Share

Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai
Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai
Author: Koresh

Bab 1

Author: Koresh
"Steffi, aku berencana pulang ke kampung halaman akhir bulan ini. Kelak, aku seharusnya akan menetap di sana. Sisakan posisi untukku di salon kukumu."

Baru saja Noreen selesai berbicara, terdengar suara terkejut sahabatnya, Steffi, dari ujung telepon.

"Apa? Kamu mau pulang? Sekarang, pria malang yang kamu rawat dulu sudah jadi profesor termuda di Universitas Pratama! Kamu biayai dia selama bertahun-tahun dan akhirnya dia akhirnya sukses. Kenapa kamu nggak tinggal di ibu kota untuk menikmati hidup, malah tiba-tiba mau kembali ke kota kecil kita? Apa dia memperlakukanmu dengan buruk?"

"Nggak, dia sangat baik padaku," sela Noreen. Buku-buku jarinya tanpa sadar menggosok tepi ponsel. "Hanya saja aku nggak ingin tinggal di ibu kota lagi."

"Gimana dengan Kaivan? Apa dia akan kembali bersamamu?"

Napas Noreen tercekat sejenak. Matahari terbenam di luar jendela memanjangkan bayangannya yang terlihat kesepian di dinding.

"Nggak, cuma aku." Noreen mendengar suaranya sendiri berkata, "Dia akan tinggal di sini, menikah, punya anak, dan memulai hidup baru."

Setelah menutup telepon, ponsel Noreen bergetar. Itu adalah pesan dari Zayleen.

[ Noreen, kamu sudah memikirkannya matang-matang? ]

Jari Noreen melayang di atas layar untuk waktu yang lama. Pada akhirnya, dia membalas hanya dengan satu kalimat.

[ Sudah, aku akan tinggalkan Kaivan. ]

Kaivan. Hanya menyebutkan nama itu saja sudah membuat hati Noreen terasa sakit. Dia ingat pertama kali melihat Kaivan di upacara pembukaan tahun pertama SMA.

Kaivan berbicara di atas panggung sebagai perwakilan siswa. Dia mengenakan seragam sekolah yang bersih dan berdiri di bawah sinar matahari. Suaranya terdengar jernih dan merdu. Saat itu, dia adalah orang yang diam-diam disukai semua murid perempuan di sekolah. Selain memiliki nilai yang unggul, dia juga tampan. Dia adalah murid kebanggaan sekolah.

Di sisi lain, Noreen hanyalah seorang gadis yang tumbuh di panti asuhan dan memiliki nilai pas-pasan. Dia bahkan tidak berani berbicara dengan Kaivan.

Hingga tahun kedua SMA, semuanya berubah. Status Kaivan sebagai anak haram terungkap, foto-foto tidak senonoh ibunya ditempel di seluruh sekolah dengan sengaja. Dalam semalam, dia jatuh dari puncak kejayaan dan menjadi sasaran cemoohan semua orang. Dia diasingkan, dipermalukan, dan bahkan hampir bunuh diri dengan melompat ke sungai.

Noreen yang menyelamatkan Kaivan.

Malam itu, dengan tubuh basah kuyup, Kaivan bertanya pada Noreen dengan tatapan hampa, "Buat apa kamu selamatkan aku?"

Noreen tidak bisa memberikan alasannya. Dia hanya menggenggam tangan Kaivan erat-erat karena takut Kaivan akan menghilang lagi jika dia melepaskannya.

Kemudian, mereka tinggal di kamar sewaan kecil yang luasnya kira-kira hanya sepuluh meter persegi dan hidup saling bergantung. Setelah hasil ujian masuk perguruan tinggi keluar, berhubung biaya kuliah hanya cukup untuk satu orang, Noreen secara sukarela melepaskan kesempatannya untuk kuliah.

Kaivan bertanya, "Kenapa?"

Noreen memaksakan senyum dan berkata, "Nilaiku biasa-biasa saja dan aku juga cuma diterima di universitas biasa. Ya pasti kamu yang harus kuliah. Jangan khawatir soal biaya hidup selama kuliah. Sekarang, aku bekerja tiga pekerjaan dalam sehari. Aku mampu biayai kamu."

