LOGINMerza menatap kagum bangunan berlantai dua dihadapannya. Dia menolehkan kepala ke samping, di sana terdapat banyak tanaman hias beserta kolam ikan mini di sisi kanannya.
Dia tengah berada di depan rumah Regan, hasil pemaksaannya karena tadi cowok itu sempat menolak untuk membawanya ke sini.
"Di rumah gue nggak ada siapa-siapa," suara Regan barusan membuat Merza yang tengah asyik meneliti suasana disekitarnya menjadi mengalihkan pandangan.
"Oh ya? Nyokap bokap lo mana?" balasnya. Jika dilihat-lihat, sangat disayangkan bila rumah sebesar ini hanya dihuni oleh satu orang.
"Pergi. Udah, nggak usah banyak tanya. Masuk sana," ujar Regan sembari turun dari motornya dan mendahului Merza untuk masuk ke dalam rumah.
Gadis itu mengikuti langkah Regan dengan tangan yang menggaruk kepalanya bingung, dia terlalu kepo pada keluarga Regan. Apalagi saat mengetahui jika cowok itu tinggal sendiri. Dan juga, ke mana kedua orangtuanya pergi?
"Wahh lo beneran tinggal sendiri, Gan? Berani banget," ucap Merza takjub saat masuk kedalam rumah cowok itu.
Regan duduk di sofa setelah melepas jaket kulit cokelat yang dia kenakan, menyisakan kaus hitam polos.
"Buat apa gue takut? Duduk sini," kata Regan sembari menepuk sofa di sampingnya, memberi isyarat pada Merza agar duduk.
Cewek itu duduk di samping Regan dan menoleh ke arah cowok yang kini menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa lalu memejamkan mata. Merza menatap lekat wajah Regan, ia tersenyum tipis dan menggumam didalam hati.
"Gue harap, gue nggak salah udah jatuh cinta sama lo, Gan."
Ya, Merza sangat berharap jika untuk kali ini dia tidak akan dikecewakan oleh perasaan. Dia ingin Regan membalas perasaannya, namun jika itu membutuhkan waktu, dia juga tak ingin memaksa. Karena dia yakin, perasaan cinta itu tumbuh jika mereka selalu bersama. Dan Merza yakin akan hal itu.
Namun yang menjadi pertanyaan, apakah suatu saat nanti Regan akan menyukainya? Atau perasaan yang dia miliki kini hanya dia saja yang merasakan?
Merza cepat mengalihkan pandangan saat Regan membuka mata. Cowok itu menatap ke arahnya, "Lo mau bilang apa?"
Terlihat jelas wajah gugup Merza kerena ketahuan menatap Regan, dia mengusap lengannya seraya tertawa hambar. "Gue nggak mau bilang apa-apa."
"Trus ngapain ngeliatin gue?"
"Ah? Masa? Kapan? Gue ngeliatin vas bunga dibelakang lo, bukan lo nya. Geer banget," Merza mencibir, walaupun kelihatan sekali jika dia berbohong. Tapi karena Regan tak ingin memperpanjang, dia pun bangkit dari duduknya.
"Lo mau ke mana?"
"Kamar, mau ikut?"
"Mau!" balas Merza cepat bahkan saking semangatnya dia sudah berdiri sekarang.
Regan berdecak pelan, dia menggelengkan kepala karena dia pikir Merza akan mengatakan yang sebaliknya.
"Duduk diem di sini. Jangan kemana-mana." kata Regan lalu ingin melangkahkan kaki, namun terhenti karena dia teringat sesuatu.
"Dan juga, jangan bilang mau kalo ada cowok yang bilang begitu. Karena nggak semua cowok yang lo kenal itu baik," lanjutnya lalu berlalu pergi menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.
Merza mengikuti pergerakkan Regan hingga cowok itu menghilang dari pandangannya. Dia tidak mengerti dengan ucapan Regan tadi. Jika katanya semua cowok yang Merza kenal itu jahat, apakah dia termasuk?
Merza menggelengkan kepala menepis pemikirannya itu. Dia yakin jika Regan orang baik. Karena kalau tidak, bagaimana bisa Merza menyukainya? Iya, itu benar. Walaupun sikapnya cuek, tapi lagi dan lagi Merza berharap, jika tak akan ada kekecewaan diakhir kisah mereka.
Karena tidak tahu harus melakukan apa, Merza pun memilih untuk meninggalkan ruang tamu dan melihat-lihat setiap sudut ruangan di dalam rumah besar ini. Dia ingin mencari foto keluarga Regan, atau foto siapa saja yang ada di sini, namun dia tidak menemukan itu.
