembang berjalan di belakang Pandu yang terus memakan rambutan, meninggalkan banyak kulit rambutan di sepanjang jalan yang sudah mereka lewati. Baju Pandu yang besar, mampu menjadi kantong untuk wadah rambutan yang banyak. Anak itu membawanya dengan cara memeluknya di depan perut. Di belakang, K
Obrolan terus berlanjut sampai beberapa menit, sampai Pandu kembali. "Ayo Kembang, main denganku sebentar saja," katanya lagi. Kembang kembali gelisah. Namun, kesempatan kali ini tidak berpihak padanya. "Mainlah Kembang, akrabkan dirimu dengan teman barumu, sepertinya mulai detik ini, kita akan







