Compartir

Bab 3.

last update Fecha de publicación: 2026-04-01 13:33:46

Tristan memeluk Griceliene dengan sedih, "tolong jangan bilang seperti itu. Orang tuamu pasti akan ikutan sedih. Mereka sebenarnya juga tidak ingin meninggalkan kamu sendirian di dunia ini."

Griceliene menjauhkan tubuh Tristan, ia mendongak, menatap Tristan dengan putus asa, "tapi kamu lihatkan! Orang tuaku sudah pergi dengan cara paling tragis. Bahkan nama mereka akan tercatat buruk di sejarah."

"Sekarang sudah nggak ada gunanya lagi aku hidup di dunia ini. Lebih baik aku mengubur diriku hidup-hidup, agar aku bisa merasakan kematian yang menyakitkan seperti yang orang tuaku rasakan."

Tristan merasa hatinya seperti di iris-iris, sekarang ia merasa sangat bersalah karena tidak bisa membantu Griceliene dan malah ikut mendorong Griceliene ke lubang paling dasar.

"Sekarang aku harus mencari sekop, mungkin kalau aku mati di hari yang sama dengan kedua orang tuaku. Aku ... Aku akan bisa lahir kembali di dunia yang berbeda sebagai anak mereka," kata Griceliene dengan nada putus asa, air mata terus mengalir membasahi kedua pipi Griceliene.

Tristan sangat sedih melihat keadaan Griceliene, sampai-sampai air matanya ikut mengalir, ia memeluk Griceliene dengan erat. "Ku mohon, jangan lakukan itu! Orang tuamu pasti akan kecewa."

"Aku tahu orang tuamu tidak bersalah, aku janji membantu untuk mengembalikan nama baik orang tuamu. Karena sekarang kekuasaan Duke Vale ada di tanganku," kata Tristan dengan suara menyakinkan.

Tangisan Griceliene mereda, ia mendongakkan wajahnya menatap Tristan dengan senyuman penuh harapan. "Benarkah kamu akan membantuku?"

Tristan mengangguk. "Aku akan membantumu, aku janji."

Griceliene membalas pelukan Tristan, "Tristan terimakasih."

Tristan mengusap pucuk kepala Griceliene lembut.

"Kamu harus terus hidup dan sehat, supaya bisa mengembalikan nama baik orang tuamu. Katanya kamu tidak ingin nama mereka tercatat buruk dalam sejarah."

Setelah pelukannya terlepas, Tristan menyerahkan sebuah kotak milik Griceliene.

Dia mengangguk pelan dan menerima kotak itu.

Meski rasanya kini ia tak sanggup menghadapi Camille, demi nama baik orang tuanya, Griceliene harus menyerahkan bukti di tangannya kepada pria itu dan meyakinkan agar persidangan ulang bisa digelar.

Walaupun keputusan eksekusi hari ini terkesan tergesa-gesa dan janggal, tekad Griceliene sudah bulat.

Namun, saat semangatnya membara, tubuhnya malah lemas dan ia pingsan. Demam tinggi menyergapnya.

Selama ini, Griceliene hidup di mansion yang serba nyaman dan dimanja penuh kasih sayang oleh kedua orang tuanya, membuatnya belum pernah merasakan kelelahan atau sakit yang menggores tubuhnya sedalam ini.

===

Griceliene merasakan sakit di bagian tubuhnya, matanya terasa sulit untuk terbuka.

Walaupun ia memutuskan untuk terus hidup dengan membenci Camille, tapi saat mendengar suara lembut suaminya yang berbicara dengan wanita lain, hatinya merasa sakit, bohong kalau Griceliene tidak merasa cemburu.

Walaupun dirinya sendiri menolak untuk tidak peduli, tapi tubuh dan pikirannya sama sekali tidak singkron.

Akhirnya ia pun membuka matanya, ia memaksa bangkit dari ranjang.

Saat berdiri, ia hampir saja jatuh karena tak bertenaga. Namun karena tekadnya yang kuat, ia pun bisa melangkahkan langkah kakinya walaupun pelan menuju sumber suara.

Walaupun Griceliene merasa ragu, kakinya malah terus menuntunnya, tanpa ragu ia membuka pintu kamar Duke Camille Lorens yang berada tepat di samping kamarnya.

Deg, Griceliene merasa jantungnya berhenti berdetak, rasa sakit, amarah dan terhina bagaikan pisau tajam yang menusuk jantungnya.

Disana, ia melihat suaminya yang sedang menindih wanita yang begitu di kenalnya, wanita yang sebelumnya lumayan dekat dengannya.

"Loria Ivon," gumam Griceliene penuh kekecewaan.

