Home / Romansa / Penjara Hasrat Cinta / Bab 4. Pengenali Yang tak Terbantahkan

Share

Bab 4. Pengenali Yang tak Terbantahkan

last update publish date: 2026-03-15 03:48:08

Udara terasa berat oleh aroma tembakau mahal dan alkohol yang kuat. Asap mengepul, lalu perlahan hilang. Kesunyian membentang di ruang kerja megah milik Mathias Cameron. Tampak pria tampan itu duduk di balik meja kerjanya, melepaskan dasi kupu-kupu yang diletakan secara sembarang di lengan kursi kulit.

Cahaya lampu meja remang menyinari separuh wajah pria itu, menciptakan bayangan tajam mempertegas garis rahang yang keras. Aura wajah arogan dan kejam yang kental, begitu mendominasi. Dia menenggak kembali vodka yang sejak tadi menemaninya.

Tak tanggung-tanggung sebuah botol vodka premium yang terletak di atas meja, sekarang hanya tinggal setengah saja. Alkohol mampu menenangkan pikirannya yang agak sedikit berisik. Meski ruangan ini tenang, tapi faktanya pikirannya seakan telah beradu argumentasi.

Tiba-tiba suara ketukan pintu berbunyi, membuat Mathias menoleh menatap dingin ke arah pintu sambil meminta orang yang mengetuk pintu itu untuk masuk. Nada suara rendah, tapi penuh wibawa membuat siapa pun yang mendengar suaranya pasti merinding.

“Tuan,” sapa Nash Brown, asisten pribadi Mathias yang sangat dipercayai. Bisa dikatakan pria itu merupakan tangan kanan Mathias Cameron.

“Apa yang ingin kau laporkan?” tanya Mathias to the point. Lebih dari lima belas tahun asisten pribadinya tak pernah berganti. Jelas dia tahu setiap gerak gerik sang asisten akan menimbulkan penuh maksud.

Nash menatap sopan tuannya. “Tuan, dana investasi Cameron Group ke Brantley Group sudah dikirim. Tapi ada sedikit kendala, Tuan. Hmm, lebih tepatnya Tuan Preston Brantley melakukan penawaran.”

Kening Mathias mengerut, menatap dingin, dan tajam pada sang asisten. “Penawaran apa yang diinginkan tua bangka itu?” balasnya menusuk.

“Begini, Tuan Preston Brantley mengatakan, putri keduanya adalah orang yang terbilang tertutup, dan dijamin belum pernah berhubungan dengan siapa pun. Jadi, Tuan Preston meyakinkan bahwa Anda mendapatkan barang yang bagus dan mahal sekalipun itu hanya pengganti. Oleh karena itu, Tuan Preston meminta dana investasi tambahan. Tapi, dana tambahan ini dia ingin Anda memberi secara cuma-cuma. Dia meminta sekitar lima ratus juta dollar,” terang Nash melaporkan apa yang dikatakan Preston padanya via telepon tadi.

Mathias belum merespons apa pun. Pria itu menyeringai keji mendengar laporan dari sang asisten. Dia meletakan gelas di tangannya ke atas meja, lalu jari telunjuknya mengusap pinggir gelas. Rokok di tangannya sudah dia matikan, dan senyuman itu menunjukkan penuh kemenangan.

“Tua bangka itu benar-benar menjadikan anaknya sebagai pelacur, hm?” balas Mathias kejam.

“Tuan, maaf saya baru saja mendapatkan informasi tentang Nona Hailey. Sejak saya tahu Nona Ava melarikan diri, saya langsung bergerak mencari tahu tentang Nona Hailey. Mungkin informasi yang saya dapatkan bisa membuat Anda berpikir langkah ke depannya tentang rencana Anda,” jawab Nash lagi dengan nada tenang, tapi penuh wibawa sebagai seorang yang sangat dipercayai.

Ya, tepat di kala Mathias mendapatkan informasi tentang calon pengantin yang seharusnya melarikan diri, Nash bergerak cepat memberi tahu. Pun awalnya Nash berpikir tuannya itu akan membatalkan pernikahan, karena kesepakatan yang ada adalah tuannya menikah dengan putri sulung dari keluarga Brantley, bukan putri bungsu.

