Home / Romansa / Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku / Bab 77. Air Mata Palsu Bibi Rina. 

Share

Bab 77. Air Mata Palsu Bibi Rina. 

Author: Ucing Ucay
last update publish date: 2026-02-20 09:46:30

​Suasana di dalam ballroom utama masih berdengung dengan sisa-sisa guncangan dari pengumuman Arka Dirgantara, namun bagi Lia, udara di sana mulai terasa terlalu sesak oleh bau kemunafikan yang pekat. Ia membutuhkan waktu sejenak untuk menenangkan detak jantungnya yang masih memburu akibat konfrontasi publik tadi. Dengan anggukan kecil yang sopan kepada Arka—yang hanya melepaskan genggamannya setelah memberikan tatapan peringatan bahwa ia tidak boleh pergi terlalu lama—Lia melangkah menjauh menu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 197. Mengejar Lia. 

    Tiba-tiba, dari arah pelataran parkir di bawah, suara deru mesin mobil yang halus memecah kesunyian malam. Arka tersentak, matanya langsung tertuju ke arah kaca jendela. Di bawah temaram lampu taman, ia melihat mobil sedan kecil milik Lia perlahan bergerak keluar dari area garasi samping, membelah kegelapan menuju gerbang besi tempa mansion yang terbuka secara otomatis. Jantung Arka seolah berhenti berdetak melihat siluet mobil tersebut. Kepanikan yang sangat pekat langsung menyergap seluruh sistem sarafnya. Tanpa membuang waktu satu detik pun, tanpa memedulikan penampilannya yang hanya mengenakan kemeja hitam kusut tanpa jas, Arka memutar tubuhnya dan berlari keluar dari ruang kerja dengan kecepatan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.​Langkah kaki Arka yang besar menghantam anak tangga marmer utama dengan suara berdentum-dentum, memecah kesunyian koridor mansion yang sepi. Beberapa pelayan yang baru saja terbangun di paviliun belakang hanya bisa menatap dengan mata terbelalak

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 196. Pengejaran di Bawah Hujan

    ​"Keluar dari sini, Lia! Ambil map itu dan pergi dari hadapanku sekarang juga!" bentak Arka lagi, suaranya naik satu oktav, terdengar begitu frustrasi dan penuh amarah yang dipaksakan. Di balik kegelapan yang menyelimuti sisi wajahnya yang menghadap jendela, sebutir air mata penyesalan akhirnya pecah dan mengalir lambat melewati pipinya yang tegas, membasahi rambut-rambut halus di rahangnya. Arka mencengkeram tepi mejanya dengan kekuatan penuh, berjuang mati-matian agar suaranya tidak pecah menjadi tangisan di depan wanita itu. Ia mengusir Lia dengan cara yang paling kejam hanya agar ia memiliki ruang privat untuk meratapi kebodohannya sendiri tanpa harus menjatuhkan harga dirinya yang setinggi langit.​Lia menatap punggung kaku Arka untuk yang terakhir kalinya malam itu. Tidak ada lagi air mata yang jatuh dari mata jernihnya; air matanya telah kering bersamaan dengan patahnya seluruh harapan yang ia gantungkan pada hubungan mereka. Kelelahan mental yang luar biasa membuat tubuhnya te

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 195. Patahnya Ego Sang Alpha. 

    ​Keheningan yang menyelubungi ruang kerja utama itu terasa semakin pekat dan mencekam, seolah-olah seluruh dinding mahoni yang mengelilingi mereka sedang bergeser merapat, menghimpit pasokan udara yang tersisa. Arka masih terpaku di kursinya, dengan jemari tangan yang besar dan kokoh mencengkeram pinggiran map kulit hitam tebal itu begitu kuat hingga urat-urat birunya menonjol di balik kulit yang menegang. Matanya yang tajam bagai elang tidak lagi memancarkan kilatan kecurigaan yang dingin atau arogansi seorang penguasa yang mutlak. Sorot mata itu kini bergetar hebat, bergerak dari satu baris kalimat hukum ke baris kalimat berikutnya, sebelum akhirnya terkunci sepenuhnya pada guratan tinta hitam di atas meterai resmi yang sah. Tanda tangan Lia terukir di sana dengan bentuk yang sangat tegas, rapi, dan tanpa ada keraguan sedikit pun, menjadi sebuah bukti legal yang paling ekstrem dan mematikan bagi seluruh asumsi buruk yang ia bangun sepanjang malam.​Pikiran Arka mendadak lumpuh total

