LOGINMathias duduk menyandarkan punggungnya di kursi kayu jati. Pria tampan itu mengenakan kemeja katun hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, memamerkan jam tangan Patek Philippe mahal dan otot lengannya yang kokoh. Jemari tangannya yang panjang memegang sebuah gelas kristal berisi whisky Macallan amber, memutar-mutarnya perlahan hingga es di dalamnya berdenting halus.Di hadapannya, duduk seorang pria berusia enam puluhan tahun dengan rambut perak yang tersisir rapi ke belakang. Carlos Ruiz. Pria tua itu mengenakan setelan jas buatan penjahit Savile Row, memancarkan aura kekuasaan dan kekejaman pengusaha minyak berpengaruh asal Madrid yang tak pernah dibantah sepanjang hidupnya.Aura di antara kedua pria itu begitu mendomonasi hingga membuat udara panas Cabo San Lucas terasa seolah membeku.“Rupanya kau memiliki keberanian tinggi,” suara Carlos Ruiz membuka percakapan. Suaranya berat, serak, dan sarat akan ancaman terselubung. “Apakah
Deru mesin helikopter Airbus H145 yang mendarat di helipad pribadi vila milik Mathias kini perlahan memudar, meninggalkan kesunyian yang mencekam di sekeliling koridor berlantai marmer. Dari balik jendela kaca besar di ruang makan, Hailey berdiri membeku. Dia menyaksikan helikopter hitam berlogo kustom inisial M.C itu lepas landas menuju arah selatan—membawa Mathias pergi.Rasa dingin merayapi jemari kaki dan tangan Hailey. Gelas es yang tadi dia pegang kini sudah mengembun, meneteskan air yang membasahi meja porselen. Pun debar jantungnya kini makin berpacu. Entah kenapa Mathias memilih pergi menggunakan helikopter bukan dengan mobil. Dia tak bisa bertanya, karena pria itu langsung pergi tanpa berpamitan lagi.Kebohongan Mathias masih bergema tajam di telinganya. Pria itu bersikap seolah ancaman dari sosok yang cukup berpengaruh di Spanyol hanyalah kerikil kecil di dalam sepatunya. Mathias menutup rapat-rapat kenyataan bahaya itu agar Hailey tidak merasa terbeba
Hailey mendongak pelan, mati-matian mengerahkan seluruh sisa kewarasannya untuk mengontrol raut wajah, sorot mata, dan getaran di bibirnya. Ia harus terlihat natural, menepis segala kepanikan akibat percakapan rahasia yang tak sengaja ia dengar pagi ini. “I-iya ... Selamat pagi,” sapanya tipis, suaranya terdengar agak serak, tertahan oleh bongkahan rasa cemas yang mendadak menyumbat tenggorokannya.Mathias memicingkan mata biru lautnya sedikit. Pria itu menghentikan gerakannya sesaat, meneliti paras Hailey yang tampak sepucat kertas dengan intensitas tajam yang begitu intimidatif—sebuah tatapan yang selalu mampu menelanjangi kebohongan Hailey tanpa perlu kata-kata.“Kau tidur nyenyak?” tanyanya dengan nada datar seraya menarik kursi di kepala meja dan meraih iPad miliknya, menyembunyikan sebagian ekspresinya di balik layar kaca.Hailey menggigit bagian dalam pipinya begitu keras hingga ia bisa merasakan getirnya darah. Jemarinya meremas kain taplak meja porselen di bawah lipatannya ku
“Bagaimana dengan ayahnya?” tanya Mathias dari dalam ruangan, nadanya santai seolah sedang mendengarkan laporan perkiraan cuaca harian.“Itu poin utamanya, Tuan. Carlos Ruiz yang berada di Madrid sudah menerima kabar ini sejak dini hari tadi,” bisik Nash pelan tapi terdengar jelas di telinga Hailey yang bergemetar di luar pintu. “Pria tua itu sangat murka mengetahui putra tunggalnya dihajar hingga kritis di Meksiko. Dia tidak terima. Selama ini tidak ada satu pun yang berani menyentuh keluarganya tanpa konsekuensi fatal.”“Lalu?” kekeh Mathias—sebuah terkekeh sinis yang amat dingin dan meremehkan.“Carlos Ruiz membatalkan seluruh agenda bisnisnya di Spanyol dan langsung terbang menggunakan jet pribadi menuju Los Cabos pagi ini,” terang Nash terdengar serius “Dia telah mengontak beberapa koneksi pejabat lokal serta otoritas keamanan di Meksiko. Dia menuntut pertemuan mendadak dengan Anda siang ini pukul dua di sebuah klub eksklusif di area marina untuk meminta pertanggungjawaban atau d
