Share

Bab 6

Author: Stary Dream
last update Last Updated: 2026-01-13 07:05:30

Petugas yang berjaga di ruang observasi sampai kelimpungan menjelaskan kondisi pasien mereka yang bernama Selina ini.

Bagaimana tidak? Pria yang mengaku sebagai suaminya ini sangat keras kepala. Aldi malah yakin jika kandungan istrinya tak bermasalah. Menolak semua hasil pemeriksaan dokter yang mengatakan jika Selina bisa dirawat di rumah.

Terpaksa petugas memanggil dokter yang berjaga untuk menjelaskan kondisi Selina pada pria satu ini.

Dan hal yang mengejutkan, dokter yang hendak memberikan penjelasan merupakan dokter jaga yang memeriksa Mayang tadi di igd.

"Jadi anda suaminya ibu Selina?" Dokter itu memastikan.

Aldi langsung berdeham tak enak. "Iya, dokter. Tapi saya tetap ingin istri saya pulang saja."

"Pasti anda sudah dijelaskan konsekuensinya, kan? Ibu Selina mengalami kontraksi dan perdarahan di kehamilannya yang berusia 6 bulan. Dengan dirawat, ibu Selina akan bedrest total dan diberikan obat-obatan."

"Saya paham, dok. Tapi saya tetap ingin pulang saja. Lagipula saya seorang dosen, saya sedikit mengerti tentang penyakit."

Dua perawat yang mendengar itu langsung memutar matanya. Rasanya malas sekali berhadapan dengan keluarga pasien yang keras kepala. Apalagi jika sudah membawa-bawa profesi pekerjaan mereka. Duh! Rasanya berbicara dengan batu.

"Baiklah kalau begitu." Dokter tersebut hanya bisa menghela nafas panjang. "Tolong tanda tangani surat penolakan dirawat ini. Dan jika terjadi pada sesuatu dengan kandungan pasien, bapak tidak memiliki hak untuk menuntut rumah sakit karena kami sebagai petugas sudah menjelaskan konsekuensinya."

"Ya, baik."

Aldi yang sok pintar ini lebih tahu apa yang terbaik untuk istrinya. Tanpa pertimbangan ia menandatangani surat penolakan dan memboyong Selina pulang.

"Di rumah tetap bedrest, jangan banyak kegiatan. Obatnya juga harus diminum ya, bu." Jelas dokter tersebut ketika Selina akan diantar turun ke lobi dengan menggunakan kursi dokter.

"Iya, terima kasih dokter." Sahut Selina tersenyum pahit.

Dari tatapan mata dokter tersebut ia bisa merasakan kepedihan. Seperti ada sebuah pertanyaan yang tak bisa ia jawab.

Saat Selina di dorong keluar menggunakan kursi roda, barulah dokter tersebut menggerutu.

"Suami egois!"

Bukan pertama bagi dokter tersebut melihat perilaku keluarga pasien seperti ini. Tapi yang terjadi malam ini jarang sekali.

Aldi yang sore tadi membawa wanita lain dan memaksa melakukan visum. Lalu, raut wajah yang ditunjukkan tampak cemas dan sangat perhatian. Jujur, terlihat mesra.

Sementara pada istri sendiri Aldi bersikap kontras, pria ini begitu keras. Seakan tak perduli hal buruk apa yang akan terjadi pada Selina.

Sesampainya di rumah, mulut Aldi masih tak berhenti juga berbicara. Dia masih menyalahkan keputusan Selina yang mau saja dirawat inap.

"Harusnya kamu berpikir, Selin. Siapa yang mau menunggumu di rumah sakit kalau kamu dirawat? Aku harus bekerja. Menyuruh ibu? Nggak mungkin!"

"Maaf, mas. Aku cuma mengikuti saran dokter." Jawab Selina serak. Ia berjalan dengan pelan dan duduk di tepi pembaringan.

Baru berjalan sedikit saja, Selina sudah merasakan nyeri di bagian perut bawahnya.

"Nggak semua saran dokter itu bagus! Itu akal-akalan mereka aja."

