MasukGladis merasa ia kembali pada titik keterpurukan. Sakit di tangannya yang mendapat tujuh jahitan itu rasanya tak sebanding dengan sakit di hati. Asma ingin diadopsi orang lain?
Gladis bahkan hanya sekali memeluk Asma. Hanya saat ia melahirkan bayi itu dan kemudian menyerahkan ke panti asuhan untuk diurus karena ia masih harus menjalani hukumannya.
Ibunya pergi pasca keluarganya hancur dan bangkrut. Papa dipenjara karena korupsi gila-gilaan. Pria sebagai ayah biologis Asma kabur dengan wanita lain membawa aset berharga milik Gladis.
Harus seberapa gila dunia ini mempermainkannya?
Wanita itu menggeleng lantas berbalik pergi. Dia masih benar-benar tak mengerti dengan percakapan mereka malam itu.
Tetapi, baru tiga langkah menjauh, Gladis kembali berhenti dan berbalik lagi. Marah.
“Kalau Anda sangat ingin seorang anak kenapa Anda tidak menikahi orang lain? Pacar anda misalnya. Anda bisa hidup bahagia dan mendapatkan anak darinya."Ucap Gladis datar dan tegas. "Kenapa harus Asma?” Lanjutnya dengan nada tingi.
Ia sudah kesal dengan kenyataan bahwa anaknya memanggil orang lain ‘papa’ sementara ia sebagai ibu kandungnya justru tak dikenali.
Juga, mendapatkan sebuah tawaran yang entah pantas disebut lamaran atau tidak dari orang yang tak dikenal di halaman parkir rumah sakit dengan mata sembab dan luka di tangannya setelah ia mengalami perampokan. Siapapun itu tak akan pernah membayangkan hal itu. Juga sangat tidak normal.
Ah.. atau dirinya yang besar kepala menyebut itu sebagai lamaran? Bukankah itu semua tak lebih dari timbal balik? Tidak ada yang gratis di dunia ini.
Apapun itu, Gladis kesal setengah mati.
Gladis meneliti wajah pria di hadapannya itu di bawah cahaya lampu yang minim. Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya oriental, alisnya tegas dan bibirnya... Pokoknya, pria ini masih terlihat sangat belia.
Bukan di usia yang sedang diburu-buru menikah. Itu penilaian singkat seorang Gladis di tengah temaram lampu halaman.
Padahal pria di hadapannya itu sudah cukup matang dan siap menikah. Usianya sudah 29 bukankah itu waktu yang pas untuk menikah?
Hanya saja wajah oriental serta baby face-nya mampu menyamarkan usia aslinya.
“Saya tidak bisa menikahi wanita lain karena mereka pasti tidak bisa menerima Asma. Kecuali anda, karena anda memang ibu kandungnya. Saya juga terlanjur janji pada kakek saya bahwa saya akan menikah dalam waktu dekat dengan membawa Asma. Saya juga berkontribusi merawat Asma selama empat tahun asal anda tahu. Dengan menikah dengan saya, anda bisa merawat dan membesarkan Asma seperti impian anda. Saya juga tidak akan kehilangan Asma juga tidak perlu repot-repot mengurus adopsi yang sebenarnya sangat rumit itu. Saya juga bisa membantu Anda mendekati Asma dengan perlahan.” Ujar pria itu panjang lebar.
Ucapannya sangat meyakinkan sampai-sampai Gladis hampir saja terbuai.
"Kita bisa membuat perjanjian." Lanjutnya.
Gladis hampir saja membuka mulutnya karena terkesima dengan penuturan pria itu. Tegas dan tanpa keraguan sama sekali. “Aku yang punya anak, tapi dia yang lebih mengenal anakku. Siapa yang mau mengenalkan siapa.” Gumam Gladis lirih. “Kenapa nasibku seperti ini.” Ia semakin menunduk dalam.
“Ya?” Lkai-laki itu meneleng merasa mendengar geraman samar.
“Perjanjian apa?"
"Menikah kontrak? Atau pura-pura, semacam itu entah mau disebut apa. Intinya, saya tidak mau kehilangan Asma. Saya akan tetap melanjutkan adopsi itu walaupun saya harus menikah dengan orang lain. Kakek saya sudah sangat tua, dan beliau ingin melihat saya menikah sebelum meninggal. Dan sebenarnya saya nggak bisa bawa wanita lain karena alasan tadi, bukankah itu artinya saya sangat peduli pada hubungan anda dan Asma?"
Cerewet sekali. Batin Gladis.
