Share

Bab 2.

Penulis: brownies coklat
last update Tanggal publikasi: 2026-06-12 09:33:43

“Gue curiga deh sama lo, Liv.” 

Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.

“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?

Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”

Gerakan tangan Olivia yang tadi sedang menulis langsung terhenti, wajahnya pias tapi ia berusaha menetralkan, “Tiba-tiba banget?”

“Ya lagian aneh, masa lo ngga sadar?” Tanya Sarah, ia menggeser bukunya mendekat ke meja Olivia sambil mencondongkan tubuhnya. 

“Kafka tuh manusia yang paling nggak bisa dideketin, bisa-bisanya dia pas ngeliat lo langsung narik lo gitu, kepincut sama lo deh kayaknya?”

“Gue?”

Mana mungkin!

Sarah berseru, “Kafka kemarin beda banget auranya.”

Olivia mendorong wajah Sarah yang ia rasa terlalu menutupi setengah buku catatannya. “Aura atau aur-auran? Jangan aneh.”

Sarah langsung berbisik, takut teman lain mendengar pembicaraan mereka. “Gue serius, Liv ...” Sarah menjeda ucapannya karena Seana menoleh ke arah mereka, “Lo…. sama Kafka ada hubungan apa?”

Olivia menggeleng cepat, tangannya mengibas didepan wajah Sarah. 

“Nggak ... nggak, lo salah paham deh, gue sama dia nggak ada hubungan apa-apa.”

“Masa sih?”

Olivia mengangguk. “Cowok kayak dia? No way.”

Sarah mengangguk yakin, 

“Bagus deh, semoga feeling gue nggak salah.”

Ternyata benar firasat Olivia, kejadian kemarin pasti tidak luput dari beberapa pandangan teman-temannya, walaupun Olivia bisa menampik dan membuat alasan apapun tapi tetap saja pasti hidupnya tidak akan tenang setelah ini.

Seana, teman sebelahnya yang merasa sedikit mendengar obrolan Olivia dan Sarah pun langsung menggeser kursinya lebih dekat ke arah Olivia, ia menyenggol pelan bahu gadis itu. 

“Harusnya lo jaga jarak sejak pertama kali Kafka liat muka lo sih, secara nggak langsung lo akan ditandai sama geng mereka.”

“Ditandain?”

Seana mengangguk, berbisik samar. “Iya, biasanya yang punya masalah doang yang deket sama mereka.”

Olivia mengangguk mengerti. 

Sekarang kepalanya terasa penuh, semua orang berusaha mengingatkannya untuk menjauhi Kafka. Bayangan tentang apa yang sahabat Kafka lakukan kemarin dan membayangkan dirinya yang akan terus menjadi sorotan di sekolah. 

Ah tidak, sepertinya benar Olivia harus berbicara dengan Kafka tentang ini.

Panjang umur.

Baru saja Olivia memikirkan untuk mencari Kafka, sosok yang ia cari muncul tepat di depan pintu kelasnya bersama gerombolan The Syndicate, suara langkah kaki mereka berisik sekali hingga membuat beberapa siswa menoleh ke sumber suara.

Laki-laki dengan seragam berantakan, wangi sandalwood yang memenuhi seisi penjuru koridor dan rambut uppercut andalannya menjadi daya tarik sendiri untuk sosok pemimpin geng yang ‘katanya’ ditakuti di sekolah ini.

Olivia bangkit dari duduknya dan berniat menghampiri Kafka, “Kaf—"

Belum Olivia menyelesaikan panggilannya pada Kafk. Namun, Panji, ketua Kelas sekaligus Ketua OSIS itu muncul tepat di ambang pintu. 

Tatapan mata Olivia bertubrukan dengannya sebentar.

Panji menggeleng, memperingatkannya untuk tidak melakukan apapun selagi ada geng The Syndicate di luar kelasnya. Olivia mengernyitkan kening, tidak paham.

“Kaf.” Panggil Olivia.

Olivia tetap pada pendiriannya, berniat menyelesaikan urusan dengan Kafka.

Tapi, Tiba-tiba suasana koridor kelas sebelas ruangannya menjadi hening. 

Mereka pikir Olivia akan menjadi target The Syndicate selanjutnya karena berani memanggil nama ketua penguasa itu.

Di SMA Budi Karya bahkan tidak ada yang berani memanggil nama Kafka kecuali para guru.

Sepertinya sekarang Olivia membuat kesalahan besar.

Tapi ia masih belum paham dan hanya diam berdiri di ambang pintu, bersebelahan dengan Panji. Menunggu laki-laki yang namanya ia panggil menyahut.

