Share

Bab 5

Author: Stary Dream
last update publish date: 2026-01-13 07:04:57

Aldi menggeleng kesal setelah mematikan panggilan dari istrinya.

"Ada-ada saja.. apa dia pikir aku mau saja dibodohinya lagi?" Ah, Aldi sudah bisa menebak drama apa yang sedang dibuat oleh Selina.

Menepis perasaannya pada Selina, Aldi kembali masuk ke ruang igd dan menemui Mayang. Rupanya wanita itu baru saja selesai melakukan visum.

"Mari aku antar ke kantor polisi."

"Kantor polisi? Untuk apa, mas?"

"Melaporkan kejahatan suamimu."

"Apa?" Mayang terkejut bukan main karena keberanian pria ini. "Nggak perlu, mas."

"Nah.. kenapa, Mayang? Kita kan baru saja melakukan visum. Ini bisa menjadi bukti kekerasan dari suamimu."

"Jangan, mas. Aku..." Mayang jadi tergagap. "Masih takut."

"Ada aku disini, kenapa kamu mesti takut?" Aldi memberikan senyum simpatiknya. "Aku akan menemanimu."

"Kumohon, mas. Biarkan saja.." pinta Mayang memelas.

"Jadi maksudmu nggak mau melaporkan suamimu? Ya Tuhan, May! Suamimu itu sudah melakukan kdrt!"

"Nanti saja. Biarkan visum hari ini untuk berjaga-jaga.."

Aldi menatap kedua mata yang tersorot ketakutan itu. Dibalik pancaran itu seperti ada sebuah rahasia yang sepertinya disembunyikan oleh Mayang.

"Kamu yakin?" Tanya Aldi sekali lagi.

Mayang mengangguk. "Iya, mas. Aku boleh minta tolong diantarkan pulang?"

"Baiklah kalau itu sudah jadi keputusanmu. Aku akan mengantarmu pulang."

Jika Mayang sendiri masih belum mau melaporkan kekerasan suaminya maka Aldi tak bisa memaksa. Sebenarnya Aldi juga tak mau ikut campur urusan rumah tangga orang lain.

Tapi ketika melihat wajah pilu dari Mayang, seketika terbit perasaan di relung hati Aldi yang terdalam.

Seperti ada rasa ingin menjaga serta melindungi..

Keduanya lalu memutuskan untuk pulang dari rumah sakit. Sesampainya di rumah Mayang, ternyata mobil milik suami wanita ini masih tak terlihat.

"Setidaknya kamu aman karena malam ini suamimu tak ada."

Mayang berdeham tak enak. "Iya. Suamiku memang bekerja diluar kota, mas. Kebetulan ada proyek yang harus diselesaikan."

"Dan sebelum pergi dia memberimu hadiah pukulan untukmu, ckckck.." Aldi sampai tak habis pikir. "Kenapa bisa ada suami yang melakukan kekerasan pada istrinya sendiri?"

Mendengar itu, Mayang tersenyum pahit. "Kalau begitu aku masuk ke rumah dulu, mas. Terima kasih sudah menemaniku."

"Sama-sama. Jika terjadi sesuatu padamu, kamu bisa menghubungiku."

Keduanya saling melempar senyum dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada jarak tak kasat mata bernama status yang seakan menjadi penghalang untuk keduanya berdekatan.

Dan harusnya, Aldi dan Mayang mematuhi itu.

35 menit kemudian, Aldi sampai ke rumah. Oleh karena sibuk menemani Mayang ke rumah sakit, dia baru tiba ketika isya menjelang.

Namun pria ini keheranan karena melihat rumah yang tampak sepi. Apalagi lampu teras belum dihidupkan.

"Apa dia tidur seharian?" Aldi berdecak kesal. Entah kenapa emosinya selalu naik jika berhadapan dengan istrinya.

Aldi mengetuk pintu dengan kasar dan memanggil nama istrinya berulang kali, tapi sayang tak ada jawaban sama sekali dari dalam sana.

"Aku buka sendiri saja!"

Aldi menautkan kunci cadangan ke dalam handle. Ceklek! Akhirnya pintu itu terbuka juga.