"Saya tidak mengerti percakapan apa ini.." Ucap Gladis. Lantas keduanya diam. Hujan sudah sejak tadi reda. Meninggalkan hawa dingin menusuk.
Gladis berdehem. "Setelah menikah, anda pasti akan lebih menyayangi anak kandung anda. Lalu Asma? Maaf saya tidak bisa.” Sahut Gladis.
Ghibran terdiam. Lalu mengernyit sejenak. "Maksud anda anak kandung saya dari anda?"
Gladis membelalak. Ia ingin mengelak, tapi ucapannya justru akan semakin menjerat dirinya sendiri. Gladis hanya membuka dan menutup mulutnya tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
"Makanya menikah dengan saya. Agar Asma tetap bersama saya dan ibu kandungnya." Lanjut si pria itu.
"Siapapun istri anda kelak, apa anda tidak ingin punya anak kandung sendiri? Mustahil kalau jawabannya tidak. Dan saya ragu rasa sayang pada Asma akan tetap sama." Tepis Gladis.
Ghibran membenarkan dalam hati. Tapi tak patah arang dalam membujuk. “Saya akan berusaha adil. Saya akan tetap sayang sama Asma. Saya akan mencukupi kehidupan kalian. Saya janji. Anda pasti tidak memiliki tempat tinggal, setelah perampokan itu. Saya yakin anda sedang kebingungan saat ini.” Lanjutnya.
Ucapannya benar dan fakta, tapi menyakitkan kedengarannya. Ghibran merasa hari ini ia terlalu banyak bicara. Tak seperti dirinya biasanya.
Kenapa pula dia gigih memaksa Gladis agar menerima tawaran menikah dengannya?
Gladis mendongak dan menatap tajam si pria itu. Ia kesal dan sebal karena pria ini benar. Sesuatu yang terlupakan olehnya beberapa jam ini adalah, dirinya belum sempat mencari tempat untuk tinggal. Gladis menggigit bibirnya.
“Maaf kalau harus menyinggung ini.” Lanjutnya.
Di halaman rumah sakit itu, Gladis tak memberikan jawaban apapun. Tidak mengiyakan juga tidak menolak. Ia bimbang.
Haruskah ia menyerahkan saja Asma pada laki-laki ini?
Toh, Asma lebih mengenalnya dari pada mengenal ibunya sendiri. Terlebih ibunya memiliki gelar yang tak biasa. Mantan Narapidana. Bisa jadi Asma akan kesulitan bergaul jika hidup bersama ibu kandungnya.
Dan jangan lupakan hal yang lebih penting. Hidup Asma jauh akan lebih terjamin jika bersama pria itu.
“Saya bantu mencari tempat tinggal.” Tawar pria itu.
Gladis terdiam, kemudian pergi tanpa memberi jawaban. Ia tak tahu lagi kemana kakinya harus melangkah.
Tawaran yang diberikan laki-laki soal membantu mencari tempat tinggal pun hanya ia anggap sebagai basa-basi.
Lalu..
"Mobil saya di sebelah sini.."
Gladis berjengit saat bahunya dicengkeram.
Pria ini.. Pria ini terlalu banyak dan percaya diri menyentuhnya.
Harusnya pria itu jijik padanya. Harusnya Gladis dihindari. Harusnya ia segera menghindar jika bertemu mantan narapidana sepertinya.
Harusnya...
Gladis dipaksa masuk ke dalam mobil mewah itu. Tubuhnya mendadak kaku dan canggung.
Kenapa pria ini yang sudah tahu masa lalunya seperti apa tidak jijik dan takut padanya?
"Anda mau tinggal di tempat seperti apa?"
"Tempat seperti apa..." Ulang Gladis menghentikan langkahnya. "Tempat apa yang cocok untuk mantan narapidana seperti saya?" Tanya Gladis.
"Maaf. Bukan seperti itu maksud saya." Kata pria itu.
Selanjutnya keheningan yang canggung menemani mereka sepanjang malam itu.
Pria itu sesekali menghentikan mobilnya dan membuka handphone. Ia berselancar di mesin pencarian mencari tempat tinggal sewaan.
Juga menghubungi seseorang bertanya soal rumah yang dikontrakkan. Biar dirinya yang memutuskan mencari tempat tinggal yang pantas untuk perempuan yang merana ini, pikirnya.
Ia telah banyak menyinggung hatinya. Dan ia merasa bersalah sekarang.
