ログインSeorang wanita masuk ke dalam rumah, Bu Ami. Ia membawa rantang putih dan memanggil-manggil nama Bu Ami.
"Ami ...!"
Srini yang mendengarnya bergegas ke keluar untuk menemui orang tersebut. Begitu ia keluar, wanita itu tanpak bingung.
"Kau siapa?" tanya wanita yang lebih tua dari Bu Ami. Usinya 44 tahun.
Srini tersenyum. "Maaf, aku Srini, sore kemarin bertemu Bu Ami di rumah makan." Srini pun akhirnya menceritakan awal mula ia bisa ada di rumah bu Ami.
Wanita itu tampak ramah, dia mendengarkan Srini dan mengangguk. "Oh, jadi kau dari Distrik Kates? itu adalah tempat kelahiran kami," kata wanita itu.
"Iya, tadi aku terbangun karena mencium bau bawang. Saat aku ke dapur, Bu Ami tidak ada, yang ada hanyalah kuali yang mengepul di atas tungku dan bawang goreng yang sudah gosong."
Mendengar itu, wanita tersebut terkejut. "Ami ini dasar ceroboh ...."
"Mbak Ati?" Bu Ami kembali, sembari membawa piring plastik yang penuh dengan cabai.
"Ami, kau dari mana saja. Meninggalkan bawang di kuali sampai gosong!" kata Wanita itu.
Bu Ami langsung menepuk jidatnya. Dia juga kaget, lantaran lupa sudah menyimpan kuali di atas tungku dengan api yang menyala-nyala.
"Astaga! Aku lupa! Akan aku pindahkan dulu."
"Sudah aku angkat, Bu," kata Srini, membuat Bu Ami yang sudah berjalan dua langkah langsung berhenti.
"Sudah?"
Srini mengangguk.
"Aaaah ... terimakasih Srini," kata bu Ami, mengusap dada dengan satu tangan mengusap lengan Srini.
"Untung saja tamumu ini bangun, kalau tidak bagaimana?!" tegur wanita itu.
"Iya, Mbak ... iya, aku minta maaf."
Bu Ami melihat Srini dan tersenyum.
"Srini, ini Mbak Ati, Kakak Iparku, alias Kakak ayahnya Pandu."
Srini tersenyum dan mengangguk.
"Ini ada kolak singkong dan pisang, aku membuatnya semalam." Wanita itu memberikan rantang yang sedari tadi ia pegang pada bu Ami.
"Suro, mana?"
"Kang Suro belum pulang, Mbak."
"Tumben rame-rame, ada apa ini?"
Semua orang menoleh ke arah suara, dan terlihat laki-laki berusia 40 tahunan berjalan masuk. Pak Suro suami bu Ami pulang.
"Wah ada tamu," kata pak Suro setelah melihat Srini.
*
*
Bu Ami menceritakan semuanya, awal mula ia bertemu Srini dan Kembang di rumah makan, sampai berakhir bu Ami yang menawari menginap.
"Jadi begitu, Kang. Aku pikir, Kakang tau siapa teman ibu Srini di distrik ini, Kakang kan asli orang sini," kata bu Ami, mereka semua duduk di kursi kayu.
"Siapa nama teman ibumu?" tanya pak Suro pada Srini.
"Kata ibu saya, Latih, Pak."
Semua orang tampak berpikir dan mengingat-ingat. "Siapa Latih di distrik ini, ya?" Pak Suro mengusap janggutnya yang berkumis.
"Memangnya, nama Ibumu siapa?" Kini kakak ipar bu Ami yang bertanya.
"Satem, Bu."
Mendengar jawaban Srini tentang nama ibunya, raut wajah wanita itu berubah.
"Satem?!"
Bu Ami dan pak Suro menoleh ke arah wanita itu secara bersamaan, karena suara wanita itu meninggi.
"Iya," jawab Srini.
"Apakah nama Ayahmu, Bahar?!"
Srini tampak terkejut, dia mengangguk pelan.
Greb!
Srini terkejut, termasuk bu Ami dan suaminya ketika tiba-tiba kakak iparnya itu langsung memeluk Srini.
Kemudian, terdengarnya suara isakan tangis darinya.
