แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Koresh
Keesokan harinya, Noreen pergi bekerja di salon kuku seperti biasa. Salon itu terletak di dekat kampus Kaivan. Alasannya memilih bekerja di tempat ini adalah agar dia bisa lebih sering melihat Kaivan.

Setelah menjadi kaya, Kaivan berulang kali menasihati Noreen untuk berhenti bekerja dan beristirahat di rumah. Akan tetapi, dia menolak. Kaivan selalu sibuk di kampus. Jika kehilangan pekerjaan ini, dia akan lebih sulit bertemu dengan Kaivan lagi.

Hari ini, Noreen awalnya datang untuk mengundurkan diri. Namun, manajer toko meraih tangannya dan berkata, "Noreen, bantu aku beberapa hari lagi, ya. Setelah aku ketemu orang baru, kamu baru berhenti."

Melihat tatapan manajer yang tulus dan mengingat perhatian yang telah diterimanya selama bertahun-tahun, Noreen akhirnya mengangguk.

Tidak lama kemudian, Noreen menerima pesanan layanan ke rumah. Alamatnya ada di asrama putri di Universitas Pratama. Begitu membuka pintu, dia langsung melihat foto berbingkai di meja. Itu adalah foto Kaivan dan Zayleen.

Kaivan mengenakan kemeja putih dan ekspresinya masih sedingin biasa. Akan tetapi, ada sedikit lengkungan di sudut mulutnya. Itu adalah keadaan rileks Kaivan yang jarang dilihat Noreen. Zayleen bersandar di bahunya dan tersenyum secerah matahari kecil.

"Kamu juga merasa mereka serasi banget, 'kan?" tanya seorang gadis dengan antusias sambil mengikuti pandangan Noreen. "Mereka itu pasangan terkenal di kampus kami! Profesor dingin dan ratu kampus yang ceria. Seisi kampus pada baper lihat mereka!"

Noreen menunduk dan membuka kotak peralatan manikur sambil bertanya dengan lembut, "Apa hubungan mereka ... begitu baik?"

"Tentu saja!"

Beberapa gadis itu segera berkumpul dan membicarakan tentang perlakuan khusus Kaivan terhadap Zayleen.

"Prof Kaivan biasanya sulit didekati, tapi dia sangat sabar pada Kak Zayleen!"

"Terakhir kali Kak Zayleen ketiduran di laboratorium, Prof Kaivan bahkan menyelimutinya dengan jasnya!"

"Dengar-dengar, Prof Kaivan selalu bawa pena yang diberikan Kak Zayleen!"

Noreen mendengarkan percakapan mereka. Jari-jarinya sedikit gemetar dan dia hampir menjatuhkan kikir kukunya. Kaivan tidak pernah melakukan hal-hal itu untuknya.

"Mereka pasangan yang serasi dalam segala hal!" Salah satu gadis tiba-tiba menghela napas. "Satu-satunya masalah adalah latar belakang Prof Kaivan kurang oke. Dengar-dengar, dia juga mau balas budi ke penyelamatnya ...."

"Maksudmu wanita itu?" Gadis lain mencibir, "Setahuku, dia nggak kuliah, juga nggak punya pekerjaan tetap. Dia cuma melakukan pekerjaan serabutan sepanjang hari. Dia sama sekali nggak layak untuk dampingi Prof Kaivan!"

"Benar! Dia cuma menempel pada Prof Kaivan seperti lintah! Dia benar-benar nggak tahu malu!"

"Kami bahkan pernah bicarakan hal ini dengan Prof Kaivan. Kami sarankan dia untuk singkirkan wanita itu dengan uang, supaya dia nggak merusak kebahagiaannya sendiri ...."

Hati Noreen terasa seperti diremas. Rasa sakit itu membuatnya kesulitan bernapas.

"Kok tanganmu gemetar?" Salah satu gadis tiba-tiba menatap Noreen. "Kamu baik-baik saja?"

Noreen memaksakan senyum. "Aku baik-baik saja, aku cuma merasa ... yang kalian bilang benar."

Setelah memberikan manikur, Noreen buru-buru meninggalkan asrama. Ketika tiba di gerbang kampus, langkahnya tiba-tiba terhenti.

Kaivan dan Zayleen sedang berjalan berdampingan ke arahnya. Zayleen mengenakan sebuah syal merah. Saat mengobrol, dia tiba-tiba melepas syal itu dan berjinjit untuk melilitkannya di leher Kaivan.

Noreen menahan napas dan menatap Kaivan yang biasanya terobsesi pada kebersihan. Tak disangka, Kaivan tidak menolak.

"Meteor semalam sangat indah," ucap Zayleen sambil tersenyum.

Kaivan mengangguk. "Emm, kita bisa melihatnya lagi lain kali."

Para mahasiswa yang lewat melirik mereka. Ada yang berbisik, "Duh! Manis banget!"

Kaivan dan Zayleen mengobrol tentang eksperimen, pelajaran, konferensi akademis, dan banyak hal yang tidak Noreen mengerti. Berdiri di sudut, dia tiba-tiba menyadari bahwa ada jurang tak terlampaui yang telah memisahkan dirinya dengan Kaivan.