Kruuukkk Suara itu lantang di dalam mobil di malam yang sunyi. Gladis menggigit bibirnya. Ia malu luar biasa. Cacing-cacing di perutnya sepertinya sedang menggelar demo karena terabaikan seharian ini. "Sebaiknya kita makan dulu. Saya lapar, belum makan sejak siang. Di depan ada tukang sate. Tapi kita harus jalan kaki karena gang itu terlalu sempit untuk mobil. Mari." Ajak pria itu. Luwes sekali, pikir Gladis. Laki-laki itu benar-benar luwes membawa suasana agar ia tak malu. Gladis menarik sudut bibirnya menjadi sebuah senyum samar. Sangat samar. Sudah lama rasanya tak diperhatikan seperti itu. Namun wajahnya segera datar kembali.'Jangan ge-er, Gladis.' Umpatnya dalam hati. Gladis melangkah di belakang pria itu dan memastikan menjaga jarak aman.
"Sate komplit dua, ya, Pak." Pesan pria itu. Lalu menyodorkan satu kursi untuk Gladis. Pria itu mengankat alisnya karena Gladis tak segera duduk. "Pedas?" Tanyanya pada Gladis.Gladis mengangguk sekali dengan sangat kaku.
Keduanya diliputi kecanggungan luar biasa sampai dengan makanan itu tiba. Beberapa kali pria itu melirik Gladis. Membuka dan menutup mulutnya hendak bercakap ria. Namun urung karena raut wajah Gladis yang setia termenung. "Ehm.." Pria itu berdehem. "Sudah selesai? Mau bungkus? Kalau-kalau nanti Anda lapar lagi." Tanyanya. Berusaha hati-hati agar tidak menyinggung. Gladis menggeleng. Obat pereda nyeri yang tadi diberikan sepertinya mulai hilang efeknya. Gladis meringis merasakan nyeri pada bekas jahitan itu. "Sebaiknya kita pergi sekarang. Semakin larut. Anda perlu segera istirahat." Kata pria itu lagi. Gladis belum pernah bertemu laki-laki secerewet dia. Sambil terus memegangi perban yang membebat lukanya, Gladis mengikuti langkah lebar-lebar lelaki itu. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 22.00, tapi ia belum juga menemukan rumah yang cocok untuk perempuan ibu dari anak gadis yang mencuri hatinya itu."Kenapa Anda mau membantu saya?" Tanya Gladis pada akhirnya. Ia bukan tak tahu bahwa laki-laki itu sedaritadi mencuri pandang padanya. Mulutnya membuka dan mengatup berulang kali ingin bertukar kata padanya.
Gladis bukan tak mau berbicara. Hanya saja, ia terlalu asing dan takut pada orang asing yang akan akan mengadopsi anaknya itu. Gladis tak tahu sejauh apa mereka saling mengenal.
Kalau sampai Asma dengan lantang dan mudahnya memanggil laki-laki itu sebagai 'papa', itu artinya hubungan mereka terjalin cukup lama. Gladis iri.
"Saya harus meyakinkan Anda bahwa saya layak untuk menjadi Papa Asma. Entah itu dengan mengadopsinya atau dengan cara menikahi ibu kandungnya. Anggap saja saya sedang merayu anda." Jawab pria itu.
Sungguh kepercayaan dirinya luar biasa.
Gladis menelan ludah dan menunduk. "Sepertinya saya memang tidak pantas mendampingi Asma. Asma membutuhkan lingkungan yang bagus serta orang-orang di sekitarnya yang mampu mendukungnya memberikan fasilitas yang baik."
"Asma hanya belum terbiasa dengan Anda. Selama ini dia hanya melihat seorang wanita yang katanya adalah mamanya hanya dari secarik foto. Asma bukan anak yang bisa menerima begitu saja. Logika dan pikirannya yang kritis luar biasa itu tentu saja tak bisa menerima begitu saja... Sebab itulah saya semakin jatuh cinta pada gadis itu." Ujar panjang lebar si pria itu.
Menjawab lugas tanpa melihat Gladis sama sekali. Tatapannya fokus ke depan. Gladis yang tadi melihat pria itu berbicara seketika mengikuti pandangan itu. Lurus ke depan.
Hening kembali. Lalu,
"Ini mau kemana?" Tanya Gladis.
"Sudah terlalu larut untuk mencari rumah kontrakan. Saya rasa Anda lebih baik menginap di hotel untuk sementara. Besok saya akan menjemput untuk mengunjungi Asma. Banyak yang harus saya sampaikan." Lanjutnya.