"Mba Ati," ucap bu Ami bingung. Ia dan suaminya saling ada pandang, karena tidak tahu apa yang terjadi.
"Ya Gusti! Kau sudah besar, Srini! Bagaimana kabar Ibumu?" tanyanya, memegang kedua lengan Srini, menatapnya sambil menangis.
"Mba Ati, ada apa? Mba kenal sama teman Ibunya Srini?" tanya bu Ami.
"Latih, Ati ... ooooohhh ...!" Pak Suro berseru, "Mba Ati itu Latih, nama Mba Ati kan Latih, cuma dipanggil Ati saja," lanjutnya.
Bu Ami terkejut, ia juga lupa, memang benar nama asli kakak iparnya itu adalah Latih.
Srini tercengang, ia menatap wanita yang menangis di hadapannya dan kemudian hatinya menjadi lega. Dia sudah menemukan orang yang dicarinya. Terungkaplah, kalau Ati adalah Latih. Sahabat ibunya Srini.
*
*
Srini membeli tanah milik bu Latih dan suaminya, pak Bejo. Dengan harga yang sangat murah. Bu Latih sengaja menjual murah pada Srini, karena sebagai balas budi pada sahabatnya, Satem. Bukan hanya itu, bu Latih bahkan membantu membelikan semua keperluan Srini dan Kembang untuk tinggal di sana.
"Ibumu adalah sahabat yang sangat baik, dia sangat berjasa dengan keberhasilanku, meminjamkan aku uang untuk membeli tanah, meminjamkan aku uang untuk membeli bibit tanaman dan sawah. Hutang yang kumiliki pada Ibumu sangat besar, aku sudah berusaha membayarnya dan ketika tersisa sedikit, Ibumu berkata agar aku tidak usah membayarnya lagi. Dia hanya meminta aku berjanji, untuk menjadi sahabatnya yang baik, dan berjanji akan menolongnya saat ia butuh pertolongan. Dan aku mengiyakannya, karena kupikir itulah caraku membalas kebaikannya."
Srini tersenyum, mengangguk.
"Ibu sangat beruntung memiliki sahabat baik seperti Bu Latih, karena mau menolongku menyiapkan segalanya untuk tinggal di sini."
"Akulah yang beruntung, Srini. Tanpa bantuan Ibumu, aku tidak akan seperti ini."
Srini dan Bu Latih duduk sambil meminum teh di rumah bu Latih, menunggu pembangunan rumah Srini selesai.
Selama semuanya disiapkan, Srini dan Kembang tinggal di rumah bu Latih.
Bu Latih dan suaminya adalah salah satu orang kaya di Distrik itu, memiliki sawah banyak, lahan tanah luas dan memiliki perkebunan pohon pepaya satu-satunya yang sengaja di tanam di sana. Alasannya, karena agar ia bisa terus mengingat tempat lahirnya juga pada sahabatnya, Satem.
Berbeda dengan adiknya, pak Suro. Dia hidup sederhana, bersama bu Ami dan Pandu. Meski begitu, pak Suro adalah laki-laki yang pekerja keras, rajin dan lembut.
Saat itu, Srini diceritakan banyak hal, termasuk, kalau semua hasil dan kekayaan bu Latih adalah hasil murni kerja kerasnya bersama suaminya, karena aslinya ia juga berasal dari keluarga yang kurang berkecukupan. Berbeda dengan ibu Srini yang memang dari kecil, sudah terlahir dari keluarga kaya.
"Bahkan, saat Ibumu menikah, dan kau lahir. Aku dan suamiku masih belum memutuskan untuk punya anak, aku yang tidak ingin anak-anakku merasakan apa yang aku rasakan saat kecil, dan beruntungnya saat itu. Suamiku mengerti."
Srini diam sembari mendengarkan semua cerita bu Latih, dan dia mengagumi wanita itu, kisah bu Latih sangat menginspirasinya.
