Home / Romansa / Perempuan Kedua / Bab 5. Satu Atap

Share

Bab 5. Satu Atap

Author: Sulistiani
last update publish date: 2026-06-18 15:50:49

Tak terasa air mata menetes di pipi perempuan berwajah cantik itu, dalam pikiran Yumna meskipun keadaan tidak sadar mungkin saja terjadi pergulatan panas antara suaminya dengan wanita lain, di tambah hormon kehamilan membuatnya lebih sensitif dan sedih berlebihan.

"Ya sudah jika kamu mau seperti itu, tapi tolong kamu percaya padaku, aku akan membuktikan semuanya, jika aku sama sekali tidak pernah mengkhianati kamu, Sayang," ucap Haikal.

"Maaf aku bukan istri yang baik untukmu, Mas. Apa aku boleh bertanya?" ucap Yumna

"Jangan bicara seperti itu, kamu adalah yang terbaik, katakan saja apa yang ingin kamu tanyakan," ucap Haikal.

Yumna memejamkan matanya sebelum bertanya kepada Haikal sang suami, sebenarnya pertanyaan ini ingin Ia tanyakan sudah sejak di rumah sakit, tapi ia ragu dan rasanya tidak siap untuk menerima jawaban dari sang suami.

"Setelah kejadian itu apa yang kamu dan dia lakukan di belakangku, apa kamu memberinya uang?" tanya Yumna.

"Iya, pada saat kejadian itu Arini memintaku sejumlah uang dan aku memberikannya, Aku meminta kepadanya untuk tutup mulut masalah malam itu, tapi nyatanya dia malah datang dan mengacau," ucap Haikal.

"Kenapa kamu tidak menceritakan kejadian itu kepadaku, Mas. Kenapa aku harus tahu semua ini dari wanita itu?" tanya Yumna.

"Karena aku tidak ingin kamu tahu tentang kejadian itu, kamu sedang hamil anakku, dan aku tak ingin kehamilanmu terganggu akibat masalah itu," ucap Haikal.

"Nyatanya saat mengetahui hal itu dari wanita tersebut aku sangat sakit, Mas. Kenapa kamu tidak jujur padaku, mengapa kamu menutupi semuanya dariku? Mungkin jika aku tahu lebih dulu darimu rasanya tidak sesakit ini," ucap Yumna.

"Bukankah kita sudah berkomitmen untuk jujur dan saling terbuka satu sama lain, tidak ada dusta dan apapun yang di tutupi. Kamu menutupi semua ini dariku, Mas. Kamu mengingkari komitmen kita, bisa saja nanti kamu melakukan kebohongan lagi di belakangku. Itu sebabnya aku ingin kita pisah ranjang agar bisa saling introspeksi diri," Yumna melanjutkan ucapannya.

Haikal terdiam menyadari kesalahannya, meskipun ia pikir itu demi kebaikan sang istri. Namun, semua itu tetap salah karena dia meninggal komitmen yang dia buat dengan sang istri sejak awal pernikahan. Haikal berjalan gontai meninggalkan kamar yang ditempati sang istri, ia masuk ke dalam kamar tamu dan merenungi segala kesalahannya.

"Maafkan aku, Yumna. Aku pikir apa yang aku lakukan adalah yang terbaik untuk kita, aku pikir semuanya tidak akan seperti ini," gumam Haikal.

Mereka tidur dalam kamar yang berbeda, memeluk luka dan rasa sedih masing-masing. Yumna sendiri sadar mungkin kehadiran perempuan kedua dalam pernikahannya adalah ujian, tapi ia kecewa dengan cara suaminya menyembunyikan kebenaran dan kejadian tersebut darinya.

Sementara Haikal merutuki kebodohannya, seharusnya ia tidak menutupi apapun dari sang istri karena ia tahu istrinya memang orang sabar dan tidak pernah gegabah dalam berpikir dan bertindak.

