共有

Bab 4

作者: C
Pesona dewasa Calvin membuatku merasa jauh lebih tenang, hatiku pun tidak lagi terasa sesak.

Aku sedang memilih ruang privat di restoran, berencana untuk bicara empat mata dengan Calvin.

Tiba-tiba ponselku dibombardir pesan dari teman-teman kami.

[Kak, sampai ketemu nanti malam ya. Jangan sedih lagi, nanti Kak Calvin ikut sedih lho.]

[Kak, malam ini kita seru-seruan aja, lupain semua masalahmu.]

[Kak, kamu itu orang hebat, perusahaan rugi banget mecat kamu. Jangan sedih, kamu bakal sukses di mana pun.]

....

Pesan penyemangat itu membuat rasa sedihku hampir hilang sepenuhnya.

Aku membawa barang-barangku lalu pulang ke kontrakan naik taksi.

Aku pun langsung tidur.

Sore harinya, Chika pulang saat aku hendak berangkat.

Aku memegang tangannya dan bersandar di bahunya. "Hari ini aku dipecat dari kantor."

"Hah?" Chika terkejut. "Kamu lagi sial banget ya akhir-akhir ini? Gimana kalau besok aku temenin kamu ke tempat ibadah?"

Aku menghela napas lalu bermanja padanya. "Tapi untunglah, kamu masih ada di sampingku."

"Aku mau traktir makan, banyak teman yang datang juga biar sekalian nambah relasi, kamu mau ikut nggak?"

Aku pun mengajak Chika pergi.

Chika langsung mengiyakan, "Tentu aja, kalau kamu yang ajak, aku pasti ikut."

Dia memang selalu bisa membuat perasaanku jadi lebih baik.

Aku dan Chika berangkat ke restoran naik taksi.

Di dalam ruang privat, kami menunggu teman-teman yang lain datang.

Aku juga menunggu kedatangan Calvin.

Sampai jam setengah tujuh malam, akhirnya pintu ruangan itu diketuk.

Aku pun membukakan pintu.

Sebuket besar bunga muncul di hadapanku, bunga camelia kesukaanku. Meski sinusku parah dan aku tidak bisa mencium bau apa pun setelah operasi, aku tetap sangat senang.

Calvin berdiri di belakang kerumunan sambil tersenyum menatapku. "Aku sayang kamu, Camilla."

Aku berlari menembus kerumunan ke arah Calvin dan langsung menghambur ke pelukannya.

"Aku juga sayang kamu."

Namun, Calvin sama sekali tidak membalas pelukanku.

Dia justru mendorongku dengan sangat kasar.

Kalau saja teman-temanku tidak menahan, aku pasti sudah jatuh tersungkur ke lantai.

Aku menatapnya dengan rasa tidak percaya.

Rasa takut mulai menyelimuti hatiku, aku takut dicampakkan untuk ketiga kalinya.

Rasanya aku ingin menutup telinga saja, tapi suara Calvin yang dingin sudah terdengar lebih dulu.

"Nggak nyangka ya, ternyata kamu orangnya kayak gini!"

Urat-urat di lehernya menonjol, wajahnya penuh amarah. Ini adalah sisi dirinya yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Aku gemetar ketakutan.

Seluruh emosiku meledak saat itu juga.

Dengan histeris, aku bertanya balik seperti orang gila, "Emangnya aku gimana! Aku ini orangnya kayak gimana, kenapa sih kalian semua ngomong kayak gitu!"

"Hmph!" Calvin mendengus dingin lalu menunjuk ke arah pintu. "Pergi kamu! Aku nggak mau lihat muka kamu lagi, kita putus."

Dia melemparkan buket bunga besar itu ke tubuhku. Chika maju merangkul bahuku. "Bisa bicara baik-baik nggak? Nggak usah main fisik dong."

Calvin menatap jijik sambil berkacak pinggang. "Nggak ada yang perlu diomongin sama jalang kayak dia. Camilla, sekarang juga menghilang dari pandanganku, atau aku panggil satpam buat seret kamu!"

Kata jalang itu benar-benar mematikan perasaanku seketika.

"Nggak perlu panggil satpam, aku pergi sendiri."