"
Sesampainya di rumah kayu, Srini segera turun, dia sangat menyambut Damar dan Mung dengan raut gembira. Kembang hanya diam memerhatikan tingkah ibunya begitu antusias menyambut seseorang.'Ini baru pertama kalinya aku melihat Ibu seperti ini.'Srini mempersilakan Damar dan Mung untuk masuk. Menyuguhkan teh hangat dan singkong rebus tadi pagi, yang mendadak di panaskan.Melihat Srini sangat memerlakukan dia begitu baik, Damar merasa tidak enak. Karena takut merepotkan. "Nona, tidak usah repot-repot. Kau baru pulang berjualan, istirahatlah sebentar."Srini meletakan piring berisi kue lapis, di hadapan Damar dan Mung. "Aku jarang kedatangan tamu seperti ini. Aku hanya ingin memperlakukan tamuku dengan baik, sampai dia merasa sangat diterima."Obrolan di antara Srini dan Damar berlangsung hangat dan sangat sopan. Damar membicarakan rencana pasokan sayur dengan tutur kata yang santun, membuat Srini makin mengagumi keanggunan pria itu.Kembang yang merasa kurang nyaman di rumah, iq memilih
Kembang hanya bisa mengatupkan bibir, membiarkan rasa bingung itu mengendap di kepalanya. Di matanya, Pandu hanyalah sahabat yang sudah bersamanya sejak kecil. Sikap Pandu yang tiba-tiba datang memasang raut marah, bicara dengan nada tinggi, lalu pergi begitu saja terasa sangat asing dan tidak masuk akal baginya.'Ada apa sebenarnya dengan anak itu? Kenapa dia tiba-tiba marah-marah tak jelas begitu?' batin Kembang, heran dan sedikit jengkel dengan tingkah berubah-ubah kawan dekatnya itu.Tepat pukul sebelas siang, ketika matahari merambat lurus di atas kepala dan pasar mulai berangsur sepi, kereta kuda sederhana milik Damar sudah berhenti di pinggir jalan utama pasar. Damar turun lebih dulu, lalu melangkah menghampiri lapak Srini yang sudah bersih."Sudah siap, Nona Srini?""Sudah, Kang Damar. Mari."Kembang berjalan mengikuti di belakang Srini, memikul tenggok kosong yang tak terlalu berat. Saat ia melintas di samping Damar untuk naik ke atas kereta, langkahnya mendadak tertahan. Dam
Di dalam bilik yang remang. Suara aktifitas ringan kamar sebelah, di kamar Srini terdengar cukup jelas oleh Kembang. Namun, Kembang tetap bergeming, berbaring telentang menatap langit-langit bambu dengan kedua mata yang terbuka lebar.Pikirannya melayang jauh, mengingat sosok Mung yang Kembang yakini, pernah bertemu sebelumnya. Hingga ingatannya berhasil menerobos lorong waktu ke tujuh tahun silam, ke masa-masa paling gelap dalam hidupnya sebelum Kembang bertemu Srini. Masa ketika ia belum bernama Kembang, masih menjadi anak budak yang kurus kering, kotor, dan kelaparan di balik pasar distrik tua."Mung... wajah Mung yang tidak asing itu...."Kembang memiringkan badannya, memegang dadanya yang mendadak berdegup kencang. Bayangan masa lalu itu terangkai makin jelas.Tujuh tahun yang lalu, di sebuah gang sempit berdinding bata kusam, seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun duduk gemetar menahan lapar. Lalu, dua pasang kaki bersepatu kulit bersih berhenti tepat di hadapannya.Kala
Langkah kaki Pandu terasa agak berat saat menyusuri jalan setapak menuju tanah lapang di balik kebun bambu. Di tangannya, ia membawa bola kulit jerami yang baru saja ia perbaiki tali pengikatnya. Pikirannya melayang menebak siapa orang yang mengantar surat pada Srini, dan yang penting. Kenapa dia merasa tidak suka saat Kembang mengaku pernah melihatnya."Dia hanya bilang pernah melihatnya, kenapa aku terlalu memikirkan?"Setelah Kembang menceritakan ada orang yang tidak asing baginya, mengantar surat perkenalan dari tuannya kepada Srini. Alih-alih penasaran siapa tuan dari Si Mung itu, Pandu justru penasaran pada siapa si Mung itu sendiri.Dia melambung-lambungkan secara rendah bola di tangannya sambil jalan. Di otaknya menciptakan beberapa wujud dan tampang dari Mung. Anehnya, di otak remaja itu ilusi tampang Mung justru semuanya sangat memesona. Pandu tidak tahu, kalo dibandingkan dengan dirinya, Pandu lumayan lebih unggul.Semua itu menganggu pikirannya. Pandu melambungkan bola di