Kaivan terdiam lama. Pada akhirnya, dia hanya mengucapkan satu kalimat. "Noreen, aku akan memberimu kehidupan yang baik."

Kemudian, Kaivan benar-benar berhasil melakukannya. Dia terus melompat tingkatan, menempuh program S2-S3 terpadu, dan menjadi profesor termuda di Universitas Pratama pada usia 24 tahun. Dia dijuluki "genius akademik".

Kehidupan mereka akhirnya membaik. Kaivan juga membawa Noreen tinggal di apartemen mewah dengan pemandangan sungai. Noreen berpikir bahwa semua penderitaan mereka akhirnya berakhir. Sampai hari itu, dia secara tidak sengaja melihat ponsel Kaivan.

Zayleen Yorlanda adalah putri kepala rektor Universitas Pratama. Dia cantik, unggul, dan sangat bersinar. Gadis seperti itu mengirimi Kaivan banyak pesan.

[ Eksperimenku gagal lagi hari ini. Sedih banget. ]

[ Aku beliin kamu kopi dan sudah kuletakkan di kantormu. ]

[ Kenapa kamu nggak balas pesanku? Apa kamu membenciku? ]

Balasan Kaivan selalu sangat dingin. Sampai Zayleen bertanya dengan marah, dia baru menjelaskan.

[ Aku nggak membencimu. Aku cuma nggak tahu harus gimana berinteraksi dengan perempuan. ]

Keesokan harinya, Kaivan menanyakan pertanyaan yang tidak biasa kepada Noreen, "Hadiah apa yang bisa buat seorang perempuan gembira?"

Saat itu, hati Noreen terasa sakit seperti ditusuk jarum. Selama bertahun-tahun, dia telah mempertimbangkan untuk mengakui perasaannya kepada Kaivan. Namun, Kaivan selalu sibuk belajar dan melakukan eksperimen.

Jadi, Noreen hanya bisa menyembunyikan perasaannya. Sekarang, dia akhirnya mengerti bahwa Kaivan hanya merasa berterima kasih padanya. Itu bukan cinta.

Tidak lama kemudian, gadis bernama Zayleen berinisiatif mencari Noreen. Hari itu, dia membawa sebuah map berisi fotokopi semua foto tidak senonoh ibu Kaivan yang mendorong ibu Kaivan mengakhiri hidupnya.

"Saudara tiri Kai mau pakai trik yang sama lagi untuk menghancurkannya. Tapi, aku sudah menghentikannya. Noreen, aku dan Kai saling mencintai. Tapi, dia nggak setuju untuk bersamaku karena merasa utang budi. Jadi, dia cuma bisa tetap di sisimu."

"Masalahnya, kamu nggak bisa melindunginya. Kalau kamu bersikeras untuk tetap bersamanya, foto-foto ini akan bocor dan semua usahanya selama bertahun-tahun akan sia-sia lagi. Kalau kamu melepaskannya ...." Zayleen berbisik, "Aku akan lindungi dia dan bantu dia mencapai puncak."

Malam itu, Noreen duduk di balkon dan menatap bulan sepanjang malam. Saat fajar, dia akhirnya mengambil keputusan. Dia tahu apa yang dikatakan Zayleen benar. Dia tidak bisa melindungi Kaivan. Selain itu, dia juga tahu bahwa Kaivan tidak mencintainya. Jadi, meninggalkan Kaivan adalah pilihan terbaik.

Melepaskan hubungan ini juga baik.

Mulai sekarang, dia tidak perlu lagi menunggu di bawah cahaya lampu yang sunyi hingga larut malam dan menghitung waktu menunggu kepulangan Kaivan.

Dia tidak perlu lagi melihat seorang genius akademik meminta nasihat tentang cara bergaul dengan gadis lain, lalu menelan kepahitannya sendirian. Dia juga tidak perlu lagi berharap pada pria yang tidak mencintainya untuk berubah pikiran.

Rasa sakit yang tajam tiba-tiba menusuk lambungnya dan mengganggu lamunannya.