Ketika sampai di rumah, Kaivan menuang air di dapur. Dia membuka kulkas dan melihat kue yang belum habis di dalamnya. Setelah tertegun sejenak, dia bertanya, "Kemarin ulang tahunmu?"

Noreen mengangguk dalam diam.

"Akhir-akhir ini, aku terlalu sibuk dan melupakannya." Kaivan memijat pelipisnya. "Aku akan menebusnya dengan hadiah buat kamu beberapa hari lagi."

"Nggak perlu." Noreen menyahut pelan, "Tangani saja pekerjaanmu. Nggak usah khawatirkan hal-hal sepele seperti ini."

Kaivan melirik Noreen dan tidak memaksa. Dia hanya bertanya, "Permintaan apa yang kamu buat?"

Tepat saat Noreen hendak menjawab, ponsel Kaivan berdering. Yang menelepon lagi-lagi Zayleen.

"Kai, pergelangan kakiku terkilir ...." Suaranya yang gemetar karena menangis terdengar dari ujung telepon.

Kaivan segera berdiri. "Kirimkan lokasimu. Aku akan segera ke sana."

Pria itu pergi dengan terburu-buru, bahkan tanpa melirik Noreen lagi.

Noreen duduk di meja dan memakan sisa kue itu sendirian. Krim itu sangat dingin. Rasanya begitu manis, sampai terasa pahit di tenggorokannya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 21

    Pada musim dingin berikutnya, Noreen telah pulih sepenuhnya. Hasil pemeriksaan lanjutannya membuatnya dan Albert sangat bahagia.Albert membawa Noreen pergi melihat aurora yang selalu ingin dilihatnya.Angin dingin menerpa pipi Noreen. Dia menarik syalnya lebih tinggi lagi, hingga hampir menutupi separuh wajahnya. Malam musim dingin di Norwegin sangat dingin. Namun, demi melihat aurora, rasa dingin ini bukanlah apa-apa."Bertahanlah sedikit lebih lama lagi. Pemandunya bilang, peluang melihat aurora malam ini sangat tinggi." Albert memberikan termos kepada Noreen. Uapnya mengembun menjadi kabut putih di udara dingin. "Minumlah air panas untuk menghangatkan badan.""Auroranya sudah muncul!" Mendengar suara pemandu, keduanya serentak mendongak. Di kejauhan, seberkas cahaya hijau samar yang seperti tirai perlahan-lahan terbentang di langit. Cahaya itu awalnya lemah. Seiring waktu berlalu, warna hijau itu makin terang dan secara bertahap berubah menjadi seperti aliran sungai."Indah bange

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 20 

    Albert tidak meminta Noreen untuk segera memberi jawaban. "Jangan buru-buru kasih aku jawaban. Istirahat saja dulu dengan baik. Kita bicarakan semuanya beberapa hari lagi."Setelah beberapa hari pemulihan, Noreen akhirnya bisa mengonsumsi makanan cair. Raut wajahnya pun membaik secara signifikan.Albert meletakkan bubur di depannya. "Hati-hati panas. Makanlah dengan pelan." Noreen meraih pergelangan tangannya. "Albert, ada sesuatu yang mau kukatakan padamu." Dia menatap wajah Albert yang penuh semangat. Pikirannya dipenuhi segala sesuatu yang telah Albert lakukan untuknya selama ini. Baik itu buket bunga segar harian, makanan berkhasiat yang Albert siapkan secara pribadi, atau perawatan teliti yang dia berikan sebelum dan sesudah operasi, semua itu sebenarnya hanyalah hal-hal kecil.Namun, hal-hal kecil inilah yang penting bagi Noreen. Segala sesuatu di masa lalu terasa seperti air yang membanjiri hatinya dan menumbukan lagi benih-benih yang terkubur di lubuk hatinya yang terdalam. B

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 19

    "Aku nggak pandang rendah ...." Noreen mencibir, "Kamu memang nggak seharusnya pandang rendah aku." Dia mengangkat tangannya dan melanjutkan, "Demi hasilkan uang kuliahmu, aku mencuci piring di tengah musim dingin. Tanganku terendam air hampir 20 jam sehari. Bahkan sampai sekarang, aku masih sering mengalami radang dingin yang menyakitkan dan gatal di musim dingin. Karena sering memindahkan barang, lututku sudah rusak dan selalu sangat sakit waktu hujan." Masih ada luka di punggung dan kapalan di telapak tangan Noreen. Demi membiayai pendidikan Kaivan, dia telah melakukan berbagai pekerjaan kotor dan berat. Terkadang, ketika melihat bayangannya yang berantakan di cermin, dia bertanya-tanya apakah dirinya tidak pantas berdiri di samping Kaivan.Noreen bisa memikirkan itu dalam hati, tetapi dia tidak bisa menerima Kaivan memandang rendah dirinya."Memangnya aku yang masih berusia belasan dan dua puluhan tahun nggak suka pakaian yang cantik? Tapi, demi menghasilkan uang, aku pakai paka