Namun, fakta yang ada adalah Mathias tetap melanjutkan pernikahan sekalipun pengantin wanita telah digantikan. Terdengar gila dan tak masuk akal, seakan pernikahan hanya sebuah permainan. Padahal janji suci pernikahan terucap secara sungguh-sungguh, dalam arti akan sangat dosa besar jika pernikahan tersebut benar-benar diperilakukan seperti permainan.

“Katakan,” jawab Mathias dingin sambil menatap Nash, dengan tatapan penuh tuntutan.

Nash terdiam sebentar, dan menatap tuannya dengan tatapan sopan bercampur serius. “Tuan, saya mendapatkan informasi dari orang terpercaya bahwa Nona Hailey Brantley bukan putri kandung keluarga Brantley. Fakta ini belum diketahui banyak orang. Itu kenapa saat saya mencari tahu lengkap, tidak mudah untuk saya ketahui semuanya. Sepertinya keluarga Brantley menutupi ini.”

Sebelah alis Mathias terangkat, dengan seringai keji terlukis di wajah tampan pria itu. “Jadi, tua bangka itu menyodorkan anak angkatnya untukku?” balasnya tajam, dan tersirat penuh maksud.

Nash terdiam sebentar, tampak berpikir. “Tuan, menurut saya Preston Brantley dalam keadaan terdesak. Karena kondisinya Nona Ava melarikan diri di hari pernikahan. Pun informasi tambahan yang saya dapatkan Tuan Preston memberikan Nona Hailey yang terbaik termasuk pendidikan yang terbaik. Itu artinya Tuan Preston sudah menganggap Nona Hailey seperti putri kandungnya sendiri, bukan?” jawabnya sopan, menduga.

Mathias tertawa sinis, dengan sorot mata yang menunjukkan penuh arti khusus. “Disekolahkan, diberikan makan, diberikan tempat tinggal tidak memiliki arti dianggap seperti anak kandung. Mungkin lebih tepatnya dipelihara dengan baik agar di masa depan memiliki nilai yang mahal. Nash, kau harus ingat, di dunia ini tidak ada yang gratis.”

Nash dibuat bungkam oleh kata-kata Mathias. Sebab, apa yang dikatakan tuannya itu tidak sepenuhnya salah. Malah lebih tepatnya bisa dikatakan benar. Hanya saja tuannya itu terlalu menusuk ketika mengungkapkan kata.

“Tuan, jadi langkah apa yang akan Anda ambil? Apakah Anda akan pengajuan pembatalan pernikahan?” tanya Nash hati-hati.

Mathias melangkah menuju jendela besar ruang kerjanya, menatap lurus ke depan dengan sorot mata penuh arti. “Untuk sementara ini biarkan saja. Dan permintaan tua bangka itu tidak usah didengar. Aku menambah investasi di perusahaannya sudah lebih dari cukup. Jika dia minta tambah, lebih baik aku menyuruhmu menebas kepala tua bangka itu.”

Nash menelan salivanya susah payah mendengar ucapan tuannya. Detik itu, tanpa mau berkata apa pun, dia segera pamit undur diri. Sebab menurutnya perintah dan jawaban dari tuannya adalah final, dan tak bisa dibantahkan sama sekali.

Keheningan kembali membentang. Nash sudah pergi. Mathias kembali menuangkan vodka ke gelas, dan menyesap secara perlahan. Tampak dari pantulan kaca jendela, dia melihat bayangan dirinya sendiri. Seringai di wajahnya terlukis, dengan sorot mata penuh arti khusus.

***

Lampu kristal di langit-langit kamar sengaja diredupkan, menyisakan pendar keemasan yang melankolis di ruangan bertema cream dan ivory itu. Kamar tersebut adalah perpaduan antara kemewahan yang dingin dan kesunyian yang mencekam. Ranjang king-size dengan sprei sutra berkualitas tinggi mendominasi tengah ruangan, dikelilingi oleh furnitur kayu bercat putih porselen yang tampak mahal.

