Share

Bab 4.

last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-12 09:39:02

Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.

Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak pulang sekolah beberapa hari lalu dengan seragam basah, bau menyengat, dan wajah sembab. 

Puluhan pertanyaan sudah coba diutarakan Mama dan Papa, tapi Olivia masih membatu, enggan membahas masalah itu. Untuk pertama kalinya, ia dirundung di sekolah barunya atas kesalahan yang bahkan tidak ia buat. 

“Liv,” suara Mama menyapa dari arah belakang. Tangan lembut wanita itu mengusap kepalanya dan mengecup ubun-ubunnya dalam. “Ada Kafka di ruang tamu.”

Deg.

Cowok jelek itu lagi.

“Aku nggak mau ketemu siapapun,Ma. Bilang aja aku lagi tidur atau lagi apa gitu, asal jangan suruh aku nemuin dia.” imbuhnya. “Lagian dia tau darimana sih rumah kita?”

Mama menghela napas panjang, lalu mengangguk mengerti. “Bunda Kafka yang nanya. Yaudah kalau gak mau. Mama bilangin, ya.”

Jantung Olivia berdetak lebih cepat hanya karena mendengar nama laki-laki itu. Entah ini rasa takut, waspada, atau ancaman, Olivia tidak menyukai perasaan was-was yang membuat hatinya tidak tenang. 

Ia menyandarkan punggung pada kursi besi yang dingin, memejamkan mata, berusaha menetralkan napasnya.

Beberapa detik sunyi tidak berlangsung lama. Indra pendengarannya menangkap suara langkah kaki seseorang yang mendekat. 

“Kenapa lagi, Ma? Dia belum pulang juga?” Olivia masih memejamkan mata, tidak berniat mendongak, sampai ia merasakan kursi di sampingnya bergeser. Ada seseorang yang ikut duduk di sana.

“Lagi sibuk, ya?”

Suara berat dan tegas itu menyapa telinganya. Olivia mendongak cepat, matanya membelalak. Tatapan mereka bertemu sesaat sebelum Olivia memutuskan kontak mata itu dengan sinis.

“Ngapain lo ke sini? Pergi gak?! Atau gue teriak!” desis Olivia tajam.

Kafka tidak menjawab. Dia hanya tertawa samar lalu meletakkan bungkusan makanan.

“Maaf.” Suaranya terdengar pelan dan serak.

Darah Olivia berdesir mendengarnya. Sejak kapan laki-laki dingin dan ketus itu bisa meminta maaf? 

“Kaf, balik sana. Gue males ketemu lo.” Olivia berdiri, hendak mengusir Kafka dengan cara kasar, namun Kafka malah menatapnya lekat dengan tatapan yang sulit diartikan. “Gue muak liat lo.”

Kafka akhirnya berdiri, namun dia tidak pergi lewat pintu depan. Dia hanya menatap Olivia sekali lagi sebelum akhirnya benar-benar menjauh.

Kegiatan Olivia tidak luput dari penglihatan Mamanya. Mama menghampiri Olivia, memukul lengannya pelan. “Kafka itu sudah jauh-jauh ke sini, izin dari sekolah buat jenguk kamu. Tapi kamu malah usir dia. Dasar anak ini...”

“Aku nggak pernah suruh dia lakuin itu, Ma!” Olivia berjalan masuk ke rumah dengan gusar. Dia mengintip dari balik celah pintu dapur, melihat Kafka yang sedang berpamitan dengan Papanya di ruang tamu dengan wajah yang sangat sok sopan.

Malam harinya, Olivia masuk ke kamar, mengunci pintu, dan mematikan lampu. Dia merasa aman. Namun, suara ketukan dari arah balkon mengagetkannya. Bukan ketukan pintu, tapi sesuatu yang dipanjat.

Olivia membuka gorden dan mendapati Kafka sudah berdiri di balkon kamarnya, entah bagaimana caranya dia bisa sampai di lantai dua. Sebelum Olivia sempat berteriak, Kafka sudah masuk begitu saja dan mengunci pintu balkon.

“Lo gila ya?! Keluar!” usir Olivia panik.

Kafka tidak memedulikan teriakan itu. Dia menatap Olivia dengan tatapan yang kini berubah tajam, bukan lagi nada minta maaf tadi siang.

”Gue ada ide.”

