Masuk
“Peraturan pertama, jangan deket-deket sama anak-anak The Syndicate. Apalagi sama Kafka. Lo gak mau kena kartu merah di minggu pertama pindah kan, Liv?"
Sarah, teman sebangku Olivia, berbisik dengan nada cemas saat mereka baru saja melewati koridor utama.
Hari ini adalah tepat satu minggu sejak Olivia menginjakkan kaki di Jakarta dan memulai kehidupan barunya di SMA Budi Karya.
Sekolah paling elit se Jakarta Raya, katanya. Tapi minusnya, jangan pernah memancing perhatian Kafka Pradipta Kusuma, sang putra tunggal pemilik yayasan yang memimpin kelompok perundung paling ditakuti di sekolah.
Di depan sana, sekelompok cowok dengan seragam yang sengaja dikeluarkan sedang berdiri.
Salah satu dari mereka—Kafka Pradipta Kusuma—sedang bersandar di dinding, menatap seorang siswa yang berlutut di depannya dengan tatapan yang nyaris kosong.
Siapa sangka, di balik topeng 'bengis' yang disandang sang ketua itu, ada rahasia yang sanggup menghancurkan reputasinya?
Semuanya bermula tiga bulan lalu, jauh sebelum Olivia pindah ke Jakarta. Saat ia menginap di rumah Tante Ratna, teman baik mamanya di Bogor, ia tidak sengaja memergoki Kafka—si dingin yang ditakuti seluruh sekolah—sedang menangis sesenggukan karena bundanya ketinggalan di villa keluarga.
Kafka yang di sekolah tampak seperti monster, di rumah hanyalah seorang anak mami yang bahkan tidak berani mematikan lampu kamar karena takut gelap.
Olivia menatap lebih lama. Laki-laki itu hanya diam, membiarkan anggota kelompoknya melakukan tugas kotor, sementara dia sendiri adalah simbol otoritas yang tak tersentuh.
Namun, sial.
Hari ini Kafka menangkap basah tatapannya dari seberang koridor.
Tanpa sepatah kata pun, Kafka berdiri tegak. Dia melangkah lebar membelah kerumunan siswa. Sebelum Olivia sempat berbalik untuk lari, sebuah tangan besar mencengkeram lengan seragamnya dengan cukup kuat.
"Ikut gue."
Suaranya rendah, nyaris seperti geraman yang hanya bisa didengar Olivia.
Kafka menyeretnya masuk ke dalam ruang lab kimia yang kosong, menjauh dari kerumunan, dan mengunci pintu dari dalam.
Olivia menahan napas. Ia hanya seorang murid pindahan yang ingin lulus dengan tenang, bukan mencari masalah dengan anak geng-gengan.
Ruangan itu berbau cairan kimia dan debu, suasana yang pengap membuat Olivia merasa dadanya sesak.
Gadis itu berdiri kaku di dekat meja praktikum, matanya menatap lantai, tidak berani membalas tatapan Kafka yang kini bersandar di pintu sambil melipat tangan di dada.
"Gue nggak bakal bilang siapa-siapa soal—”gumam Olivia, suaranya bergetar hebat.
Kafka mendekat. Dia tidak menindas secara fisik, tapi auranya membuat ruangan yang luas itu terasa sangat sempit.
Ia bersandar di meja praktikum, tepat di depan Olivia, menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilatan tidak suka, sekaligus kewaspadaan yang tidak biasa di sana.
“Sejak kapan lo pindah?”
Olivia mengangkat muka sebelum laki-laki itu kembali mengusiknya. "Dengar. Lo pikir gue peduli soal apa yang lo omongin?"
"Gue nggak bakal kasih tahu siapa pun!" Olivia mendongak, matanya berkaca-kaca karena bingung dan takut. "Gue cuma–gue nggak punya waktu buat ngurusin hidup lo. Tolong, biarin gue pergi."
"Tapi lo udah liat," potong Kafka dingin.
Kafka bergerak cepat, memojokkan Olivia di antara meja lab dan tubuhnya yang jauh lebih tinggi.
Ia tidak menyentuh Olivia, namun keberadaannya sudah cukup untuk membuat Olivia tidak bisa berkutik. Kafka yang di sekolah ini terlihat sepuluh kali lipat lebih mengerikan dibanding Kafka yang manja di villa.
Ia adalah ancaman nyata bagi masa depan Olivia di sekolah ini. Kafka mencondongkan wajahnya, membiarkan Olivia merasakan betapa dingin dan tidak tersentuhnya sosok ketua The Syndicate ini.
“Terus lo mau apa, Ka? Gue tutup mulut?”
Kafka tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru memutar kursinya, menatap jendela yang memperlihatkan lapangan sekolah dari ketinggian lantai tiga.