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 18

    Kaivan menurunkan tangannya dengan sedih. Dia kembali ke tempat di mana dia dan Noreen pernah tinggal bersama. Rumah itu telah direnovasi dan terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.Mengikuti ingatannya, Kaivan berjalan ke arah pohon akasia di halaman belakang. Ayunan di pohon itu sudah usang. Hanya satu sentuhan ringan saja dapat menyebabkan banyak bagian yang lepas.Kaivan menatap kosong ke ayunan itu dan memikirkan masa lalunya bersama Noreen. Di rumah kecil nan bobrok ini, dia telah menghabiskan masa-masa terkelam hidupnya. Dinding halaman tidak mampu menghalangi gosip, kutukan, hinaan, dan tawa mengejek. Semua itu terus-menerus terdengar di telinganya.Kaivan hampir kehilangan kendali berkali-kali. Akan tetapi, setiap kali, Noreen akan menutupi telinganya dan berkata, "Kaivan, nggak apa-apa. Aku akan selalu berada di sisimu." Mereka telah bersama selama sepuluh tahun. Apa pun yang terjadi, setiap kali menoleh, Kaivan selalu melihat Noreen di belakangnya.Awalnya, Noreen bekerja

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 17 

    Setelah kehujanan sehari sebelumnya, Noreen bangun dengan demam ringan dan tidak pergi ke toko Steffi. Dia minum obat dan berpikir dirinya akan baik-baik saja setelah beristirahat. Namun, kepalanya makin pusing.Mendengar ketukan di pintu, Noreen memaksakan diri untuk pergi membuka pintu. Namun, begitu melihat Albert, dia langsung pingsan. Ketika tersadar, dia sudah berada di rumah sakit."Jangan bergerak. Infus belum selesai." Suara Albert terdengar di telinganya. Noreen pun menoleh untuk melihatnya."Terima kasih sudah menyelamatkanku kemarin. Dokter bilang, kamu demam karena kehujanan terlalu lama." Noreen menerima air yang ditawarkan Albert. "Terima kasih.""Nggak perlu berterima kasih padaku. Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Waktu menuruni gunung kemarin, dadaku tiba-tiba nyeri. Kalau bukan berkat kamu, aku pasti sudah mati sebelum para pengawal menemukanku. Kamu sudah selamatkan nyawaku. Aku nggak akan pernah lupakan kebaikanmu." Noreen tak kuasa menahan tawa setela

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 16 

    Ketika kembali menginjakkan kaki di kota kecil ini, Noreen merasa sedikit linglung. Sepuluh tahun telah berlalu, tetapi tempat ini sepertinya tidak pernah berubah. Selain sedikit dekorasi yang berubah di jalanan dan gang-gang, tata letaknya tetap sama persis seperti yang dia ingat.Sesampainya di salon kuku Steffi, Noreen dan Steffi juga tidak merasa canggung meskipun telah berpisah selama bertahun-tahun. Begitu melihat satu sama lain, mereka langsung berpelukan dengan erat."Kenapa kamu tiba-tiba putuskan untuk kembali?" Dihadapkan dengan kekhawatiran sahabatnya, Noreen terdiam sesaat. Matanya terasa perih dan air mata mengalir di wajahnya."Noreen, ada apa?" Melihatnya menangis, Steffi buru-buru memberinya tisu. "Apa Kaivan menindasmu?" Noreen tidak bisa mengendalikan emosinya. Dia menceritakan semua yang telah terjadi selama beberapa saat ini sambil menangis."Kaivan benar-benar nggak manusiawi! Kamu sudah bekerja keras untuk biayai pendidikannya, bahkan korbankan studimu meski su

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 7

    Zayleen segera tersenyum dan menggeleng. "Nggak apa-apa, kami cuma lagi ngomong soal liburan." Kaivan tidak bertanya lebih lanjut. Dia hanya berjalan mendekat dengan terhuyung-huyung, lalu meraih pergelangan tangan Noreen. "Ayo pulang." Telapak tangannya terasa sangat panas, begitu panas hingga me

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 6

    Saat bersiap untuk pergi, Noreen dan Kaivan bertemu dengan Zayleen. Dia mengenakan gaun berwarna pastel dan berlari mendekat sambil tersenyum. "Kai! Kebetulan sekali! Aku lagi nongkrong bareng teman satu gengku."Zayleen menatap Kaivan dengan mata berbinar dan melanjutkan, "Kai, bukannya kamu bilang

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 3 

    Selama beberapa hari itu, Kaivan tidak pulang. Ketika membuka media sosial, Noreen selalu melihat postingan Zayleen. Kaivan menemaninya ke perpustakaan, membawakannya sarapan, dan membungkuk untuk mengikat tali sepatunya. Di setiap foto, ekspresi Kaivan terlihat lebih lembut daripada saat bersama N

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 1

    "Steffi, aku berencana pulang ke kampung halaman akhir bulan ini. Kelak, aku seharusnya akan menetap di sana. Sisakan posisi untukku di salon kukumu." Baru saja Noreen selesai berbicara, terdengar suara terkejut sahabatnya, Steffi, dari ujung telepon. "Apa? Kamu mau pulang? Sekarang, pria malang y

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status