Pria itu mengatakan sederet kalimat itu ketika sudah sampai di lobi hotel. Tak membiarkan Gladis memberi pendapat atau bantahan.
"Mari, turun." Ucapnya lagi.
Lima tahun berada di bui rupanya benar-benar mengubah seorang Gladis. Kepercayaan dirinya yang dulu ketika menyandang status seorang anak dari Marco Wibisono, seorang pengusaha sukses runtuh seiring dengan hancurnya keluarga itu dan dirinya masuk bui.
Gladis harus berpikir seribu kali hanya untuk memasuki hotel itu. Entahlah. Gladis merasa tak percaya diri berada di tempat sebagus itu. Padahal dulu, sangat biasa baginya keluar masuk di hotel seperti itu. Apalagi saat...
Hotel yang dipilih pria itu bukan hotel melati atau bintang 2 minimal. Hotel itu hotel eksklusif bintang 6 yang ada di kawasan itu. Harga satu kamar yang biasa pasti di atas satu juta.
Laki-laki itu selesai melakukan check-in dan mendapati Gladis masih terbengong di luar pintu masuk lobi.
"Saya mengantar cukup sampai disini. Selanjutnya Anda pasti tahu bagaimana cara menggunakan card ini. Silakan. Selamat beristirahat. Dan jangan lupa pikirkan baik-baik tawaran saya. Anda hanya punya dua pilihan. Saya tunggu jawabannya besok sore."
Petugas dari dinas sosial itu saling pandang. Keduanya mengangguk samar. Tidak ada lagi waktu untuk kembali besok. Banyak hal yang harus diselesaikan hari itu. Maka, mereka sepakat untuk menunggu. Di rumah si Ibu B seperti yang ditawarkan.Rumah Ibu B berhadapan langsung dengan rumah Gladis. Berjarak jalan komplek yang lebarnya enam meter. Dengan tipe halaman terbuka. Mereka mudah sekali berkomunikasi antar tetangga.Ibu B menjamu dua petugas dinas sosial itu dengan es jeruk buatannya sendiri. Serta satu toples cemilan.Sedangkan ibu lainnya pulang ke rumah masing-masing."Silakan dinikmati, Ibu-ibu.""Terima kasih, Bu.""Sejujurnya kami, warga di komplek ini juga terkejut, Bu. Karena sejak pertama datang ke komplek ini, Mbak Gladis ini sendirian. Kami juga baru tahu kalau Mbak Gladis juga sebentar lagi menikah. Calonnya beberapa kali datang kemari. Lalu tiba-tiba tadi berteriak sambil menggendong anak. Atau Mbak Gladis ini janda?" Ibu B mengendikkan bahu. Sengaja tidak menatap lawan
Setelah sambungan telepon itu terputus, Gladis termangu di dapur. Duduk di kursi menoleh ke arah Asma yang masih sesenggukan karena tangisan.Ia berulang kali menghela napas. Kesadaran mendidik anak yang tidak akan pernah mudah muncul. Tapi Gladis tidak akan menyerah. Ingatan lalu yang sempat membuat ia sempat berputus asa karena keadaannya telah dibuang jauh-jauh.Selanjutnya ia akan tetap bersama Asma. Tapi saat ini, menghadapi situasi ini saja Gladis sudah kewalahan.Gladis meletakkan ponselnya. Menarik napas sekali lagi. Mendekati Asma. Membelai rambut panjang Asma. Lembut. Sayang. Getir sempat singgah di hati."Asma mau lihat kamar? Mama mau tunjukin sesuatu."Asma tidak menjawab. Tetapi tubuhnya tidak menolak saat digandeng oleh ibunya.Sama sekali tidak berani membayangkan kehidupannya dengan Asma. Saat di penjara itu, ia sama sekali tak berani memikirkan kehidupan masa depan. Hatinya kacau saat mengingat anak kandungnya.Bayangan kehidupan apa nantinya yang akan dijalani bersa
"Asma, papa tidak bisa lama ya. Papa harus kerja. Papa janji nanti malam kita telepon lagi."Asma mengangguk nurut.Gladis sempat mengerutkan keningnya. Mudah sekali, pikirnya. Asma begitu baik pada Ghibran. Juga sebaliknya. Ia merasa kalah telak dan terasing pada anaknya sendiri/"Sekarang hapenya berikan ke mama. Mama, kan?" Pertanyaan itu untuk memastikan bahwa Asma telah setuju panggilan itu. Ia mengerti meski Asma belum sepenuhnya paham perbedaannya.Selanjutnya, Anggukan Asma membuat Ghibran lega. Hape itu diserahkan pada Gladis yang berada di dapur. Pura-pura menyibukkan diri."Nanti malam saya telpon lagi."Gladis mengangguk. Persis seperti Asma. Dan hal itu membuat Ghibran tersenyum."Tapi, harus kita bertiga. Telepon. Kamu harus terbiasa. Dan saya juga harus tetap menjaga jarak. Benar 'kan?"Gladis kembali mengangguk. Ia hanya mendengar. Tidak berani menatap layar ponsel. Telepon video itu membuat Gladis canggung luar biasa."Selamat, ya..""Selamat apa?" Tanyanya tak menger
Di sisi kota lain, di sebuah rumah setengah mewah Ambar menyesap kopi pagi. Menyeruput penuh nikmat dengan efek suara yang menjijikkan. Ia masih terlihat glamour seperti biasanya. Pagi ini, ia dengar suaminya akan tiba dari luar kota.Katanya, sedang membangun ulang bisnis. Entah bisnis apa. Ambar memacak diri secantik-cantiknya. Menyamarkan usia yang sesungguhnya.Tak lama kemudian suaminya benar-benar tiba. Setelah tiga bulan tidak bertemu. Ambar bersemangat menyambut."Selamat datang di rumah.." Sambutnya ramah.Wajah kuyu Marco justru menyambut sebaliknya. Mendengus samar memaksakan senyum. Meletakkan tas jinjing di atas meja makan dekat kopi Ambar. Meraih kopi itu juga lantas menyesapnya.Ia duduk merebahkan punggung. Lelah setelah perjalanan panjang lewat darat.Mata lelahnya menyapu sekeliling. Rumah yang ia tinggal berbulan-bulan itu masih sama saja. Membuatnya bosan dan muak."Masih belum bisa diketahui di mana Gladis berada?" Marco tanpa ba-bi-bu bertanya pada istrinya.Amba
Malam itu Asma baru jatuh tertidur setelah tiga buku dibacakan. Beberapa kali masih menangis karena teringat kerinduannya dengan si donatur yang telah mengikat hatinya.Mbak Mira siaga di kamar itu menemani Gladis karena tangisan Asma sudah pasti memicu tangisan anak-anak lainnya.Gladis betul-betul terjaga. Momen ini tidak akan pernah terulang lagi mungkin. Momen dimana pertama kali tangan mungil Asma mendekap lengannya sebagai guling. Momen di mana Asma merangkul hangat dalam nyenyak tidurnya.Gladis tidak akan pernah lupa.Kalau saja menyerahkan Asma pada Ghibran sejak dulu, mana mungkin ia akan mendapatkan kesempatan terbaik ini.Kesempatan yang sesungguhnya sangat diinginkan sejak kelahiran Asma."Mama janji tidak akan meninggalkanmu lagi, Nak. Mama janji kita akan bersama. Mama sayang Asma." Lantas mencium tangan mungil Asma.Fajar merayap. Kokok ayam membangunkan semesta. Kehidupan perlahan kembali berjalan di panti itu. Ibu Yasmin yang terbangun lebih dulu. Gladis keluar kamar
Sisa hari itu Gladis sama sekali tidak bisa fokus dalam pekerjaannya. Raung tangisan anak-anak membuatnya terus-terusan melamun, hingga sering ditegur oleh Pak Yusuf, rekan kerjanya."Mbak Gladis lagi ada masalah?" Tegur Pak Yusuf."Ya? Oh, sedikit, Pak. Maaf.""Dari tadi melamun terus. Kalau memang masalahnya serius Mbak Gladis bisa ijin ke bapak. Pasti diijinin. Bapak baik orangnya." Kata Pak Yusuf."Saya baik-baik saja, Pak. Saya bisa menyelesaikan ini. Tinggal dikit lagi juga jam pulang." Kata Gladis. Juga, alasan sebenarnya adalah ia sedang mencari cara bagaimana menghadapi Asma nantinya.Bagaimana membujuk anak itu untuk mau ikut dengannya.Apakah dengan selai kacang? Bagaimana jika tidak mempan?Gladis melirik jam di tangannya. Tidak mungkin ia mengganggu Ghibran untuk urusan Asma. Dia adalah ibu kandungnya, Gladis harus bisa tanpa campur tangan Ghibran.Gladis merasa bisa.Maka, sepulang kerja ia langsung bergegas menuju panti. Sebelumnya memasuki toko bakery untuk mencari kue