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 194. Keputusan Lia

    Satu jam kemudian, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Lia. Tuan Hermawan telah tiba di gerbang belakang. Lia mengenakan jubah tidur sutranya, melangkah membelah kegelapan malam mansion menuju area taman belakang yang sepi. Di balik jeruji besi gerbang yang tertutup rapat, sang pengacara senior menyerahkan sebuah map kulit berwarna hitam tebal dengan tangan yang sedikit bergetar karena rasa tidak setuju yang masih tertahan di dadanya. Lia menerima map itu, memberikan anggukan hormat yang tulus sebagai rasa terima kasih, lalu kembali ke dalam mansion tanpa membawa saksi apa pun.​Di dalam kamarnya, di bawah cahaya lampu meja kerja yang temaram, Lia membuka map hitam tersebut. Di dalamnya terdapat lembaran-lembaran kertas legal bersetempel resmi yang disusun dengan bahasa hukum yang sangat dingin dan mutlak. Dokumen itu secara legal menyatakan bahwa terhitung sejak tanda tangan ini dibubuhkan, Lia Sanjaya melepaskan seluruh hak waris, hak klaim, dan hak kepemilikan atas seluruh imperiu

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 193. Bukti Tanpa Syarat. 

    ​Langkah kaki Lia terasa begitu berat ketika ia melewati selasar panjang lantai dua mansion Dirgantara, menjauh dari ruang kerja yang baru saja bertransformasi menjadi ruang pengadilan dingin bagi kesetiaannya. Gaun rumah berbahan sutra lembut berwarna putih gading yang ia kenakan bergesek halus dengan dinding-dinding panel kayu klasik, mengeluarkan suara yang seolah-olah meratapi kehancuran instan dari rasa percaya yang baru saja mereka rayakan di teras beberapa jam lalu. Di dalam dadanya, rasa sakit itu tidak lagi terasa seperti sayatan tajam yang panas, melainkan pembekuan yang perlahan menjalar ke setiap jengkal kesadarannya. Kata-kata Arka masih menggantung di udara indranya, berputar-putar seperti gema yang tak mau hilang. Kalimat tentang harga sebuah pengkhianatan, pembersihan akses informasi, dan penyamaan dirinya dengan Elena telah menancapkan duri beracun yang merobek seluruh pengorbanan yang telah ia berikan sepanjang malam bersama Benyamin.​Lia masuk ke dalam kamar utaman

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 192. Hantu Masa Lalu. 

    ​Keheningan yang merayap di dalam mansion Dirgantara setelah kepergian Elena seolah-olah menjadi jenis racun baru yang lambat laun membekukan atmosfer di sekitarnya. Sinar matahari sore yang menembus jendela-jendela kaca patri besar tidak lagi terasa hangat, melainkan memancarkan pendaran pucat yang kaku di atas lantai marmer hitam. Di ruang kerja utamanya, Arka duduk sendirian di balik meja mahoni besarnya. Jam dinding antik terus berdetak, mengeluarkan suara konstan yang biasanya menenangkan bagi Arka, namun entah mengapa hari ini suara itu terdengar seperti ketukan palu hakim yang sedang menghitung sisa-sisa kewarasannya. Tangannya yang besar dan kokoh memegang sebuah gelas kristal berisi wiski amber, memutar-mutarnya perlahan hingga es batu di dalamnya berdenting parau. Matanya yang tajam bagai elang tidak tertuju pada dokumen-dokumen saham yang berserakan di depannya, melainkan menatap kosong ke sudut ruangan tempat kegelapan mulai merayap naik seiring terbenamnya matahari.​Kebe

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 119. Badai di Kamar.

    ​Langkah kaki Arka yang menghantam lantai marmer koridor lantai atas mansion itu terdengar seperti suara guntur yang mendahului badai besar. Ia tidak lagi menggunakan sisa-sisa kesopanan yang biasanya ia tunjukkan di depan para pelayan. Tangan kanannya mencengkeram pergelangan tangan Lia Sanjaya de

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 116. Pantauan CCTV. 

    ​Kegelapan di dalam ruang kendali keamanan pribadi Arka Dirgantara terasa begitu pekat, hanya menyisakan pendar biru pucat dari deretan layar monitor yang menempel di dinding. Ruangan ini adalah jantung dari sistem pengawasan mansion, sebuah tempat yang biasanya hanya dimasuki oleh tim keamanan eli

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 110. (++) Pelampiasan Frustasi. 

    ​Pintu kamar itu terkunci dengan bunyi klik yang bergema seperti vonis mati bagi kewarasan di dalam ruangan yang luas itu. Arka tidak melepaskan tatapannya dari Lia, matanya gelap, hampir hitam sepenuhnya karena pupil yang melebar akibat adrenalin dan gairah yang sudah meluap melampaui bendungan lo

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 108. Jebakan Lift. 

    ​Kesunyian di koridor lantai lima puluh Dirgantara Group terasa jauh lebih tegang dibandingkan pagi sebelumnya. Arka Dirgantara berjalan dengan langkah yang lebar dan kaku, masing-masing hentakan sepatu kulitnya di atas lantai granit seolah-olah mengumumkan pada seluruh gedung bahwa sang penguasa s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status