MasukSejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.
Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak pulang sekolah beberapa hari lalu dengan seragam basah, bau menyengat, dan wajah sembab.
Puluhan pertanyaan sudah coba diutarakan Mama dan Papa, tapi Olivia masih membatu, enggan membahas masalah itu. Untuk pertama kalinya, ia dirundung di sekolah barunya atas kesalahan yang bahkan tidak ia buat.
“Liv,” suara Mama menyapa dari arah belakang. Tangan lembut wanita itu mengusap kepalanya dan mengecup ubun-ubunnya dalam. “Ada Kafka di ruang tamu.”
Deg.
Cowok jelek itu lagi.
“Aku nggak mau ketemu siapapun,Ma. Bilang aja aku lagi tidur atau lagi apa gitu, asal jangan suruh aku nemuin dia.” imbuhnya. “Lagian dia tau darimana sih rumah kita?”
Mama menghela napas panjang, lalu mengangguk mengerti. “Bunda Kafka yang nanya. Yaudah kalau gak mau. Mama bilangin, ya.”
Jantung Olivia berdetak lebih cepat hanya karena mendengar nama laki-laki itu. Entah ini rasa takut, waspada, atau ancaman, Olivia tidak menyukai perasaan was-was yang membuat hatinya tidak tenang.
Ia menyandarkan punggung pada kursi besi yang dingin, memejamkan mata, berusaha menetralkan napasnya.
Beberapa detik sunyi tidak berlangsung lama. Indra pendengarannya menangkap suara langkah kaki seseorang yang mendekat.
“Kenapa lagi, Ma? Dia belum pulang juga?” Olivia masih memejamkan mata, tidak berniat mendongak, sampai ia merasakan kursi di sampingnya bergeser. Ada seseorang yang ikut duduk di sana.
“Lagi sibuk, ya?”
Suara berat dan tegas itu menyapa telinganya. Olivia mendongak cepat, matanya membelalak. Tatapan mereka bertemu sesaat sebelum Olivia memutuskan kontak mata itu dengan sinis.
“Ngapain lo ke sini? Pergi gak?! Atau gue teriak!” desis Olivia tajam.
Kafka tidak menjawab. Dia hanya tertawa samar lalu meletakkan bungkusan makanan.
“Maaf.” Suaranya terdengar pelan dan serak.
Darah Olivia berdesir mendengarnya. Sejak kapan laki-laki dingin dan ketus itu bisa meminta maaf?
“Kaf, balik sana. Gue males ketemu lo.” Olivia berdiri, hendak mengusir Kafka dengan cara kasar, namun Kafka malah menatapnya lekat dengan tatapan yang sulit diartikan. “Gue muak liat lo.”
Kafka akhirnya berdiri, namun dia tidak pergi lewat pintu depan. Dia hanya menatap Olivia sekali lagi sebelum akhirnya benar-benar menjauh.
Kegiatan Olivia tidak luput dari penglihatan Mamanya. Mama menghampiri Olivia, memukul lengannya pelan. “Kafka itu sudah jauh-jauh ke sini, izin dari sekolah buat jenguk kamu. Tapi kamu malah usir dia. Dasar anak ini...”
“Aku nggak pernah suruh dia lakuin itu, Ma!” Olivia berjalan masuk ke rumah dengan gusar. Dia mengintip dari balik celah pintu dapur, melihat Kafka yang sedang berpamitan dengan Papanya di ruang tamu dengan wajah yang sangat sok sopan.
Malam harinya, Olivia masuk ke kamar, mengunci pintu, dan mematikan lampu. Dia merasa aman. Namun, suara ketukan dari arah balkon mengagetkannya. Bukan ketukan pintu, tapi sesuatu yang dipanjat.
Olivia membuka gorden dan mendapati Kafka sudah berdiri di balkon kamarnya, entah bagaimana caranya dia bisa sampai di lantai dua. Sebelum Olivia sempat berteriak, Kafka sudah masuk begitu saja dan mengunci pintu balkon.
“Lo gila ya?! Keluar!” usir Olivia panik.
Kafka tidak memedulikan teriakan itu. Dia menatap Olivia dengan tatapan yang kini berubah tajam, bukan lagi nada minta maaf tadi siang.
”Gue ada ide.”
Olivia menatapnya tak percaya. “Gak. Pergi lo!”
