LOGINAldi menggeleng kesal setelah mematikan panggilan dari istrinya.
"Ada-ada saja.. apa dia pikir aku mau saja dibodohinya lagi?" Ah, Aldi sudah bisa menebak drama apa yang sedang dibuat oleh Selina. Menepis perasaannya pada Selina, Aldi kembali masuk ke ruang igd dan menemui Mayang. Rupanya wanita itu baru saja selesai melakukan visum. "Mari aku antar ke kantor polisi." "Kantor polisi? Untuk apa, mas?" "Melaporkan kejahatan suamimu." "Apa?" Mayang terkejut bukan main karena keberanian pria ini. "Nggak perlu, mas." "Nah.. kenapa, Mayang? Kita kan baru saja melakukan visum. Ini bisa menjadi bukti kekerasan dari suamimu." "Jangan, mas. Aku..." Mayang jadi tergagap. "Masih takut." "Ada aku disini, kenapa kamu mesti takut?" Aldi memberikan senyum simpatiknya. "Aku akan menemanimu." "Kumohon, mas. Biarkan saja.." pinta Mayang memelas. "Jadi maksudmu nggak mau melaporkan suamimu? Ya Tuhan, May! Suamimu itu sudah melakukan kdrt!" "Nanti saja. Biarkan visum hari ini untuk berjaga-jaga.." Aldi menatap kedua mata yang tersorot ketakutan itu. Dibalik pancaran itu seperti ada sebuah rahasia yang sepertinya disembunyikan oleh Mayang. "Kamu yakin?" Tanya Aldi sekali lagi. Mayang mengangguk. "Iya, mas. Aku boleh minta tolong diantarkan pulang?" "Baiklah kalau itu sudah jadi keputusanmu. Aku akan mengantarmu pulang." Jika Mayang sendiri masih belum mau melaporkan kekerasan suaminya maka Aldi tak bisa memaksa. Sebenarnya Aldi juga tak mau ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Tapi ketika melihat wajah pilu dari Mayang, seketika terbit perasaan di relung hati Aldi yang terdalam. Seperti ada rasa ingin menjaga serta melindungi.. Keduanya lalu memutuskan untuk pulang dari rumah sakit. Sesampainya di rumah Mayang, ternyata mobil milik suami wanita ini masih tak terlihat. "Setidaknya kamu aman karena malam ini suamimu tak ada." Mayang berdeham tak enak. "Iya. Suamiku memang bekerja diluar kota, mas. Kebetulan ada proyek yang harus diselesaikan." "Dan sebelum pergi dia memberimu hadiah pukulan untukmu, ckckck.." Aldi sampai tak habis pikir. "Kenapa bisa ada suami yang melakukan kekerasan pada istrinya sendiri?" Mendengar itu, Mayang tersenyum pahit. "Kalau begitu aku masuk ke rumah dulu, mas. Terima kasih sudah menemaniku." "Sama-sama. Jika terjadi sesuatu padamu, kamu bisa menghubungiku." Keduanya saling melempar senyum dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada jarak tak kasat mata bernama status yang seakan menjadi penghalang untuk keduanya berdekatan. Dan harusnya, Aldi dan Mayang mematuhi itu. 35 menit kemudian, Aldi sampai ke rumah. Oleh karena sibuk menemani Mayang ke rumah sakit, dia baru tiba ketika isya menjelang. Namun pria ini keheranan karena melihat rumah yang tampak sepi. Apalagi lampu teras belum dihidupkan. "Apa dia tidur seharian?" Aldi berdecak kesal. Entah kenapa emosinya selalu naik jika berhadapan dengan istrinya. Aldi mengetuk pintu dengan kasar dan memanggil nama istrinya berulang kali, tapi sayang tak ada jawaban sama sekali dari dalam sana. "Aku buka sendiri saja!" Aldi menautkan kunci cadangan ke dalam handle. Ceklek! Akhirnya pintu itu terbuka juga. Lagi-lagi Aldi merengkut, seluruh lampu rumah tampak dimatikan. Yang tersisa hanya lampu dapur yang menyala lemah. "Selina!" Panggil Aldi. "Selin!" Hening. Tak ada jawaban. Dahi Aldi makin mengernyit ketika melihat kamar mereka kosong. "Kemana perempuan itu? Ah, sudahlah. Aku mandi dulu!" Aldi membersihkan diri terlebih dahulu. Oh, tubuh ini sudah lengket karena diajak bekerja seharian. Setelah mandi, Aldi baru merasakan lapar. Lagi-lagi dia terkejut karena tak menemukan makanan di atas meja. "Apa sih kerjaan perempuan itu? Astaga!" Aldi mengelus dadanya karena kesal. Lama-lama Selina ini jadi tak berguna. Padahal dia dulu rajin melayani Aldi, tapi semenjak kehamilan ini Selina jadi pemalas. Jarang memasak dan membersihkan rumah. Berbagai macam alasan dia berikan hingga membuat Aldi meradang. Dia juga masih ingat betapa mengesalkannya Selina saat merengek ingin dibuatkan mie goreng waktu itu. Sampai Aldi kesal dan melemparkan mie