Mag-log inKeheningan yang merayap di dalam mansion Dirgantara setelah kepergian Elena seolah-olah menjadi jenis racun baru yang lambat laun membekukan atmosfer di sekitarnya. Sinar matahari sore yang menembus jendela-jendela kaca patri besar tidak lagi terasa hangat, melainkan memancarkan pendaran pucat yang kaku di atas lantai marmer hitam. Di ruang kerja utamanya, Arka duduk sendirian di balik meja mahoni besarnya. Jam dinding antik terus berdetak, mengeluarkan suara konstan yang biasanya menenangkan bagi Arka, namun entah mengapa hari ini suara itu terdengar seperti ketukan palu hakim yang sedang menghitung sisa-sisa kewarasannya. Tangannya yang besar dan kokoh memegang sebuah gelas kristal berisi wiski amber, memutar-mutarnya perlahan hingga es batu di dalamnya berdenting parau. Matanya yang tajam bagai elang tidak tertuju pada dokumen-dokumen saham yang berserakan di depannya, melainkan menatap kosong ke sudut ruangan tempat kegelapan mulai merayap naik seiring terbenamnya matahari.Kebe
Di sana, berdiri sosok Arka Dirgantara. Pria itu tidak berada di dalam ruang kerjanya untuk memeriksa laporan keuangan atau memimpin rapat virtual antarbangsa yang biasa menyita seluruh waktunya. Arka telah berdiri di ambang pintu sejak satu jam yang lalu, menunggu kepulangan wanitanya dengan kecemasan yang tersembunyi di balik postur tubuhnya yang tegap dan kokoh bagai tebing batu. Setelan kemeja hitamnya yang lengannya digulung hingga sebatas siku memperlihatkan urat-urat tangan yang menegang, menunjukkan betapa kerasnya ia menahan diri untuk tidak melanggar janjinya dan menyusul Lia ke Kafe Royal dengan sepasukan penuh pengawal. Begitu mata elang Arka menangkap sosok Lia yang berjalan mendekat dengan langkah yang tenang dan senyum tipis yang penuh kedamaian, ketegangan yang mencengkeram bahu lebarnya tampak mengendur seketika, digantikan oleh sorot mata yang dipenuhi oleh rasa lega yang teramat dalam dan pemujaan yang mutlak.Lia berjalan menaiki anak tangga teras mansion satu per
Langkah kaki Lia terdengar begitu ritmis dan berwibawa di atas lantai marmer Kafe Royal yang berkilau sempurna, meninggalkan bayang-bayang kehancuran seorang wanita yang beberapa menit lalu mengira bisa mengguncang fondasi Dirgantara Group. Di belakangnya, di sudut paling privat yang tersembunyi di balik sekat kayu mahoni yang anggun, Elena masih terduduk lemas bagaikan raga tanpa jiwa. Udara sejuk di dalam kafe mewah itu tidak lagi mampu meredakan hawa panas ketakutan yang menjalar di seluruh pembuluh darah mantan istri Arka tersebut. Jarinya yang dihiasi batu permata imitasi masih gemetar hebat di atas permukaan meja, menyentuh sisa cipratan sampanye mahal yang kini terasa hambar, sehambar seluruh ilusi kemewahan yang coba ia bangun dengan cara menipu dan memeras. Elena menyadari bahwa ruang dan waktu di sekitarnya telah menyusut drastis, menyisakan hitungan mundur dua jam yang akan menentukan apakah ia akan tetap bernapas atau berakhir di dasar pelabuhan sebagai korban dari kekeja
Kesunyian yang menggantung di sudut privat Kafe Royal kini terasa begitu pekat dan menekan, seolah-olah seluruh pasokan oksigen di ruangan mewah itu telah disedot habis oleh kehadiran Lia Sanjaya yang begitu dominan. Elena masih terpaku dengan mata terbelalak, menatap permukaan meja mahoni tempat tablet hitam milik Lia berada. Di dalam kepalanya, suara rekaman penipuannya sendiri masih terngiang-ngiang, berbaur dengan bayangan mengerikan dari lembar manifestasi utang judi Makau yang dihiasi cap jempol darahnya sendiri. Setiap detik yang berlalu terasa bagai siksaan fisik yang lambat. Riasan wajahnya yang mahal kini benar-benar rusak; maskara hitam luntur menciptakan garis-garis gelap di pipinya yang pucat, membuat penampilannya tidak lagi menyerupai seorang sosialita papan atas yang angkuh, melainkan seorang pesakitan yang sedang menunggu ketukan palu hakim.Lia tetap mempertahankan posisi duduknya yang tegak dan anggun. Tidak ada kepuasan yang berlebihan di wajahnya, tidak ada tawa