Olivia menatapnya tak percaya. “Gak. Pergi lo!”

“Daripada lo gue jadiin target terus, gue mau jadi pacar lo. Nggak?” Kafka menyodorkan tawaran paling masuk akal agar rahasia memalukan itu tetap terkubur selamanya. Rahasia bahwa dia, sang penguasa sekolah, hanyalah anak mami.

Olivia terdiam cukup lama. Pertanyaannya yang salah atau pria di depannya ini yang benar-benar sudah gila?

“Bukannya harusnya gue yang mau jadi pacar lo?” tanya Olivia sarkas, mencoba menutupi rasa gugupnya.

Kafka tersenyum tipis—senyum yang pertama kali dilihat Olivia. “Oke, gue mau.”

Olivia mematung di tempat, matanya membelalak tak percaya. Sial, apa yang baru saja dia bilang?!

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 195.

    "Aku nggak pernah nyangka lho kita akan sejauh ini, aku pikir sebelumnya setelah putus sama kamu dan kamu ninggalin aku, semua akan selesai …."Olivia menyeruput coklat hangat miliknya, masih dengan menatap hujan yang deras turun di luar ruangan. Rintiknya menerpa basah ke kaca bening, menciptakan suara dentingan samar yang menyelimuti malam hening."Kenapa kamu mikir kayak gitu? Padahal aku setia banget lho sama kamu." Suara Kafka terdengar jelas di belakang Olivia, membuat Olivia sedikit tersentak karena kaget tiba-tiba tangan besar itu sudah melingkar pada bahunya.Masih dengan memegang gelas berisi coklat hangat, dia geser pada Kafka. "Minum nih, aku bikin tadi." Disambut oleh anggukan Kafka.Diseruputnya cokelat hangat yang—entah kenapa begitu nikmat—terasa berbeda. Atau hanya perasaannya saja? "Enak, Sayang …"Panggilan yang berubah menjadi 'aku-kamu' itu mengalir begitu saja. Sejak kemarin di sekolah, Olivia merasa Kafka lebih berbeda.Berkali-kali memanggilnya Olivia dengan s

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 194.

    Hembusan angin kencang menerpa wajah Kafka, membuat rambutnya yang berantakan jadi semakin tidak beraturan. Matahari sudah mulai turun, menyisakan langit yang sudah menggelap.Karina duduk di samping Kafka, di kursi yang sudah rusak sisinya. Ditopang oleh kaki masing-masing agar tidak ambruk."Lo kenapa nyamperin gue? Mau marahin gue kayak Panji?" suara Karina ketus. Tidak menoleh ke samping.Kafka menarik napas.Berat sekali."Nggak. Gue cuma mau minta maaf sama lo kalau selama ini sikap gue ke lo kurang baik sebagai kakak," jelas Kafka.Tentu saja hal itu membuat Karina menoleh, dia sudah menahan tubuhnya agar tidak memutar menghadap Kafka. Takut kursi yang mereka duduki bergoyang."Tiba-tiba banget?"Kafka mengangguk. "Gue belum sempat jelasin ke lo soal Olivia sejak awal gue pacaran sama dia. Bukannya gue nggak mau ngobrol sama lo, tapi … rasa benci gue tiap lihat muka lo terlalu besar. Gue berusaha jauhin lo … karena tiap lihat kebersamaan kalian di rumah Papa, bikin gue merasa k

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 193.

    Sore perlahan turun, menyisakan berkas cahaya keemasan yang memantul di lapangan yang masih basah karena gerimis siang tadi.Olivia dan Sarah duduk menghadap lapangan basket, tempat Kafka, Rio, Haykal dan Hendra bermain basket. Mereka saling lempar, dorong dan setelahnya bertengkar kecil yang dipisahkan oleh wasit dadakan, anak kelas 12.Di kanan kiri Olivia dan Sarah bertumpuk seragam putih milik para laki-laki yang sedang melakukan oper bola itu, beberapa menit lalu sejak bel pulang sekolah. Tiba-tiba ide bermain basket ini menjadi satu-satunya alasan Olivia dan Sarah masih duduk di tribun kecil.Menunggu pasangan masing-masing."Gue nggak nyangka akhirnya kita akan ada di momen kayak gini, ngeliat pasangan masing-masing main bareng. Kita duduk bareng buat menyemangati mereka." Olivia bersuara, membuat Sarah mengalihkan tatap.Senyum tipis terbit di wajah Sarah. Setelah seharian mereka melakukan tes pemilihan minat dan bakat untuk kelas 12, momen ini setidaknya sudah menjadi penyega

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 192.

