Mag-log inTristan memeluk Griceliene dengan sedih, "tolong jangan bilang seperti itu. Orang tuamu pasti akan ikutan sedih. Mereka sebenarnya juga tidak ingin meninggalkan kamu sendirian di dunia ini."
Griceliene menjauhkan tubuh Tristan, ia mendongak, menatap Tristan dengan putus asa, "tapi kamu lihatkan! Orang tuaku sudah pergi dengan cara paling tragis. Bahkan nama mereka akan tercatat buruk di sejarah." "Sekarang sudah nggak ada gunanya lagi aku hidup di dunia ini. Lebih baik aku mengubur diriku hidup-hidup, agar aku bisa merasakan kematian yang menyakitkan seperti yang orang tuaku rasakan." Tristan merasa hatinya seperti di iris-iris, sekarang ia merasa sangat bersalah karena tidak bisa membantu Griceliene dan malah ikut mendorong Griceliene ke lubang paling dasar. "Sekarang aku harus mencari sekop, mungkin kalau aku mati di hari yang sama dengan kedua orang tuaku. Aku ... Aku akan bisa lahir kembali di dunia yang berbeda sebagai anak mereka," kata Griceliene dengan nada putus asa, air mata terus mengalir membasahi kedua pipi Griceliene. Tristan sangat sedih melihat keadaan Griceliene, sampai-sampai air matanya ikut mengalir, ia memeluk Griceliene dengan erat. "Ku mohon, jangan lakukan itu! Orang tuamu pasti akan kecewa." "Aku tahu orang tuamu tidak bersalah, aku janji membantu untuk mengembalikan nama baik orang tuamu. Karena sekarang kekuasaan Duke Vale ada di tanganku," kata Tristan dengan suara menyakinkan. Tangisan Griceliene mereda, ia mendongakkan wajahnya menatap Tristan dengan senyuman penuh harapan. "Benarkah kamu akan membantuku?" Tristan mengangguk. "Aku akan membantumu, aku janji." Griceliene membalas pelukan Tristan, "Tristan terimakasih." Tristan mengusap pucuk kepala Griceliene lembut. "Kamu harus terus hidup dan sehat, supaya bisa mengembalikan nama baik orang tuamu. Katanya kamu tidak ingin nama mereka tercatat buruk dalam sejarah." Setelah pelukannya terlepas, Tristan menyerahkan sebuah kotak milik Griceliene. Dia mengangguk pelan dan menerima kotak itu. Meski rasanya kini ia tak sanggup menghadapi Camille, demi nama baik orang tuanya, Griceliene harus menyerahkan bukti di tangannya kepada pria itu dan meyakinkan agar persidangan ulang bisa digelar. Walaupun keputusan eksekusi hari ini terkesan tergesa-gesa dan janggal, tekad Griceliene sudah bulat. Namun, saat semangatnya membara, tubuhnya malah lemas dan ia pingsan. Demam tinggi menyergapnya. Selama ini, Griceliene hidup di mansion yang serba nyaman dan dimanja penuh kasih sayang oleh kedua orang tuanya, membuatnya belum pernah merasakan kelelahan atau sakit yang menggores tubuhnya sedalam ini. === Griceliene merasakan sakit di bagian tubuhnya, matanya terasa sulit untuk terbuka. Walaupun ia memutuskan untuk terus hidup dengan membenci Camille, tapi saat mendengar suara lembut suaminya yang berbicara dengan wanita lain, hatinya merasa sakit, bohong kalau Griceliene tidak merasa cemburu. Walaupun dirinya sendiri menolak untuk tidak peduli, tapi tubuh dan pikirannya sama sekali tidak singkron. Akhirnya ia pun membuka matanya, ia memaksa bangkit dari ranjang. Saat berdiri, ia hampir saja jatuh karena tak bertenaga. Namun karena tekadnya yang kuat, ia pun bisa melangkahkan langkah kakinya walaupun pelan menuju sumber suara. Walaupun Griceliene merasa ragu, kakinya malah terus menuntunnya, tanpa ragu ia membuka pintu kamar Duke Camille Lorens yang berada tepat di samping kamarnya. Deg, Griceliene merasa jantungnya berhenti berdetak, rasa sakit, amarah dan terhina bagaikan pisau tajam yang menusuk jantungnya. Disana, ia melihat suaminya yang sedang menindih wanita yang begitu di kenalnya, wanita yang sebelumnya lumayan dekat dengannya. "Loria Ivon," gumam Griceliene penuh kekecewaan. "Tuan Grand Duke Camille, sepertinnya kita hentikan saja permainan ini. Istri anda melihatnya, saya takut kalau sampai dia salah paham," kata Loria dengan ekspresi wajah sedih. Saat Loria akan bangkit berdiri, Camille malah menarik punggung Loria ke dalam pelukannya. "Salah paham, bukankah memang itu tujuan kita?" Bisik Camille dengan lembut tepat di telinga Loria. Walaupun suara Camille lirih, Griceliene dengan jelas mendengarnya. "Bukankah tadi kamu memanggil namaku dengan lancang, kenapa sekarang tiba-tiba kamu berbicara formal? Loria kamu itu orangku, jangan takut pada anak penjahat yang sebentar lagi juga akan menyusul ke dua orang tuanya ke neraka." Sahut Camille dengan suara tajam menusuk. Griceliene masih belum menyadari apa yang terjadi, setelah bangun tidur karena syok tak sadarkan diri selama lima hari, ia seakan lupa dengan situasi yang menimpa dirinya. Namun, setelah kata-kata Camille ya ng membahas orang tuanya dengan kejam. Bayang-bayang kelam saat Camille mengeksekusi kedua orang tuanya berputar di otaknya. Kenangan tawa bahagia orang tuanya saat memanjakannya dengan penuh ketulusan kini terasa seperti cermin yang retak. "Lady Griceliene Albert, saya maafkan ketidaksopanan Anda kali ini saja. Lebih baik Anda segera keluar dari kamar saya, karena Anda membuat saya muak!" kata Camille formal dengan suara kejam. Bahkan Camille sengaja menekankan Kata 'Lady Griceliene Albert'. Tanpa menunggu lama, Griceliene langsung meninggalkan kamar itu. Banyak hal sebenarnya ingin ia sampaikan pada suaminya, tapi mulutnya seakan enggan mengeluarkan suara. Selain bayang-bayang mengerikan mayat kedua orang tuanya tanpa kepala, pikirannya juga dipenuhi bayangan indah saat Camille menindihnya dan mengucapkan kata-kata cinta, yang berputar bersamaan dengan bayangan suaminya yang baru saja berada di atas ranjang bersama Loria. Meski suaminya masih mengenakan pakaian lengkap, Loria hanya memakai dalaman saja. Griceliene memutuskan untuk kembali ke kamarnya dengan hati yang berat. Sementara itu, di sebuah kamar mewah di istana, Kaisar yang baru saja diangkat beberapa hari lalu bertanya kepada ajudannya, "Apakah surat pembatalan nikah dari Duke Camille Lorens sudah dikirim ke istana?" Ajudan Kaisar, Marques Rokan Huton, menjawab, "Maaf, Yang Mulia, sampai sekarang belum ada surat lain dari Tuan Duke Camille selain yang berhubungan dengan urusan negara." "Sialan! Bukankah rencanaku sudah sangat sempurna untuk membuat Camille membenci Griceliene? Harusnya Camille menceraikan Griceliene, dan aku juga berhasil membuat Griceliene membenci suaminya karena membunuh orang tuanya," jelas Kaisar Michael Lorens dengan tangan terkepal. Bayangan Camille bermesraan dengan Griceliene membuat Michael ingin mencabik-cabik tubuh saudara sepupunya itu. Rokan menelan ludah saat Michael tiba-tiba menatapnya dengan tajam penuh amarah. "Tunda sidang ulang untuk membersihkan nama orang tua Griceliene. Tunggu sampai Griceliene benar-benar meninggalkan Camille," perintah Michael tegas. Sebelumnya Michael sudah menemui kedua orang tua Griceliene, ia berniat untuk melamar Griceliene menjadi permaisuri. Namun, orang tua Griceliene langsung menolak tegas dengan dalih sumpah darah yang sudah di lakukan Griceliene dan Camille sejak bayi. "Padahal kalau waktu itu orang tuamu langsung setuju dengan rencanaku, hidupmu pasti akan tetap bahagia bersama mereka. Sayang, orang tuamu terlalu kolot, setelah ini Griceliene pasti akan jatuh cinta padaku, karena aku berhasil menemukan bukti dan mengembalikan nama baik kedua orang tuanya." Gumam Kaisar Michael penuh arti dengan senyuman jahat.Kereta kuda berhentu perlahan di depan gerbang besar yang kini berdiri megah. Ekspresi Griceliene yang semula bersinar malu-malu berubah menjadi kerut kening penuh keraguan. Ia menatap tajam ke arah suaminya yang berdiri di sana dengan senyum hangat namun matanya menyimpan sesuatu yang tak terucapkan. "Apakah kau yakin membawa begitu banyak pengawal?" suara Griceliene bergetar, menahan amarah yang mulai menggelegak. Napasnya terasa sesak, seolah ruang geraknya semakin menyempit oleh sikap posesif sang suami. Tiga pelayan dan dua puluh pengawal—bukan hanya jumlah yang berlebihan, tapi simbol ketakutan dan penjagaan berlebihan yang membuatnya merasa seperti tawanan, bukan istri yang dicintai. Camille melangkah mendekat, tangannya meraih lengan Griceliene dengan lembut, mencoba meredakan ketegangan yang membara. "Aku hanya ingin melindungimu," bisiknya penuh kasih sayang, namun nada suaranya menyimpan sedikit kekhawatiran yang tersembunyi. Griceliene menghela napas panjang,
Griceliene menghembuskan napas kasar, tingkah suaminya semakin lama terlihat tidak normal, kalau begini terus. Ia bisa yakin, akhir hidupnya pasti akan sama dengan yang di katakan oleh Tristan. Kecemburuan dan rasa posesif yang tidak sehat. Bagaimana pun juga, ia tidak ingin hidupnya berakhir sia-sia dengan bunuh diri karena keputusasaan. Camille yang sedang duduk di depannya bisa menebak apa yang ada di dalam pikirannya sekarang. Intinya, Camille sekarang ini hanya memiliki dua pilihan. Kehilangan istrinya untuk sementara, atau benar-benar kehilangannya untuk selamanya. Walaupun hatinya terus memberontak keputusannya, setelah berpikir panjang dan mempertimbangkan apa yang di katakan Tristan. Camille harus mengubah sikapnya. "Istriku ... Kenapa tidak di makan?" Tanya Camille penuh perhatian, ia tersenyum tulus tanpa celah seolah-olah tidak memikirkan apapun. Camille adalah seorang transenden yang sudah mencapai kemampuan tipe max, bahkan ia juga sudah bisa mengendalikan keku
Dari awal, intuisinya mengatakan ada yang tidak beres, walaupun Griceliene tipe orang yang tidak mudah percaya dengan rumor yang keluar dari mulut orang tanpa melihatnya sendiri. Namun, waktu mendengar rumor buruk tentang suaminya, ia merasa itu bukanlah sebuah rumor belaka. Hatinya kadang berdenyut nyeri, saat membicarakan ketidak pedulian Camille padanya sebelum ia hilang ingatan. Sekarang membayangkannya pun, Griceliene merasa tak sanggup. Dari awal ia memang tidak yakin, kalau cinta suaminya itu tulus dan murni padanya. Walaupun suaminya sangat bersikap baik dan begitu memanjakannya. Awalnya, Griceliene berniat memafkan kesalahan suaminya sebelum ia hilang ingatan. Karena ia mengira, Camille selalu bersikap memanjakannya sejak menikah. Ternyata ia salah. Camille justru menyiksanya dengan kejam, membiarkannya kedinginan dan kelaparan saat hamil, bahkan tak peduli ketika para pelayan menyiksanya hingga hampir sekarat. Hanya membayangkannya saja sudah membuat air matanya ja
Griceliene tenggelam dalam lamunannya, ia tak menyangka Camille tega melakukan itu pada bayi mereka. Walaupun ia hilang ingatan, ia bisa dengan yakin kalau bayinya itu milik Camille. Otak Griceliene terus memutar ulang percakapan antara Duke Tristan Vale dan suaminya. "Benarkah? Aku pernah hidup di kehidupan sebelumnya, lalu memilih mengakhiri hidupku sendiri karena keguguran dan kematian beberapa kali anak dalam kandunganku, dan penyebab semua itu adalah suamiku sendiri ..." desah Griceliene dalam hati, matanya tampak resah. "Kenapa diam? Apakah kamu tidak mau memaafkanku? Lalu bagaimana caranya agar kita tidak canggung dan bisa bersikap seperti biasa?" tanya Camille dengan suara serak. Griceliene menjawab, "Entahlah. Aku masih bingung. Mungkin jika kamu memberiku waktu sendiri untuk berpikir, aku bisa mengambil keputusan dengan lebih jelas." Camille mengeratkan pelukannya. Istrinya meminta waktu sendiri, baginya itu sama saja dengan perpisahan. Camille merasa tak sanggup, ap
Malam sudah sangat larut, bahkan terasa menuju pagi. Udara di kastil Grand Duchy terasa dingin menusuk tulang. Sedari tadi, Camille masih berdiri terpaku di depan pintu kamar Griceliene, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, berusaha menahan gelombang penyesalan yang membuncah.Matanya merah dan sembab, menunjukkan betapa lama ia berdiri di sana, merenungi kesalahan yang mungkin tak mudah untuk dimaafkan. Jantungnya berdebar tak menentu, antara keinginan memaksa masuk dan rasa takut akan reaksi istrinya yang rapuh.Dengan napas tertahan, Camille perlahan membuka pintu, langkahnya ringan agar tidak mengganggu. Di dalam kamar yang remang oleh cahaya bulan, ia melihat Griceliene terlelap, wajahnya tenang namun menyimpan kepedihan yang dalam. Rambut warna pink yang terurai menutupi bantal, sorot matanya yang terpejam tampak begitu damai, seolah-olah luka hati itu sedang berusaha disembunyikan.Camille mendekat, hatinya sesak namun ia tak bisa menahan diri. Ia membungkus tubuh is
Sinar rembulan perlahan merambat melalui celah-celah tirai berat, menyelimuti ruangan dengan cahaya perak yang dingin dan misterius. Di teras kastil utama Grand Duchy yang baru jadi. Grand Duchess Griceliene duduk tenang di samping Kaisar Michael menghadap taman luas.Meja kecil berukir indah telah dipersiapkan dengan beberapa kudapan ringan, namun suasana malam itu terasa berat, seperti bayangan yang menyelimuti hati mereka berdua.Kaisar Michael menatap Griceliene dengan mata penuh keprihatinan, suaranya lirih namun tegas, Kamu hamil, angin malam semakin dingin. Kita bicara lain waktu saja." Kata-katanya mengandung ketulusan dan kekhawatiran yang dalam, seolah ia ingin melindungi Griceliene dari beban yang terlalu berat malam ini.Griceliene menghela napas pelan, dadanya terasa sesak seolah ada sesuatu yang meremas jantungnya. Tatapannya tertuju pada piring kecil yang berisi kudapan, namun pikirannya melayang jauh. Perasaan yang dimiliki Kaisar begitu berbeda dari suaminya, leb







