Share

Bab 3.

last update publish date: 2026-06-12 09:37:18

Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. 

Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang catnya sudah mengelupas. 

Ia meletakkan tas ranselnya di samping tubuh, lalu sesekali melirik jam tangan digital yang melingkar di pergelangan kirinya. 

Ia sengaja datang ke tempat sepi ini karena Kafka yang memintanya setelah tadi siang ia meminta bicara. 

Cowok itu menyuruhnya datang tepat setelah bel pulang sekolah berbunyi. Namun, hingga detik ini, batang hidung Kafka sama sekali belum kelihatan. Padahal, suara bising dari gerbang depan menandakan bahwa sebagian besar murid sudah meninggalkan area sekolah sejak tiga puluh menit yang lalu.

Olivia meremas jemarinya sendiri, berusaha mengusir rasa cemas yang perlahan mulai merayap di dadanya. 

“Wihh, ada anak baru di lapak kita. Berani bener lo nyari penyakit di sini.”

Sebuah suara berat bernada meremehkan tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Olivia tersentak kaget. 

Ia langsung menoleh ke belakang, mendapati lima orang cowok berseragam berantakan sedang berjalan ke arahnya. 

Olivia menunjuk dirinya sendiri dengan bingung, berusaha bersikap tenang meskipun jantungnya mulai berdegup kencang. “Maksud lo, gue?”

Suara tawa bernada mengejek langsung pecah di area taman yang sepi itu. Salah satu dari mereka, cowok berbadan besar dan tegap, tampak menyampirkan sebuah jaket hitam di bahunya.

 Olivia menyipitkan mata, mencoba memperjelas penglihatannya. Begitu matanya menangkap lambang khusus yang bordirannya sangat rapi di bagian dada jaket tersebut, darahnya mendadak berdesir dingin.

Ah, geng ini.

Olivia segera bangkit dari duduknya dengan terburu-buru. Dia tidak memikirkan hal lain lagi selain bagaimana cara menyelamatkan dirinya 

“Maaf, nggak tahu kalau ini tempat kalian,” ujar Olivia dengan suara yang sedikit gemetar. 

Hari ini benar-benar menjadi hari paling sial dalam hidup Olivia sejak menginjakkan kaki di Jakarta.

“Cuma numpang duduk sebentar?” Cowok lain yang berdiri di sebelah Rio, dengan name tag Haykal di dadanya, melangkah maju. Tanpa peringatan, dia menarik kasar tas Olivia hingga tasnya jatuh ke tanah. 

Demi Tuhan, Olivia ingin menangis saat ini juga karena ketakutan yang teramat sangat.

“Lo tahu kita siapa?” Haykal kembali berbicara, suaranya terdengar semakin mendekat ke telinga Olivia, menekan mental gadis itu agar semakin terpojok.

Olivia mengangguk dengan cepat, tidak berani membantah. “Tahu.”

“Terus lo sengaja nyari masalah sama kita dengan duduk di sini?” Laki-laki lainnya yang berwajah lebih tegas bernama Hendra menyahut dengan nada bicara yang jauh lebih membentak.

Olivia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, air matanya sudah menggenang di pelupuk mata, siap untuk tumpah kapan saja.

Sialan. Kafka benar-benar tidak datang ke taman ini. Laki-laki itu sengaja menjebaknya, sengaja memberikan informasi palsu agar Olivia datang ke sini sendirian dan menjadi bahan tontonan sekaligus mangsa empuk bagi anggota gengnya yang terkenal kejam. 

Cowok itu pasti sedang tertawa puas di suatu tempat setelah berhasil mengelabuinya.

Rasa takut Olivia perlahan mulai bercampur dengan rasa amarah yang membakar dada. 

Olivia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang sudah hampir habis. Dia harus segera mencari cara agar bisa keluar dari kepungan para anggota geng gila ini sebelum fisiknya benar-benar terluka.

Sebelum Olivia sempat menyadari apa yang akan terjadi, Rio menyiramkan seluruh isi minuman dingin itu tepat di atas kepala Olivia.

Byur!

Cairan manis yang dingin dan lengket itu langsung membasahi rambut panjang Olivia, mengalir deras membasahi kening, pipi, hingga meresap sepenuhnya ke dalam kemeja seragam putih yang dia kenakan. 

Potongan es batu kecil berjatuhan di bahunya sebelum meluncur ke tanah. Rambutnya mendadak lepek dan menempel di wajahnya, meninggalkan rasa lengket yang sangat tidak nyaman di kulitnya.

“Itu bayaran buat lo yang ngusik Kafka.” ucap Rio dengan senyum puas yang menghiasi wajahnya.

Olivia yang sudah tidak berdaya hanya bisa memejamkan matanya erat-erat.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik berlalu, namun tidak ada hal buruk lain yang mengenai tubuhnya. Suasana di taman belakang yang tadinya bising oleh suara tawa mengejek mendadak berubah menjadi sangat hening dan senyap.

Olivia perlahan membuka matanya yang terasa sangat berat karena air mata yang tertahan. Dia terkejut saat melihat geng yang tadi mengepungnya kini sudah hilang.

Gadis itu menegakkan kembali tubuhnya yang gemetar, menyeka sisa air teh yang mengalir ke matanya dengan punggung tangan yang basah. Dia berharap kalau situasi mengerikan ini sudah benar-benar berakhir dan dia bisa segera pulang ke rumah.

Namun, dugaannya salah besar. Dari ujung Kafka Pradipta berjalan dengan langkah santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya dengan gaya acuh tak acuh. Ia berjalan mendekati Olivia tanpa ekspresi.

Di tangan kanannya, cowok itu membawa sebuah jaket hitam. 

Saat melihat Kafka berjalan mendekat dengan tatapan dinginnya yang khas, Olivia merasa seluruh harga diri dan martabatnya runtuh sepenuhnya ke tanah. 

Air matanya yang sejak tadi dia tahan sekuat tenaga akhirnya luruh juga, mengalir membasahi pipinya yang memerah karena kombinasi rasa takut, marah, dan malu yang teramat sangat. Detik ini juga Olivia ingin menghilang dari bumi.

Kafka berhenti, lalu menyodorkan jaket hitam di tangannya ke depan dada Olivia.

“Bangun, jangan lemah. Pakai ini,”

Olivia menatap jaket di hadapannya dengan pandangan kosong, lalu beralih menatap wajah Kafka yang terlihat begitu menyebalkan. Dia tidak sudi menerima belas kasihan atau bantuan dari cowok brengsek yang sudah menjebaknya hingga seperti ini. Dia tahu, Kafka sengaja membiarkan anak-anak buahnya melakukan ini terlebih dahulu sebelum dia datang bertingkah seperti seorang penyelamat. 

Menjijikkan.

Dengan sisa kekuatan yang dia miliki, Olivia merebut jaket hitam di tangan Kafka dengan sentakan kasar, lalu melemparkannya kembali tepat ke arah wajah cowok itu dengan sekuat tenaga.

“Brengsek!” teriak Olivia dengan suara serak yang bergetar karena emosi yang memuncak.

"Gue benci lo, Kafka Pradipta!" 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 183

    "Gue sama sekali nggak mengerti maksud lo ngomong kayak gitu, apa?" Kafka menoleh, mendapati wajah ketus Olivia. Peluhnya menetes dari kening. "Maksud omongan gue yang mana?" "Lo pikir gue akan bunuh diri?" Kafka mengangguk. "Gue pikir lo akan beneran bunuh diri, Oliver tadi hubungin gue. Dia nyariin lo, pas dia bilang lo belum pulang ke rumah. Pikiran gue kalut, gue bingung harus cari ke mana lagi," akunya. Keheningan kembali menyelimuti kedua insan yang duduk saling bertolak belakang. Sejak tadi, Olivia tidak mau untuk menatap Kafka. Entah kenapa, tiba-tiba rasa kesalnya menguap ke udara, tergantikan oleh rasa rindu yang mendadak datang. "Kalau nggak berniat buat balik sama gue, nggak usah ngasih harapan." Kafka menghela napas. Panjang dan berat. "Ngasih harapan, gimana? Gue selama juga nggak pernah macam-macam." Olivia terkekeh. Di sela kekehannya sebenarnya dia ingin menangis, lagi. Pandangannya menatap lurus ke depan, pada dinding yang sudah retak. Dinding putih itu ter

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 182.

    "Mas ganteng itu baru aja dari sini, Kak."Olivia menoleh saat mendapati suara petugas kebersihan di minimarket yang biasa dia kunjungi. "Kafka?" "Iya, mas ganteng itu juga sempat ngelihatin lantai dua. Tapi nggak naik ke atas, cuma ke sini beli kertas kado aja kayaknya." Olivia tersenyum. Kakinya tetap melangkah menuju lantai dua, menyusul petugas kebersihan yang sedang berbicara dengannya. Wanita itu melangkah cepat sekali, seperti sudah terbiasa dengan naik turun tangga sempit di minimarket ini."Kasihan sekali, murung wajahnya. Saya sih, nggak berani tanya." Angin malam di lantai dua minimarket ini selalu menjadi candunya, dari ketinggian ini dia bisa melihat gemerlap lampu-lampu dari rumah-rumah warga. Sepertinya Olivia tidak akan kembali lagi ke sini. Mungkin, tempat ini menjadi salah satu tempat yang akan Olivia hindari. "Putus, ya?"Olivia sontak menoleh, menatap bertugas kebersihan yang sedang mengelap meja di sebelahnya. "Kok tahu?""Mukanya sama suramnya kayak mas ga

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 181.

    "Aku mau pindah sekolah." Suara Olivia yang melengking ketika memasuki rumah membuat Oliver yang sedang menonton televisi di ruang tamu menoleh. Mendapati Olivia yang melangkah mendekatinya dengan tubuh basah kuyup, tatapannya tidak lagi ceria. Oliver menyadari perubahan ini. Dia langsung bangkit dari duduknya, merengkuh tubuh adiknya tanpa mempertanyakan alasannya. Tidak ada suara tangisan, tidak ada omelan. Olivia sungguh hening. "Mau pindah ke mana?" tanya Oliver. Pakaiannya juga ikut basah saat merengkuh tubuh Olivia. Dia sempatkan untuk meminta handuk kepada Mbok untuk Olivia. "Pindah ke SMA Rajasa, sekolah Abang dulu." "Nggak mau ke sekolah lain?" Oliver menuntun Olivia untuk duduk di karpet. Dia mengecilkan volume televisi, mendengarkan adiknya yang mungkin saja akan berbicara lebih panjang. "Nggak mau balik ke sekolah kamu yang dulu?" Olivia menggeleng. "Kenapa SMA Rajasa?" "Biar Kafka semakin benci aku." Oliver memundurkan tubuhnya, memberi jarak pada

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 180.

    "Olivia, lo bisa kan dengerin penjelasan gue dulu? Lo butuh tau yang sebenarnya terjadi tuh apa." Olivia menggeram tertahan. "Mau lo tuh apa sih? Setelah sebelumnya lo bikin gue ngerasa jadi orang paling bahagia, terus sekarang lo jatuhin gue? Lo jahat, Kaf." Kafka menghela napa pendek. Sejak tadi Olivia tidak sudah-sudahnya memarahinya. Kafka tahu ini kesalahannya, tidak membicarakan tentang rencana masa depannya kepada Olivia. Tapi, tidakkah Olivia juga harus berusaha mendengarkan dulu? "Kalau lo mau bahagia, ya ayo sama gue. Dengerin penjelasan gue, dengerin semua alasan dibalik semua keputusan gue." Kafka menarik lengan Olivia saat gadis itu hendak menyebrang. Di mana letak penglihatan gadis itu? Jelas-jelas ada mobil yang melaju kencang ke arahnya, tapi dia nekat menyebrang. "Lo lihat jalanan dong, jangan bego kayak gitu. Nggak usah bunuh diri segala!" teriak Kafka di depan wajah Olivia. Olivia tidak marah. Dia hanya diam mematung, menatap lurus Kafka. "Nggak ada yang ma

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 179.

    Olivia terlambat ke sekolah dan ini bukanlah hal yang biasa Kafka saksikan sepanjang mereka sekelas. Setahu Kafka, Olivia adalah orang yang sangat tepat waktu. Tidak pernah menyia-nyiakan waktu untuk belajar.Hari ini ada ulangan harian, jam pelajaran pertama sudah selesai. Namun, Olivia tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Sudah Kafka tanyakan kepada ketua kelas, tidak ada informasi tentang izin tidak masuk Olivia hari ini.Dan itu membuat sesuatu di dalam diri Kafka terusik.Rio yang duduk di belakang Kafka mendorong pelan pundak Kafka, saat melihat Olivia melangkah memasuki kelas tepat saat ulangan kedua hendak mulai. Kafka dan Rio sama-sama menajamkan pendengaran mereka saat Olivia berbicang dengan wali kelasnya di meja guru.Ingin sekali Kafka berlari menuju meja itu dan meminta penjelasan kepada Olivia tentang perubahannya yang drastis.Kemarin, gadis itu masih baik-baik saja saat mengobrol dengannya. Kenapa tiba-tiba hari ini menjauhinya seakan Kafka itu hama?"Olivia!"

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 178.

    Lampu di kamar Olivia masih menyala hingga tengah malam, si empunya kamar sedang duduk termenung di balkon. Tidak menghiraukan angin malam yang berhembus semakin kencang menerpa wajahnya.Tetesan gerimis mulai turun membasahi tepi balkon, cipratan airnya mengenai kaki Olivia. Dia sempat menunduk sebentar, menatapnya tidak peduli. Lalu, kembali lagi mendongak, menatap langit pekat yang membawa angin dingin.Setelah menyelesaikan masalah dengan keluarganya yang menghabiskan waktu berjam-jam, Olivia tidak lagi berminat turun ke bawah untuk sekedar makan malam.Dia lebih memilih duduk sendirian bersama keheningan malam, meratapi betapa sedihnya dia ketika nanti hubungannya dengan Kafka benar-benar berakhir.Ternyata benar, apa yang Kafka ucapkan tempo hari tentang LDR, tidak semua orang bisa menyelesaikannya hingga tuntas. Tidak semua orang betah dengan jarak.Tanpa janji bertemu, tanpa komunikasi langsung.Olivia saat itu yakin bisa menjalaninya karena dia yakin dengan Kafka. Tapi … seka

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 2.

    “Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 1.

    “Peraturan pertama, jangan deket-deket sama anak-anak The Syndicate. Apalagi sama Kafka. Lo gak mau kena kartu merah di minggu pertama pindah kan, Liv?"Sarah, teman sebangku Olivia, berbisik dengan nada cemas saat mereka baru saja melewati koridor utama. Hari ini adalah tepat satu minggu sejak Ol

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 5.

    Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di korido

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 4.

    Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status