Lagi-lagi Aldi merengkut, seluruh lampu rumah tampak dimatikan. Yang tersisa hanya lampu dapur yang menyala lemah.

"Selina!" Panggil Aldi. "Selin!"

Hening. Tak ada jawaban. Dahi Aldi makin mengernyit ketika melihat kamar mereka kosong.

"Kemana perempuan itu? Ah, sudahlah. Aku mandi dulu!"

Aldi membersihkan diri terlebih dahulu. Oh, tubuh ini sudah lengket karena diajak bekerja seharian.

Setelah mandi, Aldi baru merasakan lapar. Lagi-lagi dia terkejut karena tak menemukan makanan di atas meja.

"Apa sih kerjaan perempuan itu? Astaga!" Aldi mengelus dadanya karena kesal.

Lama-lama Selina ini jadi tak berguna. Padahal dia dulu rajin melayani Aldi, tapi semenjak kehamilan ini Selina jadi pemalas.

Jarang memasak dan membersihkan rumah. Berbagai macam alasan dia berikan hingga membuat Aldi meradang.

Dia juga masih ingat betapa mengesalkannya Selina saat merengek ingin dibuatkan mie goreng waktu itu. Sampai Aldi kesal dan melemparkan mie tersebut hingga berhamburan di atas perut membukit itu.

Dengan malas, Aldi mengambil mie instan dan memasaknya. Daripada tak makan sama sekali lebih baik syukuri apa yang ada.

Selepas makan malam, Aldi membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.. oh, nyaman sekali ketika punggung ini tersandar.

Ia lalu mengambil ponsel yang ditaruh di atas nakas. Mengecek notifikasi sembari mengirim pesan pada Mayang.

Aldi masih mengkhawatirkan wanita itu. Bisa jadi suami Mayang pulang dan kembali membuat ulah. Rasanya Aldi ingin pergi lagi kesana dan menjaganya.

"Sudah jam berapa ini?" Aldi melirik jam yang menunjukkan angka 08.30 malam. "Kemana sebenarnya Selina pergi?"

Aldi memencet nomor di ponselnya. Namun bukannya Selina yang dihubunginya melainkan Husna.

"Ma.. ada Selina disana?" Tanya Aldi.

["Nggak ada. Ngapain juga dia kemari?"]

"Oh.. ya sudah kalau begitu."

["Tunggu sebentar! Memang istrimu kemana? Dia nggak ada di rumah?"]

"Iya.." jawab Aldi mengingat-ingat. "Dia belum pulang sampai sekarang."

["Dia berpamitan nggak sama kamu?"]

Kening Aldi mengkerut-kerut mengingat kemana perginya Selina. Sampai akhirnya ia tersadar akan ucapan istrinya tadi sore.

"Sebentar, ma. Aku hubungin dia dulu."

Sambungan dimatikan, kini Aldi beralih menelepon istrinya. Baru saja terangkat, mulut Aldi tak berhenti mencerca Selina.

"Dimana kamu?? Kenapa belum pulang juga??"

["Di rumah sakit, mas. Aku dirawat."]

"Jangan bercanda!"

["Aku nggak bohong, mas. Nanti aku kirimkan fotonya."]

Tak lama sebuah pesan masuk dari Selina. Berisikan foto mengenai gelang pasien yang ia pakai serta suasana kamar rawat inap.

Sontak saja Aldi jadi sakit kepala. Ternyata istrinya tak berbohong. Terpaksa dia menyeret tubuhnya untuk berlari ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, Aldi jadi tersentak. Ini adalah rumah sakit yang sama dimana dia mengantar Mayang melakukan visum tadi.

"Apa mungkin mereka datangnya berbarengan?" Nah, Aldi jadi menduga-duga.

Lupakan dulu soal itu, Aldi pergi ke lantai dua dimana istrinya tengah di observasi.

Bukannya datang dengan wajah yang cemas, tapi Aldi datang dengan rahang yang mengeras.

"Kenapa sih kamu bisa dirawat? Sengaja supaya bisa istirahat di rumah sakit?" Sindir Aldi.

Melihat itu, air mata Selina jadi menetes. Ia yang tadi kesepian karena tak ada yang menemaninya sekarang merasa terhakimi karena kehadiran suaminya.

"Aku perdarahan, mas. Kata dokter aku terancam keguguran."

