Share

Diremehkan Orang

Author: Rachel Bee
last update Last Updated: 2025-03-07 15:15:07

Carol berjalan terseok-seok menyusuri jalanan panjang menuju jalan raya menuju arah pusat kota Amberfest. Ia mengurungkan niatnya menginap di rumah peninggalan ibunya. Besok pagi, ia harus mencari pekerjaan untuk menopang kehidupannya.

Carol berdiri di tepi jalan besar, tiba-tiba sebuah taksi berhenti. Seorang wanita membuka jendela kaca, menatap Carol dengan tatapan sinis. "Kau pengemis?"

"Aku terlihat seperti pengemis?" Carol balik bertanya. Wajah Carol terlihat kusam mengerikan. Rambut acak-acakan, riasan wajah hancur, mata merah dan hidung yang berair. Mungkin karena itu, wanita asing itu bertanya padanya.

"Kau sedang menunggu taksi?" wanita itu kembali bertanya. Carol mengangguk pelan. "Ah, kalau begitu ikutlah denganku sampai jalan raya menuju kota. Kudengar di sini sangat sulit mencari kendaraan."

Carol masih terdiam di tempatnya. Ia masih mencerna ucapan wanita asing di depannya. Karena lama tak ada jawaban, wanita asing itu membuka pintu mobil lalu menarik Carol masuk. Ia juga memerintahkan supir taksi untuk memasukkan lima koper milik Carol ke bagasi.

"Namamu siapa?" tanya Carol sebelum berangkat. Wanita itu tersenyum lebar lalu menepuk-nepuk bahu Carol. "Aku takut dengan orang asing."

"Ah, namaku Anna. Aku tinggal di Amberfest seorang diri. Kebetulan aku lewat di tempat ini dan bertemu denganmu. Aku, hanya ingin menolongmu saja."

"Terima kasih. Omong-omong, bagaimana kau tahu kalau aku sedang membutuhkan tumpangan? Dan, memang benar wajahku seperti pengemis?"

Anna mengangguk. "Kau seperti pengemis. Aku yakin kau baru saja diusir."

"Kau adalah cenayang."

Perjalanan ternyata cukup jauh dan keduanya tiba di sebuah rumah kecil di pinggiran kota Amberfest yang padat. Selama perjalanan Carol tertidur, ia cukup lelah untuk sekedar bercakap-cakap dengan Anna.

Setelah tiba, Anna membangunkan Carol yang masih terlelap. Saat wanita itu bangun, matanya terbelalak. Pemandangan di sekelilingnya tampak asing.

"Kita sampai," ujar Anna tenang. Ia menyuruh supir taksi menurunkan koper lalu mengajak Carol untuk turun.

"Ini dimana?" Carol belum sepenuhnya sadar. Ia masih terbawa mimpi lelapnya tadi.

"Ini rumahku, kau menginap saja di sini. Besok, kau bisa mencari tempat tinggal kalau kau mau," usul Anna yang turun lebih dulu dari taksi. Carol mengikutinya dari belakang.

Carol menyeret masuk kopernya ke dalam rumah Anna yang sederhana. Rumah itu tampak sepi dari luar. Tak ada hiruk pikuk di dalamnya. Lampu depan belum dinyalakan dan saat mereka masuk, denting jam menyapa mereka dengan suaranya yang damai.

"Tempat tinggal yang nyaman," gumam Carol.

Carol mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ada dua lukisan yang terlihat usang saat membuka pintu depan. Anna ikut memandang ke arah lukisan itu. "Ah, itu lukisan kakek dan nenekku saat masih muda. Aku tinggal sendiri karena keluargaku telah tiada."

"Maaf, aku—"

"Kau boleh tinggal denganku selama mencari pekerjaan di sini. Ah, dulu kau bekerja sebagai apa? Mungkin aku bisa bantu carikan." Anna terlihat begitu tulus saat menawarkan bantuan. Tadinya Carol berpikir jika dirinya adalah orang jahat tapi ternyata tidak.

Carol menghela napas kasarnya. "Konsultan bisnis di Deluxe Corp, anak perusahaan Parker Group. Aku dipecat setelah pulang ke rumah dan—"

Carol menarik napas panjang lalu menghelanya. Sementara Anna mengerutkan dahinya bingung. "—diceraikan."

"Tepat sekali dugaanku. Kau punya masalah pribadi yang cukup pelik. Tidurlah di sini, besok aku bantu cari pekerjaan di sebuah restoran untuk sementara."

"Kau mau membantuku?" Anna mengangguk membuat Carol tersenyum. "Terima kasih."

"Aku hanya bisa membantumu di restoran ayam. Selanjutnya, kau bisa cari penggantinya jika keberatan."

"Tidak, aku butuh uang untuk kebutuhanku. Jadi, tak mengapa jadi pelayan."

"Baiklah. Tidurlah, besok aku bangunkan pagi hari."