Dengan gerakan lambat yang sengaja ia buat agar Olivia merasa terintimidasi, Kafka bangkit dan kembali merangsek maju. Ia berhenti tepat di depan Olivia, menunduk hingga tatapan mereka terkunci dalam jarak yang sangat berbahaya.
"Tutup mulut aja nggak cukup," Kafka berucap pelan, nyaris berbisik namun penuh penekanan. "Orang yang tahu rahasia gue punya kebiasaan nggak sengaja keceplosan. Lo bakal tau konsekuensinya.”
"Konsekuensinya apa?" tanya Olivia lirih.
Kepalanya pening karena situasi ini. Ia merasa terperangkap dalam skenario yang sama sekali tidak ia inginkan.
"Konsekuensinya, lo harus jadi orang yang selalu tahu di mana gue berada," jawab Kafka pelan. “Kalau ada yang nanya kenapa lo sering ada di sekitar kelompok gue, bilang aja lo anak baru yang disuruh bantuin urusan administratif beasiswa.”
"Cuma buat tutup mulut kalau lo… anak mami? Gue nggak mau terlibat sama kalian!"
"Gue nggak minta saran," tegas Kafka.
Matanya menajam, memberikan peringatan tanpa kata.
Kafka merogoh saku seragamnya, lalu melemparkan sebuah kartu akses ruangan khusus "Simpan.”
Olivia menatap kartu akses itu dengan tangan gemetar. Ia tidak pernah ingin terlibat dalam dunia Kafka, tapi Kafka memberikannya pilihan yang tidak bisa ia tolak. Ia terjebak dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan.
"Lo bakal lakuin apa yang gue suruh," bisik Kafka.
Olivia terdiam sejenak. Sorot matanya melunak sedetik, sebelum akhirnya kembali menjadi dingin.
"Dengar, Olivia. Kalau lo nggak mau jadi salah satu target bully Syndicate, lo harus simpan rahasia gue. Mulai detik ini, lo bakal selalu jadi dalam pengawasan gue.”
"Aku nggak pernah nyangka lho kita akan sejauh ini, aku pikir sebelumnya setelah putus sama kamu dan kamu ninggalin aku, semua akan selesai …."Olivia menyeruput coklat hangat miliknya, masih dengan menatap hujan yang deras turun di luar ruangan. Rintiknya menerpa basah ke kaca bening, menciptakan suara dentingan samar yang menyelimuti malam hening."Kenapa kamu mikir kayak gitu? Padahal aku setia banget lho sama kamu." Suara Kafka terdengar jelas di belakang Olivia, membuat Olivia sedikit tersentak karena kaget tiba-tiba tangan besar itu sudah melingkar pada bahunya.Masih dengan memegang gelas berisi coklat hangat, dia geser pada Kafka. "Minum nih, aku bikin tadi." Disambut oleh anggukan Kafka.Diseruputnya cokelat hangat yang—entah kenapa begitu nikmat—terasa berbeda. Atau hanya perasaannya saja? "Enak, Sayang …"Panggilan yang berubah menjadi 'aku-kamu' itu mengalir begitu saja. Sejak kemarin di sekolah, Olivia merasa Kafka lebih berbeda.Berkali-kali memanggilnya Olivia dengan s
Hembusan angin kencang menerpa wajah Kafka, membuat rambutnya yang berantakan jadi semakin tidak beraturan. Matahari sudah mulai turun, menyisakan langit yang sudah menggelap.Karina duduk di samping Kafka, di kursi yang sudah rusak sisinya. Ditopang oleh kaki masing-masing agar tidak ambruk."Lo kenapa nyamperin gue? Mau marahin gue kayak Panji?" suara Karina ketus. Tidak menoleh ke samping.Kafka menarik napas.Berat sekali."Nggak. Gue cuma mau minta maaf sama lo kalau selama ini sikap gue ke lo kurang baik sebagai kakak," jelas Kafka.Tentu saja hal itu membuat Karina menoleh, dia sudah menahan tubuhnya agar tidak memutar menghadap Kafka. Takut kursi yang mereka duduki bergoyang."Tiba-tiba banget?"Kafka mengangguk. "Gue belum sempat jelasin ke lo soal Olivia sejak awal gue pacaran sama dia. Bukannya gue nggak mau ngobrol sama lo, tapi … rasa benci gue tiap lihat muka lo terlalu besar. Gue berusaha jauhin lo … karena tiap lihat kebersamaan kalian di rumah Papa, bikin gue merasa k