tersebut hingga berhamburan di atas perut membukit itu. Dengan malas, Aldi mengambil mie instan dan memasaknya. Daripada tak makan sama sekali lebih baik syukuri apa yang ada. Selepas makan malam, Aldi membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.. oh, nyaman sekali ketika punggung ini tersandar. Ia lalu mengambil ponsel yang ditaruh di atas nakas. Mengecek notifikasi sembari mengirim pesan pada Mayang. Aldi masih mengkhawatirkan wanita itu. Bisa jadi suami Mayang pulang dan kembali membuat ulah. Rasanya Aldi ingin pergi lagi kesana dan menjaganya. "Sudah jam berapa ini?" Aldi melirik jam yang menunjukkan angka 08.30 malam. "Kemana sebenarnya Selina pergi?" Aldi memencet nomor di ponselnya. Namun bukannya Selina yang dihubunginya melainkan Husna. "Ma.. ada Selina disana?" Tanya Aldi. ["Nggak ada. Ngapain juga dia kemari?"] "Oh.. ya sudah kalau begitu." ["Tunggu sebentar! Memang istrimu kemana? Dia nggak ada di rumah?"] "Iya.." jawab Aldi mengingat-ingat. "Dia belum pulang sampai sekarang." ["Dia berpamitan nggak sama kamu?"] Kening Aldi mengkerut-kerut mengingat kemana perginya Selina. Sampai akhirnya ia tersadar akan ucapan istrinya tadi sore. "Sebentar, ma. Aku hubungin dia dulu." Sambungan dimatikan, kini Aldi beralih menelepon istrinya. Baru saja terangkat, mulut Aldi tak berhenti mencerca Selina. "Dimana kamu?? Kenapa belum pulang juga??" ["Di rumah sakit, mas. Aku dirawat."] "Jangan bercanda!" ["Aku nggak bohong, mas. Nanti aku kirimkan fotonya."] Tak lama sebuah pesan masuk dari Selina. Berisikan foto mengenai gelang pasien yang ia pakai serta suasana kamar rawat inap. Sontak saja Aldi jadi sakit kepala. Ternyata istrinya tak berbohong. Terpaksa dia menyeret tubuhnya untuk berlari ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Aldi jadi tersentak. Ini adalah rumah sakit yang sama dimana dia mengantar Mayang melakukan visum tadi. "Apa mungkin mereka datangnya berbarengan?" Nah, Aldi jadi menduga-duga. Lupakan dulu soal itu, Aldi pergi ke lantai dua dimana istrinya tengah di observasi. Bukannya datang dengan wajah yang cemas, tapi Aldi datang dengan rahang yang mengeras. "Kenapa sih kamu bisa dirawat? Sengaja supaya bisa istirahat di rumah sakit?" Sindir Aldi. Melihat itu, air mata Selina jadi menetes. Ia yang tadi kesepian karena tak ada yang menemaninya sekarang merasa terhakimi karena kehadiran suaminya. "Aku perdarahan, mas. Kata dokter aku terancam keguguran." "Udah 6 bulan, kan? Kok bisa guguran? Ah, udah! Malam ini juga kamu pulang! Aku nggak mau kamu dirawat." "Tapi, mas.." "Jangan membantah!" Tegas Aldi tak bisa ditawar."Gimana kalau kita kerja sama aja? Kebetulan aku lagi merambah ke bisnis skincare. Dengan basic mu sebagai seorang dokter, kita bisa membangun bisnis ini bersama-sama." Ujar Nisa tersenyum manis.Taufan melihat anak dan menantunya secara bergantian. Malam ini mereka berkumpul di ruang keluarga dimana Rangga dan istrinya suka sekali mendominasi pembicaraan."Aku nggak berminat." Sahut Rama datar."Ayolah, Rama. Tawaran kakak iparmu ini bagus banget, loh!" Sambung Rangga. "Lagipula ngapain sih kamu masih betah jadi dokter? Mana dokter umum lagi! Emang berapa gajimu itu, hah? Lebih baik kamu ikut berbisnis seperti kami."Sudah berulang kali Rama jengah dengan ucapan Rangga dan istrinya. Mereka selalu meremehkan pekerjaan Rama. Padahal ketika pria ini terjatuh, bukannya mengulurkan tangan dan memberikan motivasi melainkan mereka suka sekali mencibir kisah hidup Rama yang tragis.Betapa tidak? Dalam satu tahun ini hanya kemalangan yang menimpa
Aldi sudah terhukum jika dia menyadarinya. Ia terpisah dari istrinya yang setia. Terpisah dari putri yang sudah membuka jendela hatinya.Aldi ingin marah, menuntut semua orang yang memisahkan dirinya dengan Selina dan Alina. Tapi apa Aldi masih memiliki hak akan itu? Sedangkan dia saja tak bisa melakukan apapun.Semua keburukan Aldi tertulis dalam buku harian hitam milik Selina. Tak hanya itu, bukti cctv perselingkuhannya dengan Mayang serta riwayatnya tinggal di penjara sudah menjadi bukti bahwa Aldi memang tak pantas untuk diberikan kesempatan.Terlebih ketulusan dan kesabaran yang Aldi tampilkan pada Selina saat lumpuh rupanya memiliki tepi. Ia kembali lagi ke watak aslinya. Aldi cukup beruntung Selina tak membawa catatan hitamnya ke meja hijau, atau bisa dipastikan dia akan mendekam lagi di penjara.Hari ini, pertemuan kembali Aldi dengan putri kecilnya yang ia panggil Alina.Aulia Alina kini sudah berusia 1 tahun. Dua kaki kecil itu