"Jadi menurutmu yang baik itu seperti apa, mas?" Tanya Selina dingin.

Aldi sampai terkesiap akan nada dingin itu, ia pun menajamkan pandangannya.

"Kamu istriku! Aku tahu apa yang terbaik untukmu!"

"Tapi aku terancam keguguran, mas.." ucap Selina sedih tertahan. "Perutku kontraksi dan juga perdarahan. Kalau terus dibiarkan aku bisa keguguran.."

"Dasar lemah!" Ejek Aldi. "Kalau kamu tahu kandunganmu bermasalah lebih baik digugurkan saja dari awal?!"

"Mas.." Selina menatap tak percaya akan ucapan suaminya. "Tega banget kamu ngomong kayak gitu! Ini anak kita!"

Aldi menarik nafas panjang. Astaga! Saking kesalnya ia mengeluarkan perkataan yang tidak-tidak.

"Ucapanmu barusan seperti menunjukkan kamu bukan orang yang beragama."

"Apa?" Aldi jadi meradang. "Kamu bilang apa barusan?"

"Alih-alih menyalahkan takdir, harusnya kamu bisa menjagaku beserta kandungan ini.." jawab Selina terisak. "Tapi yang kamu lakukan malah terus menghakimiku!"

Selina menjerit keras. Ia sampai menutup mata dan memalingkan wajahnya yang terkena lemparan bantal dari Aldi.

"Jangan kurang ajar kamu, Selina! Aku ini suamimu! Surgamu ada padaku. Jadi tugasmu untuk mematuhiku!" Ucap Aldi menunjuk-nunjuk wajah istrinya.

Selina menangis tersedu-sedu. Sekarang bukan hanya mulut Aldi yang menyakitinya tapi juga fisiknya.

Aldi yang dipikirnya paham agama ternyata hanya tameng belaka. Bukan surga yang ia dapatkan, melainkan siksa dunia.

Aldi yang kesal meninggalkan Selina begitu saja, lebih baik dia tidur diluar dibanding meladeni istrinya.

Hingga pagi menjelang, Aldi kembali meninggikan suaranya. Tak ada sarapan di meja makan, istrinya masih setia terpekur di tempat tidur.

"Bangun, Selina! Jangan malas!"

Selina menatap suaminya dengan mata yang memerah. Wajah ini meringis karena sakit perut tak tertahan.

"Perutku sakit, mas.." lirih Selina.

"Lalu?" Aldi tak terima alasan. "Cepat laksanakan tugasmu sebelum aku mencari wanita lain untuk melayaniku."

Selina terpaksa bangun dari tidurnya setelah mendengar ancaman itu. Ia pergi ke dapur dan memasak untuk sarapan.

Sambil menahan nyeri, Selina merasa ada yang keluar dari bawah sana. Selesai memasak, Selina kembali berbaring.

"Dasar pemalas!" Gerutu Aldi setelah melihat istrinya tertidur lagi.

Selina membalik diri dan menghadap ke dinding. Dalam dia ia menangis begitu hebatnya. Luka di hatinya ini masih terbuka, tapi Aldi sering sekali menabur garam di atas sana.

Aldi sendiri tak memperdulikan isak tangis yang keluar dari mulut istrinya. Pria ini melenggang saja keluar rumah tanpa berdosa.

Pikirannya saat ini hanya satu, Mayang. Pagi ini wanita itu terlambat membalas pesan, membuat Aldi khawatir jika telah terjadi sesuatu padanya.

"Apa kabar, Mayang?" Tanya Aldi ketika mereka bertemu sore itu di depan kelas.

"Baik, mas." Mayang tersenyum. Memar diwajahnya berhasil ditutupinya menggunakan alas bedak.

"Syukurlah.. aku mengkhawatirkanmu semalaman."

"Ya ampun, mas. Padahal aku udah nggak apa-apa."

"Syukurlah kalau gitu. Ayo kita masuk ke kelas."

Hubungan yang terbilang dekat kini berganti menjadi mahasiswa dan dosen saat jam perkuliahan. Ketika jam berakhir, lagi-lagi Aldi menawarkan diri untuk mengantar Mayang pulang ke rumah.