"Udah 6 bulan, kan? Kok bisa guguran? Ah, udah! Malam ini juga kamu pulang! Aku nggak mau kamu dirawat."

"Tapi, mas.."

"Jangan membantah!" Tegas Aldi tak bisa ditawar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 156 (Selamanya Bersama - Ending)

    Keluarga Nisa datang ke rumah Taufan. Bukan untuk membela putrinya melainkan meluncurkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Tindakan Nisa sudah jauh keterlaluan. Berulang kali Nisa mempermalukan nama keluarga. Dimulai dari pembatalan pernikahan secara sepihak dengan Rama, lalu menikahi Rangga tiba-tiba. Dan kesalahan saat ini yang sungguh tak bisa ditoleransi lagi. Keluarga Nisa juga sudah mengetahui kasus yang menimpa Rangga. Dan sebagai balasan, kedua keluarga besar sepakat untuk memisahkan keduanya. Rangga sudah mengajukan perceraian, Nisa tak bisa lagi mencegah kepergian suaminya. Keduanya akan berpisah dalam hitungan waktu saja. Nisa tak mendapatkan sepeserpun harta perpisahan. Semua sudah menghilang semenjak Rangga tersandung kasus penipuan. Tak hanya itu, Rangga juga kembali melanjutkan hukumannya di penjara. Mala dan Taufan ingin hukuman Rangga di hentikan. Ya, sudah cukup tiga bulan Rangga menerima banyak pelajaran di sel penjara. Waktunya pria itu pulang ke ruma

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 155

    "Abortus incomplete." Nurdhita langsung memandang Rama yang tak jauh berdiri di belakangnya. "Kita kuret sekarang." Nurdhita bangkit dari duduknya menuju meja praktek. Ia lalu menginstruksikkan asistennya untuk menghubungi ruang operasi. "OK cito ya, Rama. Masih ada jaringan yang tertinggal di dalam perut Nisa." Nisa yang sudah lemah tak bisa berpikir apa-apa lagi. Pandangannya sudah berubah gelap belum lagi dengan perdarahan di bagian intinya yang sejak tadi tak berhenti. "Jadi, Nisa benar-benar hamil, dokter?" Tanya Mala terkejut luar biasa. Sebuah plot twist dimana Nisa yang selama ini berpura-pura hamil malah memang mengandung. Nurdhita lalu memandang Rama, Taufan dan juga Mala. Ia ikut keheranan. "Apa Nisa tidak memberitahu jika selama ini dia hamil?" Rama menggeleng dan menatap tajam Nisa. "Dia pernah memberitah

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 154

    Tubuh Nisa menegang seketika. Nafas itu begitu sesak dan memburu. Di atas meja ada video penangkapan dokter Adinda palsu. Dan itu terjadi pada tengah malam sesaat setelah Nisa kembali ke rumah. Dimana klinik tempat Nisa menjalani pengobatan di kepung oleh petugas. "Itu.." mata Nisa menggelepar ketakutan. "Apa artinya aku ditipu oleh mereka?" Rama sampai berdecak kesal. Rubah wanita ini malah tak mau mengaku dan bertindak sebagai korban. Oleh karena itu, Rama tak akan segan lagi. Rama mengeluarkan foto-foto serta sebuah surat. Nisa terkejut. Begitu juga dengan Selina yang baru tahu. "Hampir 3 bulan kamu mengambil peran sebagai wanita hamil. Kamu menyewa seorang wanita untuk menyamar menjadi dokter Adinda. Lalu kamu juga menyewa rumah lama di jalan karang untuk menjadi tempat prakteknya. Belum lagi plang serta peralatan palsu yang terpasang ckckckck.. kamu benar-benar terlibat dalam sindikat kebohongan