Olivia menatap sekitar, semua tatapan tertuju padanya. Memang apa yang ia lakukan ini salah? Hanya karena memanggil nama seorang Kafka?

Sarah yang menyadari aura sekelilingnya sedang mencekam, langsung berdehem keras. “Sorry sorry, temen gue salah panggil,” Sarah menarik tangan Olivia. 

Olivia masih kebingungan dengan situasi yang ia ciptakan. Sebenarnya kenapa sih. “Olivia lagi ngigo kayaknya nih.. haha.. yakan Liv?”

“Nggak.”

Panji berusaha menutup pintu kelasnya agar teman sekelasnya tidak menjadi bahan tontonan. “Bubar bubar….”

“Kafka.” Panggil Olivia lagi dari dalam kelasnya.

Hening lagi.

Laki-laki yang namanya dipanggil, akhirnya menoleh dan menatap dalam Olivia lewat sisi celah pintu yang hampir tertutup.

Kafka bergumam, “Ya.”

“Ayo bicara.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 182.

    "Mas ganteng itu baru aja dari sini, Kak."Olivia menoleh saat mendapati suara petugas kebersihan di minimarket yang biasa dia kunjungi. "Kafka?" "Iya, mas ganteng itu juga sempat ngelihatin lantai dua. Tapi nggak naik ke atas, cuma ke sini beli kertas kado aja kayaknya." Olivia tersenyum. Kakinya tetap melangkah menuju lantai dua, menyusul petugas kebersihan yang sedang berbicara dengannya. Wanita itu melangkah cepat sekali, seperti sudah terbiasa dengan naik turun tangga sempit di minimarket ini."Kasihan sekali, murung wajahnya. Saya sih, nggak berani tanya." Angin malam di lantai dua minimarket ini selalu menjadi candunya, dari ketinggian ini dia bisa melihat gemerlap lampu-lampu dari rumah-rumah warga. Sepertinya Olivia tidak akan kembali lagi ke sini. Mungkin, tempat ini menjadi salah satu tempat yang akan Olivia hindari. "Putus, ya?"Olivia sontak menoleh, menatap bertugas kebersihan yang sedang mengelap meja di sebelahnya. "Kok tahu?""Mukanya sama suramnya kayak mas ga

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 181.

    "Aku mau pindah sekolah." Suara Olivia yang melengking ketika memasuki rumah membuat Oliver yang sedang menonton televisi di ruang tamu menoleh. Mendapati Olivia yang melangkah mendekatinya dengan tubuh basah kuyup, tatapannya tidak lagi ceria. Oliver menyadari perubahan ini. Dia langsung bangkit dari duduknya, merengkuh tubuh adiknya tanpa mempertanyakan alasannya. Tidak ada suara tangisan, tidak ada omelan. Olivia sungguh hening. "Mau pindah ke mana?" tanya Oliver. Pakaiannya juga ikut basah saat merengkuh tubuh Olivia. Dia sempatkan untuk meminta handuk kepada Mbok untuk Olivia. "Pindah ke SMA Rajasa, sekolah Abang dulu." "Nggak mau ke sekolah lain?" Oliver menuntun Olivia untuk duduk di karpet. Dia mengecilkan volume televisi, mendengarkan adiknya yang mungkin saja akan berbicara lebih panjang. "Nggak mau balik ke sekolah kamu yang dulu?" Olivia menggeleng. "Kenapa SMA Rajasa?" "Biar Kafka semakin benci aku." Oliver memundurkan tubuhnya, memberi jarak pada

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 180.

    "Olivia, lo bisa kan dengerin penjelasan gue dulu? Lo butuh tau yang sebenarnya terjadi tuh apa." Olivia menggeram tertahan. "Mau lo tuh apa sih? Setelah sebelumnya lo bikin gue ngerasa jadi orang paling bahagia, terus sekarang lo jatuhin gue? Lo jahat, Kaf." Kafka menghela napa pendek. Sejak tadi Olivia tidak sudah-sudahnya memarahinya. Kafka tahu ini kesalahannya, tidak membicarakan tentang rencana masa depannya kepada Olivia. Tapi, tidakkah Olivia juga harus berusaha mendengarkan dulu? "Kalau lo mau bahagia, ya ayo sama gue. Dengerin penjelasan gue, dengerin semua alasan dibalik semua keputusan gue." Kafka menarik lengan Olivia saat gadis itu hendak menyebrang. Di mana letak penglihatan gadis itu? Jelas-jelas ada mobil yang melaju kencang ke arahnya, tapi dia nekat menyebrang. "Lo lihat jalanan dong, jangan bego kayak gitu. Nggak usah bunuh diri segala!" teriak Kafka di depan wajah Olivia. Olivia tidak marah. Dia hanya diam mematung, menatap lurus Kafka. "Nggak ada yang ma

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 179.