"Tuan Grand Duke Camille, sepertinnya kita hentikan saja permainan ini. Istri anda melihatnya, saya takut kalau sampai dia salah paham," kata Loria dengan ekspresi wajah sedih.

Saat Loria akan bangkit berdiri, Camille malah menarik punggung Loria ke dalam pelukannya. "Salah paham, bukankah memang itu tujuan kita?" Bisik Camille dengan lembut tepat di telinga Loria.

Walaupun suara Camille lirih, Griceliene dengan jelas mendengarnya.

"Bukankah tadi kamu memanggil namaku dengan lancang, kenapa sekarang tiba-tiba kamu berbicara formal? Loria kamu itu orangku, jangan takut pada anak penjahat yang sebentar lagi juga akan menyusul ke dua orang tuanya ke neraka." Sahut Camille dengan suara tajam menusuk.

Griceliene masih belum menyadari apa yang terjadi, setelah bangun tidur karena syok tak sadarkan diri selama lima hari, ia seakan lupa dengan situasi yang menimpa dirinya.

Namun, setelah kata-kata Camille ya ng membahas orang tuanya dengan kejam.

Bayang-bayang kelam saat Camille mengeksekusi kedua orang tuanya berputar di otaknya.

Kenangan tawa bahagia orang tuanya saat memanjakannya dengan penuh ketulusan kini terasa seperti cermin yang retak.

"Lady Griceliene Albert, saya maafkan ketidaksopanan Anda kali ini saja. Lebih baik Anda segera keluar dari kamar saya, karena Anda membuat saya muak!" kata Camille formal dengan suara kejam.

Bahkan Camille sengaja menekankan Kata 'Lady Griceliene Albert'.

Tanpa menunggu lama, Griceliene langsung meninggalkan kamar itu.

Banyak hal sebenarnya ingin ia sampaikan pada suaminya, tapi mulutnya seakan enggan mengeluarkan suara.

Selain bayang-bayang mengerikan mayat kedua orang tuanya tanpa kepala, pikirannya juga dipenuhi bayangan indah saat Camille menindihnya dan mengucapkan kata-kata cinta, yang berputar bersamaan dengan bayangan suaminya yang baru saja berada di atas ranjang bersama Loria.

Meski suaminya masih mengenakan pakaian lengkap, Loria hanya memakai dalaman saja.

Griceliene memutuskan untuk kembali ke kamarnya dengan hati yang berat.

Sementara itu, di sebuah kamar mewah di istana, Kaisar yang baru saja diangkat beberapa hari lalu bertanya kepada ajudannya, "Apakah surat pembatalan nikah dari Duke Camille Lorens sudah dikirim ke istana?"

Ajudan Kaisar, Marques Rokan Huton, menjawab, "Maaf, Yang Mulia, sampai sekarang belum ada surat lain dari Tuan Duke Camille selain yang berhubungan dengan urusan negara."

"Sialan! Bukankah rencanaku sudah sangat sempurna untuk membuat Camille membenci Griceliene? Harusnya Camille menceraikan Griceliene, dan aku juga berhasil membuat Griceliene membenci suaminya karena membunuh orang tuanya," jelas Kaisar Michael Lorens dengan tangan terkepal.

Bayangan Camille bermesraan dengan Griceliene membuat Michael ingin mencabik-cabik tubuh saudara sepupunya itu.

Rokan menelan ludah saat Michael tiba-tiba menatapnya dengan tajam penuh amarah. "Tunda sidang ulang untuk membersihkan nama orang tua Griceliene. Tunggu sampai Griceliene benar-benar meninggalkan Camille," perintah Michael tegas.

Sebelumnya Michael sudah menemui kedua orang tua Griceliene, ia berniat untuk melamar Griceliene menjadi permaisuri.

Namun, orang tua Griceliene langsung menolak tegas dengan dalih sumpah darah yang sudah di lakukan Griceliene dan Camille sejak bayi.

"Padahal kalau waktu itu orang tuamu langsung setuju dengan rencanaku, hidupmu pasti akan tetap bahagia bersama mereka. Sayang, orang tuamu terlalu kolot, setelah ini Griceliene pasti akan jatuh cinta padaku, karena aku berhasil menemukan bukti dan mengembalikan nama baik kedua orang tuanya." Gumam Kaisar Michael penuh arti dengan senyuman jahat.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Penyesalan Duke Kejam Setelah Istrinya Meninggal   Bab 105.

    Malam itu, Griceliene benar-benar menikmati momen kebersamaan dengan suaminya. Walaupun sulit merelakan kepergian suaminya, namun bukankah sebelumnya ia sudah berkali-kali memiliki niat untuk meninggalkannya. Namun, kenapa sekarang saat semua hal yang sebelumnya ia inginkan berjalan dengan sendirinya, ia malah merasa sangat sedih. Melihat kesedihannya terpancar di wajah istrinya, ntah kenapa Camille malah merasa lega. Bukanya Camile senang melihat istrinya sedih atau pun menangis, ia hanya senang karena sikap istrinya itu menunjukan jika istrinya memang memiliki perasaan untuknya. "Walaupun hanya kepedulian, bukan cinta yang tulus? Akan aku terima dengan senang hati." Gumam Camille. Tiba-tiba istrinya duduk di atas perutnya. "Sebagai perpisahan, aku ingin membuat kenangan yang bisa membuatmu selalu teringat padaku!" ujar Griceliene dengan wajah memerah. ==Sementara itu di tempat lain, Eleanor nampak frustasi. Permaisuri Eleanor berdiri dengan lengan terlipat di depan ruang k

  • Penyesalan Duke Kejam Setelah Istrinya Meninggal   Bab 104.

    "Aku juga akan meminta bantuan kepada Kaisar, untuk membantu menjaga istriku di dunia ini ... Lagipula, kepergian ku tidak bisa di rahasiakan di depan kaisar," kata Camile dengan suara pasrah. Ia tidak memiliki pilihan lain, padahal sebelumnya ia mati-matian menentang sepupunya yang ingin menjadikan istrinya permaisuri. Bahkan kaisar Michael juga menjanjikan, putranya mendatang untuk menjadi kaisar berikutnya. Dylan tak tahu harus merespon apa, walaupun umurnya sudah lebih dari setengah abad, ia tidak pernah memiliki permasalahan serumit majikannya. Jadi ia tak tahu harus memberikan respon apa?Dylan tahu, berat bagi Camille untuk mempercayakan istrinya pada sang kaisar. Bahkan ia juga mendengar kabar burung, hubungan sang kaisar bersama kedua Permaisuri sangatlah buruk. Bahkan hampir sebulan berlalu setelah pernikahan itu di laksanakan, sang kaisar hanya sekali menghabiskan malam bersama masing-masing permaisuri. "Memang cinta yang menggebu itu sangatlah rumit," desah Rokan da

  • Penyesalan Duke Kejam Setelah Istrinya Meninggal   Bab 103.

    Griceliene terkejut dengan apa yang barusan di katakan oleh suaminya. "Apa?""Meninggalkan dunia ini?" Ia menatap suaminya dengan tatapan kelam.Camille malah mengalihkan pandangannya, ia takut akan goyah. Di kehidupan sebelumnya, dirinya lah yang membuat istrinya memiliki umur pendek. Di kehidupan sekarang, ia tidak ingin istrinya memiliki takdir yang sama. Namun, karena sudah memutar balik waktu dan merubah takdir yang sudah tuliskan oleh dewa kehidupan, tentu saja ada banyak hal yang berubah. Dan semua itu juga ada harga yang harus Camille bayar. Dalam sepuluh tahun atau dua puluh tahun ke depan, ia harus meninggalkan dunia ini dan pergi ke alam dewa. Untuk membayar kerusakan dunia yang dia sebabkan karena meledaknya kekuatannya karena kematian Griceliene di kehidupan sebelumnya. Bukan itu saja, Camille juga merubah takdir yang sudah ada. Dengan memutar waktu, menghidupkan kembali Griceliene yang sudah meninggal. Bukan itu saja, Camille mengunakan segala cara, agar istriny

  • Penyesalan Duke Kejam Setelah Istrinya Meninggal   Bab 102.

    "Suamiku ... Ahh ... " Kata Griceliene dengan suara menggetarkan jiwa, wajahnya memerah menahan malu. Karena suaminya sekarang ini benar-benar membawanya ke balkon luar kamar. Griceliene bisa melihat dengan jelas dari kejauhan hamparan rerumputan hijau, tempat para kesatria berlatih. Walaupun ia merasa ada yang aneh, karena halaman, taman maupun lapangan tempat para kesatria berlatih sangatlah sepi. Namun, semua pikiran tak penting itu langsung lenyap, Griceliene seperti kehilangan akal karena sensasi memabukkan penyatuan miliknya dan milik suaminya. "Sepertinya aku akan keluar!!" Teriak Griceliene, ia mencengkram erat punggung tangan suaminya. Kukunya yang panjang nampak menggores punggung Camille, namun bukanya menegur. Camille sendiri malah tersenyum samar, tindakan istrinya malah membuat dirinya semakin terangsang. Camille mengubah posisi, menjadi di belakang istrinya. "Lagi?" Tanya Griceliene linglung. Camille menyahut dengan wajah sedih, "istriku, aku bahkan belum kel

  • Penyesalan Duke Kejam Setelah Istrinya Meninggal   Bab 101. 21+

    "Ahhh ... " Griceliene mendesah, selama beberapa hari, ntah kenapa ia membayangkan hal ini terjadi?Saat tersadar, ia merasa malu sendiri karena berpikiran mesum. Karena sebelumnya, saat suaminya terus meminta dirinya untuk memuaskannya, dalam benaknya, Griceliene terus mengumpat kalau suaminya sosok yang mesum. Namun, sekarang pikiran liar itu berputar di dalam otak Griceliene sendiri, bahkan ia membayangkan jika suaminya menyentuhnya di tempat terbuka, tepatnya di taman dan rumah kaca. Camille menatap wajah cantik istrinya dari atas, ntah kenapa istrinya yang sebelumnya terlihat bersemangat, tiba-tiba memalingkan wajahnya, bahkan wajah istrinya terlihat memerah seperti menahan malu. Namun, Camille menyangkal pikiran itu. Ia malah menganggap wajah merah istrinya karena menahan sakit atau melakukan hubungan seksual karena terpaksa. . "Kenapa?" tanya Camille tanpa sadar, wajahnya berubah bingung. Bukanya menjawab, Griceliene malah menutup matanya. Ia tahu suaminya bertanya karen

  • Penyesalan Duke Kejam Setelah Istrinya Meninggal   Bab 100. warning 21+

    Griceliene benar-benar tidak berpikiran mesum, lebih dari dua Minggu suaminya tak menyentuhnya. Bukanya berpikiran aneh-aneh. Griceliene malah merasa khawatir. Jika Camille mati-matian menahan diri untuk tidak menyentuh istrinya, karena sandiwaranya sendiri. Berbeda dengan Griceliene yang berpikiran lain. Griceliene berpikir, keadaan suaminya begini gara-gara menyelamatkannya dari pecahan kaca, apakah itu mempengaruhi tubuh bagian bawah suaminya? Sebuah pertanyaan melintas dalam benak Griceliene. "Suamiku, aku buka celananya, ya?" Tanya Griceliene dengan wajah polos. Dari ekspresi yang di tunjukkan oleh Griceliene, Camille bisa menebak apa yang di pikirkan istrinya sekarang ini. Camille malah menghela napas, "istriku. Tubuh bagian bawahku tidak sakit, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkannya." "Tapi," tolak Griceliene, ia tetap menarik celana suaminya. Wajah polos menunjukkan rasa penasaran dan kekhawatiran yang dalam. Sikap yang begitu menggemaskan, sungguh berbed

  • Penyesalan Duke Kejam Setelah Istrinya Meninggal   Bab 14. Warning 21+.

    Camille menatap tubuh istrinya dengan tatapan singa yang kelaparan, ia merentangkan kaki istrinya. Tangannya langsung menyentuh bagian sensitif itu, dan tak lupa menjilatnya. "Ugh, sungguh menjijikkan," gumam Griceliene dalam hatinya, rasanya ingin sekali dirinya muntah. Camille tentu saja menge

  • Penyesalan Duke Kejam Setelah Istrinya Meninggal   Bab 13. Lebih baik, puaskan aku saja!

    Camille menatap Griceliene dengan mata yang berkilat penuh amarah, napasnya memburu saat tangannya dengan kasar memborgol pergelangan tangan istrinya ke kepala ranjang yang kokoh. "Camille, apa yang kau lakukan?" suara Griceliene terdengar putus asa, gemetar antara takut dan frustrasi, matanya ber

  • Penyesalan Duke Kejam Setelah Istrinya Meninggal   Bab 11. Terjerat Obsesi

    Saat asyik melamun, tiba-tiba kereta berhenti. Griceliene bertanya pada kusir, "apa yang terjadi?"Kusir itu menjawab, "ada pohon besar yang tumbang dan menghalangi jalan kereta."Tak lama kemudian, ksatria yang ditugaskan mengawal Griceliene atas perintah Camille datang menghampiri. Ksatria itu b

  • Penyesalan Duke Kejam Setelah Istrinya Meninggal   Bab 9. Salah paham.

    Griceliene memundurkan langkah kakinya, ia menyipitkan matanya, ia tidak menyangka akan bertemu Pangeran Rubellian sekarang.Rubellian bangkit dan melihat Griceliene yang mundur langkahnya. Ia tak ingin memaksa, lalu ikut mundur pelan. Dengan suara penuh kesedihan, Rubellian berkata, "Maafkan aku

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status