Langkahnya mendadak terhenti saat berdiri di depan sebuah lemari yang berisi buku-buku yang tidak Merza tahu apa itu. Yang membuatnya berhenti bukan karena bukunya, melainkan karena celah di balik lemari itu sendiri. Seperti... ruang rahasia?
Merza dengan ragu mendorong lemari berukuran sedang itu, dan terlihatlah sebuah lorong yang di depan sana terdapat satu pintu berwarna putih gading. Karena sudah terlalu penasaran, Merza mencoba melangkah mendekat. Dan saat tiba di depan pintu itu, dia pun membukanya.
Tidak ada yang istimewa, hanya ada satu meja dan...sebuah lukisan? Tapi anehnya mengapa lukisan itu ditutup oleh kain hitam?
Merza kembali melirik sekitar, ruangan ini bukan seperti ruang rahasia di film-film yang pernah dia tonton. Ini terlalu terang, bahkan terlihat biasa saja. Namun mengapa harus dirahasiakan? Dan mengapa lukisan besar itu harus ditutupi?
Sangat banyak pertanyaan yang bersarang dipikirannya, dan tak ada satupun jawaban yang dapat menjawab itu. Mungkin Merza harus menunggu waktu yang tepat untuk menanyakannya langsung pada Regan, dan semoga saja cowok itu mau memberitahunya.
Saat mengingat jika Regan bisa saja mengetahui keberadaannya, dia pun segera pergi dari sana dan kembali ke ruang tamu. Tepat satu menit saat dia kembali, Regan turun dan berjalan ke arahnya.
"Laper?" tanyanya.
Merza mengangguk kaku, dia bingung mau bereaksi seperti apa saat melihat ruang rahasia dan lukisan itu.
"Di rumah gue nggak ada bahan makanan. Kita makan di luar aja."
Merza lagi-lagi hanya mengangguk dan tersenyum. Ingin sekali dia bertanya tentang apa yang dia lihat tadi, namun dia takut jika reaksi Regan tak mengenakkan.
Saat cowok itu mulai melangkah mendahuluinya, Merza memberanikan diri menahan pergelangan tangan Regan, membuat cowok itu melihat kearahnya.
"Regan, gue mau nanya sesuatu sama lo. Tapi bakal lo jawab, kan?"
"Tergantung."
Merza menghela napas pelan, ucapan Regan tadi dan hal apa yang dia lihat itu membuat perasaanya berkecamuk.
"Gue tau, gue memang bukan siapa-siapa. Gue nggak berhak buat ikut campur tentang kehidupan lo. Tapi apa lo bisa, ngasih tau gue sesuatu apa yang lo sembunyiin?"
Mendengar itu Regan menautkan kedua alisnya. Dia memutar tubuh berhadapan dengan Merza yang hanya sebatas dagunya.
"Lo tau dari mana kalo ada sesuatu yang gue sembunyiin?"
Merza mengedipkan matanya berulang kali. Dia mengulum bibir bawahnya, bingung harus menjawab apa. "I-tu, gue..gue cuma nebak doang."
Regan menarik sudut bibirnya, tatapan matanya berubah menjadi tajam, "Nggak usah nyari tau apapun, Kalau lo nggak mau denger hal yang nggak mengenakkan tentang gue."
****
"Hai, Nak, baru pulang, ya? Kamu dari mana aja?" tanya Seina pertama kali saat Merza masuk ke dalam rumah.
Cewek itu menatap Mamanya heran, dia pikir Mamanya itu tidur di butik. Karena jika malam seperti ini, sangat jarang dia berada di rumah, apalagi menyapa Merza seperti tadi.
"Habis ketemu temen," jawabnya singkat lalu ingin pergi menuju kamar.
"Hmm Merza udah makan malam?"
"Udah."
Seina tersenyum kecut. Anaknya semakin dingin padanya. Ya, Seina tahu, ini semua salahnya. Ini salahnya karena mengabaikan Merza dan lebih mementingkan pekerjaan.
"Ikut Mama ke ruang kerja Papa ya? Papa udah nunggu di sana," ajak Seina, memperlihatkan senyum hangatnya.
Merza mendengus kecil, walaupun rasa sakit hatinya masih terasa jelas, namun dia juga tidak mungkin bersikap seperti ini terus.
"Hm, Merza ke kamar dulu," ucapnya, setelah itu berlalu dari sana.
