MasukDia pun berjalan perlahan ke arah Dewi. Bisma tidak benar-benar sampai ke tempat Dewi berada. Dia memilih berdiri mengawasi di dekat pohon mangga yang letaknya tiga meter dari gundukan tanah itu, dan memberikan Dewi waktu untuk melakukan apa yang dia inginkan.
Tujuan utama Dewi pulang memang bukan hanya untuk bertemu ibunya, tetapi juga mengunjungi kuburan sang ayah. Mendiang ayah Dewi memang sengaja dimakamkan di belakang rumah, tidak terlalu jauh dari kamar mandi berada. Makam itu hanya berupa gundukan tanah, sebongkah batu sebagai nisan, dan batu-batu kecil ditata sedemikian rupa mengelilingi gundukan tanah tempat mendiang ayahnya dikubur sebagai penanda. Tadi, saat dia selesai di kamar mandi, dan berdiam diri cukup lama di sana, Dewi memutuskan mengunjungi makam ayahnya, dan duduk di sana. Wanita itu kemudian memeluk gundukan tanah kering itu dengan penuh kasih sayang. Seolah dia sedang benar-benar memeluk sang ayah. "Ayah, maafin Dewi, ya. Dewi belum bisa membahagiakan Ibu seperti yang pernah Dewi janjikan ke ayah. Maaf, Dewi masih banyak berbohong sama ibu. Maaf karena Dewi terpaksa harus meninggalkan ibu sendirian di rumah kita." Dewi masih mengingat dengan jelas bagaimana ibunya terlihat bahagia saat dirinya menikah dengan Heru. Seolah itu merupakan sebuah keajaiban. Mengingat selama ini kehidupan mereka sangat sederhana, ibunya jelas berharap hidupnya akan lebih baik setelah menikah dengan Heru. Padahal yang terjadi tidak seindah yang ibunya pikirkan. Selama menikah dengan Heru, Dewi justru mendapatkan perlakuan kasar, imbas dari pemberontakan yang dia lakukan. Mungkin semua akan lebih baik kalau Dewi bisa menerima kehadiran Heru dalam hidupnya, sayangnya dia tidak mampu membohongi diri. Dewi bukanlah wanita yang gila harta. Dia ingin menikah dengan lelaki yang memang diinginkannya, bukan dipaksa. Dewi tanpa sengaja mendengar langkah kaki mendekat. Dia cepat-cepat menghapus air matanya. Dia takut itu Hanum, dan mempertanyakan kesedihan yang dia rasakan karena apa. Dewi tidak mau ibunya terlalu banyak berpikir. Takut kondisi kesehatannya sampai bermasalah. Apalagi sekarang mereka tidak tinggal satu rumah. "Maaf, Nyonya. Tuan Heru baru saja menghubungi saya. Waktu Anda untuk mengunjungi ibu Anda sudah selesai. Mari kita kembali ke rumah," ajak Bisma dengan suara rendah. Dewi lega yang menghampirinya bukan ibunya, tetapi dia sekaligus jengkel, karena Bisma sudah mengajaknya pulang. Padahal dia baru saja datang. "Bilang pada Pak Tua itu, aku masih ingin di sini." "Maaf, Nyonya. Tidak bisa. Saya sarankan Nyonya patuh, supaya Tuan Heru tidak memutus akses Nyonya untuk sering pulang ke sini." Dewi mendengus kesal. "Bisa tidak kamu beralasan apa gitu? Kenapa kamu menurut sekali pada Si Tua Bangka itu?" tanya Dewi ketus, dia berdiri dari posisinya semula, lalu menepuk-nepuk debu yang menempel di baju dan celananya. "Karena beliau bos saya, jadi saya harus patuh," ucap Bisma datar. Dia menatap Dewi sekilas, lalu berbalik badan, dan berjalan menuju rumah Hanum. 'Bisma ini, kenapa ngeselin banget, sih? Masih mending Bimo. Dia kadang mau kasih aku kesempatan. Walaupun tetap terbatas. Apa aku kerjain aja? Kayaknya seru ngisengin dia.' batin Dewi yang akhirnya mengikuti langkah Bisma yang sudah lumayan jauh. "Tunggu!" teriaknya, dan itu sukses menghentikan langkah Bisma. Lelaki itu menoleh ke arah Dewi, dan dia berusaha berjalan lebih cepat ke arah Bisma. Tanpa aba-aba, Dewi langsung merangkul lengan Bisma. Membuat lelaki itu terdiam membeku. "Oke, aku setuju kita pulang sekarang, tapi... temenin aku jalan-jalan dulu, ya?" pintanya dengan kemanjaan yang dibuat-buat. "Nanti saya bicarakan dulu dengan Tuan Heru. Sekarang lebih baik Nyonya lepaskan pelukan Nyonya di lengan saya. Kalau ada yang melihat, akan terjadi salah paham." Bisma berusaha menyingkirkan tangan Dewi, tetapi wanita itu semakin mengeratkan dekapannya. "Kenapa takut? Kita ini seumuran, Bisma. Mana