Di pasar, saat Kembang dan Srini tengah berjualan. Datang satu pria pendek, tampangnya sangat ramah, cara berjalannya saja semangat sekali ketika mendekati lapak jualan Srini dan Kembang. "Aku ingin beli 1kg lobak putihnya," kata Pria itu pada Srini, tanpa menanyakan berapa harga kiloannya. "Baik, tunggu sebentar, Pak," kata Srini, mengambil plastik dan memasukan beberapa lobak untuk ditimbang. "Jangan panggil aku 'Pak', Nona. Panggil saja aku Mung," ujarnya. Srini tersenyum ramah, mengangguk. "Baiklah, tunggu sebentar, Mung." Di sela apa yang yang tengah dilakukan oleh ibunya, yang melayani pria bernama Mung itu. Kembang diam-diam memperhatikan orang tersebut, dia seperti mengingatnya dan pernah melihatnya di suatu tempat. Namun, tak ingat jelas di mana. 'Aku sepertinya pernah melihat wajah itu, tetapi di mana?' batin Kembang. Mung berusia sekitar 45 tahun, tingginya sekitar 153cm, dia lebih pendek dari Pandu, dan jelas sekali lebih pendek dari Kembang. Sebab, Kemban
Kembang berjalan, menyusuri jalan setapak, yang di kanan kirinya adalah pohon singkong. Gelap, tetapi gadis itu tak merasa takut. Justru, dia berjalan sembari memegangi pergelangan tangan dan menempelkannya di dada. Tepat di mana Pandu menggenggam tangannya tadi. Kembang tak mengerti, ada apa dengan dirinya sendiri. Dia menunduk, terus mengingat adegan saat Pandu memegangi tangannya, dan memberinya tatapan mata yang dia sendiri susah untuk menjelaskan. Gadis itu seolah melihat sisi lain dari sahabatnya sendiri, entah apa. Langkah Kembang terhenti, saat ia merasa ada yang mengikuti di belakang. Dia berbalik, tak menemukan siapapun, dan tak melihat apapun, hitam karena gelap. Di ujung sana lampu depan rumahnya menyala, dan hanya itulah yang menjadi pacuan Kembang untuk terus berjalan lurus. Bulu kuduknya mulai meremang, ketika kakinya merasakan ada orang lain lagi yang menginjak tanah yang sama. Tidak jauh di belakangnya, dia berdiam merasakan detakan takut juga pundaknya
"Kenapa kau ingin membangun rumah kecil dan itu dari kayu?" tanya Bu Latih. "Aku ingin hidup sederhana mulai sekarang, aku ingin suatu hari menjadi seperti bu Latih yang berhasil karena kegigihan sendiri, memanfaatkan peluang dan juga tidak lupa balas budi," jawabnya. Bu latih tersenyum mendengar
Kembang berjalan di belakang Pandu yang terus memakan rambutan, meninggalkan banyak kulit rambutan di sepanjang jalan yang sudah mereka lewati. Baju Pandu yang besar, mampu menjadi kantong untuk wadah rambutan yang banyak. Anak itu membawanya dengan cara memeluknya di depan perut. Di belakang, K
Obrolan terus berlanjut sampai beberapa menit, sampai Pandu kembali. "Ayo Kembang, main denganku sebentar saja," katanya lagi. Kembang kembali gelisah. Namun, kesempatan kali ini tidak berpihak padanya. "Mainlah Kembang, akrabkan dirimu dengan teman barumu, sepertinya mulai detik ini, kita akan
Mereka selesai makan, Srini sudah membayar makannya dan keluar bersama Bu Ami juga Pandu. "Ibu sendiri habis dari mana bawa pakaian banyak seperti itu?" tanya Srini melihat kantung besar bewarna merah, yang dibuntal seperti menggendong bayi. Secuil kain terlihat menyembul keluar dari mulut kantun