Hari berganti pagi, matahari masih malu-malu menampakan sinarnya. Cahaya yang mulai menyilaukan itu menembus celah-celah gorden dan membuat Haikal mulai membuka mata, Setelah malam yang terasa sangat panjang tanpa sang istri di sampingnya.

Pagi itu, seperti biasa sarapan sudah ada di meja makan dan Haikal tahu pasti itu adalah buatan Yumna. Meskipun sedang kecewa dan harusnya masih istirahat Yumna tetap mengerjakan tugasnya sebagai seorang istri.

"Sayang, harusnya kamu masih istirahat di kamar," ucap Haikal.

"Keadaanku sudah lebih baik, Mas. Dokter bilang aku sudah boleh beraktivitas tapi tidak boleh yang berat dan membuat kelelahan," ucap Yumna.

"Tapi membuatkan sarapan untukku juga bisa membuatmu lelah, Sayang," ucap Haikal.

"Aku tidak merasa lelah, Mas. Atau jangan-jangan ini hanya alasanmu karena tidak mau memakan apa yang sudah aku buatkan untukmu," ucap Yumna.

"Bukan begitu, Sayang. Kamu tahu aku sangat menyukai apapun yang kamu buatkan," ucap Haikal.

Yumna tak menjawab ucapan sang suami, ia duduk di depan meja makan lalu menyantap sarapannya tanpa berkata apapun. Haikal hanya bisa memperhatikan sang istri dan tak berani untuk memperpanjang pembahasan tersebut.

Tiba-tiba Jasmine dan Billy datang membawa Arini ke rumah mereka.

"Kalian sedang sarapan?" tanya Jasmine.

"Iya, Eoma. Ayo sarapan bersama," ucap Yumna.

"Eoma dan Appa sudah sarapan di rumah tadi. Kalian habiskan dulu sarapan, setelah itu baru kita bicara," ucap Jasmine.

Yumna mengangguk, ia menghentikan aktivitas mengunyahnya. Melihat wajah Arini nafsu makannya seketika hilang. Haikal menatap raut wajah sedih sang istri, ia merasa sangat bersalah atas situasi ini. Ia pun menghentikan aktivitasnya mengunyahnya.

"Biar aku yang membawa ke tempat pencucian piring." Haikal menarik piring yang akan di bawa sang istri. Yumna mengangguk dan membiarkan suaminya mengerjakan hal itu.

Kini mereka duduk bersama di ruang tamu, ada Ronald juga di antara mereka. Yumna menahan sesak di dalam dadanya, membayangkan tinggal satu atap dengan wanita yang pernah melalui malam panas bersama sang suami. Meskipun suaminya terus mengatakan bahwa hanya ia yang di cintai dan tidak ada hubungan apapun dengan Arini, tapi tetap saja sebagai wanita ia merasa cemburu dan curiga.

"Yumna, Eoma harap kamu bersabar dengan situasi ini. Arini tinggal di sini hanya sampai anaknya lahir," ucap Jasmine.

"Iya, Eoma. Aku akan berusaha bersabar dan menerima semua keadaan," ucap Yuma.

"Ronald juga akan tinggal di rumah ini, dia yang akan menemani Arini jika ingin pergi kemana-mana. Dan dia yang akan menemani Arini untuk periksa kandungan setiap bulannya," ucap Billy.

Yumna dan Haikal mengangguk, mereka mengantarkan Arini ke kamar yang akan di tempati Arini. Setelah itu mereka kembali terdiam Haikal tak pernah menyangka akan di tempatkan di situasi seperti ini. Waktu terus bergulir Yumna tak ingin terus bersedih dengan keadaan karena ia memikirkan keadaan bayi dalam kandungannya, ia memilih berbincang dengan asisten rumah tangga yang sedang memasak di dapur. Bercerita tentang hal-hal yang menyenangkan hingga makanan yang di masak asisten rumah tangga selesai di hidangkan di atas meja makan, waktu makan siang pun datang.

"Mas sudah waktunya makan siang, kamu tunggu di meja makan. Aku panggil Arini dulu," ucap Yumna.

"Iya, Sayang. kamu tunggu di meja makan aja sama aku. Arini biar di panggil sama Bi Mirna," ucap Haikal.

"Bi Mirna masih banyak kerjaan, gak apa-apa aku aja yang panggil Arini," ucap Yumna.

Haikal akhirnya mengangguk, Yumna berjalan menuju kamar yang di tempat Arini. Saat hendak mengetuk pintu kamar itu sayup-sayup Yumna mendengar suara Arini seperti sedang berbicara dengan seseorang.

"Aku takut melakukan semua ini, Bang. Apa sebaiknya kita hentikan saja sampai sini?" suara Arini.

Yumna membeku di tempat, menerka-nerka Arini sedang berbicara dengan siapa dan apa yang di maksud dari pembicaraan itu?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perempuan Kedua   Bab 81. Malam Pertama

    "Apa yang sedang mereka lakukan?" tanya Haikal.Haidar mengangkat kedua bahunya, ia pun tak mengerti apa yang orang-orang lakukan di depan mobil mewah milik mereka. perlahan Haikal, Haidar dan istri-istrinya berjalan kearah mobil."Permisi adek-adek tolong jangan berkerumun di depan mobil kami ya!" ucap Yumna dengan suara ramah.Seketika anak kecil yang sedang mengerumuni mobil itu pun memberikan jalan untuk sang empunya.Haikal, Haidar, Yumna dan Salsa pun masuk membawa anak-anak mereka. Namun, setelah masuk mereka masih tidak bisa menjalankan mobilnya karena masih ada anak-anak berdiri di depan mobil."Apa sih mau nya mereka?" gumam Haidar."Kasih uang coba, Mas. Biasanya anak-anak kampung suka gitu, karena lihat mobil mewah yang belum pernah ia lihat jadi penasaran!" ucap Salsa."Aku gak ada uang receh, Sayang!" ucap Haidar.Salsa memb

  • Perempuan Kedua   Bab 80. Pernikahan

    "Arkan ada apa ini?" tanya Arini yang menahan Arkan.Arkan terlihat sangat marah dan ingin memukul ibunya, hal itu membuat para tetangga yang sedang membantu menjadi saling berbisik-bisik karena tahu seperti apa kelakuan Munah yang tak baik."Ibu keterlaluan, aku menemukan banyak botol minuman keras dan aku lihat di handphonenya dia berencana pesta miras di rumah kita dengan teman-teman suami barunya!" ucap Arkan sangat emosi.Meskipun Arkan juga bukan orang yang paham tentang agama, tetapi dia selalu menghindari hal-hal buruk seperti itu sesuai nasehat yang diberikan Mustofa kepadanya. Ketika melihat ibunya sendiri yang melakukan hal buruk seperti itu maka itu membuat Arkan begitu emosi, Arini dan Amel yang mendengar hal itu pun sama terkejut dan emosi seperti Arkan."Ibu sudah tua, bukannya tobat malah seperti ini terus!" ucap Amel kesal."Kalian itu masih ingusan jangan banyak omong apalagi

  • Perempuan Kedua   Bab 79. Pengakuan Arini

    "Munah! Tidak seharusnya kamu berbicara seperti itu di depan jalan suami Arini. Mahar dalam pernikahan memang hukumnya wajib, tetapi jangan sampai memberatkan pihak laki-laki atau pihak yang melamar!" ucap Mustofa."Kak, apa yang aku katakan ini demi kebaikan Arini. Sebagai seorang wanita Dia harus dihargai jangan sampai disepelekan oleh calon suaminya!" ucap Munah tak mau kalah."Menghargai seseorang tidak harus dengan cara memberikan barang mewah dan harta yang seperti ibu inginkan!" ucap Arini kesal.Mustofa merasa tidak enak kepada keluarga Ronald, masih dalam acara lamaran saja Munah sudah memperlihatkan sikap tidak baiknya, malah sengaja membuat perdebatan dan apa yang di utarakan membuat dia terlihat sangat matre.Dalam acara lamaran tersebut hadir juga seorang ustad dan Pak RT, jadi ustad itu mencoba melerai perdebatan antara Munah dan Arini."Ibu Munah, mohon maaf jika saya lancang. Ap

  • Perempuan Kedua   Bab 78. Anak Haram

    "Apa syaratnya, Bu?" tanya Arini kepada Ratih melalui sambungan telepon."Syaratnya, kalau kamu balik lagi ke Jakarta bawa satu orang lagi untuk bekerja di tempat saya," jawab Ratih.Mendengar ucapan bosnya tentu saja membuat Arini sangat senang, sebab kedua adiknya ingin ikut ke Jakarta dan mencari pekerjaan di sana. Hal itu tentu saja sangat pas dengan situasi yang diinginkan oleh bosnya, tinggal mencari satu pekerjaan lagi untuk adiknya yang lain."Kebetulan adik saya mau ikut ke Jakarta setelah saya menikah nanti, Bu!" ucap Arini."Nah itu bagus, tapi adik kamu rajin dan jujur seperti kamu kan! Karena kamu tahu sendiri kerja di saya itu harus rajin dan jujur!" ucap Ratih."Iya, In shaa Allah adik-adik saya rajin dan jujur."Setelah mengobrol banyak dengan Ratih di sambungan telepon akhirnya panggilan itu pun diakhiri, Amel datang dan membawa beberapa contoh undangan untuk

  • Perempuan Kedua   Bab 77. Lamaran

    Arini menyetujui saat Ronald ingin melamarnya bulan depan ke keluarganya secara resmi, akhirnya Ronald pun membicarakan itu kepada Haikal dan Yumna. Mereka pun sangat senang mendengar berita itu dan mempersiapkan semuanya karena sudah menganggap Ronald seperti keluarganya sendiri. Seminggu sebelum lamaran, Arini izin pada bosnya untuk pulang kampung dan mengatakan perihal lamaran yang akan Ronald lakukan padanya. "Bu, Minggu akan ada tamu datang kesini," ucap Arini bicara pada ibunya. Kini Arini berada di kampung halamannya dan sedang berbicara dengan ibu dan ayah tirinya karena ternyata ibunya sudah menikah lagi. "Tamu apa maksud kamu?" tanya Munah. "Ada laki-laki yang akan melamar Arini dan membawa keluarganya ke sini," ucap Arini. "Oh bilang dong kalau ada yang mau melamar kamu, orang kaya apa nggak laki-laki yang mau melamar kamu?"

  • Perempuan Kedua   Bab 76. Dipecat

    "Janji kalau kamu akan pecat sekertaris genit kamu itu!" ucap Yumna.Tanpa berkata apa-apa Haikal langsung menyerang Yumna, H4sr4t nya yang menggebu segera meminta di tuntaskan dan Yumna tak punya banyak tenang untuk menghalau suaminya.Mereka merasakan pelepasan dengan nafas tersengal-sengal dan Haikal mencium kening Yumna berkali-kali."Mas, kamu belum janji tadi, Lho!" ucap Yumna."Tanpa kamu minta aku memang ingin memecatnya setelah masuk, tapi karena hari ini aku ingin menghabiskan hari dengan kamu jadi aku tunda besok masuk kerjanya dan pecat Lidya nya!" "Aku gak mau ada perempuan gatal di sekitar kamu, kalau bisa cari sekertaris atau asisten laki-laki saja seperti Haidar asisten dia Kevin!" ucap Yumna melingkarkan tangannya di perut sang suami."Ya nanti aku akan seleksi dan cari sekertaris laki-laki, biar kamu tenang di rumah saat aku kerja di perusahaan!"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status