Compartilhar

Bab 6. Curiga

Autor: Sulistiani
last update Data de publicação: 2026-07-17 07:27:00

Yumna masih berusaha mendengarkan apa yang Arini katakan di kamar, ia mendengar samar-samar Arini menyebut namanya.

"Bagaimana jika Yumna sampai tahu semuanya, bagaimana nasib anak ini selanjutnya?" suara Arini dari dalam kamar yang terdengar oleh Yumna.

Yumna yakin jika Arini sedang menyembunyikan sesuatu, ia sengaja tidak mengetuk pintu kamar tersebut, ia bersandar dan telinganya ditempelkan di pintu kamar. Dari posisi itu kebetulan ia bisa melihat sang suami yang ada di meja makan tengah menempelkan ponsel di telinganya dan seperti sedang berbicara dengan ponsel tersebut.

"Apa sebenarnya Arini sedang bicara dengan Mas Haikal? Apa mereka menyembunyikan sesuatu dariku?" gumam Yumna.

Wanita yang tengah berbadan dua itu lalu menegakkan tubuhnya tak lagi menempelkan telinga di depan pintu kamar tersebut, tiba-tiba Arini membuka pintu dan pandangannya langsung tertuju pada meja makan di mana Haikal berada di sana, Yumna mengikuti arah pandangan mata Arini, hatinya teriris melihat kontak mata antara Arini dan suaminya.

"Ehm ... Arini, sudah waktunya makan siang!" ucap Yumna seraya berjalan melewati Arini.

Arini mengerjapkan matanya, lalu mengikuti langkah Yumna menuju meja makan. Yumna begitu terkejut karena Arini dengan berani duduk di samping Haikal, padahal itu adalah kursi yang biasa Yumna duduki.

"Itu tempat Yumna duduk, Arini. Sebaiknya kau cari tempat lain!" beritahu Haikal.

"Tidak apa-apa, Mas. Aku bisa duduk di sebelah sini."

Yumna mengambil posisi duduk di sebelah kanan Haikal karena di sebelah kiri sudah ada Arini, posisi Haikal kini di apit oleh dua wanita hamil. Seperti biasa Yumna melayani Haikal di meja makan, hal tersebut tak luput dari perhatian Arini.

"Pantas saja Mas Haikal begitu menyayangi Mbak Yumna, cara Mbak Yumna melayani Mas Haikal sudah menjelaskan bahwa Mbak adalah istri yang baik," ucap Arini.

Yumna hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Arini. Hatinya kembali teriris mendengar Yumna berani menyebut Haikal dengan sebutan 'Mas' padahal sejak kemarin Arini memanggil Haikal 'Bapak'.

"Aku bukan istri yang baik, jika aku istri yang baik tidak mungkin aku dibohongi oleh suamiku!"

Haikal yang sudah mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, menghentikan aktivitas mengunyahnya dan menyimpan sendok di atas piringnya lalu menatap Yumna.

"Sayang, aku sudah katakan jika aku tidak bermaksud untuk membohongimu!"

"Maaf, harusnya kita tidak membahas ini. Sebaiknya kita lanjutkan makannya!" Yumna mencoba mengalihkan pembicaraan.

Wanita cantik yang sedang hamil tua itu sadar, karena ucapannya barusan membuat suasana di meja makan menjadi tidak enak. Meskipun hatinya sedang dilanda kegalauan, Yumna tetap makan dengan lahap seperti biasanya, ia tak ingin anak dalam kandungannya terkena dampak buruk karena ia tidak mau makan. Mereka pun menikmati makanan masing-masing tanpa berbicara hingga makanan itu habis.

"Mas Haikal, mendadak aku ingin mangga muda. Apa aku boleh minta tolong kamu belikan aku mangga muda?"

Ucapan Arini membuat Haikal dan Yumna terkejut. Yumna memandang Arini dengan sinis, tetapi wajah Arini terlihat santai dan sama sekali merasa tidak bersalah.

"Kamu cari sendiri saja, kalau tidak punya uang aku akan kasih untukmu!" tolak Haikal.

Arini memanyunkan bibirnya mendengar penolakan Haikal."Mas, ini anak kamu loh yang minta."

Arini berkata dengan nada manja pada Haikal, tidak peduli ada istri sahnya di depan mereka. Hal itu membuat Yumna merasa cemburu dan segera pergi dari meja makan.

"Manja sekali, sepertinya dia sudah biasa meminta dengan cara seperti itu pada Mas Haikal!" Gumam Yumna kesal.

Sementara di meja makan, Haikal kesal dengan kelakuan Arini. Haikal sadar jika istrinya kini sedang marah karena sikap manja Arini yang ditunjukan padanya.

"Apa-apaan kamu, Arini. Kenapa kamu bersikap manja kepadaku, Kamu sengaja membuat istriku marah?!" Hardik Haikal.

Mendengar Haikal menghardiknya membuat Arini menundukan wajahnya dan memasang wajah sedih.

"Maaf, Mas. Aku juga nggak tahu kenapa seperti ini, mungkin ini bawaan bayi, mungkin bayi ini ingin manja kepada ayahnya," ucap Arini dengan nada lirih.

"Bullshit ... ini kalau kamu ingin mangga muda cari saja sendiri!" Haikal meletakan yang kepingan 100ribu di atas meja. Namun, seperti sedang menggebrak meja.

Arini terkejut melihat uang itu dan melihat Haikal pergi meninggalkannya.

Haikal meninggalkan meja makan mencari keberadaan sang istri, ternyata istrinya sedang di taman samping tengah melihat bunga-bunga yang tumbuh karena dirawat baik olehnya.

"Sayang, matahari sedang berada di atas. Jika ingin merawat bunga sebaiknya pagi atau sore hari, agar kamu tidak kepanasan," ucap Haikal saat sudah berada di samping Yumna.

"Kamu sudah membelikan mangga muda untuk Arini, Mas?" tanya Yumna.

"Dia bisa membeli sendiri."

Yumna mengangguk, tetapi tetap fokus melihat satu persatu bunga yang ia rawat. Rasanya tak sanggup melihat wajah sang suami saat ini, ada rasa kesal, cemburu yang begitu menggebu mengingat kejadian di meja makan tadi.

"Sayang, kita ke kamar, yuk! Ini panasnya gak enak."

Yumna menghela nafas, lalu berjalan melewati Haikal tanpa berkata apapun. Haikal mencekal tangan Yumna tak suka melihat istrinya terus mengabaikannya.

"Sayang, kamu marah?"

"Menurut kamu? Mas, Sudah berapa lama kalian dekat, Sudah berapa lama dia bermanja seperti itu kepadamu?" tanya Yumna dengan mata berkaca-kaca.

"Aku juga tidak mengerti mengapa Arini bisa seperti itu tadi, aku sudah bilang padamu, Sayang. Aku tidak pernah dekat dengan Arini."

"Dulu jika kamu mengatakan bahwa hanya aku wanita yang ada di dekatmu dan hanya aku wanita yang kamu cintai maka aku akan percaya 100%, tapi sekarang rasanya aku sangat sulit untuk percaya dengan kata-katamu, Mas!"

Yumna melepas genggaman tangan sang suami, lalu berjalan meninggalkan suaminya begitu saja. Haikal mengusap kasar wajahnya melihat kepergian sang istri.

"Ini semua gara-gara kamu, Arini."

Suasana di rumah yang biasanya hangat karena canda tawa Haikal dan Yumna, kini berubah dingin karena Yumna sama sekali tidak menanggapi ucapan Haikal sejak siang. Wanita itu memilih untuk sibuk merajut dan mengacuhkan sang suami. Haikal hanya bisa pasrah karena ia tahu istrinya sedang tidak mood.

Saat Haikal mandi sore, ponselnya berdering. Belum sempat Yumna mengangkatnya panggilan itu sudah mati. Saat Yumna mencoba melihat Siapa yang menelpon nomor suaminya, ternyata ponsel suaminya dikunci dengan kata sandi yang tidak ia ketahui.

"Ternyata ponsel kamu masih diberi kata sandi, Mas. Waktu aku bertanya di Rumah sakit pun kamu tidak menjawabnya, apa ada rahasia besar yang kamu sembunyikan dariku, Mas?" tanya Yumna.