“Daripada lo gue jadiin target terus, gue mau jadi pacar lo. Nggak?” Kafka menyodorkan tawaran paling masuk akal agar rahasia memalukan itu tetap terkubur selamanya. Rahasia bahwa dia, sang penguasa sekolah, hanyalah anak mami.
Olivia terdiam cukup lama. Pertanyaannya yang salah atau pria di depannya ini yang benar-benar sudah gila?
“Bukannya harusnya gue yang mau jadi pacar lo?” tanya Olivia sarkas, mencoba menutupi rasa gugupnya.
Kafka tersenyum tipis—senyum yang pertama kali dilihat Olivia. “Oke, gue mau.”
Olivia mematung di tempat, matanya membelalak tak percaya. Sial, apa yang baru saja dia bilang?!
"Gue sama sekali nggak mengerti maksud lo ngomong kayak gitu, apa?" Kafka menoleh, mendapati wajah ketus Olivia. Peluhnya menetes dari kening. "Maksud omongan gue yang mana?" "Lo pikir gue akan bunuh diri?" Kafka mengangguk. "Gue pikir lo akan beneran bunuh diri, Oliver tadi hubungin gue. Dia nyariin lo, pas dia bilang lo belum pulang ke rumah. Pikiran gue kalut, gue bingung harus cari ke mana lagi," akunya. Keheningan kembali menyelimuti kedua insan yang duduk saling bertolak belakang. Sejak tadi, Olivia tidak mau untuk menatap Kafka. Entah kenapa, tiba-tiba rasa kesalnya menguap ke udara, tergantikan oleh rasa rindu yang mendadak datang. "Kalau nggak berniat buat balik sama gue, nggak usah ngasih harapan." Kafka menghela napas. Panjang dan berat. "Ngasih harapan, gimana? Gue selama juga nggak pernah macam-macam." Olivia terkekeh. Di sela kekehannya sebenarnya dia ingin menangis, lagi. Pandangannya menatap lurus ke depan, pada dinding yang sudah retak. Dinding putih itu ter
"Mas ganteng itu baru aja dari sini, Kak."Olivia menoleh saat mendapati suara petugas kebersihan di minimarket yang biasa dia kunjungi. "Kafka?" "Iya, mas ganteng itu juga sempat ngelihatin lantai dua. Tapi nggak naik ke atas, cuma ke sini beli kertas kado aja kayaknya." Olivia tersenyum. Kakinya tetap melangkah menuju lantai dua, menyusul petugas kebersihan yang sedang berbicara dengannya. Wanita itu melangkah cepat sekali, seperti sudah terbiasa dengan naik turun tangga sempit di minimarket ini."Kasihan sekali, murung wajahnya. Saya sih, nggak berani tanya." Angin malam di lantai dua minimarket ini selalu menjadi candunya, dari ketinggian ini dia bisa melihat gemerlap lampu-lampu dari rumah-rumah warga. Sepertinya Olivia tidak akan kembali lagi ke sini. Mungkin, tempat ini menjadi salah satu tempat yang akan Olivia hindari. "Putus, ya?"Olivia sontak menoleh, menatap bertugas kebersihan yang sedang mengelap meja di sebelahnya. "Kok tahu?""Mukanya sama suramnya kayak mas ga
"Aku mau pindah sekolah." Suara Olivia yang melengking ketika memasuki rumah membuat Oliver yang sedang menonton televisi di ruang tamu menoleh. Mendapati Olivia yang melangkah mendekatinya dengan tubuh basah kuyup, tatapannya tidak lagi ceria. Oliver menyadari perubahan ini. Dia langsung bangkit dari duduknya, merengkuh tubuh adiknya tanpa mempertanyakan alasannya. Tidak ada suara tangisan, tidak ada omelan. Olivia sungguh hening. "Mau pindah ke mana?" tanya Oliver. Pakaiannya juga ikut basah saat merengkuh tubuh Olivia. Dia sempatkan untuk meminta handuk kepada Mbok untuk Olivia. "Pindah ke SMA Rajasa, sekolah Abang dulu." "Nggak mau ke sekolah lain?" Oliver menuntun Olivia untuk duduk di karpet. Dia mengecilkan volume televisi, mendengarkan adiknya yang mungkin saja akan berbicara lebih panjang. "Nggak mau balik ke sekolah kamu yang dulu?" Olivia menggeleng. "Kenapa SMA Rajasa?" "Biar Kafka semakin benci aku." Oliver memundurkan tubuhnya, memberi jarak pada
