LOGINTaman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun.
Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang catnya sudah mengelupas.
Ia meletakkan tas ranselnya di samping tubuh, lalu sesekali melirik jam tangan digital yang melingkar di pergelangan kirinya.
Ia sengaja datang ke tempat sepi ini karena Kafka yang memintanya setelah tadi siang ia meminta bicara.
Cowok itu menyuruhnya datang tepat setelah bel pulang sekolah berbunyi. Namun, hingga detik ini, batang hidung Kafka sama sekali belum kelihatan. Padahal, suara bising dari gerbang depan menandakan bahwa sebagian besar murid sudah meninggalkan area sekolah sejak tiga puluh menit yang lalu.
Olivia meremas jemarinya sendiri, berusaha mengusir rasa cemas yang perlahan mulai merayap di dadanya.
“Wihh, ada anak baru di lapak kita. Berani bener lo nyari penyakit di sini.”
Sebuah suara berat bernada meremehkan tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Olivia tersentak kaget.
Ia langsung menoleh ke belakang, mendapati lima orang cowok berseragam berantakan sedang berjalan ke arahnya.
Olivia menunjuk dirinya sendiri dengan bingung, berusaha bersikap tenang meskipun jantungnya mulai berdegup kencang. “Maksud lo, gue?”
Suara tawa bernada mengejek langsung pecah di area taman yang sepi itu. Salah satu dari mereka, cowok berbadan besar dan tegap, tampak menyampirkan sebuah jaket hitam di bahunya.
Olivia menyipitkan mata, mencoba memperjelas penglihatannya. Begitu matanya menangkap lambang khusus yang bordirannya sangat rapi di bagian dada jaket tersebut, darahnya mendadak berdesir dingin.
Ah, geng ini.
Olivia segera bangkit dari duduknya dengan terburu-buru. Dia tidak memikirkan hal lain lagi selain bagaimana cara menyelamatkan dirinya
“Maaf, nggak tahu kalau ini tempat kalian,” ujar Olivia dengan suara yang sedikit gemetar.
Hari ini benar-benar menjadi hari paling sial dalam hidup Olivia sejak menginjakkan kaki di Jakarta.
“Cuma numpang duduk sebentar?” Cowok lain yang berdiri di sebelah Rio, dengan name tag Haykal di dadanya, melangkah maju. Tanpa peringatan, dia menarik kasar tas Olivia hingga tasnya jatuh ke tanah.
Demi Tuhan, Olivia ingin menangis saat ini juga karena ketakutan yang teramat sangat.
“Lo tahu kita siapa?” Haykal kembali berbicara, suaranya terdengar semakin mendekat ke telinga Olivia, menekan mental gadis itu agar semakin terpojok.
Olivia mengangguk dengan cepat, tidak berani membantah. “Tahu.”
“Terus lo sengaja nyari masalah sama kita dengan duduk di sini?” Laki-laki lainnya yang berwajah lebih tegas bernama Hendra menyahut dengan nada bicara yang jauh lebih membentak.
Olivia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, air matanya sudah menggenang di pelupuk mata, siap untuk tumpah kapan saja.
Sialan. Kafka benar-benar tidak datang ke taman ini. Laki-laki itu sengaja menjebaknya, sengaja memberikan informasi palsu agar Olivia datang ke sini sendirian dan menjadi bahan tontonan sekaligus mangsa empuk bagi anggota gengnya yang terkenal kejam.
Cowok itu pasti sedang tertawa puas di suatu tempat setelah berhasil mengelabuinya.
Rasa takut Olivia perlahan mulai bercampur dengan rasa amarah yang membakar dada.
Olivia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang sudah hampir habis. Dia harus segera mencari cara agar bisa keluar dari kepungan para anggota geng gila ini sebelum fisiknya benar-benar terluka.
Sebelum Olivia sempat menyadari apa yang akan terjadi, Rio menyiramkan seluruh isi minuman dingin itu tepat di atas kepala Olivia.
Byur!
Cairan manis yang dingin dan lengket itu langsung membasahi rambut panjang Olivia, mengalir deras membasahi kening, pipi, hingga meresap sepenuhnya ke dalam kemeja seragam putih yang dia kenakan.
Potongan es batu kecil berjatuhan di bahunya sebelum meluncur ke tanah. Rambutnya mendadak lepek dan menempel di wajahnya, meninggalkan rasa lengket yang sangat tidak nyaman di kulitnya.
“Itu bayaran buat lo yang ngusik Kafka.” ucap Rio dengan senyum puas yang menghiasi wajahnya.
Olivia yang sudah tidak berdaya hanya bisa memejamkan matanya erat-erat.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik berlalu, namun tidak ada hal buruk lain yang mengenai tubuhnya. Suasana di taman belakang yang tadinya bising oleh suara tawa mengejek mendadak berubah menjadi sangat hening dan senyap.
Olivia perlahan membuka matanya yang terasa sangat berat karena air mata yang tertahan. Dia terkejut saat melihat geng yang tadi mengepungnya kini sudah hilang.
Gadis itu menegakkan kembali tubuhnya yang gemetar, menyeka sisa air teh yang mengalir ke matanya dengan punggung tangan yang basah. Dia berharap kalau situasi mengerikan ini sudah benar-benar berakhir dan dia bisa segera pulang ke rumah.
Namun, dugaannya salah besar. Dari ujung Kafka Pradipta berjalan dengan langkah santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya dengan gaya acuh tak acuh. Ia berjalan mendekati Olivia tanpa ekspresi.
Di tangan kanannya, cowok itu membawa sebuah jaket hitam.
Saat melihat Kafka berjalan mendekat dengan tatapan dinginnya yang khas, Olivia merasa seluruh harga diri dan martabatnya runtuh sepenuhnya ke tanah.
Air matanya yang sejak tadi dia tahan sekuat tenaga akhirnya luruh juga, mengalir membasahi pipinya yang memerah karena kombinasi rasa takut, marah, dan malu yang teramat sangat. Detik ini juga Olivia ingin menghilang dari bumi.
Kafka berhenti, lalu menyodorkan jaket hitam di tangannya ke depan dada Olivia.
“Bangun, jangan lemah. Pakai ini,”
Olivia menatap jaket di hadapannya dengan pandangan kosong, lalu beralih menatap wajah Kafka yang terlihat begitu menyebalkan. Dia tidak sudi menerima belas kasihan atau bantuan dari cowok brengsek yang sudah menjebaknya hingga seperti ini. Dia tahu, Kafka sengaja membiarkan anak-anak buahnya melakukan ini terlebih dahulu sebelum dia datang bertingkah seperti seorang penyelamat.
Menjijikkan.
Dengan sisa kekuatan yang dia miliki, Olivia merebut jaket hitam di tangan Kafka dengan sentakan kasar, lalu melemparkannya kembali tepat ke arah wajah cowok itu dengan sekuat tenaga.
“Brengsek!” teriak Olivia dengan suara serak yang bergetar karena emosi yang memuncak.
"Gue benci lo, Kafka Pradipta!"
"Aku nggak pernah nyangka lho kita akan sejauh ini, aku pikir sebelumnya setelah putus sama kamu dan kamu ninggalin aku, semua akan selesai …."Olivia menyeruput coklat hangat miliknya, masih dengan menatap hujan yang deras turun di luar ruangan. Rintiknya menerpa basah ke kaca bening, menciptakan suara dentingan samar yang menyelimuti malam hening."Kenapa kamu mikir kayak gitu? Padahal aku setia banget lho sama kamu." Suara Kafka terdengar jelas di belakang Olivia, membuat Olivia sedikit tersentak karena kaget tiba-tiba tangan besar itu sudah melingkar pada bahunya.Masih dengan memegang gelas berisi coklat hangat, dia geser pada Kafka. "Minum nih, aku bikin tadi." Disambut oleh anggukan Kafka.Diseruputnya cokelat hangat yang—entah kenapa begitu nikmat—terasa berbeda. Atau hanya perasaannya saja? "Enak, Sayang …"Panggilan yang berubah menjadi 'aku-kamu' itu mengalir begitu saja. Sejak kemarin di sekolah, Olivia merasa Kafka lebih berbeda.Berkali-kali memanggilnya Olivia dengan s
Hembusan angin kencang menerpa wajah Kafka, membuat rambutnya yang berantakan jadi semakin tidak beraturan. Matahari sudah mulai turun, menyisakan langit yang sudah menggelap.Karina duduk di samping Kafka, di kursi yang sudah rusak sisinya. Ditopang oleh kaki masing-masing agar tidak ambruk."Lo kenapa nyamperin gue? Mau marahin gue kayak Panji?" suara Karina ketus. Tidak menoleh ke samping.Kafka menarik napas.Berat sekali."Nggak. Gue cuma mau minta maaf sama lo kalau selama ini sikap gue ke lo kurang baik sebagai kakak," jelas Kafka.Tentu saja hal itu membuat Karina menoleh, dia sudah menahan tubuhnya agar tidak memutar menghadap Kafka. Takut kursi yang mereka duduki bergoyang."Tiba-tiba banget?"Kafka mengangguk. "Gue belum sempat jelasin ke lo soal Olivia sejak awal gue pacaran sama dia. Bukannya gue nggak mau ngobrol sama lo, tapi … rasa benci gue tiap lihat muka lo terlalu besar. Gue berusaha jauhin lo … karena tiap lihat kebersamaan kalian di rumah Papa, bikin gue merasa k
Sore perlahan turun, menyisakan berkas cahaya keemasan yang memantul di lapangan yang masih basah karena gerimis siang tadi.Olivia dan Sarah duduk menghadap lapangan basket, tempat Kafka, Rio, Haykal dan Hendra bermain basket. Mereka saling lempar, dorong dan setelahnya bertengkar kecil yang dipisahkan oleh wasit dadakan, anak kelas 12.Di kanan kiri Olivia dan Sarah bertumpuk seragam putih milik para laki-laki yang sedang melakukan oper bola itu, beberapa menit lalu sejak bel pulang sekolah. Tiba-tiba ide bermain basket ini menjadi satu-satunya alasan Olivia dan Sarah masih duduk di tribun kecil.Menunggu pasangan masing-masing."Gue nggak nyangka akhirnya kita akan ada di momen kayak gini, ngeliat pasangan masing-masing main bareng. Kita duduk bareng buat menyemangati mereka." Olivia bersuara, membuat Sarah mengalihkan tatap.Senyum tipis terbit di wajah Sarah. Setelah seharian mereka melakukan tes pemilihan minat dan bakat untuk kelas 12, momen ini setidaknya sudah menjadi penyega
Siang ini keadaan kantin sekolah begitu penuh, bel istirahat sudah berbunyi sejak lima menit lalu. Di beberapa stand makanan pun sudah mengantri, antriannya mengular hingga ke pintu masuk kantin. Membuat Olivia, Kafka dan juga Sarah mendelik tatkala melihat semua isi meja penuh.Hanya beberapa meja yang berisi dua orang, Rio sudah Kafka tugaskan untuk mencari tempat selain di kantin. Jika menunggu setengah isi kantin kosong, maka mereka akan kehabisan waktu istirahat. Alhasil mereka menempati taman samping sekolah.Sarah membagi setengah es jeruknya pada Haykal, laki-laki itu menyusul setelah tidak mendapatkan tempat di kantin. Sesuai arahan Kafka, semua teman-temannya berkumpul di taman samping. Membuat dua lingkaran.Lingkaran pertama berisi Kafka, Olivia, Sarah dan Haykal. Sedangkan di lingkaran kedua berisi Rio, Hendra dan teman-temannya yang lain. Makanan hasil traktiran dari Kafka ini membuat suara semakin riuh, saling berebut dan saling balas canda tawa.Olivia mengedarkan tata
Kafka berdiri di depan mobilnya, kedua tangannya bersedekap di dada. Netranya menatap erat pintu kediaman Kusuma yang masih belum terbuka, Olivia masih di dalam sana. Berbicara dengan ayahnya, entah membicarakan apa.Hardi meminta Kafka untuk menunggu Olivia di luar. Pria tua itu—entah firasat Kafka tidak enak— sejak mengajak Olivia mengunjungi tempat ini.Masih terjebak di dalam pusara rasa penasarannya, suara hentakan kaki yang mendekati Kafka, membuat Kafka menarik kembali dirinya. Memusatkan perhatian penuh pada gadis yang sedang membawa sebuah kantong plastik berukuran besar dari dalam rumahnya.Langkahnya yang pelan tapi dihentak itu membuat Kafka mengerutkan kening, gadis itu tampak berbeda dari sebelumnya."Lo nggak diapa-apain sama bokap gue, kan?"Olivia melangkah mendekat, mengangsurkan sekantong plastik besar itu kepada Kafka. "Nggak, ini buat lo. Stok makanan seminggu."Tatapan Kafka turun, menatap heran pada tubuh gelisah Olivia. "Kok buat gue? Nggak mungkin banget bokap
Hari kamis sore setelah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pramuka, Olivia dan Kafka sepakat untuk menyambangi kediaman Kusuma. Kafka sudah berjanji untuk membenahi hal-hal yang seharusnya dia perbaiki, setidaknya dia akan mencoba meredam rasa ingin balas dendam demi bersama Olivia.Mobil Kafka terparkir rapi di pinggir jalan, tidak jauh dari kediaman keluarga Kusuma. Rumah bak istana itu terlihat menjulang di antara rumah lainnya.Gagah dan mewah.Seakan tahu pemilik di dalamnya memang bukan orang sembarangan.Olivia membuka kaca dari dalam tasnya, menyisir rambut yang sempat tidak beraturan karena kegiatan pramuka di bawah terik matahari siang tadi. Tidak lupa menyemprotkan parfum ke berbagai sisi tubuhnya.Membuat Kafka terbatuk pelan, Olivia langsung buru-buru menyimpan kembali parfum dan sisir kecilnya. Lalu, menoleh khawatir pada Kafka yang sedang meneguk air."Duh, maaf. Nggak sengaja, harusnya gue pakai parfum di luar aja."Kafka mengibaskan kedua tangan di udara sembari mengg
Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di korido
Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak
“Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan
“Peraturan pertama, jangan deket-deket sama anak-anak The Syndicate. Apalagi sama Kafka. Lo gak mau kena kartu merah di minggu pertama pindah kan, Liv?"Sarah, teman sebangku Olivia, berbisik dengan nada cemas saat mereka baru saja melewati koridor utama. Hari ini adalah tepat satu minggu sejak Ol