***

Keesokan harinya, Carol melamar kerja di sebuah restoran ayam yang terkenal di pinggiran kota Amberfest sebagai seorang pelayan. Pendidikannya yang tinggi ternyata harus kalah dengan kekuasaan yang dimiliki oleh keluarga Parker. Setelah diceraikan dan diusir, ia juga dipecat dari pekerjaannya. Bahkan, namanya diblacklist dari seluruh perusahaan besar di negara ini.

Saat jam istirahat, Carol menyempatkan diri membuka email lowongan pekerjaan yang dikirimkannya ke beberapa perusahaan terkenal. Lagi-lagi ia menghela napas kasarnya kala mendapati penolakan dari perusahaan itu. Padahal, ia sangat mengenal pemimpin perusahaan mereka. Bahkan pernah bertemu dengannya berkali-kali.

"Kenapa mereka sombong sekali? Apa mereka pikir aku penipu?" umpat Carol mendesis kesal.

Carol memasukkan lagi ponselnya ke dalam loker lalu kembali mengerjakan pekerjaannya.

Lantai satu restoran telah penuh dengan pelanggan. Suara anak kecil dan tumpukan piring sudah menantinya sejak ia keluar dari ruangan istirahat. Carol menarik napas sejenak, ketegangan mulai terasa dari ujung rambutnya. Keringat dingin pun mulai menetes dari ujung dahinya. Semua tidak ada yang tahu jika dirinya memiliki gangguan kecemasan yang cukup tinggi.

"Carol, tolong bersihkan meja nomor lima!" teriak Dania dari seberang meja. Carol mengangguk berjalan menuju meja nomor lima.

"Ternyata, ini pekerjaanmu sekarang?" Carol menoleh ke belakang merasa familiar dengan suara yang tadi menyapanya. "Pelayan restoran ayam? Wow, sungguh kejatuhan yang luar biasa."

'Sial!'

Carol membersihkan meja tersebut lalu mengambil buku menu untuk mereka tanpa senyum dan basa-basi. Hingga lima menit berlalu, tak ada juga yang dipesannya, membuat Carol mendengus kesal.

"Kami tak jadi memesan. Sayang, kita pulang." wanita yang dikenalnya itu membuang buku menu tepat di depan Carol. Membuat wanita itu menggeram marah.

"Kau! Tidak punya sopan santun!" teriak Carol yang sialnya diketahui oleh manajer restoran.

"Oh, maaf."

"Carol, kau dipecat!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penguasa Hati Tuan Arogan    Skandal Henry

    "Henry, kau mau ke mana? Hari ini ada pemeriksaan kehamilan. Bulan kemarin, kau berjanji akan ikut denganku." Lucy berdiri sambil merentangkan tangannya mencegah Henry pergi melangkahkan kakinya ke luar rumah. Pria dingin itu hanya diam, matanya menelisik setiap sudut tubuh Lucy. Ini baru pertama kalinya ia terlihat misterius. Lucy memang nampak berbeda, ia mengenakan pakaian rapi dengan riasan tipis namun terlihat cantik. "Aku akan pergi ke kantor. Ada rapat pemegang saham," ujarnya dingin. Henry menepis tangan Lucy dan hampir membuat wanita itu terjatuh. Beruntung Lucy berpegangan pada sisi dinding di sebelahnya. "Kau, bisa pergi sendiri." Henry pergi begitu saja tanpa menghiraukan keadaan Lucy. Wanita itu menangis tersedu-sedu melihat kepergian suaminya. Tanpa menoleh, ataupun sekedar kata maaf. 'Apa mungkin yang dikatakan oleh Hailey adalah fakta?'"Nyonya, nyonya tidak apa-apa?" tanya salah satu asisten Lucy membuyarkan lamunannya tentang Henry. Lucy menggelengkan kepalanya.

  • Penguasa Hati Tuan Arogan    Rose dan Henry berkhianat?

    Damian lengah. Setelah sibuk seharian, ia baru tersadar jika istri dan adik tirinya tak menampakkan wajah sama sekali di hadapannya. Erik sempat berdebat dengannya lalu pergi tanpa pamit entah kemana. Ponselnya ditaruh di atas meja, itu yang membuat Damian merasa curiga. Menjelang malam, Erik dan Carol pulang ke rumah dengan membawa dua tas besar pakaian dan sepatu bermerk mahal. Keduanya berjalan sambil terus tertawa. Entah apa yang tengah mereka bicarakan. Hanya saja, Damian memandang keduanya dengan tatapan tak nyaman. "Dari mana kalian berdua?" tanya Damian dengan nada dingin. Erik dan Carol terdiam menghentikan langkahnya, menatap bersamaan ke arah Damian yang tengah memainkan arloji di tangan kanannya. "Kau lupa membawa ponselmu atau—" "Ponselku ada." Carol menunjukkan ponsel di tangannya yang menyala. "Ada apa?" "Kenapa kau tak menghubungiku?" "Aku lupa. Terlalu bersemangat berjalan-jalan dengan adikku yang sedang bersedih. Be