mungkin orang-orang akan menuduh kita macam-macam? Kamu kan bodyguard-ku, Bisma. Apa yang aneh kalau kita seperti ini?" protes Dewi. Bisma tetap tegas melepaskan tangan Dewi, dan kali ini tidak peduli meski membuat wanita itu tersentak sedikit ke belakang. Wajah pria itu sedikit menggelap saat menatap balik Dewi. "Nyonya adalah istri Tuan saya. Mohon pahami status Anda. Jika ada laporan yang sampai ke Tuan, saya bisa dipecat. Saya masih ingin mempertahankan pekerjaan ini. Saya harap Nyonya mengerti. Jangan bertingkah aneh seperti tadi." Setelah mengatakan itu, Bisma berjalan mendahului Dewi, sementara Dewi mendengus kesal melihat sikap Bisma. Meski begitu, entah mengapa sikap antipati Bisma justru mengundang rasa penasarannya. 'Bertingkah normal? Tidak akan. Aku akan membuatmu membantuku keluar dari rumah neraka si tua bangka itu,' batinnya, lalu melanjutkan langkah, mengejar Bisma yang sudah masuk ke dalam rumah ibunya. "Ibu, maaf ya, Dewi harus pulang sekarang. Mas Heru katanya kangen. Belakangan ini dia memang manja banget sama aku," ucap Dewi mengarang cerita. Dia memeluk ibunya untuk berpamitan. Dewi dan Bisma sudah berada di halaman rumah bersama Hanum, tidak jauh dari mobil yang mengantarkan mereka. "Ya sudah, tidak apa-apa, Wi. Kapan-kapan kamu kan bisa main lagi ke sini." Hanum berkata dengan lembut, sambil memeluk erat putrinya. Setelah berpamitan, mereka pun mendekati mobil itu. Bisma dengan sigap membukakan pintu penumpang. "Aku mau kamu duduk di bangku penumpang bersamaku," ucap Dewi sebelum masuk ke dalam mobil. "Nyonya," nada Bisma berubah menegur. "Kalau kamu nggak mau, aku juga nggak mau pulang," potong Dewi. Bisma menghela napas, dan berakhir dengan menuruti permintaan Dewi. Membuat Dewi tersenyum penuh kemenangan. "Pak Joko, mampir ke rumah makan favorit saya, ya." Dewi mengajukan perintah pada Joko. "Baik, Nyonya," sahut Joko sambil mengangguk patuh.Ballroom utama di hotel bintang lima paling megah di pusat kota malam itu disulap menjadi tempat resepsi yang amat fantastis. Rangkaian bunga impor berwarna putih, krem, dan aksen emas menghiasi setiap sudut ruangan, memancarkan aroma harum yang lembut dan segar. Lampu-lampu kristal berukuran raksasa tergantung megah di langit-langit ruangan, memantulkan kilauan cahaya keemasan yang mewah di atas lantai marmer yang mengilap.Ratusan tamu undangan dari kalangan elit berkumpul di dalam ruangan tersebut. Tampak hadir para pengusaha papan atas, pejabat pemerintah, jajaran direksi perbankan, hingga relasi bisnis internasional. Di luar aula utama, puluhan awak media dan wartawan sibuk mengabadikan momen pernikahan yang disebut-sebut sebagai pesta paling megah dan berpengaruh tahun ini.Di dalam kamar rias utama yang luas dan eksklusif, Dewi berdiri anggun di depan cermin tinggi berbingkai ukiran emas. Dia mengenakan gaun pengantin berwarna putih bersih yang dirancang khusus oleh perancang
Empat bulan berlalu sejak seluruh urusan rekayasa kematian Heru dan renovasi rumah selesai dilakukan. Kehidupan Dewi sudah benar-benar kembali normal. Setiap hari, Dewi disibukkan dengan berbagai kegiatan mengelola perusahaan keluarga bersama Kakek Sudrajat. Rasa cemas dan ketakutan yang dulu kerap membayangi pikirannya kini telah sepenuhnya menghilang.Suasana sore itu di kediaman Kakek Sudrajat sangat tenang. Angin sejuk dari area perbukitan berembus pelan menerpa dedaunan di halaman depan. Dewi duduk di teras samping rumah bersama Kakek Sudrajat dan ibunya, Hanum. Di atas meja kayu, tersaji cangkir teh hangat dan beberapa piring kue tradisional."Laporan keuangan kuartal ini sangat bagus, Dewi," kata Kakek Sudrajat seraya meletakkan cangkir tehnya ke atas tatakan. "Para pemegang saham sangat puas dengan keputusanmu memotong jalur distribusi yang tidak efisien bulan lalu."Dewi tersenyum tipis. "Semua berkat bimbingan Kakek. Dewi hanya menerapkan apa yang Kakek ajarkan.""Jangan