Rintik hujan mulai jatuh ke atas bumi. Awan hitam pekat. Hembusan angin kencang menerpa wajah Rama yang masih berdiam di tempatnya.Tatapan matanya begitu kosong. Teguran dari para manusia yang hulu hilir melewatinya, bahkan ada yang berani menyentuh bahunya sama sekali tak dihiraukan olehnya.Rama menatap nanar makam yang masih tertumpuk dengan tanah berwarna merah. Semakin basah karena hujan yang mulai melanda."Kami tidak tahu apa yang terjadi pada Anggia. Kepergiannya membuat kami terpukul."Suara pria itu lalu mengembalikan kesadaran Rama. Dia lalu memandang pria yang berada di hadapannya. Seorang pria paruh baya."Tapi kami bersumpah akan mencari tahu apa yang menjadi penyebabnya bunuh diri. Cepat atau lambat, kami akan menemukan siapa orang itu." Sambung pria itu tegas.Rama masih tak bergeming. Pandangannya lalu beralih pada wanita paruh baya yang masih menangis meratapi nisan yang bertuliskan nama Anggia. Wanita muda yan
"Selina!" Teriak Aldi dengan keras.Selina yang menggendong putrinya berlalu ke dalam mobil yang sudah menunggu di depan sana.Aldi yang bergerak ingin mengejar Selina tertahan karena dua pria bertubuh besar yang menghadangnya."Apa-apaan ini? Ayah menyewa preman untuk menghajarku?" Aldi marah sekali."Tidak. Aku hanya ingin menjemput putri dan cucuku." Jawab Maryono tenang."Apa ayah sudah lupa dengan perjanjian kita?? Ayah tidak diizinkan untuk menemui anakku lagi!""Dan surat perjanjian itu tidak berlaku karena kamu sudah mengingkarinya.""Sial!" Aldi mengumpat hingga membuat Maryono terkejut. "Kalian semua sudah mempermainkanku! Aku nggak akan tinggal diam!""Ternyata inilah watak aslimu, Aldi. Aku pikir kamu sudah berubah karena Selina koma. Tapi ternyata ketulusanmu hanya sementara saja."Maryono memutar tubuhnya dan ikut masuk ke dalam mobil. Sementara Aldi tak bisa mengejar karena tertahan oleh
"Wanita brengsek! Sebenarnya apa yang kau rencanakan, hah?" Aldi menghempaskan ponselnya ke dashboard mobil.Percuma ia memaki Mayang. Wanita itu sudah memutus sambungannya."Harusnya aku sudah curiga! Tidak mungkin dia tidak memiliki maksud masuk ke keluargaku! Ah, sial!" Tak henti-hentinya Aldi mengumpat.Ia melarikan mobilnya ke rumah miliknya. Mayang mengatakan jika Alina sudah berada pada Selina. Itu artinya Selina sudha mengetahui semua faktanya. Rahasia yang Aldi simpan selama ini. Begitu juga jati diri Mayang yang sesungguhnya."Sial!" Aldi memukul setirnya dengan kesal. "Aku harus cari alasan!"Dia tahu Selina mudah terpengaruh. Hanya disirami dengan kasih sayang dan dipupuk dengan nyanyian lembut, Selina pasti lebih mempercayai Aldi.Hari ini Aldi akan mengatakan yang sebenarnya jika Alina adalah anak mereka. Tapi Aldi akan menceritakan semuanya dengan versi dirinya. Jangan sampai Selina teringat semua hal buruk yang me
"Harusnya dari awal kamu memang pake pengasuh, Aldi! Jangan nyalahin mama!" Ucap Husna tak terima saat Aldi menyalahkannya. "Kan mama bisa lapor padaku kalau Alina demam. Kenapa mama malah mendiamkannya?" "Udah mama bilang jangan bergantung sama mama! Mama udah tua! Kamu juga nggak becus mengasuh anak! Lagipula kamu itu pelit, Aldi. Kamu kan udah punya uang satu miliar kenapa nyari pembantu aja susah!" "Mama!" Mata Aldi sampai melotot. Untung saja mereka tengah berdebat di kamar Alina jadi tak ada yang mungkin mendengarnya. "Jadi sekarang gimana Alina?" Husna mengalihkan pembicaraan. "Ada Mayang yang menungguinya di rumah sakit." "Nah!" Husna terkekeh. "Mama kan udah bilang biarkan Mayang yang mengurus semuanya tapi kamu malah mengusir dia!" Aldi memalingkan wajahnya karena kesal. Kalau bukan demi Alina saja makanya dia menghubungi wanita itu. Apalagi saat Alina bertemu lagi den







