MasukHari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.
Semua orang di koridor mendadak diam. Kafka tidak melepaskan cengkeramannya, justru dia menarik Olivia mendekat sampai bahu mereka bersentuhan.
“Jalan di samping gue, jangan ketinggalan," bisik Kafka dingin, namun terdengar sangat otoriter.
"Lepasin, Kaf. Lo bikin gue makin jadi bahan omongan," desis Olivia, berusaha melepaskan diri namun sia-sia karena Kafka justru mempererat rangkulannya.
Kafka tidak peduli. Dia membawa Olivia berjalan menuju kantin. The Syndicate lainnya duduk di meja pojok, menatap mereka dengan wajah tidak percaya.
Mereka tampak bingung, mengapa ketua mereka yang biasanya dingin malah bersikap "protektif" terhadap gadis yang baru saja mereka siram es teh kemarin.
"Duduk," perintah Kafka sambil menarik kursi untuk Olivia.
"Kaf, ini terlalu berlebihan," protes Olivia setelah mereka duduk. Dia tidak sudi makan di sana, di bawah tatapan orang-orang yang baru saja menindasnya. "Cukup bikin orang nggak bully gue aja, nggak perlu akting kayak gini. Lo kelihatan kayak orang gila."
Kafka menyandarkan punggungnya, menatap Olivia lekat-lekat dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kalau gue cuma bilang jangan ganggu lo, mereka nggak bakal nurut. Mereka harus tahu kalau lo sekarang ada di bawah pengawasan gue. Kalau ada yang berani nyentuh lo, berarti mereka nyentuh milik gue."
"Milik lo?" Olivia mendengus, merasa muak. "Lo pikir gue pacar lo?"
"Lo adalah kartu as gue sekarang," sahut Kafka datar.
Tiba-tiba, seorang gadis datang menghampiri meja mereka dengan wajah kesal. Wajahnya merah padam melihat Kafka merangkul Olivia.
"Kafka, apa-apaan ini? Kamu gila ya, pacaran sama cewek baru?" sentak gadis itu tanpa rasa sungkan.
Olivia terdiam, menatap Kafka, menunggu reaksi cowok itu. Tapi Kafka justru menarik dagu Olivia agar menatapnya, lalu tersenyum tipis—senyum yang sangat terlihat palsu di mata Olivia.
"Kenapa? Cemburu?" tanya Kafka datar tanpa menoleh ke saudara tirinya. "Mulai hari ini, jangan pernah ada yang berani nyentuh Olivia. Sekali kalian sentuh, anggap aja kalian lagi ngajak gue perang."
Setelah cewek itu pergi dengan amarah, Kafka mendekatkan wajahnya ke telinga Olivia.
"Itu bagian akting di depan umum. Sekarang, bagian yang sebenarnya," bisik Kafka saat nampan berisi bubur diletakkan di depannya. “Makan.”
“Lo belum sarapan, kan?”
Olivia mematung. Ternyata kesepakatan mereka bukan cuma tentang pura-pura pacaran di sekolah, tapi juga tentang keterikatan yang tidak bisa dia hindari di luar sekolah.
"Lo bener-bener nyebelin," umpat Olivia pelan.
"Gue tau,"
Tiba-tiba, ponsel Kafka bergetar di atas meja. Layar ponsel itu menyala.. Kafka dengan cepat mengangkatnya, lalu berjalan menjauh dari meja untuk berbicara. Olivia memperhatikan punggung Kafka.
Cowok itu tertawa saat berbicara di telepon, suaranya terdengar lembut—sebuah sisi yang tidak pernah Olivia lihat.
Saat Kafka kembali, raut wajahnya masih terlihat tenang, bahkan ia sempat bercanda dengan Rio dan anak-anak The Syndicate lainnya seolah tidak ada beban.
“Baru jadi hari pertama pacar udah gak bisa anter pulang.” tukasnya.
"Nanti sore lo langsung balik ya," ucap Kafka santai sambil menyantap makanannya. "Gue ada urusan keluarga mendadak."
"Urusan apa?"
"Biasa," jawabnya sambil terkekeh ringan.
Baru saja ia menyendok bubur yang dibelikan pria itu, handphonenya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Mama. “Liv, Mama berangkat ke Bogor sekarang. Kamu jaga diri ya di rumah. Tadi pihak rumah sakit telepon, kondisi Bunda Kafka memburuk drastis dan... beliau baru saja menghembuskan nafas terakhir.”
