共有

Mainan Baru

作者: Erumanstory
last update 公開日: 2026-07-18 13:11:22

Dia pun berjalan perlahan ke arah Dewi. Bisma tidak benar-benar sampai ke tempat Dewi berada. Dia memilih berdiri mengawasi di dekat pohon mangga yang letaknya tiga meter dari gundukan tanah itu, dan memberikan Dewi waktu untuk melakukan apa yang dia inginkan. 

Tujuan utama Dewi pulang memang bukan hanya untuk bertemu ibunya, tetapi juga mengunjungi kuburan sang ayah. Mendiang ayah Dewi memang sengaja dimakamkan di belakang rumah, tidak terlalu jauh dari kamar mandi berada. 

Makam itu hanya berupa gundukan tanah, sebongkah batu sebagai nisan, dan batu-batu kecil ditata sedemikian rupa mengelilingi gundukan tanah tempat mendiang ayahnya dikubur sebagai penanda. 

Tadi, saat dia selesai di kamar mandi, dan berdiam diri cukup lama di sana, Dewi memutuskan mengunjungi makam ayahnya, dan duduk di sana. Wanita itu kemudian memeluk gundukan tanah kering itu dengan penuh kasih sayang. Seolah dia sedang benar-benar memeluk sang ayah. 

"Ayah, maafin Dewi, ya. Dewi belum bisa membahagiakan Ibu seperti yang pernah Dewi janjikan ke ayah. Maaf, Dewi masih banyak berbohong sama ibu. Maaf karena Dewi terpaksa harus meninggalkan ibu sendirian di rumah kita."

Dewi masih mengingat dengan jelas bagaimana ibunya terlihat bahagia saat dirinya menikah dengan Heru. Seolah itu merupakan sebuah keajaiban. Mengingat selama ini kehidupan mereka sangat sederhana, ibunya jelas berharap hidupnya akan lebih baik setelah menikah dengan Heru. 

Padahal yang terjadi tidak seindah yang ibunya pikirkan. Selama menikah dengan Heru, Dewi justru mendapatkan perlakuan kasar, imbas dari pemberontakan yang dia lakukan. 

Mungkin semua akan lebih baik kalau Dewi bisa menerima kehadiran Heru dalam hidupnya, sayangnya dia tidak mampu membohongi diri. Dewi bukanlah wanita yang gila harta. Dia ingin menikah dengan lelaki yang memang diinginkannya, bukan dipaksa. 

Dewi tanpa sengaja mendengar langkah kaki mendekat. Dia cepat-cepat menghapus air matanya. Dia takut itu Hanum, dan mempertanyakan kesedihan yang dia rasakan karena apa. 

Dewi tidak mau ibunya terlalu banyak berpikir. Takut kondisi kesehatannya sampai bermasalah. Apalagi sekarang mereka tidak tinggal satu rumah. 

"Maaf, Nyonya. Tuan Heru baru saja menghubungi saya. Waktu Anda untuk mengunjungi ibu Anda sudah selesai. Mari kita kembali ke rumah," ajak Bisma dengan suara rendah. 

Dewi lega yang menghampirinya bukan ibunya, tetapi dia sekaligus jengkel, karena Bisma sudah mengajaknya pulang. Padahal dia baru saja datang. 

"Bilang pada Pak Tua itu, aku masih ingin di sini." 

"Maaf, Nyonya. Tidak bisa. Saya sarankan Nyonya patuh, supaya Tuan Heru tidak memutus akses Nyonya untuk sering pulang ke sini."

Dewi mendengus kesal. 

"Bisa tidak kamu beralasan apa gitu? Kenapa kamu menurut sekali pada Si Tua Bangka itu?" tanya Dewi ketus, dia berdiri dari posisinya semula, lalu menepuk-nepuk debu yang menempel di baju dan celananya. 

"Karena beliau bos saya, jadi saya harus patuh," ucap Bisma datar. Dia menatap Dewi sekilas, lalu berbalik badan, dan berjalan menuju rumah Hanum. 

'Bisma ini, kenapa ngeselin banget, sih? Masih mending Bimo. Dia kadang mau kasih aku kesempatan. Walaupun tetap terbatas. Apa aku kerjain aja? Kayaknya seru ngisengin dia.' batin Dewi yang akhirnya mengikuti langkah Bisma yang sudah lumayan jauh. 

"Tunggu!" teriaknya, dan itu sukses menghentikan langkah Bisma. 

Lelaki itu menoleh ke arah Dewi, dan dia berusaha berjalan lebih cepat ke arah Bisma. 

Tanpa aba-aba, Dewi langsung merangkul lengan Bisma. Membuat lelaki itu terdiam membeku. 

"Oke, aku setuju kita pulang sekarang, tapi... temenin aku jalan-jalan dulu, ya?" pintanya dengan kemanjaan yang dibuat-buat. 

"Nanti saya bicarakan dulu dengan Tuan Heru. Sekarang lebih baik Nyonya lepaskan pelukan Nyonya di lengan saya. Kalau ada yang melihat, akan terjadi salah paham."

Bisma berusaha menyingkirkan tangan Dewi, tetapi wanita itu semakin mengeratkan dekapannya. 

"Kenapa takut? Kita ini seumuran, Bisma. Mana mungkin orang-orang akan menuduh kita macam-macam? Kamu kan bodyguard-ku, Bisma. Apa yang aneh kalau kita seperti ini?" protes Dewi. 

Bisma tetap tegas melepaskan tangan Dewi, dan kali ini tidak peduli meski membuat wanita itu tersentak sedikit ke belakang. 

Wajah pria itu sedikit menggelap saat menatap balik Dewi.

"Nyonya adalah istri Tuan saya. Mohon pahami status Anda. Jika ada laporan yang sampai ke Tuan, saya bisa dipecat. Saya masih ingin mempertahankan pekerjaan ini. Saya harap Nyonya mengerti. Jangan bertingkah aneh seperti tadi." 

Setelah mengatakan itu, Bisma berjalan mendahului Dewi, sementara Dewi mendengus kesal melihat sikap Bisma. Meski begitu, entah mengapa sikap antipati Bisma justru mengundang rasa penasarannya. 

'Bertingkah normal? Tidak akan. Aku akan membuatmu membantuku keluar dari rumah neraka si tua bangka itu,' batinnya, lalu melanjutkan langkah, mengejar Bisma yang sudah masuk ke dalam rumah ibunya. 

"Ibu, maaf ya, Dewi harus pulang sekarang. Mas Heru katanya kangen. Belakangan ini dia memang manja banget sama aku," ucap Dewi mengarang cerita. Dia memeluk ibunya untuk berpamitan.

Dewi dan Bisma sudah berada di halaman rumah bersama Hanum, tidak jauh dari mobil yang mengantarkan mereka.

"Ya sudah, tidak apa-apa, Wi. Kapan-kapan kamu kan bisa main lagi ke sini." Hanum berkata dengan lembut, sambil memeluk erat putrinya. 

Setelah berpamitan, mereka pun mendekati mobil itu. Bisma dengan sigap membukakan pintu penumpang.

"Aku mau kamu duduk di bangku penumpang bersamaku," ucap Dewi sebelum masuk ke dalam mobil. 

"Nyonya," nada Bisma berubah menegur.

"Kalau kamu nggak mau, aku juga nggak mau pulang," potong Dewi. 

Bisma menghela napas, dan berakhir dengan menuruti permintaan Dewi. Membuat Dewi tersenyum penuh kemenangan. 

"Pak Joko, mampir ke rumah makan favorit saya, ya." Dewi mengajukan perintah pada Joko. 

"Baik, Nyonya," sahut Joko sambil mengangguk patuh. 

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Penjaga Hati Sang Nyonya   Pesona Sang Dewi

    Dewi, Bisma, dan Joko sudah berada di depan sebuah rumah makan dengan olahan bebek sebagai menu utamanya. Dewi sering meminta ke sana pada Joko apabila dia tidak diantar oleh Heru. Bagi Dewi, tempat makan itu memiliki kenangan bersama sang ayah. Wanita itu tidak makan sendiri. Seperti biasanya, Dewi mengajak bodyguard dan sopirnya makan bersama. Acara makan selesai, Dewi meminta Joko mengantarnya ke pusat oleh-oleh. Tentu saja ia beralasan untuk membelikan Heru oleh-oleh setelah pergi seharian, tetapi sejatinya dia ingin menyelundupkan sedikit makanan untuk di kamar. Saat keluar dari pusat oleh-oleh, hujan turun. Memang sejak tadi cuaca tidak begitu cerah. Dewi berniat berlari kecil menuju parkiran, sebelum tiba-tiba Bisma menghampirinya, dan menggunakan jasnya untuk melindungi Dewi dari tetesan hujan.Jantung Dewi mendadak berhenti sejenak. Dia menoleh dengan heran ke arah Bisma, sementara bodyguard-nya itu menatap lurus ke depan. Tidak bisa dipungkiri, pesona Bisma tidak kalah da