"Apa istrimu nggak masalah kalau kamu mengantarku tiap hari?" Mayang jadi ragu.

"Nggak masalah, kok. Selina bukan wanita pencemburu."

"Oh.. nama istrimu Selina ya, mas. Bagus sekali."

"Ah.." Aldi tersenyum pahit ketika nama istrinya dipuji. "Mari pulang bersama. Aku nggak mau kamu menolak!"

Mayang hanya bisa tertawa. Dengan senang hati ia menerima ajakan pria ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 10

    "Mayang!" Aldi yang cemas menggedor keras pintu rumah wanita ini.Tanpa berpikir lagi, Aldi langsung mengemudikan mobilnya dengan cepat dan sampai di depan rumah ini. Suara histeris Mayang tadi membuatnya panik bukan main.Namun, dahi Aldi mengernyit ketika melihat keadaan rumah dalam keadaan lengang. Bahkan pintu pagarnya saja tak terbuka.Itu artinya hal yang Aldi takutkan tak terjadi. Pria sialan yang berstatus suami Mayang itu tak ada disini.Tapi.. apa yang terjadi pada Mayang? Kenapa suaranya tadi terdengar menangis? Oh.. Aldi cemas lagi.Aldi kembali mengetuk pintu secara tak sabar dengan beberapa kali memanggil nama Mayang."Mayang!" Panggil Aldi lagi."Mas Aldi.." samar-samar Aldi mendengar namanya disebut. Seperti ada bisikan yang memanggilnya dari belakang telinga.Deg!Aldi menoleh ke belakang dengan degup jantung yang kencang. Tiba-tiba saja tengkuk belakangnya sangat dingin. Membuat bulu kuduknya seketika merinding.Suara yang ia dengar tadi begitu mendayu. Terdengar sam

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 9

    Bak senandung yang menyambut, hubungan Aldi dan Mayang kian dekat semakin harinya.Aldi selalu mengantar adik tingkatnya pulang lepas perkuliahan, begitu juga dengan Mayang yang selalu memberikan bekal makanan sebagai imbalannya.Pria ini juga tak segan untuk selalu mampir. Meski Mayang pernah tak menawarinya, tapi dia senang hati untuk mengantar wanita itu sampai ke depan rumahnya."Sampai jumpa besok." Ujar Aldi ketika berpamitan."Besok? Bukannya besok libur." Mayang jadi tertawa.Aldi tergelak. "Benar juga. Aku lupa kalau besok hari minggu.""Iya, mas. Setidaknya besok kamu bisa menghabiskan waktu dengan istrimu." Sahut Mayang mengulum senyum."Kapan suamimu pulang?" Tanya Aldi mengalihkan perhatian. Dia malas jika bersinggungan dengan istrinya."Mungkin minggu depan.""Kalau begitu aku bisa meninggalkanmu dengan aman..""Aku jadi terharu karena perhatianmu, mas. Terima kasih sekali.."Aldi tersenyum ketika menatap kedua mata indah yang tampak berkaca-kaca itu. Kedua mata dari wan

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 8

    Dua tangan Aldi penuh memegang buah tangan dari Mayang. Sebab pujian Aldi tadi membuat pipi Mayang merah merona, wanita itu pun tak segan membuat pisang goreng lagi serta lauk lainnya."Ini mas untuk makan malam.." Mayang menyerahkan dua paper bag. "Ya ampun kamu repot banget.""Istrimu pasti nggak masak, kan? Nih aku buatkan mie goreng."Aldi tersenyum menerima buah tangan tersebut. Secuit perhatian ini berhasil membuatnya dada berdebar."Terima kasih." Ucap Aldi memandang wanita itu lekat.Dalam hatinya berkata, alangkah beruntung pria itu berhasil mempersunting Mayang. Wanita ini tak hanya cantik, tapi juga lembut.. tapi dengan tega pria sialan itu malah menghajarnya.Sesampainya di rumah, Aldi meletakkan dua paper bag itu di atas meja. Dia hendak ke kamar mandi dan membersihkan diri.Saat masuk ke kamar, matanya berpapasan dengan Selina yang baru terbangun."Astaga.. pemales banget kamu! Baru bangun tidur kamu jam segini?" Aldi memandang dingin."Iya, mas." Sahut Selina letih. Pe