Noreen meringkuk di lantai. Keringat dingin membasahi punggungnya. Kotak obat ada di atas meja kopi, tetapi dia bahkan tidak punya kekuatan untuk meraihnya.

Suara pintu dibuka menggema di udara. Begitu masuk, Kaivan langsung melihat Noreen yang tergeletak di lantai. Ekspresinya seketika berubah. Dia bergegas masuk, menggendong Noreen dan membaringkannya di tempat tidur dengan lembut.

"Di mana obatnya?" tanya Kaivan dengan tergesa-gesa sambil menggeledah laci dan lemari. "Di mana obat sakit maag yang kita beli terakhir kali?"

Noreen menunjuk ke sebuah laci. Kaivan segera menuangkan air dan mengambil obat itu. Gerakannya sangat terlatih, seolah-olah sudah melakukannya berkali-kali.

Segelas air hangat disodorkan ke bibir Noreen. Dia menyesap sedikit dan berbisik, "Terima kasih. Maaf sudah merepotkanmu."

"Nggak repot." Kaivan mengerutkan kening. "Kamu jelas-jelas tahu dirimu ada sakit maag. Kenapa kamu nggak minum obat tepat waktu?"

Bertahun-tahun yang lalu, untuk membiayai studi Kaivan, Noreen bekerja tiga pekerjaan. Seringkali, dia hanya makan satu kali sehari sehingga lambungnya menjadi bermasalah.

Setiap kali Noreen sakit maag, Kaivan akan memeluknya dengan sakit hati dan mengelus perutnya perlahan hingga dia tertidur. Namun, ketika Kaivan mengulurkan tangan untuk memeluknya kali ini, dia mendorong Kaivan menjauh dengan pelan.

Kaivan jelas tercengang sejenak. Keningnya juga sedikit mengerut.

"Kaivan, aku ...."

Baru saja Noreen hendak berbicara, ponsel Kaivan tiba-tiba berdering. Yang menelepon adalah Zayleen.

"Halo?" Kaivan menjawab telepon. Tatapannya masih tertuju pada Noreen. "Lihat meteor? Sekarang? Oke ...."

Setelah menutup telepon, Kaivan berdiri untuk mengambil jasnya. "Aku ada sedikit urusan di luar. Kamu istirahatlah yang baik."

Kaivan berbalik dan pergi. Sosoknya yang tinggi dan ramping masih terlihat mirip dengan pemuda yang pernah dibawa Noreen pulang bertahun-tahun lalu.

Noreen membuka mulutnya, tetapi kata-kata "aku akan kembali ke kampung halamanku" tetap tak terucap. Pintu tertutup dengan pelan, tetapi terasa seperti hantaman palu ke hatinya. Dia duduk sendirian dalam kegelapan hingga jam menunjukkan pukul 12 malam.

Sebuah kue ulang tahun yang baru dibeli tersimpan di dalam lemari es. Kaivan tidak pernah mengingat hari ulang tahunnya. Namun, setiap tahun, Noreen akan diam-diam membuat sebuah harapan pada hari ini.

Tahun ini, Noreen hanya membuat satu harapan. Dia berharap Kaivan menemukan kebahagiaan setelah dia pergi.

Dalam cahaya lilin yang berkelap-kelip, Noreen seolah-olah melihat pemuda yang diguyur hujan itu lagi. Matanya bersinar terang di bawah bulu mata yang basah. Itu adalah meteor terindah yang pernah dilihat Noreen.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 21

    Pada musim dingin berikutnya, Noreen telah pulih sepenuhnya. Hasil pemeriksaan lanjutannya membuatnya dan Albert sangat bahagia.Albert membawa Noreen pergi melihat aurora yang selalu ingin dilihatnya.Angin dingin menerpa pipi Noreen. Dia menarik syalnya lebih tinggi lagi, hingga hampir menutupi separuh wajahnya. Malam musim dingin di Norwegin sangat dingin. Namun, demi melihat aurora, rasa dingin ini bukanlah apa-apa."Bertahanlah sedikit lebih lama lagi. Pemandunya bilang, peluang melihat aurora malam ini sangat tinggi." Albert memberikan termos kepada Noreen. Uapnya mengembun menjadi kabut putih di udara dingin. "Minumlah air panas untuk menghangatkan badan.""Auroranya sudah muncul!" Mendengar suara pemandu, keduanya serentak mendongak. Di kejauhan, seberkas cahaya hijau samar yang seperti tirai perlahan-lahan terbentang di langit. Cahaya itu awalnya lemah. Seiring waktu berlalu, warna hijau itu makin terang dan secara bertahap berubah menjadi seperti aliran sungai."Indah bange