Pintu besar itu terbuka tanpa suara. Mathias melangkah masuk, aroma vodka dan tembakau yang samar dari tubuhnya seketika merusak keharuman bunga lili yang menghiasi sudut kamar. Pria itu tidak melepaskan kemejanya, hanya melonggarkan kancing atasnya, menatap lurus ke arah ranjang—di sana Hailey tergeletak.

Wanita itu tertidur dalam posisi yang menyedihkan yaitu setengah meringkuk di atas tutupan ranjang, masih lengkap dengan gaun pengantin putih yang megah tapi kini tampak kusut. Ekor gaun yang panjang menjuntai hingga ke lantai marmer, seperti sayap burung yang patah. Rambut yang semula tertata rapi kini terurai berantakan di atas bantal, membingkai wajahnya yang agak pucat.

Mathias melangkah mendekat, sepatu pantofel pria itu tenggelam dalam karpet bulu yang tebal. Dia berdiri di sisi ranjang, menunduk menatap dingin seseorang yang dijadikan barang pertukaran.

Perlahan senyum di wajah pria itu terlukis, di bawah cahaya remang, dia bisa melihat kelopak mata Hailey agak membengkak dan kemerahan seperti bekas tangis yang cukup hebat, dan meninggalkan bekas.

Kesunyian menyelimuti kamar itu, dan Mathias masih bergeming di tempatnya, sampai tiba-tiba, tubuh Hailey menegang kecil. Napas wanita itu yang semula teratur berubah menjadi pendek dan tersengal. Bibir yang pucat bergetar, mengeluarkan suara serak yang memecah keheningan malam.

“Jangan tinggalkan aku … aku mohon,” rintih Hailey dalam tidurnya.

Tangan mungil wanita itu meremas sprei dengan kuat, seolah-olah dia sedang mencoba berpegangan pada sesuatu di tengah badai dalam mimpinya. Air mata baru mengalir dari sudut matanya yang tertutup, membasahi bantal sutra di bawahnya.

Mathias terpaku, belum memberikan respons apa pun. Rintihan suara Hailey memang pelan, tapi sangat terdengar ditelinganya. Detik itu, seringai keji yang biasanya menghiasi wajah pria itu memudar sesaat, digantikan oleh tatapan tajam yang sulit diartikan.

Perlahan, pria tampan itu mengulurkan tangan, dan jari yang kasar serta dingin menyentuh pipi Hailey yang basah. Lantas, dia menyeka air mata itu dengan gerakan yang tidak bisa dibilang lembut, tapi juga tak kasar.

“Nasibmu di dunia ini tidak bagus, Hailey,” bisik Mathias serak, penuh tuntutan mendalam.

Hailey mengerang kecil seolah merasakan kehadiran predator di dekatnya, tapi tetap da tidak terbangun. Dia masih tenggelam kembali ke dalam tidur yang gelap. Sementara Mathias tetap di sana, memperhatikan dengan tatapan seorang pemilik yang baru saja menemukan mainan paling menarik sekaligus paling rusak yang pernah dia miliki.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
ellera
semangat ka abiiiii
goodnovel comment avatar
ellera
semoga ceritanya bs sering2 update dan ga gantung
goodnovel comment avatar
ellera
yeayyy ka abi keluarin buku baru lagi
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 60. Di Bawah Kendalinya

    “Aku mengerti, thanks,” jawab Mathias singkat, mengabaikan tatapan Hailey yang menatapnya penuh tuntutan penjelasan. Pria itu tahu Hailey terus menatapnya dengan tatapan terkejut, tapi dia sengaja mengabaikan, membiarkan wanita itu bergelut dengan pikiran.“Baiklah, Tuan Mathias, ada beberapa obat tambahan yang saya berikan. Ada juga catatan untuk Nyonya Hailey agar perban tetap dalam keadaan bersih. Saya rasa pemeriksaan sudah cukup, apa ada lagi hal yang ingin Anda tanyakan, Tuan?” tanya sang dokter sopan.“Aku rasa sudah cukup. Thanks,” jawab Mathias lagi.“Dengan senang hati, Tuan. Anda bisa menghubungi saya kapan pun,” ucap sang dokter dengan senyuman sopan di wajahnya.Mathias mengangguk singkat, dan sang dokter segera pamit undur diri dari sana.“Mathias—”“Nash,” panggil Mathias pada sang asisten. Pria itu langsung memotong ucapan Hailey. Dia segera menatap