Olivia tertegun. Ponselnya nyaris terlepas dari genggaman. Saat ia menatap pria itu yang kini tertawa di pojok sana, melempar gurauan kasar pada Rio sampai teman-temannya ikut terbahak.
Dunia seolah berhenti berputar. Olivia tidak mampu mengalihkan pandangannya dari Kafka
Tiba-tiba, Kafka menoleh. Tatapannya bersirobok dengan Olivia.
Senyum di wajah Kafka tidak memudar, justru melebar.
“Kenapa? Buburnya gak enak, Sayang?”
"Mas ganteng itu baru aja dari sini, Kak."Olivia menoleh saat mendapati suara petugas kebersihan di minimarket yang biasa dia kunjungi. "Kafka?" "Iya, mas ganteng itu juga sempat ngelihatin lantai dua. Tapi nggak naik ke atas, cuma ke sini beli kertas kado aja kayaknya." Olivia tersenyum. Kakinya tetap melangkah menuju lantai dua, menyusul petugas kebersihan yang sedang berbicara dengannya. Wanita itu melangkah cepat sekali, seperti sudah terbiasa dengan naik turun tangga sempit di minimarket ini."Kasihan sekali, murung wajahnya. Saya sih, nggak berani tanya." Angin malam di lantai dua minimarket ini selalu menjadi candunya, dari ketinggian ini dia bisa melihat gemerlap lampu-lampu dari rumah-rumah warga. Sepertinya Olivia tidak akan kembali lagi ke sini. Mungkin, tempat ini menjadi salah satu tempat yang akan Olivia hindari. "Putus, ya?"Olivia sontak menoleh, menatap bertugas kebersihan yang sedang mengelap meja di sebelahnya. "Kok tahu?""Mukanya sama suramnya kayak mas ga
"Aku mau pindah sekolah." Suara Olivia yang melengking ketika memasuki rumah membuat Oliver yang sedang menonton televisi di ruang tamu menoleh. Mendapati Olivia yang melangkah mendekatinya dengan tubuh basah kuyup, tatapannya tidak lagi ceria. Oliver menyadari perubahan ini. Dia langsung bangkit dari duduknya, merengkuh tubuh adiknya tanpa mempertanyakan alasannya. Tidak ada suara tangisan, tidak ada omelan. Olivia sungguh hening. "Mau pindah ke mana?" tanya Oliver. Pakaiannya juga ikut basah saat merengkuh tubuh Olivia. Dia sempatkan untuk meminta handuk kepada Mbok untuk Olivia. "Pindah ke SMA Rajasa, sekolah Abang dulu." "Nggak mau ke sekolah lain?" Oliver menuntun Olivia untuk duduk di karpet. Dia mengecilkan volume televisi, mendengarkan adiknya yang mungkin saja akan berbicara lebih panjang. "Nggak mau balik ke sekolah kamu yang dulu?" Olivia menggeleng. "Kenapa SMA Rajasa?" "Biar Kafka semakin benci aku." Oliver memundurkan tubuhnya, memberi jarak pada
"Olivia, lo bisa kan dengerin penjelasan gue dulu? Lo butuh tau yang sebenarnya terjadi tuh apa." Olivia menggeram tertahan. "Mau lo tuh apa sih? Setelah sebelumnya lo bikin gue ngerasa jadi orang paling bahagia, terus sekarang lo jatuhin gue? Lo jahat, Kaf." Kafka menghela napa pendek. Sejak tadi Olivia tidak sudah-sudahnya memarahinya. Kafka tahu ini kesalahannya, tidak membicarakan tentang rencana masa depannya kepada Olivia. Tapi, tidakkah Olivia juga harus berusaha mendengarkan dulu? "Kalau lo mau bahagia, ya ayo sama gue. Dengerin penjelasan gue, dengerin semua alasan dibalik semua keputusan gue." Kafka menarik lengan Olivia saat gadis itu hendak menyebrang. Di mana letak penglihatan gadis itu? Jelas-jelas ada mobil yang melaju kencang ke arahnya, tapi dia nekat menyebrang. "Lo lihat jalanan dong, jangan bego kayak gitu. Nggak usah bunuh diri segala!" teriak Kafka di depan wajah Olivia. Olivia tidak marah. Dia hanya diam mematung, menatap lurus Kafka. "Nggak ada yang ma