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 153

    "Selina!" Mata Mala melotot seakan menuntut jawaban. Untuk pertama kalinya, Selina bisa melihat kemarahan dalam netra wanita itu. Dan kemarahan itu kini tertuju padanya. "Kemana aja, kamu? Kenapa bisa kamu lalai hingga membuat Aulia berlari dan keluar dari butik? Asal kamu tahu, jika tidak ada Nisa yang mengejarnya mungkin Aulia sudah tersambar kendaraan yang ada diluar sana." Selina tertunduk mendengar kemarahan Mala. Nadanya memang tidak terlalu tinggi. Tapi, suara itu sangat berat seakan penuh dengan penekanan. "Maaf, ma. Ini semua salahku. Tadi aku sedang sholat dan menitipkan Aulia pada mbak Nisa." Jawabnya pelan dengan penyesalan. "Kamu tahu kalau Nisa sedang hamil muda, kan?? Kenapa kamu malah menitipkan anakmu yang sedang aktif pada Nisa?" Mala menarik nafas panjang kesal. "Hari sudah malam." Sela Taufan di antara tiga wa

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 152

    Selina tak bisa memutuskan. Ia menghubungi Taufan dan Mala sebagai wali dari Nisa. Keduanya yang mendengar kabar jatuhnya Nisa bergegas pulang ke kota malam ini juga. Rama pun ikut menahan proses kuretase kakak iparnya. Ia juga ingin mengetahui kondisi wanita itu yang sebenarnya. Tak hanya itu, Rama pun meminta agar Selina mengirimkan alamat klinik yang saat ini mereka datangi. "Gimana, bu? Apa sudah ada keputusan?" Tanya dokter tersebut. "Kalau kita terlambat bisa-bisa pasien kehilangan nyawanya. Darah yang keluar begitu banyak." "Tunggu sebentar. Saya tunggu mertua saya dulu." Sahut Selina gelisah. Nisa menjerit kesakitan. Selina masuk ke dalam kamar dimana Nisa berbaring disana. Wajah wanita itu tampak pucat. Bulir keringat membasahi dahinya. Ia tampak meremas ujung baju yang ia pakai. "Selina.. perutku sakit sekali.." ucapnya berurai air mata. Selina yang mendengar itu jadi t

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 151

    Selina melihat jam di ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 7 malam. Adzan sudah lama terlewat. Perjalanan pulang ke rumah bisa mencapai satu jam jika malam begini. Wanita ini mulai gusar. Dia ingin segera menghambakan diri. Layar ponsel diketuknya. Ia mengirim pesan pada Rama jika mereka belum pulang ke rumah. Suaminya itu pun membalas jika akan pulang esok hari. "Selina!" Nisa datang dengan terburu-buru. "Udah, mbak?" "Yang punya nggak ada di tempat. Kita nunggu aja dulu nggak masalah, kan?" "Memangnya mbak nggak kirim pesan tadi?" "Udah. Cuma katanya lagi kena macet." Nisa berdeham. "Lagipula baju itu limited edition. Baju yang memang mau aku pakai untuk acara empat bulanan nanti." "Oh.." Selina terperangah. Dia baru tahu jika akan ada acara empat bulanan untuk Nisa. Ya, maklum saja. Ini adalah cucu pertama mertuanya. Mereka pasti san

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 92

    "Untuk apa sebenarnya kamu jam tangan itu?" Nisa jadi penasaran.Kemarin adik iparnya datang kemari untuk mencari suaminya dan hari ini dia datang dengan berbeda tujuan."Ambil saja dan jangan banyak tanya. Aku sudah meminta izin pada suaminu." Sahut Rama malas.Nisa me

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 88

    "Terima kasih atas bantuannya."Aldi menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat kepada pria dihadapannya.Dengan tersenyum, pria berkacamata ini mengambil amplop tersebut dan mengintip sedikit isinya. Ternyata hasilnya memuaskan."Sama-sama, pak. Saya juga sangat senang

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 86

    "Kamu lihat berita hari ini, mas? Adikmu menjadi terkenal karena skandalnya. Dia dituding menghamili Anggia dan meninggalkannya begitu saja demi menikahi Selina. Astaga!"Nisa tak tahu harus tertawa atau sedih. Ia putuskan untuk menggelengkan kepalanya saja."Sekarang kita tahu

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 84

    "Dimana suamimu?" Tanya Rama dengan rahang mengeras.Nisa yang sedang menata meja untuk makan malam langsung terkesiap. Ia tergagap melihat Rama yang menatapnya dengan penuh kemarahan."Rama.." tegur Mala."Suruh dia keluar dari kamarnya!" Ucap Rama meninggikan suaranya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status