Aroma parfum maskulin dan whisky pahit itu seolah masih menyangkut di pangkal tenggorokan Hailey, mengikis habis kesadarannya bahkan sebelum kedua mata wanita itu benar-benar terbuka. Sentuhan yang bagaikan sengatan listrik membekas, seolah menenggalamnya makin dalam di sebuah mimpi yang tak bisa dikatakan indah, tapi tak juga dikatakan buruk.Hailey pagi itu tidak terbangun oleh deru ombak di luar jendela atau sinar matahari di Los Cabos yang menerobos celah gorden, melainkan oleh sensasi terbakar yang begitu membekas. Sentuhan kasar jemari Mathias di rahangnya, desakan napas beraroma dominasi murni yang mengurungnya di antara rak buku, hingga kehangatan intens saat bibir pria itu melahap puting payudaranya dan setiap detail dari detik-detik terlarang di ruang kerja semalam menghantam kepalanya tanpa ampun.Hailey terengah kecil, terduduk kaku di atas kasur king-size. Refleks, jemarinya meraba leher dan tulang selangkanya sendiri. Kulitnya masih terasa hangat dan sensitif, seolah men
Hailey terkesiap dalam remasan ciuman itu, rasa terkejut sempat membuatnya hendak menahan dada Mathias. Namun, kehangatan bibir Mathias yang beraroma whisky pahit bercampur dominasi murni perlahan melahap habis seluruh pertahanan dirinya. Ketakutan, kecemasan, dan sisa-sisa trauma mimpi buruknya meleleh tak berbekas, digantikan oleh gelombang gairah sengit yang membakar dadanya.Desahan halus lolos dari celah bibir Hailey ketika ciuman Mathias berubah makin intens, menuntut balasan. Jemari Hailey yang gemetar perlahan merambat naik, meremas kain kemeja putih di bahu kokoh Mathias, menarik pria itu lebih dekat seolah mencari perlindungan di balik sosok dominan yang bersedia menghancurkan apa saja demi dirinya.Ciuman yang semula berupa tuntutan penuh dominasi kini berubah menjadi gairah yang membakar seluruh ruang kerja sunyi itu. Gelombang panas merayap cepat dari dasar perut Hailey, mengikis habis sisa-sisa kewarasannya. Punggung Hailey kini sepenuhnya menemp
Butiran pasal perjanjian yang membuat kesesakan luar biasa bagi Hailey. Otaknya seakan benar-benar buntu, dan merasa kehidupannya telah habis tak tersisa. Dia memang masih ada di dunia, tapi itu seolah jiwanya saja. Sementara raganya sudah mati tepat di kala dia mengenal sosok Mathias Cameron.Lang
Pintu limusin tertutup dengan dentuman yang terdengar seperti palu hakim yang menjatuhkan vonis mati. Di dalam kabin yang kedap suara itu, keheningan terasa begitu berat, seolah oksigen telah diisap keluar, meninggalkan Hailey dalam ruang hampa yang menyesakkan.Hailey tak bisa tenang setelah resmi
Langkah kaki Hailey terasa seberat timah saat menelusuri lorong panjang menuju altar gereja. Gaun pengantin cantik telah melekat di tubuh wanita itu, tapi sayangnya gaun itu terasa seperti kain yang mencekik. Tak ada raut wajah kebahagiaan, bahkan senyum pun tak sama sekali tampak. Padahal orang b
Harum yang berasal dari bunga lili putih mahal telah berhasil memenuhi udara salah satu gereja yang ada di kota New York. Namun, sayangnya bagi Hailey Brantley aroma itu mendadak tercium seperti bau pemakaman yang seolah membuat otaknya menyadarkan bahwa dia berada di dunia yang tak seharusnya.Wan