Haikal selesai mandi, ketika ia keluar dari kamar mandi dan melihat sang istri sedang memegang ponselnya, dengan langkah cepat Haikal meraih ponsel tersebut menariknya dari genggaman tangan sang istri.

"Astaga kenapa kamu membuatku kaget, Mas. Ada apa sebenarnya di ponselmu, Kenapa kamu panik seperti itu saat aku memegangnya?" tanya Yumna dengan tatapan tajam pada suaminya.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Perempuan Kedua   Bab 41. Permintaan Ibu

    "Ibu, jangan bicara seperti itu. Yumna sayang banget sama ibu hanya ibu satu-satunya keluarga yang Yumna punya.""Kalau gitu bawa ibu pulang ke rumah kamu dan Haikal, jika kamu beralasan lagi artinya kamu gak sayang dan gak mau ngurus ibu lagi," ucap Ratna.Yumna menghela napas mendengar ucapan sang ibu, dia punya alasan mengapa tidak membawa ibunya pulang. Ada Arini di rumahnya dan Yumna tak ingin ibunya tahu tentang permasalahan rumah tangganya."Nanti aku bilang sama mas Haikal. Sekarang ibu makan dan minum obat dulu ya!""Ibu gak mau, buat apa ibu sembuh kalau masih tinggal di rumah sakit jiwa.""Ya sudah kalau ibu sembuh nanti Yumna bawa pulang ke rumah.""Beneran? Kamu janji?"Yumna tersenyum dan mengangguk mencoba membujuk sang ibu seperti membujuk anak kecil. Ratna akhirnya mau menghabiskan makanannya dan meminum obatnya."Ibu bosen di sini, tiap hari ngobrol sama suster. Kalau sama pasien ya gak ada yang nyambung, kalau pulang ke rumah kamu ibu bisa bantu kamu urus anak," uca

  • Perempuan Kedua   Bab 40. Kesedihan Ibu

    "Lalu kepada siapa Aku meminta bantuan agar bisa lepas dari lelaki parasit itu?" tanya Arini."Pak Haikal dan keluarganya," jawab Ronald.Arini yang tadinya berjalan menyusuri rak-rak barang di swalayan tiba-tiba menghentikan langkahnya mendengar ucapan Ronald."Yang benar saja kamu, Ronald. Apa tidak ada orang lain, kalau bisa membantu aku lepas dari parasit itu dan juga pergi dari keluarga Pak Haikal.""Tidak ada, aku hanya percaya kepada keluarga Pak Haikal. Dulu juga Aku ragu, aku takut mereka marah saat mengetahui apa yang aku lakukan. Namun, ternyata kemarahan itu hanya sebentar dan mereka malah memberikan kesempatan kedua untuk aku menjadi orang yang lebih baik."Ronald terus menceritakan masa lalunya yang diterima oleh keluarga Haikal setelah Apa yang dia lakukan. Arini hanya terdiam, ia sudah sangat nyaman dengan hidup bersama Yumna dan Haikal. Misinya dulu memang ingin menghancurkan keluarga Yumna dan Haikal, tetapi setelah hidup bersama mereka dan diperlakukan dengan baik A

  • Perempuan Kedua   Bab 39. Arini Lelah

    "Apa kau ingat bagaimana ciri-ciri kekasih Arini? Mengapa dia sepertinya punya motif untuk menghancurkan rumah tanggaku?!" tanya Haikal kepada Ronald."Iya Pak saya juga berpikir seperti itu, pasti dia punya dendam hingga ingin menghancurkan rumah tangga Bapak dan Bu Yumna," ucap Ronald."Ciri-cirinya orang itu berkulit sawo matang, hidung mancung, rambut sedikit ikal dan berkumis tipis." Ronald melanjutkan ucapannya memberitahu ciri-ciri lelaki yang sering ditemui oleh Arini.Haikal berpikir sepertinya pernah mengenali ciri-ciri orang yang disebutkan oleh Ronald, tapi Haikal lupa Siapa orang yang memiliki ciri-ciri seperti itu."Apa saja yang kamu dengar jika mereka sedang bertemu?""Saya tidak mendengar apa-apa karena mengawasi mereka dari kejauhan, tapi belakangan ini Arini memang jarang bertemu dengan lelaki tersebut," ucap Ronald.Haikal menganggukan kepala dan berpesan pada Ronald untuk terus mengawasi Arini dan mencari tahu siapa lelaki yang selalu bertemu dengan Arini. Ronald

