เข้าสู่ระบบMalam itu, Griceliene benar-benar menikmati momen kebersamaan dengan suaminya. Walaupun sulit merelakan kepergian suaminya, namun bukankah sebelumnya ia sudah berkali-kali memiliki niat untuk meninggalkannya. Namun, kenapa sekarang saat semua hal yang sebelumnya ia inginkan berjalan dengan sendirinya, ia malah merasa sangat sedih. Melihat kesedihannya terpancar di wajah istrinya, ntah kenapa Camille malah merasa lega. Bukanya Camile senang melihat istrinya sedih atau pun menangis, ia hanya senang karena sikap istrinya itu menunjukan jika istrinya memang memiliki perasaan untuknya. "Walaupun hanya kepedulian, bukan cinta yang tulus? Akan aku terima dengan senang hati." Gumam Camille. Tiba-tiba istrinya duduk di atas perutnya. "Sebagai perpisahan, aku ingin membuat kenangan yang bisa membuatmu selalu teringat padaku!" ujar Griceliene dengan wajah memerah. ==Sementara itu di tempat lain, Eleanor nampak frustasi. Permaisuri Eleanor berdiri dengan lengan terlipat di depan ruang k
"Aku juga akan meminta bantuan kepada Kaisar, untuk membantu menjaga istriku di dunia ini ... Lagipula, kepergian ku tidak bisa di rahasiakan di depan kaisar," kata Camile dengan suara pasrah. Ia tidak memiliki pilihan lain, padahal sebelumnya ia mati-matian menentang sepupunya yang ingin menjadikan istrinya permaisuri. Bahkan kaisar Michael juga menjanjikan, putranya mendatang untuk menjadi kaisar berikutnya. Dylan tak tahu harus merespon apa, walaupun umurnya sudah lebih dari setengah abad, ia tidak pernah memiliki permasalahan serumit majikannya. Jadi ia tak tahu harus memberikan respon apa?Dylan tahu, berat bagi Camille untuk mempercayakan istrinya pada sang kaisar. Bahkan ia juga mendengar kabar burung, hubungan sang kaisar bersama kedua Permaisuri sangatlah buruk. Bahkan hampir sebulan berlalu setelah pernikahan itu di laksanakan, sang kaisar hanya sekali menghabiskan malam bersama masing-masing permaisuri. "Memang cinta yang menggebu itu sangatlah rumit," desah Rokan da
Griceliene terkejut dengan apa yang barusan di katakan oleh suaminya. "Apa?""Meninggalkan dunia ini?" Ia menatap suaminya dengan tatapan kelam.Camille malah mengalihkan pandangannya, ia takut akan goyah. Di kehidupan sebelumnya, dirinya lah yang membuat istrinya memiliki umur pendek. Di kehidupan sekarang, ia tidak ingin istrinya memiliki takdir yang sama. Namun, karena sudah memutar balik waktu dan merubah takdir yang sudah tuliskan oleh dewa kehidupan, tentu saja ada banyak hal yang berubah. Dan semua itu juga ada harga yang harus Camille bayar. Dalam sepuluh tahun atau dua puluh tahun ke depan, ia harus meninggalkan dunia ini dan pergi ke alam dewa. Untuk membayar kerusakan dunia yang dia sebabkan karena meledaknya kekuatannya karena kematian Griceliene di kehidupan sebelumnya. Bukan itu saja, Camille juga merubah takdir yang sudah ada. Dengan memutar waktu, menghidupkan kembali Griceliene yang sudah meninggal. Bukan itu saja, Camille mengunakan segala cara, agar istriny
"Suamiku ... Ahh ... " Kata Griceliene dengan suara menggetarkan jiwa, wajahnya memerah menahan malu. Karena suaminya sekarang ini benar-benar membawanya ke balkon luar kamar. Griceliene bisa melihat dengan jelas dari kejauhan hamparan rerumputan hijau, tempat para kesatria berlatih. Walaupun ia merasa ada yang aneh, karena halaman, taman maupun lapangan tempat para kesatria berlatih sangatlah sepi. Namun, semua pikiran tak penting itu langsung lenyap, Griceliene seperti kehilangan akal karena sensasi memabukkan penyatuan miliknya dan milik suaminya. "Sepertinya aku akan keluar!!" Teriak Griceliene, ia mencengkram erat punggung tangan suaminya. Kukunya yang panjang nampak menggores punggung Camille, namun bukanya menegur. Camille sendiri malah tersenyum samar, tindakan istrinya malah membuat dirinya semakin terangsang. Camille mengubah posisi, menjadi di belakang istrinya. "Lagi?" Tanya Griceliene linglung. Camille menyahut dengan wajah sedih, "istriku, aku bahkan belum kel