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 20 

    Albert tidak meminta Noreen untuk segera memberi jawaban. "Jangan buru-buru kasih aku jawaban. Istirahat saja dulu dengan baik. Kita bicarakan semuanya beberapa hari lagi."Setelah beberapa hari pemulihan, Noreen akhirnya bisa mengonsumsi makanan cair. Raut wajahnya pun membaik secara signifikan.Albert meletakkan bubur di depannya. "Hati-hati panas. Makanlah dengan pelan." Noreen meraih pergelangan tangannya. "Albert, ada sesuatu yang mau kukatakan padamu." Dia menatap wajah Albert yang penuh semangat. Pikirannya dipenuhi segala sesuatu yang telah Albert lakukan untuknya selama ini. Baik itu buket bunga segar harian, makanan berkhasiat yang Albert siapkan secara pribadi, atau perawatan teliti yang dia berikan sebelum dan sesudah operasi, semua itu sebenarnya hanyalah hal-hal kecil.Namun, hal-hal kecil inilah yang penting bagi Noreen. Segala sesuatu di masa lalu terasa seperti air yang membanjiri hatinya dan menumbukan lagi benih-benih yang terkubur di lubuk hatinya yang terdalam. B

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 19

    "Aku nggak pandang rendah ...." Noreen mencibir, "Kamu memang nggak seharusnya pandang rendah aku." Dia mengangkat tangannya dan melanjutkan, "Demi hasilkan uang kuliahmu, aku mencuci piring di tengah musim dingin. Tanganku terendam air hampir 20 jam sehari. Bahkan sampai sekarang, aku masih sering mengalami radang dingin yang menyakitkan dan gatal di musim dingin. Karena sering memindahkan barang, lututku sudah rusak dan selalu sangat sakit waktu hujan." Masih ada luka di punggung dan kapalan di telapak tangan Noreen. Demi membiayai pendidikan Kaivan, dia telah melakukan berbagai pekerjaan kotor dan berat. Terkadang, ketika melihat bayangannya yang berantakan di cermin, dia bertanya-tanya apakah dirinya tidak pantas berdiri di samping Kaivan.Noreen bisa memikirkan itu dalam hati, tetapi dia tidak bisa menerima Kaivan memandang rendah dirinya."Memangnya aku yang masih berusia belasan dan dua puluhan tahun nggak suka pakaian yang cantik? Tapi, demi menghasilkan uang, aku pakai paka

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 18

    Kaivan menurunkan tangannya dengan sedih. Dia kembali ke tempat di mana dia dan Noreen pernah tinggal bersama. Rumah itu telah direnovasi dan terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.Mengikuti ingatannya, Kaivan berjalan ke arah pohon akasia di halaman belakang. Ayunan di pohon itu sudah usang. Hanya satu sentuhan ringan saja dapat menyebabkan banyak bagian yang lepas.Kaivan menatap kosong ke ayunan itu dan memikirkan masa lalunya bersama Noreen. Di rumah kecil nan bobrok ini, dia telah menghabiskan masa-masa terkelam hidupnya. Dinding halaman tidak mampu menghalangi gosip, kutukan, hinaan, dan tawa mengejek. Semua itu terus-menerus terdengar di telinganya.Kaivan hampir kehilangan kendali berkali-kali. Akan tetapi, setiap kali, Noreen akan menutupi telinganya dan berkata, "Kaivan, nggak apa-apa. Aku akan selalu berada di sisimu." Mereka telah bersama selama sepuluh tahun. Apa pun yang terjadi, setiap kali menoleh, Kaivan selalu melihat Noreen di belakangnya.Awalnya, Noreen bekerja