Dengan sisa tenaga yang ada, aku pergi meninggalkan tempat itu seperti mayat hidup.

Saat sampai di pinggir jalan, tiba-tiba ada seseorang yang tertabrak hingga terpental, kondisinya sangat mengerikan dan penuh darah.

Aku melihat kejadian di depan mataku itu.

Tiba-tiba, aku menyadari alasan di balik semua kejadian aneh ini.

Kenapa aku terus-menerus disebut sebagai jalang.

Kenapa semua orang meninggalkanku.

Semuanya sudah jelas!

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Pergi Setelah Dimaki Jalang   Bab 8

    Dokter segera masuk ke halaman, lalu menyuntikkan obat dariku ke tubuh Chika sesuai instruksi.Chika meronta gila-gilaan. "Mau apa kamu! Berani sentuh aku, lihat saja! Aku nggak bakal lepasin kamu habis keluar nanti!"Dokter tidak terpengaruh ancaman itu.Dia terus menyuntik."Aaah! Jangan sentuh aku!"Tidak peduli seberapa keras Chika melawan, akhirnya seluruh cairan itu masuk ke tubuhnya tanpa sisa.Chika terus mengendus tubuhnya sendiri. "Kamu suntik obat apa? Kenapa badanku jadi bau bunga pir begini?""Iya, itu bau bunga pir. Bukannya kamu kasih parfum bau ini ke aku? Aku pikir kamu suka, jadi aku balikin berkali-kali lipat. Bau ini bakal masuk ke tulangmu dan nggak akan hilang selamanya.""Camilla! Dasar jalang! Tega-teganya kamu begini sama aku!"Tatapanku yang tajam menghujam Chika, seketika dia terdiam ketakutan."Aku perlu ingetin ya, mulai sekarang, kamulah yang jadi jalang itu."Selesai bicara, aku berbalik dan pergi.Terdengar suara dari arah pintu. "Chika, kamu udah boleh

  • Pergi Setelah Dimaki Jalang   Bab 7

    Ruang privat di sini tidak ada kamera pengawas, jadi tidak ada bukti yang bisa menunjukkan kalau aku sudah menampar Chika.Orang-orang di sini adalah temanku. Sekarang mereka semua menatapku dengan penuh rasa bersalah karena sudah salah paham."Nggak akan ada orang yang mau jadi saksimu."Chika melihat sekeliling, lalu bertanya untuk memastikan, "Kalian beneran nggak mau bantu aku?"Jawabannya sudah sangat jelas.Aku pun berbalik pergi untuk mengemas barang-barangku, aku tidak mau lagi tinggal serumah dengan Chika.Calvin mengejarku.Dia memegang tanganku sambil minta maaf, "Maafin aku, harusnya aku nggak percaya omongan orang lain. Tapi ini semua karena kamu terlalu cantik, aku jadi nggak punya rasa aman. Ayo kita nikah aja, Camilla, ya?"Rasa sakit akibat hantaman bunga di tubuhku tadi belum juga hilang.Aku menepis tangan Calvin. "Calvin, kamu itu nggak cinta sama aku. Sesuai kemauan kamu, kita putus."Calvin terus mengikutiku dengan wajah memelas. "Aku cinta kamu." Dia mengulurkan

  • Pergi Setelah Dimaki Jalang   Bab 6

    "Kemarin, kamu kirim pesan ke Yasmin, bilang kalau aku udah nidurin pria, pria yang penting banget buat dia.""Hari ini kamu kirim pesan ke Direktur Utama kantor aku, bilang kalau aku tidur sama pria yang juga penting banget buat beliau.""Satu jam lalu, kamu kirim pesan ke Calvin, bilang kalau aku selingkuh.""Chika, kenapa kamu tega banget lakuin ini ke aku?!"Yasmin mengira aku ada main dengan suaminya, makanya dia memutuskan hubungan denganku.Bu Janice mengira aku menjalin hubungan dengan Pak Jacky, makanya aku dipecat.Aku menatap Calvin. "Kenapa kamu nggak tanya apa-apa dan langsung percaya omongan busuk Chika?"Pupil mata Calvin membesar.Dia menatapku. "Awalnya aku nggak percaya, aku pikir ada orang yang mau ngadu domba kita. Tapi pas aku dekat denganmu, memang ada bau laki-laki! Kamu bikin aku mual!"Calvin pun menarik napas dalam.Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat."Awalnya aku nggak mau terus terang, aku mau jaga martabat kita berdua. Tapi kamu? Kamu udah tahu badanmu bau