  • Perempuan Kedua   Bab 38. Meninggal

    "Apa, adik saya meninggal?" Tubuh kekar Ronald luruh kelantai ketika mendengar kabar duka dari rumah sakit tersebut.Haikal dan Yumna saling pandang, niatnya ingin menginterogasi Ronald tentang Arini di tunda karena kabar duka tersebut. Haikal segera mengantar supirnya itu kerumah sakit, sejenak melupakan masalah Arini, ia juga mengabari keluarganya tentang meninggalnya adik Ronald. Sementara Yumna tetap di rumah bersama bayinya."Hati-hati di rumah ya, Sayang. Tetap waspada dengan Arini," ucap Haikal sebelum mengantar Ronald ke rumah sakit."Iya, Mas. Kamu hati-hati di jalan jangan ngebut agar selamat sampai sana!" ucap Yumna.Haikal pun mengantarkan Ronald ke rumah sakit, sesampainya di rumah sakit Ronald langsung menangis melihat jenazah adiknya."Kami turut berdukacita atas meninggalnya saudari Rina, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhannya, tetapi Tuhan lebih menyayanginya. Rina di nyatakan meninggal pukul 19.15." Dokter menjelaskan kapan adik Ronald menghembusk

  • Perempuan Kedua   Bab 47. Kemarahan Haikal

    "Ada apa, Pak?" tanya Kevin yang ternyata masih ada di ruangan Haikal."Tidak ada apa-apa, kamu boleh kembali ke ruangan mu, terima kasih sudah memberikan berkas ini," jawab Haikal."Baik, Pak. Saya permisi."Haikal mengangguk dan Kevin pun pergi dari ruangan Haikal, lalu lelaki berwajah tampan itu meraih gawainya dan menelpon Ronald. Tiga kali panggilan tidak di jawab oleh Ronald hingga akhirnya panggilan ke empat Ronald menjawabnya."Hallo, Pak Haikal ada apa?" tanya Ronald saat sudah mengangkat panggilan teleponnya."Kamu dimana?" tanya Haikal."Saya di rumah, Pak. Maaf baru bisa angkat telepon tadi saya cuci mobil handphone saya di dalam," jawab Ronald."Kau tidak berbohong? Lalu apa kau sudah mengantar Arini?" tanya Haikal lagi.Ronald terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Haikal, ia merasa majikannya itu sudah mulai tak percaya padanya hingga bertanya dengan nada seperti itu."Saya tidak berbohong saya sudah ada di rumah dan sudah selesai mengantarkan Arini, Pak. Tadi dia

  • Perempuan Kedua   Bab 36. Haikal Curiga

    "Arini, apa yang kamu lakukan?" Mendengar ucapan Yumna, Arini baru sadar jika jarinya berdarah. Pisau yang ia gunakan untuk mengupas buah ternyata melukai ujung jarinya karena ia melamun."Luka nya langsung di bersihin dan di balut plester, Arini!""Iya, Mbak." Arini langsung membuka keran wastafel dan mengaliri jarinya yang terluka dengan air keran agar darahnya hilang.Setelah itu Arini langsung mencari kotak p3k dan membalut lukanya dengan plester, setelah kembali ke dapur ternyata bumbu rujak siap dan buah sudah di potong-potong oleh Bi Sarti."Makanya jangan melamun kalau lagi pengang pisau, untung cuma ujung jari yang kena. Coba kalau bagian lain?!"Arini tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan Bi Sarti. "Iya, makasih udah di bikinin bumbu rujaknya ya, Bi sarti!""Sama-sama, emangnya kamu mikirin apa sih bengong sampe motong jari kamu sendiri?" tanya Bi Sarti."Gak di potong, Bi. Itu cuma gak sengaja kegores pisau kok!""Bibi yakin ada yang kamu pikirkan, cerita aja jangan di

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status