แชร์

Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi
Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi
ผู้แต่ง: Makjos

Bab 1

ผู้เขียน: Makjos
Begitu keluar dari kamar mandi, seluruh tubuhku gemetar hebat karena kedinginan.

Aku sengaja mandi air dingin. Asal besok aku demam, aku punya alasan untuk tidak ikut foto keluarga.

Melihat bayanganku di cermin yang puluhan tahun lebih muda dan melihat formulir pendaftaran proyek di atas meja yang dahulu pernah kulepaskan, tatapan mataku menjadi makin yakin.

Di kehidupan sebelumnya, adik angkatku, Ella Raditya, tiba-tiba mendapat ide untuk mengajak fotografer terkenal di internet guna mengambil foto keluarga.

Itu juga seharusnya menjadi momen pertama kalinya aku foto keluarga bersama mereka setelah aku dijemput kembali ke rumah ini.

Aku sudah menantikannya begitu lama, bahkan mengenakan pakaian termahal yang kubawa dari panti asuhan, pakaian yang paling tidak tega untuk kupakai.

Namun, saat foto-fotonya dicetak, sosokku yang berdiri di sudut justru dihapus bersih dengan menggunakan Photoshop.

Itu semua hanya karena Ella berkata, "Aura Kakak nggak cocok sama anggota keluarga kita yang lain. Foto keluarganya jadi kelihatan aneh."

Saat itu, aku masih belum tahu diri dan mencoba membela diri. Akan tetapi, aku justru dicap tidak punya selera seni dan dituduh mempermalukan Keluarga Raditya.

Setelah mati sekali, barulah aku menyadari semuanya dengan jelas.

Sama seperti foto keluarga tanpa diriku itu, di dalam rumah ini pun memang tidak pernah ada tempat untuk diriku.

Lalu, untuk apa aku bersusah payah datang hanya demi mempermalukan diri sendiri?

Kali ini, aku memutuskan untuk tidak ikut foto sekalian.

Sesuai dugaanku, saat bangun keesokan harinya, aku demam tinggi hingga tidak punya tenaga, walau hanya untuk beranjak dari tempat tidur.

Saat kepalaku terasa pening dan berat, sayup-sayup terdengar seseorang mendorong pintu kamar tidurku.

Ibu mengerutkan kening. "Sudah berkali-kali dipanggil, kenapa nggak juga turun untuk makan?"

"Hari ini kita harus pergi mengambil foto keluarga, jangan cuma gara-gara kamu, urusan seluruh keluarga jadi terhambat!"

Aku terbatuk-batuk dengan lemah.

"Bu, aku nggak enak badan."

Baru pada saat itulah Ibu menyadari bahwa wajahku yang berbaring di tempat tidur itu tampak merah tidak wajar. Begitu Ibu mengulurkan tangan untuk memeriksa dahiku, terasa begitu panas.

"Kemarin baik-baik saja, kenapa tiba-tiba bisa demam?"

"Padahal adikmu sudah susah payah membuat janji dengan fotografer itu!"

Di sampingnya, Ella berpura-pura merasa menyesal. "Bu, jangan salahkan Kakak. Kakak juga pasti nggak sengaja."

"Gimana kalau kita ganti hari saja? Kita nggak mungkin pergi foto keluarga tanpa membawa Kakak …."

Aku memotong perkataan Ella dengan tenang, "Nggak apa-apa, nggak usah memedulikanku. Kalian pergi foto saja."

Ibu terpaku untuk sesaat, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Bukankah selama ini kamu sangat menantikan sesi foto keluarga ini?"

Aku menatap wajah Ibu yang mirip denganku itu dan hanya bisa merasa lucu.

Ternyata dia juga tahu bahwa selama ini aku sangat menantikan untuk foto keluarga.

Lalu, mengapa di kehidupan sebelumnya, saat aku marah karena fotoku dihapus, dia justru menyebutku picik?

Itu semua hanya karena dia tidak mencintaiku, jadi dia sama sekali tidak peduli dengan perasaanku.

Aku mengulangi kembali kata-kataku yang tadi.

"Nggak apa-apa, nggak usah memedulikanku. Kalian pergi foto saja."

Akan tetapi, Ibu tiba-tiba terlihat agak gusar.

"Baik, kamu sendiri yang bilang. Jangan marah setelah kami selesai foto nanti!"

Ibu pun menarik Ella pergi. Dari awal hingga akhir, tidak ada satu pun kata perhatian yang dia tujukan kepadaku.

Aku berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang putih bersih dan kembali teringat saat-saat sebelum kematianku di kehidupan sebelumnya. Saat itu, aku juga merasa kesepian seperti ini, terbaring sendirian di ranjang rumah sakit.

Bahkan, meski aku sudah menemukan orang tua kandungku, meski aku sudah menikah dan melahirkan anak, aku tetaplah Vera Raditya yang memalukan dan tidak dicintai oleh siapa pun.

Jadi, Ayah, Ibu … di kehidupan kali ini, aku tidak akan merajuk lagi.

Aku akan membiarkan kalian bertiga hidup bahagia sebagai satu keluarga, bagaimana?
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 9

    Setelah hari itu, orang tuaku tidak pernah lagi melakukan kunjungan mendadak seperti itu, juga tidak pernah lagi bertanya kapan aku punya waktu luang untuk pulang.Hubungan di antara kami menjadi begitu hambar, hingga jika mereka tidak menghubungiku, aku juga tidak akan ingat pada mereka.Namun, sesekali Ibu mengirimkan pesan singkat. Jika aku sedang senggang, aku akan membukanya untuk sekadar melihatnya.Ibu mengatakan kepadaku bahwa setelah pulang hari itu, mereka sudah banyak berpikir.Mereka mengakui bahwa mereka terlalu serakah. Mereka tidak bisa melepaskan putri angkat yang sudah mereka sayangi selama lebih dari 20 tahun, tetapi mereka juga tidak rela melepaskanku, putri kandung yang sudah terlalu banyak mereka kecewakan ini, pergi begitu saja. Pada akhirnya, semua itu justru membuat mereka makin merasa bersalah kepadaku.Ibu berkata, Ayah sudah lama menyesali kata-kata kasar yang dulu pernah dia ucapkan. Di rumah, Ayah berkali-kali mengatakan bahwa seharusnya dia tidak bersikap

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 8

    Sudah satu setengah tahun berlalu sejak aku memutuskan untuk merantau ke selatan.Saat pulang kerja dan melihat mereka berdiri di depan gerbang kantor, aku nyaris berbalik dan langsung pergi.Ibu pun buru-buru meneriakiku."Vera, jangan pergi!"Baru setelah itu, aku pun berbalik dengan enggan.Seingatku, di kehidupan sebelumnya, bisa dihitung dengan jari berapa kali mereka mencariku dan itu pun hampir selalu demi melampiaskan amarah Ella.Sekarang, saat mereka tiba-tiba muncul tanpa diundang, aku hanya merasa kesal."Kenapa kalian tiba-tiba datang ke sini?"Mendengar nada bicaraku yang tidak sabar, ekspresi Ibu sempat membeku untuk sesaat, sebelum akhirnya dia menjawab sambil tersenyum, "Sudah lama nggak ketemu kamu. Kami cuma mengkhawatirkan keadaanmu.""Vera, apa kamu nggak makan dengan benar selama kerja? Kamu kurusan. Kenapa pakaianmu juga kumal begini? Ibu antar beli baju baru ya?"Ibu mengulurkan tangan, seolah ingin menggandeng lenganku.Akan tetapi, aku secara refleks menghinda

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 7

    Telepon itu berakhir dengan Ayah yang merasa marah dan malu, lalu bertanya padaku, "Kenapa kamu harus selalu membanding-bandingkan dirimu dengan adikmu?"Aku menjawab bahwa aku sedang sibuk, lalu menutup teleponnya.Aku tidak bohong. Aku memang sedang bersiap-siap untuk pindah tugas.Di kehidupan sebelumnya, aku selalu menghabiskan waktu untuk menjadi asisten Ella. Setelah menikah pun, aku tetap terperangkap di kota ini oleh suami dan anakku.Terkadang aku berpikir, sosok Vera kecil yang dahulu sangat iri melihat kebahagiaan keluarga orang lain, pasti tidak akan pernah menyangka saat dewasa nanti, keluarga yang begitu dia dambakan justru akan menjadi penjara yang mengurungnya.Lalu sekarang, burung di dalam sangkar itu akhirnya memiliki sayap untuk terbang jauh.Panggilan telepon yang kuterima tadi benar-benar menyadarkanku sepenuhnya.Aku memang masih secara tidak sadar membandingkan diriku dengan Ella.Rasa sakit yang menemaniku sepanjang hidupku di kehidupan sebelumnya, rupanya meng