Selang beberapa menit gadis berkaus pink longgar dengan celana kain diatas lutut itu turun menuruni anak tangga menuju ruang kerja Papanya. Di sana sudah terlihat Papa dan Mamanya yang duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.
"Mau ngomongin apa?" Merza bertanya langsung sembari duduk di samping Seina. Dia bertanya seperti itu karena jarang sekali dia diminta untuk datang ke ruang kerja Papanya, kecuali jika ingin membicarakan hal yang serius.
"Merza." panggil Rion, dan Merza langsung menoleh.
"Masih marah sama Papa?"
Gadis itu melihat Papanya. Dia tidak marah, hanya saja dia kecewa mengapa dia baru mengetahui itu, dan mengapa tidak sejak dulu mereka memberitahunya.
"Nggak kok, Merza nggak marah sama Papa," ucapannya itu membuat Mama dan Papanya tersenyum lega.
"Beneran nggak marah lagi sama Papa? Kalo nggak marah kok mukanya datar gitu?"
Merza lantas mengangkat wajahnya, lalu tersenyum lebar walau dengan terpaksa. "Ini Merza udah senyum," sebaiknya memang benar, dia harus bisa berdamai dengan masa lalu. Walaupun Pria yang dia lihat kini bukan Papa kandungnya, namun di dalam hatinya yang paling dalam, Merza amat menyanyanginya.
Pria yang selalu mengantar jemputnya ke sekolah, membawanya ke tempat manapun yang dia minta dan menemaninya jika dia tak ingin sendirian. Bagaimana mungkin Merza bisa marah dan membencinya?
"Papa minta maaf ya, karena udah bohong sama Merza," ucap Rion. Pria paruh baya itu menatap Merza lekat, terlihat ketulusan dari kedua bola matanya.
Merza mengangguk, "Merza udah maafin Papa, kok. Tapi harus janji ya, besok-besok jangan bohongi Merza lagi. Mama juga gitu, Merza nggak mau dibohongi lagi," kata Merza dan membuat kedua orangtuanya diam. Rion dan Seina terlihat saling melempar tatapan.
"Iya, Mama janji nggak bakal bohongi Merza lagi," Seina membalas, namun terlihat keraguan dari kedua netranya, dan Merza tidak menyadari itu.
"Yaudah, nggak ada yang mau dibicarain lagi, kan? Kalau gitu Merza balik ke kamar dulu, mau tidur, soalnya besok ada kelas pagi," pamit gadis itu seraya mengecup singkat pipi Mama dan Papanya. Lalu setelah itu keluar dari sana.
Rion menghela napas panjang selepas kepergian Merza. "Mama lihat, kan? Gimana mungkin Papa bisa bohong lagi sama dia?"
"Pa, Mama nggak bisa ngeliat respon dia kalau Mama harus jujur sama masalah ini."
Rion mengusap kasar wajahnya. Dia tidak suka dibohongi dan dia pula tidak suka jika harus berbohong. Apalagi ini masalah yang serius.
"Mau sampai kapan, Ma? Coba Mama pikir kalau Merza tahu Papa ini adalah Papa tiri dia suatu hari nanti, Papa yakin, dia pasti nggak bakal mau maafin kita. Dan sekarang apa masalah itu mau Mama tutupi lagi? Sampai kapan?"
Seina memejamkan matanya sejenak. Dia tahu jika ini salah. Namun dia tidak cukup siap untuk mengatakannya. Dia tidak ingin melihat anaknya itu terpukul lagi.
"Melva itu Kakak kandung Merza. Dia berhak tahu tentang apa yang terjadi sama Kakaknya," Rion mengeluarkan argumennya lagi. Karena kalau seperti ini terus, masalahnya akan semakin panjang jika Merza tahu dari orang lain.
"Merza harus tahu kalau Melva meninggal bukan karena kecelakaan."