  • Penguasa Hati Tuan Arogan    Keluarga Dustin

    Erik mengadu pada Carol tentang keputusan Damian yang menurunkan jabatannya hari ini. Keputusan yang diambil secara tergesa-gesa tanpa pertimbangan matang, pikirnya. Bahkan, Damian juga menyerahkan leher Erik pada Henry secara cuma-cuma dengan menjadikannya sebagai wakil direktur. Bukankah itu sama saja dengan membunuh dirinya secara langsung? Carol juga tak habis pikir dengan keputusan yang telah diambil oleh Damian. Ia tak bisa terus berpangku tangan, apalagi ini menyangkut nyawa adik tirinya yang sangat berharga. Untuk itu ia memutuskan kembali ke Dustin House, membicarakan langkah selanjutnya dengan keluarga besarnya. Selama ini, mungkin Damian akan mengira jika Carol dan Erik adalah sisa dari keruntuhan keluarga Dustin di masa lalu. Ternyata, tidak. Mereka hanya mengubur diri agar tak terlibat langsung dengan perkelahian di luar sana. Bagaimanapun juga, mereka akan mendukung Carol dan Erik diam-diam tanpa sepengetahuan Damian. "Kau menyembunyikan ini dariku, Carol?" tanya Erik

  • Penguasa Hati Tuan Arogan    Rencana Gila Damian

    Kebencian Henry pada Erik telah mencapai titik yang sulit dipadamkan. Rasa ingin membalas dendam membuatnya nekat melakukan apa saja asalkan Erik jatuh dan hancur. Tak peduli apakah itu sia-sia atau tidak, dirinya ingin sekali melihat Erik tak berdaya di depan matanya. Bukankah itu sepadan dengan kematian ayahnya yang sia-sia?Selama satu minggu ke belakang, Henry mengumpulkan para petinggi perusahaan yang sebelumnya pernah mendukungnya menaiki jabatan sebagai direktur utama di Harold Times. Mereka adalah orang-orangnya yang dahulu menentang Erik dan kini kembali menentang Erik dengan alasan yang cukup fatal. Erik dipanggil ke ruang rapat untuk mempertanggung jawabkan kepemimpinannya yang baru berusia tiga bulan. Dalam kurun waktu tersebut, Erik telah berkali-kali berbuat kesalahan yang membuat Harold Times hampir kehilangan kepercayaan publik. Menurut mereka, Erik tidak pantas duduk di atas kursi kepemimpinan karena kesalahan itu tak dapat ditoleransi. Mereka memaksa Erik untuk turu

  • Penguasa Hati Tuan Arogan    Aku Mengawasimu

    Lucy bersiap-siap menemui Carol siang ini. Setelah mengirimkan pesan pada wanita itu, ia bergegas mencari pakaian yang tak mencolok agar Henry tak menemukannya. Carol pun melakukan hal yang sama. Pengawal pribadinya yang selalu setia di sampingnya, bahkan tak sadar jika istri tuan besarnya tengah menyamar. Mereka hampir kehilangan jejak, beruntungnya nyonya mereka tak pernah menghilangkan aroma parfumnya yang khas. "Lihat dari jauh, jangan dekati. Kupikir itu adalah sebuah rahasia antar wanita," bisik salah satu pengawal. "Baiklah, aku menunggunya di sini." Carol masuk ke sebuah ruang pertemuan yang sebelumnya ia sewa khusus untuk bertemu dengan Lucy. Ini adalah ruangan khusus di salah satu hotel berbintang yang bisa kapanpun disewa tanpa khawatir akan dipakai oleh orang lain. Segala sesuatu di ruangan itu telah diatur sedemikian rupa sesuai pemilik sewanya. Begitu melihat Carol telah masuk ke dalam ruangan itu, Lucy pun ikut masuk. Ia menutup pintunya lalu duduk dengan wajah puca

  • Penguasa Hati Tuan Arogan    Mengawasi Henry

    Brakk!!Dada Erik berguncang keras. Rasa sakit mendera tubuhnya, seperti tengah menghadapi ledakan dahsyat di sekitarnya. Matanya yang tadi sempat terpejam sejenak tiba-tiba terbuka. Ia merasa perlu mencari tahu siapa yang telah membuatnya tak nyaman tadi. "Kau tidak apa-apa?" Damian masuk tanpa malu dari luar ruangan. Suara keras tadi pagi berasal dari pintu yang terbuka lebar. Rasanya ingin sekali memukul kepala pria itu sekarang juga. "Kau ingin membuatku mati muda dengan suara keras pintu yang kau rusak?" Erik mencebikkan bibirnya. Damian masih bisa bersikap tenang saat ini. Tak peduli dengan gerutuan yang diciptakan oleh Erik. "Ada perlu apa kau menemuiku dengan cara aneh sperti itu?" "Aku mendengar suaramu dari luar. Kupikir kau tengah diganggu oleh seseorang. Ternyata tidak. Kau bermimpi buruk? Cepatlah pulang, jangan membuat Carol khawatir."Damian hendak pergi meninggalkan Erik. Namun tangan pria itu menariknya kembali. "Aku bermimpi dibunuh oleh orang itu. Dia membawa se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status