تسجيل الدخولMobil Dirga berhenti di halaman luas kediaman utama keluarga besarnya. Di sana sudah terparkir beberapa mobil mewah dan salah satunya ada mobil Om Aryan.Dirga menatap Mia. Wajah gadis itu nampak gugup. Ia melangkah mendekati Mia dan langsung menggenggam jemarinya, menyalurkan ketenangan yang ternyata cukup ampuh membuat gadis itu nyaman. "Kamu nggak apa-apa kan?" tanyanya. Mia mengangguk, "aku baik kok. Kamu tenang aja.""Syukurlah. Kalau nanti kamu nggak nyaman, bilang sama aku."Mia mengangguk. Ia tersenyum. Setelahnya, Dirga menuntun Mia untuk masuk ke dalam. Mereka bergandengan, sampai menarik beberapa perhatian orang-orang yang mereka lewati."Selamat malam semuanya." ucap Dirga. Seluruh mata mendadak tertuju pada Mia. Penampilan Mia malam ini benar-benar Anggun, cantik luar biasa. Bahkan banyak dari para lelaki menatap lapar padanya. Dirga menyadari ketidaknyamanan Mia. Dirga yang tadi menggenggam jemari Mia kini berpindah merangkul pinggang gadis tersebut. Dibalik semua p
Sejak pengakuan Mia kemarin tentang dia bertemu dengan Alexa, Dirga harus mempekerjakan dua bodyguard di sisi Mia saat gadis itu ingin keluar rumah. Sebenarnya Mia sudah menolak, namun Dirga tetap memaksa. Pria itu justru mengancamnya tak memberi izin Mia keluar jika Mia tak mau adanya bodyguard.Alhasil, daripada tak diizinkan keluar, akhirnya Mia membiarkan dirinya dijaga kanan dan kiri oleh bodyguard sewaan dari Dirga. Tak bebas memang, tapi apa boleh buat.Dan saat ini, Mia sedang berada di sebuah resto cepat saji. Menikmati me time nya sebelum nanti malam ia harus menjadi pelayan lagi di pesta keluarga besar Dirga.Mia melirik dua bodyguard yang selalu pasang mata padanya. Ia menghela napas panjang. Sebenarnya ia tahu tujuan Dirga memposisikan bodyguard di sekitarnya itu bukan hanya untuk menjaganya, melainkan untuk memantau orang-orang yang tampak mencurigakan. Pasalnya, akhir-akhir ini banyak hal buruk yang terjadi. Dan itu tak lepas dari kecurigaan Dirga pada omnya, Aryan y
"Bagaimana hasil penelusurannya?" Dirga bertanya pada Dion dan Arnold yang kini duduk di hadapannya. Dion menatap Arnold ia mengizinkan rekannya itu untuk menjelaskan semuanya pada Dirga. "Setelah hampir 2 bulan ini saya mencari tahu semuanya, ini data-data yang saya temukan." Menyerahkan beberapa lembar kertas penting pada Dirga. Pria itu langsung mengambilnya dan membaca satu demi satu isi yang ada di dalam kertas tersebut. Dan pandangannya tertuju pada satu nama yaitu Aryan Abraham. Sontak saja Dirga tanpa sadar langsung meremuk kertas tersebut sampai tak berbentuk. "Bajingan." umpatnya. Sebenarnya apa mau pria sialan itu. Kenapa omnya sendiri mau mencelakakan dirinya."Saya sudah mencari tahu Apa tujuan utama pria itu melakukannya. Dan untuk penyelidikan sementara, semua ini ada hubungan dengan perebutan hak waris. Pak Dirga adalah cucu laki-laki satu-satunya yang dimiliki oleh keluarga besar ini. Dan kuota pak Dirga untuk bisa menjalani 80% perusahaan utama cukup besar. Kare
Waktu kini sudah berlalu. Mia juga sudah sembuh. Hampir sebulan ia berkurung di rumah, kini Mia benar-benar ingin berjalan-jalan santai di sekitaran komplek rumah.Akhir-akhir ini Dirga juga sibuk mengurus sesuatu dengan Dion. Bahkan beberapa orang yang tidak Mia kenal juga berkunjung ke rumah untuk menemui Dirga. Namun setiap orang-orang itu mendatangi Dirga, pria itu langsung membawanya ke ruang kerja. Jadi Mia tak pernah tahu apa yang sedang Dirga rencanakan.Dan hari ini, Dirga sudah berangkat dijemput oleh Dion pagi-pagi buta. Sebenarnya Mia ingin bertanya apa yang terjadi sampai-sampai Dirga terlihat begitu lelah setelah pulang dari urusannya. Namun ia tak ingin menyinggung apapun yang Dirga lakukan. Ia takut dirinya akan merepotkan Dirga jika sudah ikut campur.Langit hari ini tak cerah namun juga tidak mendung. Cukup sejuk untuk dibawa santai keluar rumah. Mia berjalan sembari bersenandung menuju taman yang memang disediakan oleh pengelola kompleks untuk warga sekitar bermain
Makan kali ini cukup menggelitik perut Mia. Pasalnya Dion selalu menggoda Dirga ketika pria itu kembali membuka mulutnya pada Mia untuk disuapi. Bukan tanpa alasan Dion bersikap seperti itu. Selama mengenal pria itu, Dion tak pernah melihat Dirga bermanja dengan siapapun. Bahkan dengan orang tua Dirga sendiri. Pria itu selalu mandiri sejak kecil. Apalagi tuntutan pekerjaan keluarganya yang membuatnya harus dioper ke sana kemari untuk belajar perihal bisnis dan memperdalam ilmu bela diri, karena gelar mafia yang dicap pada keluarganya. Bicara soal mafia, sebenarnya Dirga tidak terlalu mempedulikan gelar tersebut. Hanya saja di luaran sana bagi sebagian musuh keluarga Dirga, Dirga termasuk salah satu ancaman bagi mereka. Karena itu, kemanapun dia pergi jika tanpa pengawalan biasanya akan ada hal-hal buruk yang akan dialami oleh pria itu. Walaupun Dirga ahli dalam beladiri, namun dikeroyok oleh banyak orang juga pasti akan membuatnya kalah. Karena itu, Dirga harus mengerahkan banya
"Badan aku sakit semua." Ucapnya pelan. Dirga paham bagaimana perasaan Mia saat ini. Bahkan saat Mia mengadu seperti ini padanya, ia tak marah sedikitpun atau beranggapan Mia mencari kesempatan padanya untuk bermanja. Karena faktanya, ia sendiri menyukai cara Mia bersikap seperti itu padanya."Kamu ingin ke kamar?" Tawar Dirga. Mia menggeleng. "Mau di sini aja. Aku minta maaf ya." Dirga mengangguk , "Iya nggak apa-apa. Lagian kamu nggak salah apa-apa. Soal pekerjaan Aku di Surabaya, itu memang penting, tapi tanpa keberadaan aku di sana pun semuanya akan baik-baik saja. Karena sekretaris pribadi dan sekretaris perusahaan sudah diutus untuk ke sana mengecek kondisi pembangunan hotel. Jadi kamu nggak usah memikirkan semua itu."Mia mengangguk. Suasana hening sejenak. Tak ada yang membuka kata terlebih dahulu baik Mia maupun Dirga. Keduanya sama-sama tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Sementara itu, di tempat lain, sebuah ruangan yang nyaris dibuat porak-poranda karena em







