Share

Bab 2

Author: Starry Sky
Setelah mengatakan itu, aku langsung balik kembali ke kamar. Melihatku tidak lagi bertengkar dengannya, Mikho tampak cukup terkejut. Kalau ini terjadi dulu, aku pasti akan terus memperdebatkannya sampai jelas. Bahkan jika sampai parah, aku akan pulang ke rumah orang tuaku dan menghindarinya beberapa hari sebelum akhirnya kembali setelah tenang.

Saat melihatku membereskan beberapa pakaian dan perlengkapan mandi lalu hendak pergi, rasa lega yang baru saja muncul dalam dirinya kembali tertutup oleh kekesalan.

"Kamu mau pulang ke rumah orang tuamu lagi? Serius? Cuma karena beberapa pertengkaran kecil, kamu sampai pulang lagi. Kali ini mau berapa lama?"

Aku tidak menghiraukannya dan langsung keluar.

Saat pintu tertutup, air mata di sudut mataku kembali jatuh.

Kalau kamu masih belum bisa melepaskannya, maka aku akan mengakhiri hubungan ini dengan tanganku sendiri.

...

Sesampainya di rumah sakit dan melihat putriku sudah sadar serta dipindahkan kembali ke bangsal biasa, hatiku merasa agak lega.

Aku mengusap air mata, memastikan tidak ada kejanggalan yang terlihat, baru kemudian masuk ke ruang rawat dengan senyum di wajahku.

Begitu melihatku datang, Rara langsung berusaha bangun dari tempat tidur dan minta digendong. Aku segera menghampirinya dan menenangkannya.

"Rara, jangan takut. Mama ada di sini."

Rara mengerutkan bibirnya sambil menahan air mata lalu berkata, "Ma, semalam aku benar-benar nggak sengaja dorong Juan. Dia yang duluan narik aku dan maksa main petasan. Aku bilang petasan nggak boleh dinyalain dalam ruangan, tapi dia tetap mau. Akhirnya dia nyalain petasan di tangannya lalu dia lempar ke dekat kakiku. Aku panik dan mau lari, tapi dia malah narik lenganku. Waktu saling dorong itulah aku nggak sengaja dorong dia."

"Nggak apa-apa, Mama lihat kok semuanya. Mama nggak nyalahin kamu."

Aku terus menenangkan Rara. Setelah berhasil membuat gadis kecil itu tertidur, aku meminta ibuku menjaganya, lalu pergi sendirian.

Di luar ruang rawat, aku duduk cukup lama. Kenangan menyakitkan itu seperti ombak yang menelanku. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari semua emosi negatif ini, lalu mengambil ponsel dan dengan tegas menelepon nomor yang sejak lama tersimpan di kontakku.

"Halo, Pak Willy. Tolong bantu aku buatkan surat perjanjian perceraian. Ya, secepat mungkin."

Pak Willy memang pantas disebut pengacara andalan. Hanya dalam beberapa menit, dia sudah mengirimkan surat perjanjian perceraian yang selesai dia buat.

Setelah membacanya sekali, aku kembali berdiskusi dengannya mengenai pembagian harta. Aku tidak akan memberikan sepeser pun kepada Mikho.

Setelah Pak Willy mengirim versi finalnya ke ponselku, aku langsung menelepon Mikho.

Kali ini dia mengangkatnya dengan cepat.

"Halo, ada apa?"

"Mikho, kita cerai. Aku kasih kamu waktu dua puluh menit buat datang ke rumah sakit dan tanda tangan. Setelah itu kita langsung pergi ke kantor catatan sipil buat ngurus surat cerai."

"Ini masih suasana Tahun Baru, kenapa sih kamu cari ribut? Apa nggak bisa nunggu sampai perayaan selesai? Kenapa harus sekarang?"

"Perjanjiannya udah siap. Kamu tinggal tanda tangan aja."

Setelah mengatakan itu, aku langsung menutup telepon.

Karena sudah memilih bercerai, maka tidak perlu lagi terus terikat satu sama lain.

Tujuh hari berikutnya, kondisi kaki Rara sudah hampir pulih sepenuhnya dan dokter mengizinkannya pulang.

Benar saja, selama itu Mikho tidak datang satu kali pun.

Setelah menunggunya selama satu jam hari itu, aku sudah mengerti. Tapi tidak masalah. Kalau dia tidak mau menandatangani surat perceraian, maka kami akan menempuh jalur gugatan!

Di hari Rara keluar dari rumah sakit, dia sengaja datang menjemput kami pulang.

"Wanda, kamu nggak tahu gimana aku jalanin tujuh hari ini di rumah. Tiga kali makan semuanya pesan makanan dari luar, nggak ada yang cuci baju, kaus kaki juga nggak ketemu, seprai pun nggak diganti. Bahkan waktu berbaring di atas ranjang pun tercium baunya .…"

"Oh, terus? Apa hubungannya sama aku?"

Setelah berkata begitu, aku langsung pergi bersama orang tuaku yang datang menjemput tanpa memedulikan teguran Mikho dari belakang.

Saat aku masih di rumah, sebesar apa pun pengorbananku untuk keluarga selalu dia abaikan. Sekarang baru tujuh hari aku tidak pulang, dia sudah tidak tahan dan ingin aku kembali menjadi pembantu gratisnya.

Hah, mimpi saja!

Setelah beristirahat semalam di rumah orang tuaku, keesokan harinya aku membawa surat perjanjian perceraian yang sudah kutandatangani kembali ke rumah untuk meminta dia menandatangani juga.

Sebelum berangkat, Pak Willy menyarankanku untuk sedikit menahan emosi jika ingin proses perceraian berjalan lebih cepat. Selama surat perjanjian cerai sudah ditandatangani kedua belah pihak, semua proses berikutnya akan jauh lebih mudah.

Karena itu, aku memilih untuk bersabar.

Saat itu Mikho juga sedang bekerja di ruang kerjanya. Begitu aku membuka pintu, aku melihat kelembutan di matanya yang belum pernah dia tunjukkan sebelumnya, dia tampak sedang menelepon seseorang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penyesalan di Ujung Cinta   Bab 11

    "Dia yang duluan gangguin istriku, sampai-sampai istriku ngalamin tanda-tanda keguguran!""Dia yang lebih dulu berjanji mau nikahin aku!"….Melihat mereka saling menyerang dan membongkar begitu banyak kebenaran, hatiku terasa sangat dingin, sementara kedua tanganku tanpa sadar mengepal erat."Harap tenang!"Setelah hakim mengetukkan palu peringatan, akhirnya Kirana berhenti berdebat dengan Mikho.Setelah mempertimbangkan seluruh bukti dan pengakuan dari kedua pihak, hakim pun memberikan putusan akhir.Pada akhirnya, Mikho dinyatakan bersalah atas tindak penganiayaan dan perampokan rumah, lalu dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara.Karena gugatan perceraianku juga masih dalam proses persidangan, setelah putusan kasus ini keluar, gugatan ceraiku pun segera diproses.Tak lama kemudian, perceraian kami resmi dikabulkan.Sementara itu, Kirana sebagai rekan pelaku dijatuhi hukuman delapan tahun penjara.Setelah keluar dari pengadilan dan melihat sinar matahari yang menyilaukan di luar, aku

  • Penyesalan di Ujung Cinta   Bab 10

    "Wanda, aku tahu aku salah. Tolong maafin aku, aku nggak mau masuk penjara."Melihat dirinya serapuh itu, ada kepuasan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku mati-matian menahan senyum di bibirku, lalu memasang wajah serba salah."Aku juga nggak mau kamu masuk penjara. Bagaimanapun juga kita masih punya Rara. Kalau ayahnya punya catatan kriminal, masa depan dia pasti ikut kena dampaknya.""Iya, iya … Rara nggak boleh punya ayah mantan narapidana. Wanda, tolong lepasin aku kali ini."Setelah mendengar perkataanku, mata Mikho yang tadinya suram mendadak kembali berbinar. Dia langsung berlutut dan maju beberapa langkah ke arahku dengan wajah penuh harap."Cuma … semua bukti sudah telanjur aku serahkan. Yonan juga pasti nggak akan bantu aku.""Wanda, aku benar-benar nggak bisa masuk penjara.""Aku tahu. Bagaimanapun juga kamu tetap ayahnya Rara, jadi aku juga berharap .… "Aku sengaja menggantung kalimatku. Begitu melihat sudut bibir Mikho mulai terangkat,dia langsung merasa paham ma

  • Penyesalan di Ujung Cinta   Bab 9

    Saat menggugat Kirana, aku sudah memperkirakan bahwa dia akan menggunakan Yonan untuk menekanku. Karena itu, sejak beberapa hari dirawat di rumah sakit, aku sengaja mengajak Yonan bertemu di sebuah kafe di seberang pengadilan.Benar saja, Yonan menolak pertemuan itu. Alasannya, sibuk bekerja dan tidak punya waktu karena sedang rapat.Saat aku mengira akan sulit mendapatkan sesuatu dari Yonan, tanpa diduga dia sendiri justru yang menyerahkan bukti itu kepadaku.Pria yang mengaku sedang rapat itu ternyata sedang berpelukan dengan seorang wanita cantik di sudut jalan tak jauh dari pengadilan. Sebelum berpisah, mereka bahkan sempat berciuman, dan Yonan secara refleks menepuk pantat wanita itu.Keduanya tampak begitu mesra sampai seolah tak menyadari orang-orang yang lalu-lalang di sekitar mereka.Aku langsung memotret adegan penuh keambiguan itu lalu mengirimkannya kepada Yonan. Begitu menerima fotonya, Yonan langsung mendongak dan mulai melihat ke sekeliling. Setelah tidak menemukan keber

  • Penyesalan di Ujung Cinta   Bab 8

    Setelah itu dia langsung berlutut di samping ranjangku dengan wajah penuh penyesalan. "Wanda, aku tahu aku salah. Kita jangan cerai ya, maafin aku kali ini."Bahkan sebelum aku sempat membuka mulut, ayahku lebih dulu memarahinya, "Mikho! Setelah cerai baru kamu nyesal, memangnya kamu nggak malu? Dulu waktu aku serahkan putriku sama kamu, gimana janjimu sama aku? Apa kamu udah nepatin?""Aku ingat, Yah, aku nggak lupa. Kasih aku satu kesempatan lagi, aku pasti akan jaga Wanda dengan baik dan nggak akan biarin dia terluka atau nangis lagi.""Pergi!"Ayahku sudah muak mendengar janji-janjinya. Dia langsung mencengkeram kerah baju Mikho dan hendak mengusirnya keluar, untungnya polisi segera menghentikannya.Saat itu kepalaku mulai terasa sakit karena keributan mereka, jadi aku pun angkat bicara, "Tunggu sebentar. Pak Polisi, aku akan panggil pengacaraku. Dia bisa buktiin kalau hubungan pernikahan kami memang udah hancur."Polisi pun setuju. Setelah itu aku langsung menelepon Pak Willy, dan

  • Penyesalan di Ujung Cinta   Bab 7

    Kebetulan hasil visum dari dokter juga baru saja keluar. Setelah pemeriksaan menyeluruh, luka yang kualami dinyatakan sebagai penganiayaan ringan.Itu berarti Mikho kemungkinan besar akan menghadapi hukuman penjara hingga 6 bulan.Akan tetapi, yang kuinginkan bukan hanya itu."Pak Polisi, aku ingin melaporkan Mikho dan Kirana atas percobaan pencurian harta bawaanku sebelum menikah. Waktu aku memergoki mereka, Mikho sengaja mendorongku hingga menyebabkan pendarahan hebat dan keguguran.""Wanda, kamu ngomong apa sih!"Mendengar perkataanku, Mikho langsung panik. Dia hendak menarik lenganku, tetapi ayahku segera menghalanginya."Pak, Pak Polisi, dia ngarang! Dia itu istriku, mana mungkin aku berniat celakain dia? Lagi pula luka itu juga bukan karena aku dorong. Aku cuma nyentuh dia sedikit, nggak mungkin sampai bikin luka separah itu."Mikho segera berusaha melepaskan diri dari tanggung jawab, tapi polisi tentu tidak mudah dibohongi."Tenang dulu. Kita masih perlu bukti untuk memastikan a

  • Penyesalan di Ujung Cinta   Bab 6

    Sambil berbicara, orang tuaku langsung mendorong Mikho ke hadapan dokter."Gimana sih kamu jadi suami! Udah bikin istrimu sampai ngalamin tanda-tanda keguguran, sekarang malah didorong lagi sampai jatuh dan pendarahan hebat sampai keguguran. Lalu kamu sama sekali nggak peduli? Apa hati nurani kamu udah hilang?!"Dokter itu langsung memarahi Mikho habis-habisan. Suara tegurannya bahkan menarik perhatian orang-orang di sekitar untuk menonton."Astaga, pria ini keterlaluan sekali. Bagaimana bisa tega mendorong istrinya yang sedang hamil?""Iya, tadi aku juga lihat. Dia malah gendong anak selingkuhannya sambil nemanin selingkuhannya ganti perban. Dari tadi tatapannya lembut banget. Ih, sekarang kalau dipikir-pikir, menjijikkan!""Dasar bajingan, cepat mati saja!"Semua orang bergantian memarahi Mikho sampai dia tak sanggup mengangkat wajahnya.Sementara itu, untuk menghindari agar dirinya tidak ikut terkena imbas, Kirana juga memeluk Juan dan bersembunyi di tengah kerumunan tanpa berani be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status