Olivia terlambat ke sekolah dan ini bukanlah hal yang biasa Kafka saksikan sepanjang mereka sekelas. Setahu Kafka, Olivia adalah orang yang sangat tepat waktu. Tidak pernah menyia-nyiakan waktu untuk belajar.Hari ini ada ulangan harian, jam pelajaran pertama sudah selesai. Namun, Olivia tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Sudah Kafka tanyakan kepada ketua kelas, tidak ada informasi tentang izin tidak masuk Olivia hari ini.Dan itu membuat sesuatu di dalam diri Kafka terusik.Rio yang duduk di belakang Kafka mendorong pelan pundak Kafka, saat melihat Olivia melangkah memasuki kelas tepat saat ulangan kedua hendak mulai. Kafka dan Rio sama-sama menajamkan pendengaran mereka saat Olivia berbicang dengan wali kelasnya di meja guru.Ingin sekali Kafka berlari menuju meja itu dan meminta penjelasan kepada Olivia tentang perubahannya yang drastis.Kemarin, gadis itu masih baik-baik saja saat mengobrol dengannya. Kenapa tiba-tiba hari ini menjauhinya seakan Kafka itu hama?"Olivia!"
Lampu di kamar Olivia masih menyala hingga tengah malam, si empunya kamar sedang duduk termenung di balkon. Tidak menghiraukan angin malam yang berhembus semakin kencang menerpa wajahnya.Tetesan gerimis mulai turun membasahi tepi balkon, cipratan airnya mengenai kaki Olivia. Dia sempat menunduk sebentar, menatapnya tidak peduli. Lalu, kembali lagi mendongak, menatap langit pekat yang membawa angin dingin.Setelah menyelesaikan masalah dengan keluarganya yang menghabiskan waktu berjam-jam, Olivia tidak lagi berminat turun ke bawah untuk sekedar makan malam.Dia lebih memilih duduk sendirian bersama keheningan malam, meratapi betapa sedihnya dia ketika nanti hubungannya dengan Kafka benar-benar berakhir.Ternyata benar, apa yang Kafka ucapkan tempo hari tentang LDR, tidak semua orang bisa menyelesaikannya hingga tuntas. Tidak semua orang betah dengan jarak.Tanpa janji bertemu, tanpa komunikasi langsung.Olivia saat itu yakin bisa menjalaninya karena dia yakin dengan Kafka. Tapi … seka
"Kenapa kamu nggak cerita ke Mama kalau kamu udah pacaran sama Kafka." Olivia mendadak diam, tubuhnya membeku. Dia baru saja melangkahkan kaki memasuki rumah, langsung dihadapkan pada tatap-tatap tajam keluarganya.Ditambah Oliver yang baru tiba tadi pagi.Di hadapan Olivia ada Mama, Papa dan Oliver yang menunggu jawabannya."Lupa," jawab Olivia singkat.Mama mendesah pelan. "Kamu kemarin seharian di apartemen Kafka, ngapain?" Papa mengusap pundak Mama pelan. Menenangkan. "Ma, tarik napas. Tanya pelan-pelan sama Olivia, kasihan dia baru pulang sekolah."Mama menarik lengan Olivia untuk duduk di sofa bersama Oliver, menatap Olivia dengan wajah yang sarat akan makna. "Kamu nggak ngapa-ngapain, kan? Berduaan sama Kafka malam-malam di sana."Olivia menggeleng kuat. "Aku udah sering ke apartemen Kafka malam-malam, kok Mama baru protes sekarang?" Hening.Papa menoleh pada Oliver, laki-laki itu hanya menggeleng. Tidak ada yang tahu tentang hal itu."Ayahnya Kafka datang ke sini, ngasih r
Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak
Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang
“Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan
“Peraturan pertama, jangan deket-deket sama anak-anak The Syndicate. Apalagi sama Kafka. Lo gak mau kena kartu merah di minggu pertama pindah kan, Liv?"Sarah, teman sebangku Olivia, berbisik dengan nada cemas saat mereka baru saja melewati koridor utama. Hari ini adalah tepat satu minggu sejak Ol


![Without You [Indonesia]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)