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 17 

    Setelah kehujanan sehari sebelumnya, Noreen bangun dengan demam ringan dan tidak pergi ke toko Steffi. Dia minum obat dan berpikir dirinya akan baik-baik saja setelah beristirahat. Namun, kepalanya makin pusing.Mendengar ketukan di pintu, Noreen memaksakan diri untuk pergi membuka pintu. Namun, begitu melihat Albert, dia langsung pingsan. Ketika tersadar, dia sudah berada di rumah sakit."Jangan bergerak. Infus belum selesai." Suara Albert terdengar di telinganya. Noreen pun menoleh untuk melihatnya."Terima kasih sudah menyelamatkanku kemarin. Dokter bilang, kamu demam karena kehujanan terlalu lama." Noreen menerima air yang ditawarkan Albert. "Terima kasih.""Nggak perlu berterima kasih padaku. Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Waktu menuruni gunung kemarin, dadaku tiba-tiba nyeri. Kalau bukan berkat kamu, aku pasti sudah mati sebelum para pengawal menemukanku. Kamu sudah selamatkan nyawaku. Aku nggak akan pernah lupakan kebaikanmu." Noreen tak kuasa menahan tawa setela

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 16 

    Ketika kembali menginjakkan kaki di kota kecil ini, Noreen merasa sedikit linglung. Sepuluh tahun telah berlalu, tetapi tempat ini sepertinya tidak pernah berubah. Selain sedikit dekorasi yang berubah di jalanan dan gang-gang, tata letaknya tetap sama persis seperti yang dia ingat.Sesampainya di salon kuku Steffi, Noreen dan Steffi juga tidak merasa canggung meskipun telah berpisah selama bertahun-tahun. Begitu melihat satu sama lain, mereka langsung berpelukan dengan erat."Kenapa kamu tiba-tiba putuskan untuk kembali?" Dihadapkan dengan kekhawatiran sahabatnya, Noreen terdiam sesaat. Matanya terasa perih dan air mata mengalir di wajahnya."Noreen, ada apa?" Melihatnya menangis, Steffi buru-buru memberinya tisu. "Apa Kaivan menindasmu?" Noreen tidak bisa mengendalikan emosinya. Dia menceritakan semua yang telah terjadi selama beberapa saat ini sambil menangis."Kaivan benar-benar nggak manusiawi! Kamu sudah bekerja keras untuk biayai pendidikannya, bahkan korbankan studimu meski su

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 7

    Zayleen segera tersenyum dan menggeleng. "Nggak apa-apa, kami cuma lagi ngomong soal liburan." Kaivan tidak bertanya lebih lanjut. Dia hanya berjalan mendekat dengan terhuyung-huyung, lalu meraih pergelangan tangan Noreen. "Ayo pulang." Telapak tangannya terasa sangat panas, begitu panas hingga me

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 6

    Saat bersiap untuk pergi, Noreen dan Kaivan bertemu dengan Zayleen. Dia mengenakan gaun berwarna pastel dan berlari mendekat sambil tersenyum. "Kai! Kebetulan sekali! Aku lagi nongkrong bareng teman satu gengku."Zayleen menatap Kaivan dengan mata berbinar dan melanjutkan, "Kai, bukannya kamu bilang

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 5

    Namun, yang terdengar adalah suara Zayleen. "Halo? Kai baru saja tidur setelah melakukan eksperimen sepanjang malam. Ada masalah apa?"Kakak tiri Kaivan menatap Noreen dengan iba. "Sudah dengar? Pria yang kamu lindungi dengan segenap hati mengabaikanmu karena sedang bersama wanita lain. Sungguh meny

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 4 

    Noreen tertegun sejenak, lalu menyahut dengan suara pelan, "Beberapa hari lagi adalah hari peringatan kematian kakekku. Aku mau pulang ke kampung halamanku untuk memberi penghormatan."Kaivan mengangguk, tanpa menawarkan untuk ikut dengan Noreen. Dia tahu kota kecil itu akan menjadi mimpi buruk Kaiv

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status