"Ahhh ... " Griceliene mendesah, selama beberapa hari, ntah kenapa ia membayangkan hal ini terjadi?Saat tersadar, ia merasa malu sendiri karena berpikiran mesum. Karena sebelumnya, saat suaminya terus meminta dirinya untuk memuaskannya, dalam benaknya, Griceliene terus mengumpat kalau suaminya sosok yang mesum. Namun, sekarang pikiran liar itu berputar di dalam otak Griceliene sendiri, bahkan ia membayangkan jika suaminya menyentuhnya di tempat terbuka, tepatnya di taman dan rumah kaca. Camille menatap wajah cantik istrinya dari atas, ntah kenapa istrinya yang sebelumnya terlihat bersemangat, tiba-tiba memalingkan wajahnya, bahkan wajah istrinya terlihat memerah seperti menahan malu. Namun, Camille menyangkal pikiran itu. Ia malah menganggap wajah merah istrinya karena menahan sakit atau melakukan hubungan seksual karena terpaksa. . "Kenapa?" tanya Camille tanpa sadar, wajahnya berubah bingung. Bukanya menjawab, Griceliene malah menutup matanya. Ia tahu suaminya bertanya karen
Griceliene benar-benar tidak berpikiran mesum, lebih dari dua Minggu suaminya tak menyentuhnya. Bukanya berpikiran aneh-aneh. Griceliene malah merasa khawatir. Jika Camille mati-matian menahan diri untuk tidak menyentuh istrinya, karena sandiwaranya sendiri. Berbeda dengan Griceliene yang berpikiran lain. Griceliene berpikir, keadaan suaminya begini gara-gara menyelamatkannya dari pecahan kaca, apakah itu mempengaruhi tubuh bagian bawah suaminya? Sebuah pertanyaan melintas dalam benak Griceliene. "Suamiku, aku buka celananya, ya?" Tanya Griceliene dengan wajah polos. Dari ekspresi yang di tunjukkan oleh Griceliene, Camille bisa menebak apa yang di pikirkan istrinya sekarang ini. Camille malah menghela napas, "istriku. Tubuh bagian bawahku tidak sakit, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkannya." "Tapi," tolak Griceliene, ia tetap menarik celana suaminya. Wajah polos menunjukkan rasa penasaran dan kekhawatiran yang dalam. Sikap yang begitu menggemaskan, sungguh berbed
Rubellian memukul meja didepannya. Ntah kenapa saat ini perasaannya terasa tak nyaman, bayangan Griceliene yang tersiksa terus memenuhi otaknya. Akhirnya Rubellian memiliki satu ide, ia pun mengibaskan tangannya untuk memberikan kode pada ksatria bayangan yang sekarang ini ada di area kamarnya.
Pagi harinya, Griceliene terbangun dengan suara bising yang mengisi lorong kastil mewah itu. "Apa yang terjadi?" Gumamnya dengan suara serak. Ia melihat langit-langit yang bukan kamarnya. "Kamar ini terlihat jauh lebih mewah di bandingkan kamarku, aku ada dimana?" Sebuah pertanyaan terlintas
Camille menatap tubuh istrinya dengan tatapan singa yang kelaparan, ia merentangkan kaki istrinya. Tangannya langsung menyentuh bagian sensitif itu, dan tak lupa menjilatnya. "Ugh, sungguh menjijikkan," gumam Griceliene dalam hatinya, rasanya ingin sekali dirinya muntah. Camille tentu saja menge
Camille menatap Griceliene dengan mata yang berkilat penuh amarah, napasnya memburu saat tangannya dengan kasar memborgol pergelangan tangan istrinya ke kepala ranjang yang kokoh. "Camille, apa yang kau lakukan?" suara Griceliene terdengar putus asa, gemetar antara takut dan frustrasi, matanya ber