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 59. Tak Memberi Tahu Apa Pun

    “Tuan ….” Nash menghampiri Mathias yang hendak menuju ke ruang kerja. Dia tiba di mansion tuannya sambil membawakan dokumen, tujuan utamanya jelas membutuhkan tanda tangan tuannya itu. Hari ini, tuannya tak datang ke kantor, membuatnya mau tak mau harus menemui tuannya itu.Mathias menghentikan langkah. Tatapan mata pria itu yang tajam melirik Nash, melihat keberadaan dokumen di jemari sang asisten. Tanpa perlu banyak ucapan, dia mengulurkan tangan. Nash dengan cekatan menyerahkan berkas tersebut. Sementara Mathias membalik lembar demi lembar, membaca setiap klausul dengan kecermatan tingkat tinggi. Tepat setelah dia memastikan seluruh poin di dalamnya aman, jemarinya yang kokoh menggoreskan tanda tangan tegas di bagian bawah kertas.“Hari ini dokter akan memeriksa kondisi Hailey, kau jangan pergi dulu. Tunggu dokter selesai memeriksa kondisi Hailey,” titah Mathias dengan nada dingin, mengembalikan berkas itu ke dada Nash.

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 58. Rasa Penasaran Yang Harus Ditahan

    Suara berat yang tiba-tiba bergema membuat Hailey tersentak. Mathias sudah berdiri di ambang pintu, dan kini langkah kakinya yang tegap membawanya mendekati meja makan.Hailey membuyarkan lamunannya, menoleh menatap Mathias yang sudah duduk di kursi meja makan. “Kau makan di sini?” tanyanya, agak terkejut.“Ini rumahku. Aku bebas makan di mana pun yang aku mau,” jawab Mathias dingin, tanpa ekspresi berlebih di wajah tajamnya.Hailey menghela napas panjang, mencoba menoleransi nada bicara pria itu. “Aku tahu ini adalah rumahmu, maksudku, tadi aku pikir kau akan meminta pelayan mengantarkan makanan ke ruang kerjamu.”“Aku ingin makan di sini,” jawab Mathias singkat.Hailey memilih mengangguk perlahan, tak berniat memperpanjang perdebatan kecil itu. Dia kembali menikmati sarapannya. “Apa yang kau pikirkan tadi?” tanya Mathias lagi, tatapan matanya yang tajam seolah bisa menembus pikiran Hailey.“Tidak ada,” jawab Hailey pelan sambil mengunyah sarapannya.Mathias makin menatap wajah Hai

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 57. Apa Yang Kau Pikirkan?

    Pelupuk mata Hailey mulai bergerak perlahan, merespons rasa hangat yang menyapu wajahnya. Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden beludru tebal menjadi alasan utama kesadarannya perlahan terkumpul. Tepat saat kelopak matanya terbuka sepenuhnya, dia menggeliat pelan, menyerap sisa-sisa kantuk yang masih menggelayuti pikirannya. Denyut halus di lengan kirinya menyentakkan kesadarannya kembali ke realitas.Hailey terduduk perlahan di atas ranjang king-size yang terlalu empuk itu. Jemari wanita itu meraba perban tebal yang melilit lengan kirinya dengan amat hati-hati. Tatapan matanya yang sayu mulai mengedar ke sekeliling ruangan—kamar yang luas, mewah, tapi terasa begitu sunyi dan dingin. Seketika, detik itu dia menghela napas panjang.Kepingan memori semalam perlahan terkumpul. Dia ingat tadi malam, Mathias datang ke kamarnya, dan pria itu mendesaknya untuk segera tidur, padahal rasa kantuk sama sekali belum menyapa. Namun faktanya, dia tetap bisa tertidur lelap. Entah karena pe

