LOGIN“Nyonya, kalau begitu kami permisi.” Para pelayan menundukkan kepala, pamit undur diri dari hadapan Hailey.
Saat para pelayan undur diri, tak lama kemudian derap langkah tegas memecah keheningan. Detik itu para pelayan yang berpapasan dengan Mathias langsung menunduk hormat, menyapa sopan, dan melanjutkan langkah mereka pergi dari sana.
Pria itu muncul dengan kemeja hitam lengan panjang yang digulung sampai siku, menampilkan otot lengannya yang kokoh serta aur
Hailey sontak terperanjat terkejut bukan main, dan buru-buru berdiri dari kursi kayu harpsichord dengan napas sedikit tercekat. Dia menatap Mathias yang kini sudah berdiri beberapa langkah darinya.“Aku hanya … sedang mencari udara segar,” cicit Hailey membela diri, sedikit salah tingkah karena kepergok.Mathias mendekat perlahan, matanya menatap tajam ke arah instrumen musik di belakang Hailey. “Siapa yang mengajarimu bermain alat musik seperti itu? Keluarga Brantley?” tanyanya dingin, menginerogasi.Hailey menggeleng pelan. “Tidak ada. Aku belajar sendiri.”Alis tajam Mathias terangkat sebelah. Kepalanya miring sedikit, mengamati wanita di depannya dengan ketertarikan tersembunyi yang sulit ditebak. “Belahar sendiri? Menarik. Apa lagi yang bisa kau mainkan? Harmonium? Biola?” tanya Mathias, menyebutkan instrumen-instrumen klasik sulit dengan nada menyelidik.“Harmonium … dan biol
“Nyonya, kalau begitu kami permisi.” Para pelayan menundukkan kepala, pamit undur diri dari hadapan Hailey. Saat para pelayan undur diri, tak lama kemudian derap langkah tegas memecah keheningan. Detik itu para pelayan yang berpapasan dengan Mathias langsung menunduk hormat, menyapa sopan, dan melanjutkan langkah mereka pergi dari sana.Pria itu muncul dengan kemeja hitam lengan panjang yang digulung sampai siku, menampilkan otot lengannya yang kokoh serta aura dominan yang selalu berhasil meredam udara sekitar. Dia kini menarik kursi utama dan duduk tepat di seberang Hailey.Ruang makan megah itu menjadi seperti kuburan yang sunyi senyap tanpa ada suara. Mathias mulai menikmati makanan yang terhidang, disusul dengan Hailey yang makan perlahan dan wanita itu agak sedikit gugup, tapi tetap berusaha tenang.“Besok pagi pukul sembilan kita berangkat,” ucap Mathias tanpa menatap langsung, memotong daging di piringnya dengan pres
Keheningan membentang di dalam mansion megah. Kemegahan istana milik Mathias Cameron layaknya belenggu sangkar emas yang telah menjerat. Ya, di sana Hailey sebagai nyonya rumah, yang mana harusnya dia dilayani layaknya permaisuri raja. Namun, konotasi permaisuri raja sesungguhnya dalam kehidupan Hailey adalah penjara mewah yang tak bisa membuatnya berontak.Hailey tak hidup dalam kekurangan. Wanita itu bisa tinggal di mansion mewah, kamar nyaman, tidak harus mengerjakan pekerjaan rumah karena begitu banyak pelayan yang bekerja di mansion ini, bahkan makanan sangat tercukupi. Hanya saja, perasaan yang dirasakannya benar-benar campur aduk. Wajar, karena dia pengantin pengganti kakaknya yang melarikan diri.Sekarang hal yang dipikiran Hailey adalah dia akan ikut Mathias ke Meksiko, menemani pria itu untuk perjalanan bisnis. Entah berapa lama, dia tak mengerti. Andai bisa menolak, dia lebih ingin tak ikut. Biar saja Mathias yang pergi. Malah dia cukup tenang kalau ditinggal. Namun, sekali
Mendadak ruang tengah itu berubah menjadi ruangan yang mencekam. Para pelayan di sana bergetar ketakutan. Bahkan sang kepala pelayan pun bingung bicara, karena memang sebelumnya ada yang bertugas mengambil paket lukisan yang datang sekaligus memasangkannya. Semua pelayan jelas tak akan mungkin berani menyuruh Hailey memindahkan barang.Pelayan yang sebelumnya menerima paket lukisan memberanikan diri meski tubuhnya gemetar ketakutan. “M-maaf, Tuan—”“M-Mathias, a-aku yang berinisiatif memindahkan lukisan baru,” cicit Hailey ketakutan, dan bercampur panik. Tentu dia tak bisa hanya diam saja, di kala para pelayan mendapatkan amukan dari pria itu. Apalagi dia tahu betul yang salah adalah dirinya.Mata Mathias langsung terhunus pada Hailey mendengar pengakuan wanita itu. Mata birunya berkilat tajam, tampak begitu menyeramkan. Aura wajah yang seperti ingin mengamuk jelas membuat Hailey makin takut. Terlebih wanita itu sadar akan kecerobohannya.“K-kalian pergi saja.” Hailey menatap para pel
Sore melangkah pelan, merayap masuk lewat jendela kaca melengkung di sisi barat mansion. Hailey yang merasa bosan berdiam diri di kamar memutuskan untuk keluar. Langkah kakinya membawanya menuruni anak tangga menuju ruang tengah yang luas. Begitu tiba di lantai bawah, matanya langsung menangkap keberadaan seorang pelayan yang berdiri di dekat meja besar, tampak sibuk merapikan sebuah kotak kayu pipih berukuran sedang.Hailey mengerjap bingung, lalu melangkah mendekat. “Kotak apa itu? Siapa yang membelinya?” tanyanya penasaran.Pelayan itu sontak mendongak dan membungkuk sopan. “Ah, Nyonya. Ini kiriman galeri seni yang baru saja datang,” jawabnya ramah sambil membuka kotak tersebut, memperlihatkan sebuah kanvas lukisan abstrak dengan sapuan warna kelabu dan keemasan yang elegan.Hailey menatap lukisan itu dengan takjub. Jemarinya terulur menyentuh tepi bingkai kayu yang halus. “Lukisan baru?” ulangnya tampak tak percaya.“Iya, Nyonya. Tuan Mathias yang memesannya khusus untuk dipasang
Hidup Hailey tak pernah merasakan arti kebebasan. Wanita cantik itu selalu seakan seperti burung, yang jelas tak bisa terbang bebas. Jika dulu, dia harus patuh dengan aturan keluarga Brantley, kali ini setelah dia resmi menikah dengan Mathias Cameron, dia harus patuh pada pria itu.Well, apa yang dikatakan Mathias selalu bagaikan perintah yang tak bisa dibantahkan. Pria itu mengajak Hailey ke Meksiko tanpa harus diskusi. Bahkan pria itu langsung memberikan perintah pada Nash mengurus segalanya. Padahal sebenarnya jika boleh memilih, Hailey ingin tinggal di rumah, tak harus ikut pria itu. Namun, sekali lagi, apa yang dikatakan Mathias tak bisa dibantahkan.Luka di lengan Hailey berangsur-angsur membaik. Jahitan di lengannya sudah dilepas, dan satu minggu ini memang dia dibantu dengan pelayan menjaga perban yang membalut lengannya tetap harus bersih. Obat yang diresepkan dokter semua dihabiskan. Nyeri mulai membaik, tidak seperti awal. Bisa dikatakan, meski Mathias selalu bersikap menye
Butiran pasal perjanjian yang membuat kesesakan luar biasa bagi Hailey. Otaknya seakan benar-benar buntu, dan merasa kehidupannya telah habis tak tersisa. Dia memang masih ada di dunia, tapi itu seolah jiwanya saja. Sementara raganya sudah mati tepat di kala dia mengenal sosok Mathias Cameron.Lang
Hailey duduk dalam mobil dengan kegelisahan yang membentang dalam diri. Napasnya agak berat, dan tangannya saling menaut seperti menunjukkan ada rasa cemas. Orang biasanya suka dan merasakan kenyamanan duduk di mobil mewah, tapi berbeda dengan Hailey. Mobil mewah apa pun, jika bersama Mathias seaka
Sinar matahari pagi menembus sela-sela jendela, kilauanya menyentuh wajah Hailey yang masih terlelap. Perlahan, sinar matahari makin tampak terang membuat mata wanita cantik yang tertidur pulas itu langsung mengerjap beberapa kali.Hailey mulai membuka mata sambil menguap pelan. Suara erangan lolos
Udara terasa berat oleh aroma tembakau mahal dan alkohol yang kuat. Asap mengepul, lalu perlahan hilang. Kesunyian membentang di ruang kerja megah milik Mathias Cameron. Tampak pria tampan itu duduk di balik meja kerjanya, melepaskan dasi kupu-kupu yang diletakan secara sembarang di lengan kursi ku