Gadis yang mengenakanbathrobeberwarna putih itu keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju meja riasnya untuk mengambil ponsel. Dia hendak mengirim pesan pada Ghea, memberitahu pada gadis itu agar menunggunya di lobby hotel.Setelah meletakkan benda pipih itu kembali ke tempat semua, tanpa sengaja pandangan Merza jatuh pada satu figura kecil yang terjatuh. Dia lantas menegakkan bingkai foto itu, dan terdiam menatapnya.Terlihat di sana seorang gadis yang tengah tersenyum manis ke arah kamera, sedangkan lelaki di sebelahnya hanya menatap gadis itu datar. Tanpa sadar sudut bibir Merza tertarik ke atas, dia ingat foto ini diambil ketika mereka berada di Moon Coffee. Ah, mengingatnya membuat Merza merasa sedih.Tapi tidak, kini dia tidak akan bersedih l
Duabulan kemudian..."Ma! Merza berangkat kuliah dulu, ya!" seru gadis yang rambutnya diikat satu itu, dia menuruni anak tangga seraya memasang jam tangan putihnya.Seina yang sedang memasak di dapur pun lantas berlari kecil menghampiri Merza, "Nih, nanti jangan lupa dimakan, ya," ucapnya sambil memasukkan satu kotak bekal berukuran mini ke dalam tas Merza."Itu apaan?""Makanan kesukaan kamu," balasnya tersenyum. Kini Seina tidak bekerja lagi di Butiknya, dia hanya datang sesekali jika ada kepentingan. Dan memilih untuk tinggal di rumah. Dia sudah tahu apa yang dialami anaknya dua bulan yang lalu, dan kini Seina ingin menjadi Ibu yang baik untuknya, agar Merza tidak lagi merasa kesepian.
"Sebelum lo ngelakuin itu, lo duluan yang gue bunuh."Lyora menurunkan tangannya yang terdapat pistol. Dia menggeram kesal dan langsung berbalik hendak menembak kepala orang itu.Namun gerakkan tangan Grace tak secepat dugaan Lyora, dia berhasil menangkis serangan hingga pistol Lyora terlempar."SIALANN! SIAPA LO, HAH?!" teriak Lyora dengan mencekik leher Grace, dan langsung dibalas dengan tendangan diperut Lyora saat itu juga hingga gadis itu terduduk."Gue?" Grace membungkuk menatap Lyora sembari menunjuk wajahnya sendiri, "Orang yang bakal bawa lo ke neraka."Lyora mengeram kesal, dia menoleh ke samping melirik pistolnya yang terjatuh, lalu kemudian bangkit
Satu jam yang lalu..Setelah mendapat telepon dari Darga, Regan pun langsung menelepon Merza, namun sudah berpuluh-puluh kali memanggil, gadis itu tak menjawab panggilannya. Regan bahkan sudah mendatangi rumah gadis itu, namun tidak ada siapa-siapa di sana.Karena dia tak kunjung ada kabar, Regan akhirnya meminta bantuan pada Davin untuk melacak sinyal ponsel gadis itu. Dengan begitu dia bisa mengetahui keberadaan Merza.Kini Regan tengah berada di rumah sakit, menjenguk Ghea sekaligus menemui Darga, karena ada hal penting yang ingin dia sampaikan."Apa?!" kaget lelaki yang duduk tepat di depan Regan. Dia terlihat tak percaya saat mengetahui siapa dalang dari kasus pembunuhan Melva.
Langkah kecil itu menyusuri lorong rumah sakit dengan wajah sendu. Merza tidak tahu apa yang akan dia lakukan setelah ini, hidupnya terasa benar-benar kosong. Perasaan sedih, marah, dan menyesal itu berkumpul menjadi satu.Kakinya berhenti tepat di pintu ruang rawat Ghea, dia berulang kali menarik napas dalam, sebelum akhirnya melangkah masuk. Melihat jika gadis itu masih memejamkan matanya, membuat Merza ingin membalas perbuatan manusia sialan yang membuat keadaan Ghea seperti ini.Perlahan dia berjalan mendekat, lalu menarik satu kursi dan duduk tepat di samping tubuh Ghea."Lo kapan sadar? Kenapa lama banget? Gue pengin cerita banyak hal sama lo," ucap Merza, pandangannya mulai mengabur. Dia selalu menceritakan hal apapun pada Ghea, karena hanya gadis ini yang tidak p
Merza berlari keluar dari taksi dan melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan wajah sembab. Air matanya terus mengalir, tak kuasa membendung sesak pada dadanya setelah mengetahui semua itu."Merza, udah ma--," ucapan Seina terhenti saat melihat Merza menangis, gadis itu berhenti melangkah dan menoleh ke arahnya."Mama udah tau, kan?" Seina meletakkan majalahnya di atas meja, lalu kemudian berdiri dan berjalan mendekat ke arah Merza."Maksudnya?"Merza tertawa sumbang, dia menghapus kasar jejak air matanya, "Kak Melva meninggal bukan karena kecelakaan. Tapi dibunuh. Mama udah tau, kan?" tanya Merza, menatap Mamanya sendu. Dia bahkan berharap jika Mamanya tidak tahu apa-apa, namun sayangnya ekspresi wajah yang terlihat