"Olivia, lo bisa kan dengerin penjelasan gue dulu? Lo butuh tau yang sebenarnya terjadi tuh apa." Olivia menggeram tertahan. "Mau lo tuh apa sih? Setelah sebelumnya lo bikin gue ngerasa jadi orang paling bahagia, terus sekarang lo jatuhin gue? Lo jahat, Kaf." Kafka menghela napa pendek. Sejak tadi Olivia tidak sudah-sudahnya memarahinya. Kafka tahu ini kesalahannya, tidak membicarakan tentang rencana masa depannya kepada Olivia. Tapi, tidakkah Olivia juga harus berusaha mendengarkan dulu? "Kalau lo mau bahagia, ya ayo sama gue. Dengerin penjelasan gue, dengerin semua alasan dibalik semua keputusan gue." Kafka menarik lengan Olivia saat gadis itu hendak menyebrang. Di mana letak penglihatan gadis itu? Jelas-jelas ada mobil yang melaju kencang ke arahnya, tapi dia nekat menyebrang. "Lo lihat jalanan dong, jangan bego kayak gitu. Nggak usah bunuh diri segala!" teriak Kafka di depan wajah Olivia. Olivia tidak marah. Dia hanya diam mematung, menatap lurus Kafka. "Nggak ada yang ma
Olivia terlambat ke sekolah dan ini bukanlah hal yang biasa Kafka saksikan sepanjang mereka sekelas. Setahu Kafka, Olivia adalah orang yang sangat tepat waktu. Tidak pernah menyia-nyiakan waktu untuk belajar.Hari ini ada ulangan harian, jam pelajaran pertama sudah selesai. Namun, Olivia tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Sudah Kafka tanyakan kepada ketua kelas, tidak ada informasi tentang izin tidak masuk Olivia hari ini.Dan itu membuat sesuatu di dalam diri Kafka terusik.Rio yang duduk di belakang Kafka mendorong pelan pundak Kafka, saat melihat Olivia melangkah memasuki kelas tepat saat ulangan kedua hendak mulai. Kafka dan Rio sama-sama menajamkan pendengaran mereka saat Olivia berbicang dengan wali kelasnya di meja guru.Ingin sekali Kafka berlari menuju meja itu dan meminta penjelasan kepada Olivia tentang perubahannya yang drastis.Kemarin, gadis itu masih baik-baik saja saat mengobrol dengannya. Kenapa tiba-tiba hari ini menjauhinya seakan Kafka itu hama?"Olivia!"
Lampu di kamar Olivia masih menyala hingga tengah malam, si empunya kamar sedang duduk termenung di balkon. Tidak menghiraukan angin malam yang berhembus semakin kencang menerpa wajahnya.Tetesan gerimis mulai turun membasahi tepi balkon, cipratan airnya mengenai kaki Olivia. Dia sempat menunduk sebentar, menatapnya tidak peduli. Lalu, kembali lagi mendongak, menatap langit pekat yang membawa angin dingin.Setelah menyelesaikan masalah dengan keluarganya yang menghabiskan waktu berjam-jam, Olivia tidak lagi berminat turun ke bawah untuk sekedar makan malam.Dia lebih memilih duduk sendirian bersama keheningan malam, meratapi betapa sedihnya dia ketika nanti hubungannya dengan Kafka benar-benar berakhir.Ternyata benar, apa yang Kafka ucapkan tempo hari tentang LDR, tidak semua orang bisa menyelesaikannya hingga tuntas. Tidak semua orang betah dengan jarak.Tanpa janji bertemu, tanpa komunikasi langsung.Olivia saat itu yakin bisa menjalaninya karena dia yakin dengan Kafka. Tapi … seka
“Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan
“Peraturan pertama, jangan deket-deket sama anak-anak The Syndicate. Apalagi sama Kafka. Lo gak mau kena kartu merah di minggu pertama pindah kan, Liv?"Sarah, teman sebangku Olivia, berbisik dengan nada cemas saat mereka baru saja melewati koridor utama. Hari ini adalah tepat satu minggu sejak Ol
Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di korido
Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang







