تسجيل الدخولLangkah kaki Lia terdengar begitu ritmis dan berwibawa di atas lantai marmer Kafe Royal yang berkilau sempurna, meninggalkan bayang-bayang kehancuran seorang wanita yang beberapa menit lalu mengira bisa mengguncang fondasi Dirgantara Group. Di belakangnya, di sudut paling privat yang tersembunyi di balik sekat kayu mahoni yang anggun, Elena masih terduduk lemas bagaikan raga tanpa jiwa. Udara sejuk di dalam kafe mewah itu tidak lagi mampu meredakan hawa panas ketakutan yang menjalar di seluruh pembuluh darah mantan istri Arka tersebut. Jarinya yang dihiasi batu permata imitasi masih gemetar hebat di atas permukaan meja, menyentuh sisa cipratan sampanye mahal yang kini terasa hambar, sehambar seluruh ilusi kemewahan yang coba ia bangun dengan cara menipu dan memeras. Elena menyadari bahwa ruang dan waktu di sekitarnya telah menyusut drastis, menyisakan hitungan mundur dua jam yang akan menentukan apakah ia akan tetap bernapas atau berakhir di dasar pelabuhan sebagai korban dari kekeja
Kesunyian yang menggantung di sudut privat Kafe Royal kini terasa begitu pekat dan menekan, seolah-olah seluruh pasokan oksigen di ruangan mewah itu telah disedot habis oleh kehadiran Lia Sanjaya yang begitu dominan. Elena masih terpaku dengan mata terbelalak, menatap permukaan meja mahoni tempat tablet hitam milik Lia berada. Di dalam kepalanya, suara rekaman penipuannya sendiri masih terngiang-ngiang, berbaur dengan bayangan mengerikan dari lembar manifestasi utang judi Makau yang dihiasi cap jempol darahnya sendiri. Setiap detik yang berlalu terasa bagai siksaan fisik yang lambat. Riasan wajahnya yang mahal kini benar-benar rusak; maskara hitam luntur menciptakan garis-garis gelap di pipinya yang pucat, membuat penampilannya tidak lagi menyerupai seorang sosialita papan atas yang angkuh, melainkan seorang pesakitan yang sedang menunggu ketukan palu hakim.Lia tetap mempertahankan posisi duduknya yang tegak dan anggun. Tidak ada kepuasan yang berlebihan di wajahnya, tidak ada tawa
Gema suara denting sendok perak yang beradu dengan cangkir porselen di sudut lain Kafe Royal seolah-olah menghilang, digantikan oleh kesunyian yang mencekam di meja privat tempat dua wanita itu saling berhadapan. Elena menatap layar tablet yang disodorkan Lia dengan mata yang berkedip cepat, seolah-olah ia sedang mencoba menghapus gambar dan angka-angka yang tertera di sana lewat kekuatan pikirannya sendiri. Wajah yang beberapa menit lalu dipenuhi rona merah akibat kesombongan dan alkohol mahal kini mulai menunjukkan keretakan yang parah. Garis-garis penuaan yang biasanya tersembunyi di balik riasan tebal produk kosmetik Paris mendadak tercetak jelas di bawah sorotan lampu kafe yang benderang. Kulitnya yang pucat pasi kontras dengan lipstik merah menyala, membuatnya tampak seperti hantu yang terjebak di tengah-tengah dekorasi interior mahoni yang mewah.Namun, rasa terkejut itu dengan cepat digantikan oleh keputusasaan yang bermanifestasi sebagai amarah yang meledak-ledak. Elena men
Matahari siang menyengat aspal di luar jendela kaca patri Kafe Royal yang megah, namun di dalam ruangan itu, suhu udara terasa begitu sejuk dan terkendali, seolah-olah dunia luar yang kacau tidak berhak mengusik ketenangan para elite yang berkumpul di sana. Wangi kopi mahal yang baru dipanggang bercampur dengan aroma parfum desainer yang menyesakkan paru-paru bagi mereka yang tidak terbiasa. Di sudut paling privat, di balik sekat-sekat kayu mahoni yang diukir tangan, Elena duduk dengan punggung tegak, memancarkan aura kemenangan yang seolah-olah sudah mutlak miliknya. Ia mengenakan kacamata hitam besar bermerek yang menutupi matanya yang sembab akibat kurang tidur, namun bibirnya dipoles lipstik merah darah yang sangat tajam, memberikan kesan bahwa ia adalah pemangsa yang baru saja mendapatkan mangsa besarnya.Elena melirik jam tangan Rolex-nya yang sebenarnya sudah ia gadaikan namun berhasil ia tebus kembali dengan uang hasil menipu salah satu investor kecil di Singapura minggu lal