    Olivia terlambat ke sekolah dan ini bukanlah hal yang biasa Kafka saksikan sepanjang mereka sekelas. Setahu Kafka, Olivia adalah orang yang sangat tepat waktu. Tidak pernah menyia-nyiakan waktu untuk belajar.Hari ini ada ulangan harian, jam pelajaran pertama sudah selesai. Namun, Olivia tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Sudah Kafka tanyakan kepada ketua kelas, tidak ada informasi tentang izin tidak masuk Olivia hari ini.Dan itu membuat sesuatu di dalam diri Kafka terusik.Rio yang duduk di belakang Kafka mendorong pelan pundak Kafka, saat melihat Olivia melangkah memasuki kelas tepat saat ulangan kedua hendak mulai. Kafka dan Rio sama-sama menajamkan pendengaran mereka saat Olivia berbicang dengan wali kelasnya di meja guru.Ingin sekali Kafka berlari menuju meja itu dan meminta penjelasan kepada Olivia tentang perubahannya yang drastis.Kemarin, gadis itu masih baik-baik saja saat mengobrol dengannya. Kenapa tiba-tiba hari ini menjauhinya seakan Kafka itu hama?"Olivia!"

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 178.

    Lampu di kamar Olivia masih menyala hingga tengah malam, si empunya kamar sedang duduk termenung di balkon. Tidak menghiraukan angin malam yang berhembus semakin kencang menerpa wajahnya.Tetesan gerimis mulai turun membasahi tepi balkon, cipratan airnya mengenai kaki Olivia. Dia sempat menunduk sebentar, menatapnya tidak peduli. Lalu, kembali lagi mendongak, menatap langit pekat yang membawa angin dingin.Setelah menyelesaikan masalah dengan keluarganya yang menghabiskan waktu berjam-jam, Olivia tidak lagi berminat turun ke bawah untuk sekedar makan malam.Dia lebih memilih duduk sendirian bersama keheningan malam, meratapi betapa sedihnya dia ketika nanti hubungannya dengan Kafka benar-benar berakhir.Ternyata benar, apa yang Kafka ucapkan tempo hari tentang LDR, tidak semua orang bisa menyelesaikannya hingga tuntas. Tidak semua orang betah dengan jarak.Tanpa janji bertemu, tanpa komunikasi langsung.Olivia saat itu yakin bisa menjalaninya karena dia yakin dengan Kafka. Tapi … seka

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 177.

    "Kenapa kamu nggak cerita ke Mama kalau kamu udah pacaran sama Kafka." Olivia mendadak diam, tubuhnya membeku. Dia baru saja melangkahkan kaki memasuki rumah, langsung dihadapkan pada tatap-tatap tajam keluarganya.Ditambah Oliver yang baru tiba tadi pagi.Di hadapan Olivia ada Mama, Papa dan Oliver yang menunggu jawabannya."Lupa," jawab Olivia singkat.Mama mendesah pelan. "Kamu kemarin seharian di apartemen Kafka, ngapain?" Papa mengusap pundak Mama pelan. Menenangkan. "Ma, tarik napas. Tanya pelan-pelan sama Olivia, kasihan dia baru pulang sekolah."Mama menarik lengan Olivia untuk duduk di sofa bersama Oliver, menatap Olivia dengan wajah yang sarat akan makna. "Kamu nggak ngapa-ngapain, kan? Berduaan sama Kafka malam-malam di sana."Olivia menggeleng kuat. "Aku udah sering ke apartemen Kafka malam-malam, kok Mama baru protes sekarang?" Hening.Papa menoleh pada Oliver, laki-laki itu hanya menggeleng. Tidak ada yang tahu tentang hal itu."Ayahnya Kafka datang ke sini, ngasih r

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 5.

    Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di korido

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 4.

    Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 3.

    Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 1.

    “Peraturan pertama, jangan deket-deket sama anak-anak The Syndicate. Apalagi sama Kafka. Lo gak mau kena kartu merah di minggu pertama pindah kan, Liv?"Sarah, teman sebangku Olivia, berbisik dengan nada cemas saat mereka baru saja melewati koridor utama. Hari ini adalah tepat satu minggu sejak Ol

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status