    Siang ini keadaan kantin sekolah begitu penuh, bel istirahat sudah berbunyi sejak lima menit lalu. Di beberapa stand makanan pun sudah mengantri, antriannya mengular hingga ke pintu masuk kantin. Membuat Olivia, Kafka dan juga Sarah mendelik tatkala melihat semua isi meja penuh.Hanya beberapa meja yang berisi dua orang, Rio sudah Kafka tugaskan untuk mencari tempat selain di kantin. Jika menunggu setengah isi kantin kosong, maka mereka akan kehabisan waktu istirahat. Alhasil mereka menempati taman samping sekolah.Sarah membagi setengah es jeruknya pada Haykal, laki-laki itu menyusul setelah tidak mendapatkan tempat di kantin. Sesuai arahan Kafka, semua teman-temannya berkumpul di taman samping. Membuat dua lingkaran.Lingkaran pertama berisi Kafka, Olivia, Sarah dan Haykal. Sedangkan di lingkaran kedua berisi Rio, Hendra dan teman-temannya yang lain. Makanan hasil traktiran dari Kafka ini membuat suara semakin riuh, saling berebut dan saling balas canda tawa.Olivia mengedarkan tata

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 191.

    Kafka berdiri di depan mobilnya, kedua tangannya bersedekap di dada. Netranya menatap erat pintu kediaman Kusuma yang masih belum terbuka, Olivia masih di dalam sana. Berbicara dengan ayahnya, entah membicarakan apa.Hardi meminta Kafka untuk menunggu Olivia di luar. Pria tua itu—entah firasat Kafka tidak enak— sejak mengajak Olivia mengunjungi tempat ini.Masih terjebak di dalam pusara rasa penasarannya, suara hentakan kaki yang mendekati Kafka, membuat Kafka menarik kembali dirinya. Memusatkan perhatian penuh pada gadis yang sedang membawa sebuah kantong plastik berukuran besar dari dalam rumahnya.Langkahnya yang pelan tapi dihentak itu membuat Kafka mengerutkan kening, gadis itu tampak berbeda dari sebelumnya."Lo nggak diapa-apain sama bokap gue, kan?"Olivia melangkah mendekat, mengangsurkan sekantong plastik besar itu kepada Kafka. "Nggak, ini buat lo. Stok makanan seminggu."Tatapan Kafka turun, menatap heran pada tubuh gelisah Olivia. "Kok buat gue? Nggak mungkin banget bokap

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 190.

    Hari kamis sore setelah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pramuka, Olivia dan Kafka sepakat untuk menyambangi kediaman Kusuma. Kafka sudah berjanji untuk membenahi hal-hal yang seharusnya dia perbaiki, setidaknya dia akan mencoba meredam rasa ingin balas dendam demi bersama Olivia.Mobil Kafka terparkir rapi di pinggir jalan, tidak jauh dari kediaman keluarga Kusuma. Rumah bak istana itu terlihat menjulang di antara rumah lainnya.Gagah dan mewah.Seakan tahu pemilik di dalamnya memang bukan orang sembarangan.Olivia membuka kaca dari dalam tasnya, menyisir rambut yang sempat tidak beraturan karena kegiatan pramuka di bawah terik matahari siang tadi. Tidak lupa menyemprotkan parfum ke berbagai sisi tubuhnya.Membuat Kafka terbatuk pelan, Olivia langsung buru-buru menyimpan kembali parfum dan sisir kecilnya. Lalu, menoleh khawatir pada Kafka yang sedang meneguk air."Duh, maaf. Nggak sengaja, harusnya gue pakai parfum di luar aja."Kafka mengibaskan kedua tangan di udara sembari mengg

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 2.

    “Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 1.

    “Peraturan pertama, jangan deket-deket sama anak-anak The Syndicate. Apalagi sama Kafka. Lo gak mau kena kartu merah di minggu pertama pindah kan, Liv?"Sarah, teman sebangku Olivia, berbisik dengan nada cemas saat mereka baru saja melewati koridor utama. Hari ini adalah tepat satu minggu sejak Ol

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 5.

    Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di korido

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 3.

    Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status