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 7

    Pintu diketuk dengan keras di siang hari yang menyengat ini. Selina yang sejak tadi berbaring di tempat tidur terpaksa bangkit dan melihat siapa yang datang bertamu pada tengah hari begini.Sembari memegangi pinggangnya, Selina tertatih-tatih berjalan ke pintu depan. Tak salah lagi, suara panggilan itu terdengar familiar. Ternyata Husna, mertua tercintanya."Lama banget bukanya!" Gerutu Husna tak tahan. Diluar matahari bersinar terik, bukannya cepat membuka pintu rumah Selina malah berjalan seperti siput hamil."Maaf, ma." Selina memundurkan langkahnya agar Husna bisa masuk. Dengan sikap arogan seperti biasa, Husna menyapu sekeliling rumah dengan tatapan elangnya.Rumah ini tampak rapi. Tak ada pakaian kotor yang tertaruh di atas sofa. Dapur juga tampak aman.Tapi debu yang mengkilat itu tak luput dari penglihatannya."Udah berapa lama kamu nggak ngelap lemari?" Tanya Husna tajam.Selina ikut mengedarkan pandangannya pada lemari kaca yang ada di sudut ruangan."Kurang tahu juga, ma.

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 6

    Petugas yang berjaga di ruang observasi sampai kelimpungan menjelaskan kondisi pasien mereka yang bernama Selina ini.Bagaimana tidak? Pria yang mengaku sebagai suaminya ini sangat keras kepala. Aldi malah yakin jika kandungan istrinya tak bermasalah. Menolak semua hasil pemeriksaan dokter yang mengatakan jika Selina bisa dirawat di rumah.Terpaksa petugas memanggil dokter yang berjaga untuk menjelaskan kondisi Selina pada pria satu ini.Dan hal yang mengejutkan, dokter yang hendak memberikan penjelasan merupakan dokter jaga yang memeriksa Mayang tadi di igd."Jadi anda suaminya ibu Selina?" Dokter itu memastikan.Aldi langsung berdeham tak enak. "Iya, dokter. Tapi saya tetap ingin istri saya pulang saja.""Pasti anda sudah dijelaskan konsekuensinya, kan? Ibu Selina mengalami kontraksi dan perdarahan di kehamilannya yang berusia 6 bulan. Dengan dirawat, ibu Selina akan bedrest total dan diberikan obat-obatan.""Saya paham, dok. Tapi saya tetap ingin pulang saja. Lagipula saya seorang

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 5

    Aldi menggeleng kesal setelah mematikan panggilan dari istrinya."Ada-ada saja.. apa dia pikir aku mau saja dibodohinya lagi?" Ah, Aldi sudah bisa menebak drama apa yang sedang dibuat oleh Selina.Menepis perasaannya pada Selina, Aldi kembali masuk ke ruang igd dan menemui Mayang. Rupanya wanita itu baru saja selesai melakukan visum."Mari aku antar ke kantor polisi.""Kantor polisi? Untuk apa, mas?""Melaporkan kejahatan suamimu.""Apa?" Mayang terkejut bukan main karena keberanian pria ini. "Nggak perlu, mas.""Nah.. kenapa, Mayang? Kita kan baru saja melakukan visum. Ini bisa menjadi bukti kekerasan dari suamimu.""Jangan, mas. Aku..." Mayang jadi tergagap. "Masih takut.""Ada aku disini, kenapa kamu mesti takut?" Aldi memberikan senyum simpatiknya. "Aku akan menemanimu.""Kumohon, mas. Biarkan saja.." pinta Mayang memelas."Jadi maksudmu nggak mau melaporkan suamimu? Ya Tuhan, May! Suamimu itu sudah melakukan kdrt!""Nanti saja. Biarkan visum hari ini untuk berjaga-jaga.."Aldi me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status