  • Penjaga Hati Sang Nyonya   Mainan Baru

    Dia pun berjalan perlahan ke arah Dewi. Bisma tidak benar-benar sampai ke tempat Dewi berada. Dia memilih berdiri mengawasi di dekat pohon mangga yang letaknya tiga meter dari gundukan tanah itu, dan memberikan Dewi waktu untuk melakukan apa yang dia inginkan. Tujuan utama Dewi pulang memang bukan hanya untuk bertemu ibunya, tetapi juga mengunjungi kuburan sang ayah. Mendiang ayah Dewi memang sengaja dimakamkan di belakang rumah, tidak terlalu jauh dari kamar mandi berada. Makam itu hanya berupa gundukan tanah, sebongkah batu sebagai nisan, dan batu-batu kecil ditata sedemikian rupa mengelilingi gundukan tanah tempat mendiang ayahnya dikubur sebagai penanda. Tadi, saat dia selesai di kamar mandi, dan berdiam diri cukup lama di sana, Dewi memutuskan mengunjungi makam ayahnya, dan duduk di sana. Wanita itu kemudian memeluk gundukan tanah kering itu dengan penuh kasih sayang. Seolah dia sedang benar-benar memeluk sang ayah. "Ayah, maafin Dewi, ya. Dewi belum bisa membahagiakan Ibu se

  • Penjaga Hati Sang Nyonya   Mengunjungi Ibu

    "Hari ini aku ingin mengunjungi ibuku. Antarkan aku ke sana."Tanpa basa-basi, Dewi langsung menyampaikan apa keinginannya hari itu. Dia sengaja meminta Bisma untuk menemuinya pagi-pagi sekali melalui Sandara. Dia memang diberi izin oleh Heru untuk mengunjungi ibunya kapanpun dia mau. Tentu saja itu bukan kebebasan sepenuhnya, karena dia harus tetap mematuhi aturan yang Heru buat. Heri memberikan izin semata-mata bukan karena dia peduli pada ibu Dewi, tetapi dia ingin orang-orang di sekitar Dewi beranggapan bahwa dirinya merupakan sosok suami yang baik, dan penuh perhatian pada keluarga sang istri. "Apa nyonya sudah izin pada Tuan Heru?" tanya Bisma memastikan. Dewi mengerutkan keningnya. "Terus apa gunanya kamu? Kamu tinggal laporan saja pada Tua Bangka itu, dia tidak akan melarang selama kamu menemaniku. Bodyguard-ku sebelumnya juga melakukan hal yang sama."Untuk sekarang, percuma mengakrabkan diri dengan Bisma. Bodyguard-nya itu sangat kaku, dan hanya mau mendengarkan perintah

  • Penjaga Hati Sang Nyonya   Sulit Dikendalikan

    Sejenak, Dewi seketika terpukau dengan pesona pemilik suara itu. Membuat Dewi tidak berkedip dalam waktu yang lumayan lama. Lelaki yang mengaku bernama Bisma itu memiliki postur tubuh yang proporsional. Wajahnya sangat tampan, rahangnya tegas, hidungnya mancung, dengan kulit tan yang menambah kesan maskulin.Dari penampilannya, Dewi menebak usianya juga jauh lebih muda dari Bimo maupun Heru. Mungkin masih seumuran Dewi sendiri."Salam kenal. Saya Dewi."Dewi memasang senyum, beranjak dari duduknya, menghampiri Bisma, dan mengulurkan tangannya. "Semoga kedepannya kita bisa bekerjasama dengan baik, Bisma," ucapnya lembut, dengan senyum penuh arti ke arah bodyguard-nya itu. Seperti berurusan dengan Bimo dulu, dia harus cerdik dalam menghadapi bodyguard yang akan mengawasinya setiap saat itu.Bisma tidak membalas jabat tangan Dewi. Lelaki itu justru menatap bos wanitanya itu, melirik dari dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dewi, yang merasa tidak akan mendapat balasan jabat tangan da

  • Penjaga Hati Sang Nyonya   Tak Tersentuh

    "Sampai kapanpun, kamu tidak akan bisa lepas dariku, Dewi. Sekali lagi kamu berani kabur, aku sendiri yang akan menghabisi nyawa ibumu yang miskin itu!"Pria tua itu mengancam dengan keras, matanya menatap tajam wanita di hadapannya. Tapi, wanita yang bernama Dewi itu tidak memperlihatkan mimik ketakutan.Saat ibunya sudah disebut untuk mengancamnya, Dewi terpaksa harus menahan diri. Kalau dia terus melawan, bukan tidak mungkin pria kejam itu tidak sungguh-sungguh melakukan ancamannya.Jika saja bukan demi ibunya, sebenarnya tangan Dewi sudah gatal untuk menyerang Heru membabi-buta untuk melampiaskan semua rasa benci, kecewa, dan terhina yang dia rasakan saat ini.Belum lagi, sekarang Dewi merasa tubuhnya seperti remuk. Penampilannya lusuh karena sudah tiga hari dia disekap di gudang. Baju piyama yang dikenakannya di bagian punggung memiliki banyak noda darah yang sudah mengering. Hari ini, Heru baru melepaskannya sejak mengurungnya tiga hari di gudang. Itu adalah hukuman karena beru

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status