Beberapa minggu setelah kabar kecelakaan Heru di dasar jurang menghebohkan media nasional, seluruh urusan administrasi dan hukum akhirnya selesai. Di dalam ruang kerja serba kayu jati milik pengacara senior keluarga Sudrajat, beberapa lembar berkas resmi tertata rapi di atas meja.Dewi duduk menatap lembaran-lembaran kertas itu dengan pandangan tenang. Di bagian atas salah satu dokumen, tertera keputusan resmi dari pengadilan dan catatan sipil yang menyatakan bahwa status hukum pernikahan antara Heru dan Dewi telah berakhir karena kematian Heru. Secara hukum negara, Dewi kini resmi menyandang status sebagai seorang janda."Semua urusan aset yang tersisa, pembekuan rekening Heru, dan pengalihan kepemilikan sudah selesai dibersihkan oleh tim kami," kata pengacara senior itu seraya menyodorkan sebuah pulpen hitam ke hadapan Dewi. "Heru tidak memiliki ahli waris lain yang sah. Berkas ini memastikan bahwa sisa harta dan kekayaan yang masih bersih sepenuhnya menjadi milik Anda. Anda juga
Suara mesin kendaraan yang menderu pelan terdengar masuk ke area halaman belakang yang tersembunyi. Bisma dan Dewi menaiki tangga beton perlahan, meninggalkan bunker bawah tanah yang pengap dan berbau darah. Di atas permukaan, udara malam yang dingin menyapu wajah mereka, membawa rasa segar yang sudah lama tidak mereka rasakan.Sebuah minibus hitam tanpa pelat nomor berhenti tepat di dekat pintu keluar bunker, diiringi dua mobil sedan berwarna gelap. Pintu minibus bergeser terbuka secara halus. Dari dalamnya, turun enam orang pria bersetelan serba hitam tanpa atribut. Mereka mengenakan sarung tangan lateks, sepatu tertutup rapat, dan membawa beberapa tas perlengkapan dekontaminasi berukuran besar.Merekalah tim ahli dari klan Sudrajat—kelompok profesional yang secara khusus terlatih untuk menangani situasi-situasi kritis, pembersihan jejak, dan rekayasa skenario tanpa meninggalkan kecurigaan sedikit pun.Pria yang menjadi pemimpin tim melangkah mendekati Dewi dan Bisma. Dia menundu
Trigger warning! Buat kalian yang tidak suka membaca adegan kekerasan disarankan melewati bab ini! Besi pipa tebal di tangan Bisma terasa begitu dingin, tetapi telapak tangannya memegang batang besi itu dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Bau amis darah yang menguar di dalam bunker bawah tanah terasa semakin pekat, bercampur dengan hawa lembap dari dinding-dinding beton yang tidak tersentuh cahaya matahari.Di atas kursi besi yang terikat rantai, Heru gemetaran hebat. Ketakutan yang teramat sangat menguasai seluruh pikirannya. Mata Heru yang bengkak bergerak liar menatap pipa besi di tangan Bisma, lalu beralih menatap wajah Bisma yang sama sekali tidak menunjukkan keraguan sedikit pun."Bisma... listened to me, Bisma!" teriak Heru dengan suara parau yang bergetar hebat. Air mata ketakutan mengalir deras di pipinya, membasahi luka-luka memar bekas sabetan cambuk Dewi. "Aku punya sertifikat tanah, deposito, saham di perusahaan utama... semuanya! Aku bisa alihkan semu
Dewi melangkah mundur perlahan, menyeka pelipisnya yang basah oleh keringat tipis. Cambuk kulit tebal yang baru saja digunakannya digeletakkan begitu saja di atas lantai beton bunker yang dingin. Napasnya masih terengah-engah, namun dadanya terasa jauh lebih lapang setelah melampiaskan separuh amarah yang membendung selama ini. Dewi menatap Bisma dengan pandangan mantap, lalu mengangguk pelan. Dia memberikan seluruh panggung kepada pria itu untuk menuntaskan dendam pribadi yang telah membakar hidupnya.Dewi mengambil posisi beberapa langkah di belakang, bersandar pada dinding beton yang lembap dan dingin. Dia tahu, ini adalah saatnya bagi Bisma untuk menghadapi pria yang telah menghancurkan masa depan dan mencabut nyawa kakak kandungnya.Bisma melangkah maju. Setiap pijakan sepatu boots kulitnya di atas lantai semen menghasilkan bunyi berdentum yang berat dan teratur, menggema di seluruh sudut bunker yang sunyi. Aura di sekitar tubuh Bisma mendadak berubah menjadi sangat pekat, ding