Gema suara denting sendok perak yang beradu dengan cangkir porselen di sudut lain Kafe Royal seolah-olah menghilang, digantikan oleh kesunyian yang mencekam di meja privat tempat dua wanita itu saling berhadapan. Elena menatap layar tablet yang disodorkan Lia dengan mata yang berkedip cepat, seolah-olah ia sedang mencoba menghapus gambar dan angka-angka yang tertera di sana lewat kekuatan pikirannya sendiri. Wajah yang beberapa menit lalu dipenuhi rona merah akibat kesombongan dan alkohol mahal kini mulai menunjukkan keretakan yang parah. Garis-garis penuaan yang biasanya tersembunyi di balik riasan tebal produk kosmetik Paris mendadak tercetak jelas di bawah sorotan lampu kafe yang benderang. Kulitnya yang pucat pasi kontras dengan lipstik merah menyala, membuatnya tampak seperti hantu yang terjebak di tengah-tengah dekorasi interior mahoni yang mewah.Namun, rasa terkejut itu dengan cepat digantikan oleh keputusasaan yang bermanifestasi sebagai amarah yang meledak-ledak. Elena men
Matahari siang menyengat aspal di luar jendela kaca patri Kafe Royal yang megah, namun di dalam ruangan itu, suhu udara terasa begitu sejuk dan terkendali, seolah-olah dunia luar yang kacau tidak berhak mengusik ketenangan para elite yang berkumpul di sana. Wangi kopi mahal yang baru dipanggang bercampur dengan aroma parfum desainer yang menyesakkan paru-paru bagi mereka yang tidak terbiasa. Di sudut paling privat, di balik sekat-sekat kayu mahoni yang diukir tangan, Elena duduk dengan punggung tegak, memancarkan aura kemenangan yang seolah-olah sudah mutlak miliknya. Ia mengenakan kacamata hitam besar bermerek yang menutupi matanya yang sembab akibat kurang tidur, namun bibirnya dipoles lipstik merah darah yang sangat tajam, memberikan kesan bahwa ia adalah pemangsa yang baru saja mendapatkan mangsa besarnya.Elena melirik jam tangan Rolex-nya yang sebenarnya sudah ia gadaikan namun berhasil ia tebus kembali dengan uang hasil menipu salah satu investor kecil di Singapura minggu lal
Gemerlap lampu kristal yang menggantung di langit-langit Grand Ballroom seolah-olah kehilangan cahayanya saat Arka Dirgantara melangkah kembali ke tengah ruangan, masih dengan tangan yang melingkar posesif di pinggul Lia Sanjaya. Suasana di dalam ruangan itu kini bukan lagi sekadar pesta amal; itu
Suasana di dalam Grand Ballroom hotel bintang lima itu mencapai titik didih estetika dan ketegangan yang nyaris tak tertahankan. Cahaya dari ribuan butiran kristal di langit-langit memantul pada permukaan gelas-gelas sampanye yang dipegang oleh tangan-tangan paling berpengaruh di negeri ini. Musik
Mendengar nama ayahnya disebut untuk memeras rasa ibanya membuat mata Lia berkilat tajam. Namun, sebelum ia sempat merespons, Arka melangkah maju selangkah, masuk ke dalam ruang pribadi Surya hingga pria tua itu harus mendongak untuk menatap wajah sang Alpha. Arka memiliki tinggi badan yang mendomi
Pintu ganda setinggi empat meter menuju ballroom utama Grand Hyatt terbuka lebar, menyemburkan hawa dingin AC yang kontras dengan kelembapan udara Jakarta, membawa serta aroma parfum mahal dan denting gelas kristal yang saling beradu. Langkah kaki Arka Dirgantara dan Lia Sanjaya yang selaras menci