Semburat fajar yang menyapu langit Jakarta dengan warna jingga keunguan seolah menjadi saksi bisu atas transformasi total yang terjadi di dalam diri Lia. Di balkon lantai dua yang menghadap langsung ke arah taman luas mansion Dirgantara, Lia masih berdiri bersandar pada pagar besi tempa, membiarkan angin pagi yang dingin menerpa wajahnya. Ia tidak lagi tampak seperti gadis yang sedang dilanda kecemasan atau asisten yang menunggu perintah. Ada ketenangan yang mematikan dalam postur tubuhnya, sebuah aura otoritas yang tumbuh dari tumpukan data hitam yang baru saja ia bedah bersama Benyamin sepanjang malam. Arka, yang berdiri di sampingnya, terus memperhatikan profil wajah Lia dari samping. Ia bisa melihat bagaimana mata jernih itu kini berkilat dengan kecerdasan yang dingin dan kalkulatif, sebuah tatapan yang biasanya hanya ia lihat pada cermin saat ia sedang merencanakan kehancuran lawan bisnisnya.Arka meraih jemari Lia, merasakan kulit halus itu sedikit dingin namun genggamannya sa
Cahaya fajar yang mulai merayap masuk melalui celah gorden ruang kerja pribadi mansion Arka tidak menyurutkan semangat Lia Sanjaya. Sebaliknya, setiap berkas digital yang terpampang di layar monitor justru semakin mengobarkan api di matanya. Setelah menemukan jejak hitam Elena di kasino-kasino Makau, Lia merasa masih ada potongan teka-teki yang hilang. Ia bertanya-tanya dalam hati, dari mana seorang wanita yang sedang bangkrut dan diburu penagih utang bisa mendapatkan dokumen sensitif mengenai akuisisi Global Tech yang terjadi bertahun-tahun lalu? Arka adalah pria yang sangat teliti dalam menghapus jejak, dan tidak mungkin dokumen itu tertinggal di tangan seorang mantan istri yang sudah lama diusir, kecuali ada pengkhianatan dari pihak ketiga.Lia duduk tegak kembali, jemarinya yang lentik namun kokoh kembali menari di atas papan ketik, memerintahkan Benyamin untuk melacak riwayat firma hukum yang menangani perceraian Arka dan Elena. Ia mencurigai bahwa dokumen itu bukan diberikan o
Langkah kaki Arka yang menghantam lantai marmer koridor lantai atas mansion itu terdengar seperti suara guntur yang mendahului badai besar. Ia tidak lagi menggunakan sisa-sisa kesopanan yang biasanya ia tunjukkan di depan para pelayan. Tangan kanannya mencengkeram pergelangan tangan Lia Sanjaya de
Kegelapan di dalam ruang kendali keamanan pribadi Arka Dirgantara terasa begitu pekat, hanya menyisakan pendar biru pucat dari deretan layar monitor yang menempel di dinding. Ruangan ini adalah jantung dari sistem pengawasan mansion, sebuah tempat yang biasanya hanya dimasuki oleh tim keamanan eli
Pintu kamar itu terkunci dengan bunyi klik yang bergema seperti vonis mati bagi kewarasan di dalam ruangan yang luas itu. Arka tidak melepaskan tatapannya dari Lia, matanya gelap, hampir hitam sepenuhnya karena pupil yang melebar akibat adrenalin dan gairah yang sudah meluap melampaui bendungan lo
Kesunyian di koridor lantai lima puluh Dirgantara Group terasa jauh lebih tegang dibandingkan pagi sebelumnya. Arka Dirgantara berjalan dengan langkah yang lebar dan kaku, masing-masing hentakan sepatu kulitnya di atas lantai granit seolah-olah mengumumkan pada seluruh gedung bahwa sang penguasa s