  • Pergi Setelah Dimaki Jalang   Bab 5

    Aku mengepalkan tangan sekuat tenaga dan berlari kembali ke ruang privat seperti orang gila, aku harus menuntut keadilan.Di dalam ruangan, Chika sedang duduk di samping pacarku, pura-pura membelaku, "Kamu sama Camilla udah pacaran bertahun-tahun, bahkan udah mau nikah, nggak bisa dong diputusin gitu aja."Kedatanganku langsung menarik perhatian semua orang yang ada di sana.Chika berhenti bicara dan menatapku dengan wajah khawatir. "Kamu nggak apa-apa? Wajahmu pucat banget, ayo kita pulang bareng."Melihat kepura-puraan Chika yang seolah peduli padaku ....Aku langsung melayangkan tamparan keras tepat ke wajahnya.Plak!Suara tamparan itu terdengar sangat nyaring dan tajam.Semua orang yang ada di sana langsung tertegun.Calvin langsung berdiri dan membentakku, "Habis kamu pergi, Chika terus bujuk aku biar baikan sama kamu! Dia setulus itu sama kamu, tapi begini cara kamu balas dia? Camilla, kenapa kamu jadi jahat begini?"Chika memegangi pipinya sambil berkaca-kaca. "Nggak apa-apa, C

  • Pergi Setelah Dimaki Jalang   Bab 4

    Pesona dewasa Calvin membuatku merasa jauh lebih tenang, hatiku pun tidak lagi terasa sesak.Aku sedang memilih ruang privat di restoran, berencana untuk bicara empat mata dengan Calvin.Tiba-tiba ponselku dibombardir pesan dari teman-teman kami.[Kak, sampai ketemu nanti malam ya. Jangan sedih lagi, nanti Kak Calvin ikut sedih lho.][Kak, malam ini kita seru-seruan aja, lupain semua masalahmu.][Kak, kamu itu orang hebat, perusahaan rugi banget mecat kamu. Jangan sedih, kamu bakal sukses di mana pun.]....Pesan penyemangat itu membuat rasa sedihku hampir hilang sepenuhnya.Aku membawa barang-barangku lalu pulang ke kontrakan naik taksi.Aku pun langsung tidur.Sore harinya, Chika pulang saat aku hendak berangkat.Aku memegang tangannya dan bersandar di bahunya. "Hari ini aku dipecat dari kantor.""Hah?" Chika terkejut. "Kamu lagi sial banget ya akhir-akhir ini? Gimana kalau besok aku temenin kamu ke tempat ibadah?"Aku menghela napas lalu bermanja padanya. "Tapi untunglah, kamu masih

  • Pergi Setelah Dimaki Jalang   Bab 3

    Dia pun menunjukku dengan ekspresi penuh amarah."Kamu, keluar dari kantor, saya pecat kamu!"Aku terpaku.Kejadian ini mirip sekali dengan yang kemarin sampai aku tidak tahu harus merespons apa, lalu bertanya, "Kenapa? Apa ada masalah dengan proyeknya?"Bu Janice menggeleng. "Proyek berjalan sangat lancar.""Apa karena aku ambil cuti?""Cuti itu disetujui Pak Jacky, sudah sesuai prosedur.""Lalu kenapa saya dipecat? Saya nggak salah, Bu.""Camilla, saya ini pimpinan, kalau saya bilang pecat ya pecat. Urus pesangon kamu ke HRD, dalam lima menit pergi dari kantor saya!"Bu Janice duduk di kursi sambil terengah-engah karena marah.Biasanya dia wanita yang sangat ramah, dia menganggap semua karyawan seperti anaknya sendiri.Meski ada yang salah pun, kalau bukan masalah besar pasti diberi kesempatan, apalagi aku sama sekali tidak bersalah.Ditambah lagi, prestasiku selalu jadi nomor satu di kantor.Dia bahkan berencana mengirimku ke luar negeri untuk urusan bisnis dan pelatihan.Dia janji

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status