Sore perlahan turun, menyisakan berkas cahaya keemasan yang memantul di lapangan yang masih basah karena gerimis siang tadi.Olivia dan Sarah duduk menghadap lapangan basket, tempat Kafka, Rio, Haykal dan Hendra bermain basket. Mereka saling lempar, dorong dan setelahnya bertengkar kecil yang dipisahkan oleh wasit dadakan, anak kelas 12.Di kanan kiri Olivia dan Sarah bertumpuk seragam putih milik para laki-laki yang sedang melakukan oper bola itu, beberapa menit lalu sejak bel pulang sekolah. Tiba-tiba ide bermain basket ini menjadi satu-satunya alasan Olivia dan Sarah masih duduk di tribun kecil.Menunggu pasangan masing-masing."Gue nggak nyangka akhirnya kita akan ada di momen kayak gini, ngeliat pasangan masing-masing main bareng. Kita duduk bareng buat menyemangati mereka." Olivia bersuara, membuat Sarah mengalihkan tatap.Senyum tipis terbit di wajah Sarah. Setelah seharian mereka melakukan tes pemilihan minat dan bakat untuk kelas 12, momen ini setidaknya sudah menjadi penyega
Siang ini keadaan kantin sekolah begitu penuh, bel istirahat sudah berbunyi sejak lima menit lalu. Di beberapa stand makanan pun sudah mengantri, antriannya mengular hingga ke pintu masuk kantin. Membuat Olivia, Kafka dan juga Sarah mendelik tatkala melihat semua isi meja penuh.Hanya beberapa meja yang berisi dua orang, Rio sudah Kafka tugaskan untuk mencari tempat selain di kantin. Jika menunggu setengah isi kantin kosong, maka mereka akan kehabisan waktu istirahat. Alhasil mereka menempati taman samping sekolah.Sarah membagi setengah es jeruknya pada Haykal, laki-laki itu menyusul setelah tidak mendapatkan tempat di kantin. Sesuai arahan Kafka, semua teman-temannya berkumpul di taman samping. Membuat dua lingkaran.Lingkaran pertama berisi Kafka, Olivia, Sarah dan Haykal. Sedangkan di lingkaran kedua berisi Rio, Hendra dan teman-temannya yang lain. Makanan hasil traktiran dari Kafka ini membuat suara semakin riuh, saling berebut dan saling balas canda tawa.Olivia mengedarkan tata
Kafka berdiri di depan mobilnya, kedua tangannya bersedekap di dada. Netranya menatap erat pintu kediaman Kusuma yang masih belum terbuka, Olivia masih di dalam sana. Berbicara dengan ayahnya, entah membicarakan apa.Hardi meminta Kafka untuk menunggu Olivia di luar. Pria tua itu—entah firasat Kafka tidak enak— sejak mengajak Olivia mengunjungi tempat ini.Masih terjebak di dalam pusara rasa penasarannya, suara hentakan kaki yang mendekati Kafka, membuat Kafka menarik kembali dirinya. Memusatkan perhatian penuh pada gadis yang sedang membawa sebuah kantong plastik berukuran besar dari dalam rumahnya.Langkahnya yang pelan tapi dihentak itu membuat Kafka mengerutkan kening, gadis itu tampak berbeda dari sebelumnya."Lo nggak diapa-apain sama bokap gue, kan?"Olivia melangkah mendekat, mengangsurkan sekantong plastik besar itu kepada Kafka. "Nggak, ini buat lo. Stok makanan seminggu."Tatapan Kafka turun, menatap heran pada tubuh gelisah Olivia. "Kok buat gue? Nggak mungkin banget bokap
Hari kamis sore setelah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pramuka, Olivia dan Kafka sepakat untuk menyambangi kediaman Kusuma. Kafka sudah berjanji untuk membenahi hal-hal yang seharusnya dia perbaiki, setidaknya dia akan mencoba meredam rasa ingin balas dendam demi bersama Olivia.Mobil Kafka terparkir rapi di pinggir jalan, tidak jauh dari kediaman keluarga Kusuma. Rumah bak istana itu terlihat menjulang di antara rumah lainnya.Gagah dan mewah.Seakan tahu pemilik di dalamnya memang bukan orang sembarangan.Olivia membuka kaca dari dalam tasnya, menyisir rambut yang sempat tidak beraturan karena kegiatan pramuka di bawah terik matahari siang tadi. Tidak lupa menyemprotkan parfum ke berbagai sisi tubuhnya.Membuat Kafka terbatuk pelan, Olivia langsung buru-buru menyimpan kembali parfum dan sisir kecilnya. Lalu, menoleh khawatir pada Kafka yang sedang meneguk air."Duh, maaf. Nggak sengaja, harusnya gue pakai parfum di luar aja."Kafka mengibaskan kedua tangan di udara sembari mengg
Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di korido
Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak
Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang
“Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan







