LOGINYumna masih berusaha mendengarkan apa yang Arini katakan di kamar, ia mendengar samar-samar Arini menyebut namanya.
"Bagaimana jika Yumna sampai tahu semuanya, bagaimana nasib anak ini selanjutnya?" suara Arini dari dalam kamar yang terdengar oleh Yumna. Yumna yakin jika Arini sedang menyembunyikan sesuatu, ia sengaja tidak mengetuk pintu kamar tersebut, ia bersandar dan telinganya ditempelkan di pintu kamar. Dari posisi itu kebetulan ia bisa melihat sang suami yang ada di meja makan tengah menempelkan ponsel di telinganya dan seperti sedang berbicara dengan ponsel tersebut. "Apa sebenarnya Arini sedang bicara dengan Mas Haikal? Apa mereka menyembunyikan sesuatu dariku?" gumam Yumna. Wanita yang tengah berbadan dua itu lalu menegakkan tubuhnya tak lagi menempelkan telinga di depan pintu kamar tersebut, tiba-tiba Arini membuka pintu dan pandangannya langsung tertuju pada meja makan di mana Haikal berada di sana, Yumna mengikuti arah pandangan mata Arini, hatinya teriris melihat kontak mata antara Arini dan suaminya. "Ehm ... Arini, sudah waktunya makan siang!" ucap Yumna seraya berjalan melewati Arini. Arini mengerjapkan matanya, lalu mengikuti langkah Yumna menuju meja makan. Yumna begitu terkejut karena Arini dengan berani duduk di samping Haikal, padahal itu adalah kursi yang biasa Yumna duduki. "Itu tempat Yumna duduk, Arini. Sebaiknya kau cari tempat lain!" beritahu Haikal. "Tidak apa-apa, Mas. Aku bisa duduk di sebelah sini." Yumna mengambil posisi duduk di sebelah kanan Haikal karena di sebelah kiri sudah ada Arini, posisi Haikal kini di apit oleh dua wanita hamil. Seperti biasa Yumna melayani Haikal di meja makan, hal tersebut tak luput dari perhatian Arini. "Pantas saja Mas Haikal begitu menyayangi Mbak Yumna, cara Mbak Yumna melayani Mas Haikal sudah menjelaskan bahwa Mbak adalah istri yang baik," ucap Arini. Yumna hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Arini. Hatinya kembali teriris mendengar Yumna berani menyebut Haikal dengan sebutan 'Mas' padahal sejak kemarin Arini memanggil Haikal 'Bapak'. "Aku bukan istri yang baik, jika aku istri yang baik tidak mungkin aku dibohongi oleh suamiku!" Haikal yang sudah mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, menghentikan aktivitas mengunyahnya dan menyimpan sendok di atas piringnya lalu menatap Yumna. "Sayang, aku sudah katakan jika aku tidak bermaksud untuk membohongimu!" "Maaf, harusnya kita tidak membahas ini. Sebaiknya kita lanjutkan makannya!" Yumna mencoba mengalihkan pembicaraan. Wanita cantik yang sedang hamil tua itu sadar, karena ucapannya barusan membuat suasana di meja makan menjadi tidak enak. Meskipun hatinya sedang dilanda kegalauan, Yumna tetap makan dengan lahap seperti biasanya, ia tak ingin anak dalam kandungannya terkena dampak buruk karena ia tidak mau makan. Mereka pun menikmati makanan masing-masing tanpa berbicara hingga makanan itu habis. "Mas Haikal, mendadak aku ingin mangga muda. Apa aku boleh minta tolong kamu belikan aku mangga muda?" Ucapan Arini membuat Haikal dan Yumna terkejut. Yumna memandang Arini dengan sinis, tetapi wajah Arini terlihat santai dan sama sekali merasa tidak bersalah. "Kamu cari sendiri saja, kalau tidak punya uang aku akan kasih untukmu!" tolak Haikal. Arini memanyunkan bibirnya mendengar penolakan Haikal."Mas, ini anak kamu loh yang minta." Arini berkata dengan nada manja pada Haikal, tidak peduli ada istri sahnya di depan mereka. Hal itu membuat Yumna merasa cemburu dan segera pergi dari meja makan. "Manja sekali, sepertinya dia sudah biasa meminta dengan cara seperti itu pada Mas Haikal!" Gumam Yumna kesal. Sementara di meja makan, Haikal kesal dengan kelakuan Arini. Haikal sadar jika istrinya kini sedang marah karena sikap manja Arini yang ditunjukan padanya. "Apa-apaan kamu, Arini. Kenapa kamu bersikap manja kepadaku, Kamu sengaja membuat istriku marah?!" Hardik Haikal. Mendengar Haikal menghardiknya membuat Arini menundukan wajahnya dan memasang wajah sedih. "Maaf, Mas. Aku juga nggak tahu kenapa seperti ini, mungkin ini bawaan bayi, mungkin bayi ini ingin manja kepada ayahnya," ucap Arini dengan nada lirih. "Bullshit ... ini kalau kamu ingin mangga muda cari saja sendiri!" Haikal meletakan yang kepingan 100ribu di atas meja. Namun, seperti sedang menggebrak meja. Arini terkejut melihat uang itu dan melihat Haikal pergi meninggalkannya. Haikal meninggalkan meja makan mencari keberadaan sang istri, ternyata istrinya sedang di taman samping tengah melihat bunga-bunga yang tumbuh karena dirawat baik olehnya. "Sayang, matahari sedang berada di atas. Jika ingin merawat bunga sebaiknya pagi atau sore hari, agar kamu tidak kepanasan," ucap Haikal saat sudah berada di samping Yumna. "Kamu sudah membelikan mangga muda untuk Arini, Mas?" tanya Yumna. "Dia bisa membeli sendiri." Yumna mengangguk, tetapi tetap fokus melihat satu persatu bunga yang ia rawat. Rasanya tak sanggup melihat wajah sang suami saat ini, ada rasa kesal, cemburu yang begitu menggebu mengingat kejadian di meja makan tadi. "Sayang, kita ke kamar, yuk! Ini panasnya gak enak." Yumna menghela nafas, lalu berjalan melewati Haikal tanpa berkata apapun. Haikal mencekal tangan Yumna tak suka melihat istrinya terus mengabaikannya. "Sayang, kamu marah?" "Menurut kamu? Mas, Sudah berapa lama kalian dekat, Sudah berapa lama dia bermanja seperti itu kepadamu?" tanya Yumna dengan mata berkaca-kaca. "Aku juga tidak mengerti mengapa Arini bisa seperti itu tadi, aku sudah bilang padamu, Sayang. Aku tidak pernah dekat dengan Arini." "Dulu jika kamu mengatakan bahwa hanya aku wanita yang ada di dekatmu dan hanya aku wanita yang kamu cintai maka aku akan percaya 100%, tapi sekarang rasanya aku sangat sulit untuk percaya dengan kata-katamu, Mas!" Yumna melepas genggaman tangan sang suami, lalu berjalan meninggalkan suaminya begitu saja. Haikal mengusap kasar wajahnya melihat kepergian sang istri. "Ini semua gara-gara kamu, Arini." Suasana di rumah yang biasanya hangat karena canda tawa Haikal dan Yumna, kini berubah dingin karena Yumna sama sekali tidak menanggapi ucapan Haikal sejak siang. Wanita itu memilih untuk sibuk merajut dan mengacuhkan sang suami. Haikal hanya bisa pasrah karena ia tahu istrinya sedang tidak mood. Saat Haikal mandi sore, ponselnya berdering. Belum sempat Yumna mengangkatnya panggilan itu sudah mati. Saat Yumna mencoba melihat Siapa yang menelpon nomor suaminya, ternyata ponsel suaminya dikunci dengan kata sandi yang tidak ia ketahui. "Ternyata ponsel kamu masih diberi kata sandi, Mas. Waktu aku bertanya di Rumah sakit pun kamu tidak menjawabnya, apa ada rahasia besar yang kamu sembunyikan dariku, Mas?" tanya Yumna. Haikal selesai mandi, ketika ia keluar dari kamar mandi dan melihat sang istri sedang memegang ponselnya, dengan langkah cepat Haikal meraih ponsel tersebut menariknya dari genggaman tangan sang istri. "Astaga kenapa kamu membuatku kaget, Mas. Ada apa sebenarnya di ponselmu, Kenapa kamu panik seperti itu saat aku memegangnya?" tanya Yumna dengan tatapan tajam pada suaminya."Apa yang sedang mereka lakukan?" tanya Haikal.Haidar mengangkat kedua bahunya, ia pun tak mengerti apa yang orang-orang lakukan di depan mobil mewah milik mereka. perlahan Haikal, Haidar dan istri-istrinya berjalan kearah mobil."Permisi adek-adek tolong jangan berkerumun di depan mobil kami ya!" ucap Yumna dengan suara ramah.Seketika anak kecil yang sedang mengerumuni mobil itu pun memberikan jalan untuk sang empunya.Haikal, Haidar, Yumna dan Salsa pun masuk membawa anak-anak mereka. Namun, setelah masuk mereka masih tidak bisa menjalankan mobilnya karena masih ada anak-anak berdiri di depan mobil."Apa sih mau nya mereka?" gumam Haidar."Kasih uang coba, Mas. Biasanya anak-anak kampung suka gitu, karena lihat mobil mewah yang belum pernah ia lihat jadi penasaran!" ucap Salsa."Aku gak ada uang receh, Sayang!" ucap Haidar.Salsa memb
"Arkan ada apa ini?" tanya Arini yang menahan Arkan.Arkan terlihat sangat marah dan ingin memukul ibunya, hal itu membuat para tetangga yang sedang membantu menjadi saling berbisik-bisik karena tahu seperti apa kelakuan Munah yang tak baik."Ibu keterlaluan, aku menemukan banyak botol minuman keras dan aku lihat di handphonenya dia berencana pesta miras di rumah kita dengan teman-teman suami barunya!" ucap Arkan sangat emosi.Meskipun Arkan juga bukan orang yang paham tentang agama, tetapi dia selalu menghindari hal-hal buruk seperti itu sesuai nasehat yang diberikan Mustofa kepadanya. Ketika melihat ibunya sendiri yang melakukan hal buruk seperti itu maka itu membuat Arkan begitu emosi, Arini dan Amel yang mendengar hal itu pun sama terkejut dan emosi seperti Arkan."Ibu sudah tua, bukannya tobat malah seperti ini terus!" ucap Amel kesal."Kalian itu masih ingusan jangan banyak omong apalagi
"Munah! Tidak seharusnya kamu berbicara seperti itu di depan jalan suami Arini. Mahar dalam pernikahan memang hukumnya wajib, tetapi jangan sampai memberatkan pihak laki-laki atau pihak yang melamar!" ucap Mustofa."Kak, apa yang aku katakan ini demi kebaikan Arini. Sebagai seorang wanita Dia harus dihargai jangan sampai disepelekan oleh calon suaminya!" ucap Munah tak mau kalah."Menghargai seseorang tidak harus dengan cara memberikan barang mewah dan harta yang seperti ibu inginkan!" ucap Arini kesal.Mustofa merasa tidak enak kepada keluarga Ronald, masih dalam acara lamaran saja Munah sudah memperlihatkan sikap tidak baiknya, malah sengaja membuat perdebatan dan apa yang di utarakan membuat dia terlihat sangat matre.Dalam acara lamaran tersebut hadir juga seorang ustad dan Pak RT, jadi ustad itu mencoba melerai perdebatan antara Munah dan Arini."Ibu Munah, mohon maaf jika saya lancang. Ap
"Apa syaratnya, Bu?" tanya Arini kepada Ratih melalui sambungan telepon."Syaratnya, kalau kamu balik lagi ke Jakarta bawa satu orang lagi untuk bekerja di tempat saya," jawab Ratih.Mendengar ucapan bosnya tentu saja membuat Arini sangat senang, sebab kedua adiknya ingin ikut ke Jakarta dan mencari pekerjaan di sana. Hal itu tentu saja sangat pas dengan situasi yang diinginkan oleh bosnya, tinggal mencari satu pekerjaan lagi untuk adiknya yang lain."Kebetulan adik saya mau ikut ke Jakarta setelah saya menikah nanti, Bu!" ucap Arini."Nah itu bagus, tapi adik kamu rajin dan jujur seperti kamu kan! Karena kamu tahu sendiri kerja di saya itu harus rajin dan jujur!" ucap Ratih."Iya, In shaa Allah adik-adik saya rajin dan jujur."Setelah mengobrol banyak dengan Ratih di sambungan telepon akhirnya panggilan itu pun diakhiri, Amel datang dan membawa beberapa contoh undangan untuk
Arini menyetujui saat Ronald ingin melamarnya bulan depan ke keluarganya secara resmi, akhirnya Ronald pun membicarakan itu kepada Haikal dan Yumna. Mereka pun sangat senang mendengar berita itu dan mempersiapkan semuanya karena sudah menganggap Ronald seperti keluarganya sendiri. Seminggu sebelum lamaran, Arini izin pada bosnya untuk pulang kampung dan mengatakan perihal lamaran yang akan Ronald lakukan padanya. "Bu, Minggu akan ada tamu datang kesini," ucap Arini bicara pada ibunya. Kini Arini berada di kampung halamannya dan sedang berbicara dengan ibu dan ayah tirinya karena ternyata ibunya sudah menikah lagi. "Tamu apa maksud kamu?" tanya Munah. "Ada laki-laki yang akan melamar Arini dan membawa keluarganya ke sini," ucap Arini. "Oh bilang dong kalau ada yang mau melamar kamu, orang kaya apa nggak laki-laki yang mau melamar kamu?"
"Janji kalau kamu akan pecat sekertaris genit kamu itu!" ucap Yumna.Tanpa berkata apa-apa Haikal langsung menyerang Yumna, H4sr4t nya yang menggebu segera meminta di tuntaskan dan Yumna tak punya banyak tenang untuk menghalau suaminya.Mereka merasakan pelepasan dengan nafas tersengal-sengal dan Haikal mencium kening Yumna berkali-kali."Mas, kamu belum janji tadi, Lho!" ucap Yumna."Tanpa kamu minta aku memang ingin memecatnya setelah masuk, tapi karena hari ini aku ingin menghabiskan hari dengan kamu jadi aku tunda besok masuk kerjanya dan pecat Lidya nya!" "Aku gak mau ada perempuan gatal di sekitar kamu, kalau bisa cari sekertaris atau asisten laki-laki saja seperti Haidar asisten dia Kevin!" ucap Yumna melingkarkan tangannya di perut sang suami."Ya nanti aku akan seleksi dan cari sekertaris laki-laki, biar kamu tenang di rumah saat aku kerja di perusahaan!"