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 56. Kau Adalah Tujuanku

    Tepat di kala lampu utama padam dan suasana kamar meredup drastis, kilatan cahaya putih samar menembus celah gorden tebal, disusul suara gelegar petir yang membahana dari luar jendela. Dentuman gemuruh itu bergema hebat, suaranya cukup keras hingga getarannya terasa seolah menembus dinding tebal mansion megah tersebut.Hailey tersentak kaget. Tubuhnya yang semula berbaring rileks mendadak tegang. Secara refleks karena terkejut dan ketakutan yang datang tiba-tiba, tangannya terulur di dalam kegelapan, meraba panik hingga jarinya menemui jemari lain dan meremas kuat tangan Mathias yang berada paling dekat dengannya. Cengkeraman jemari mungil itu begitu erat, memperlihatkan betapa tubuhnya bereaksi impulsif terhadap ancaman dari luar. Pencahayaan minim yang kini hanya bersumber dari lampu tidur temaram berwarna keemasan di atas nakas membuat penglihatan Hailey samar. Rasa terkejut bercampur pening akibat sisa obat pereda nyeri membuat Hailey tidak menyadari sepenuhnya bahwa jemari yang b

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 55. Kau Bisa Tidur Dengan Lampu Mati?

    Lampu kamar memantulkan bayangan samar di atas ranjang king-size berornamentasi mewah, tempat Hailey sedang duduk bersandar secara kaku. Wanita itu kini mengenakan gaun tidur sutra berwarna krem yang meluncur lembut di kulitnya, dipilihkan oleh pelayan agar tidak menekan luka di tubuhnya.Dia duduk di ranjang sembari membaca buku, tapi tanpa sengaja tatapannya kini menatap dua paper bag yang berisikan kalung berlian mahal yang dibelikan Mathias. Tadi, pelayan memang meletakan dua paper bag itu di atas meja, dan jujur Hailey bingung ingin dibuat apa kalung itu. Pun selama ini dia tak pernah memakai perhiasan berlebihan atau terlalu mahal. Namun, menolak juga tak bisa. Hal yang dilakukan Hailey adalah pasrah terserah pada apa pun yang dilakukan Mathias.Efek suntikan bius lokal pada lengan kiri Hailey telah sirna sepenuhnya sejak sepuluh menit yang lalu, digantikan oleh reaksi obat pereda nyeri dosis tinggi yang mulai bekerja menyelimuti sistem sarafnya. Kepala Hailey terasa agak bera

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 7. The Fragile Shield

    Butiran pasal perjanjian yang membuat kesesakan luar biasa bagi Hailey. Otaknya seakan benar-benar buntu, dan merasa kehidupannya telah habis tak tersisa. Dia memang masih ada di dunia, tapi itu seolah jiwanya saja. Sementara raganya sudah mati tepat di kala dia mengenal sosok Mathias Cameron.Lang

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 6. The Platinum Shackles

    Hailey duduk dalam mobil dengan kegelisahan yang membentang dalam diri. Napasnya agak berat, dan tangannya saling menaut seperti menunjukkan ada rasa cemas. Orang biasanya suka dan merasakan kenyamanan duduk di mobil mewah, tapi berbeda dengan Hailey. Mobil mewah apa pun, jika bersama Mathias seaka

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 5. A Cage Called Marriage

    Sinar matahari pagi menembus sela-sela jendela, kilauanya menyentuh wajah Hailey yang masih terlelap. Perlahan, sinar matahari makin tampak terang membuat mata wanita cantik yang tertidur pulas itu langsung mengerjap beberapa kali.Hailey mulai membuka mata sambil menguap pelan. Suara erangan lolos

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 3. The Cost of Replacement

    Pintu limusin tertutup dengan dentuman yang terdengar seperti palu hakim yang menjatuhkan vonis mati. Di dalam kabin yang kedap suara itu, keheningan terasa begitu berat, seolah oksigen telah diisap keluar, meninggalkan Hailey dalam ruang hampa yang menyesakkan.Hailey tak bisa tenang setelah resmi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status