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 6

    "Vera!"Mendengar keraguan dalam suaraku, Ibu pun memanggil namaku dengan sedikit kesal.Akan tetapi, Ibu menarik napas dalam-dalam dan berusaha menahan amarahnya."Vera, kita ini keluarga. Kalau kamu berpikir begitu, Ibu benar-benar sedih!""Soal kejadian sebelumnya, Ibu dan Ayah sudah memikirkannya. Kami sadar, kalau kami kurang perhatian padamu.""Kami sudah buatkan kartu ATM untukmu. Uang saku juga sudah ditransfer di situ. Pinnya adalah tanggal lahirmu. Peganglah ini dan jaga dirimu baik-baik."Hatiku yang sudah lama mati rasa, mendadak tergetar oleh kalimat sederhana itu.Mungkin karena seorang anak tidak akan pernah bisa benar-benar berhenti mencintai orang tuanya, atau mungkin karena di lubuk hati yang paling dalam, aku masih mendambakan sedikit cinta dari mereka.Nada bicaraku pun menjadi lebih lembut."Terima kasih, Bu."Ibu pun merasa lega."Ibu pikir, kamu akan terus memusuhi keluarga seumur hidupmu. Oh ya Vera, kapan proyekmu ini selesai?"Aku tidak tahu mengapa mereka men

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 5

    Aku langsung naik ke mobil berwarna hitam yang menjemputku itu, meninggalkan pertengkaran mereka jauh di belakang.Mobil itu mengantarku sampai di pangkalan.Beberapa kakak tingkatku sudah menungguku di depan pintu. Begitu melihatku turun dari mobil, mereka segera membantuku membawakan barang bawaan."Kamu Vera Raditya, adik tingkat kami, 'kan? Kami semua sudah dengar dari Pak Zamri. Katanya, kamu itu bibit terbaik yang pernah dia temui selama bertahun-tahun ini!""Benar sekali. Tadinya kami kira si orang tua itu cuma membual. Tapi, setelah melihatmu hari ini, kami baru tahu kalau adik tingkat kami ini ternyata sangat cerdas dan cantik."Wajahku memerah karena dipuji seperti itu.Di rumah, hal yang paling sering kudengar hanyalah hinaan dan ejekan.Ibu akan berkata, "Anak yang tumbuh besar di panti asuhan memang kurang didikan."Ayah juga akan menghela napas. "Hah, picik banget. Benar-benar nggak kayak putri Keluarga Raditya."Aku yang rendah diri dan pendiam, selamanya tidak akan pern

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 4

    Aku merasa sedikit ingin tertawa.“Karena kalian nggak pernah tanya.”Nilai-nilaiku masih tertempel di dinding panti asuhan itu dan di koperku masih tersimpan trofi-trofi yang kuraih selama bertahun-tahun ini.Bukannya aku tidak cukup hebat, mereka saja yang selama ini menutup mata terhadap keberhasilanku.Setelah hari itu, Ayah dan Ibu sepertinya mulai menyadari hal tersebut. Mereka mulai berusaha ingin tahu lebih dalam tentang kehidupanku di masa lalu.Saat makan, mereka selalu bertanya bagaimana kehidupanku di panti asuhan, apakah belajarnya melelahkan, atau apakah hidupku sulit di sana.Aku menjawab dengan acuh tak acuh. Sementara di sisi lain, Ella selalu menemukan kesempatan untuk mengalihkan kembali topik pembicaraan ke dirinya sendiri.Dia memang tidak pernah suka jika perhatian Ayah dan Ibu tertuju padaku.Aku juga merasa senang melihatnya bertingkah manja dan merengek, sehingga aku tidak perlu berurusan dengan orang tuaku.Tak lama kemudian, tibalah hari keberangkatanku.Ayah

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status