Share

Bab 4

Author: Stary Dream
last update publish date: 2026-01-13 07:04:30

Aldiraga Rahman. Pria berusia 27 tahun, lulusan dari pondok pesantren ternama.

Wajahnya tampan dengan rahang yang tegas. Memiliki struktur mata yang tegas dengan manik mata berwarna hitam yang indah. Belum lagi hidung mancung dan gigi rapinya menjadi daya tarik sendiri bagi raganya yang hampir sempurna.

Tapi ada lagi yang membuat Selina tertarik, yaitu kepiawaiannya saat mentartil kitab suci. Mungkin karena lulusan dari sekolah agama, suara suaminya ketika melantunkan pujian begitu indah pada Yang Kuasa.

Belum lagi pemahaman agamanya juga patut diperhitungkan.

Alasan itulah yang membuat Selina menerima pinangan pria tersebut. Pria yang diharapkannya bisa membawanya menuju surga.

Namun rupanya perjalanan pernikahan ini begitu berat. Tak semudah yang ia bayangkan.

Aldi yang diharapkannya bisa membimbingnya malah selalu mencercanya. Menghina bahkan memarahinya.

Ia yang egois dan selalu ingin memenang sendiri. Berkehendak seperti raja tanpa perduli akan istrinya.

Selina yang terkejut lalu mengetahui darimana sifat itu berasal. Ternyata dari Husna yang memang selalu memanjakan anak semata wayangnya.

Berkali-kali Selina menurunkan egonya, mengalah dan memberi makan emosi suaminya. Tapi yang terjadi.. harga diri Selina semakin terinjak.

Dan pada kehamilannya ini, Aldi berubah total menjadi pria yang berbeda. Menjadi pelit, penuh perhitungan dan selalu mencemoohnya. Seakan kehamilan ini menjadi beban untuknya.

Selina memutuskan untuk pergi sendiri ke rumah sakit. Menggunakan ojek, ia sampai ke igd. Ceceran da-rah menembus hingga ke sela pahanya. Noda merah tercetak di rok putihnya hingga membuat Selina memutuskan untuk mampir ke gawat darurat.

"Astaga! Darahnya banyak sekali!" Seru dokter yang berjaga.

Serina dibaringkan dan diperiksa. Setelah itu, Selina pun dipaksa untuk istirahat di rumah sakit demi keselamatan anak yang dikandungnya.

"Nggak bisa rawat jalan aja, dok?" Tanya Selina lemas bukan main. Tiba-tiba saja dia kehilangan semua tenaganya.

"Kandungan ibu sangat lemah, bahkan terancam keguguran. Saran saya harus dirawat." Tegas dokter itu tak main-main. Sebuah ucapan yang terdengar sebagai perintah, bukan lagi himbauan.

***

Di kampus, Aldi menjadi gundah. Di sesi terakhir jadwal mengajar tak ada Mayang yang biasanya duduk manis di depan sana.

Mayang izin karena sakit.

Oh, Aldi teringat akan mata yang merah itu.. walau wajahnya tertutup masker, Aldi bisa menebak betapa pucatnya wajah itu.

Setelah selesai mengajar, Aldi memaksakan diri mampir ke rumah Mayang. Oleh karena setiap hari diantar pulang, Aldi tahu rumah wanita itu.

"Kok sepi, ya?" Gumam Aldi pelan.

Tak ada kendaraan yang terparkir di depan. Itu artinya tak ada suami wanita itu disana.

Memberanikan diri, Aldi turun dari mobil menuju pintu depan. Pintu berukiran kayu itu diketuk dengan pelan.

"Apa mungkin nggak ada orang di rumah?" Ah, Aldi jadi bimbang. Dia gelisah sendiri memikirkan Mayang.

Padahal jika dipikir-pikir kenapa juga Aldi harus mengkhawatirkan wanita itu? Mereka kan tak punya hubungan apapun.

Atau mungkin ini karena ada perasaan lain yang masih tersisa di hatinya..

"Ah! Aku pulang saja!" Aldi mencoba menepis rasa yang hendak hadir itu.

Tepat ketika Aldi membalik diri, pintu kayu tersebut terbuka.

"Mas Aldi?" Panggilnya dengan suara pelan tak percaya.

Aldi menoleh dan terkejut bukan main.

"Mayang?? Apa yang terjadi padamu??" Teriaknya khawatir.

Mayang yang menyadari jika Aldi lah yang ada di hadapannya, lekas menutup wajahnya dengan separuh tangan. Begitu juga rambut yang terlihat ini ingin disembunyikannya.

"Maaf, mas.." ucap Mayang sedikit panik.

Wanita ini bergegas masuk ke rumah dan menutup sedikit pintu. Aldi yang cemas memburu wanita itu masuk ke dalam rumah. Tak perduli jika ini menyalahi aturan dalam bertamu.

Aldi sungguh penasaran akan memar yang tercipta di wajah adik kelasnya itu.

"Mayang! Tunggu sebentar!"

"Pergilah, mas!" Mayang menghindari Aldi mati-matian.

Deg!

Mayang terkejut ketika tangannya ditahan oleh Aldi. Tubuhnya dibalik dengan mudah, memaksa Mayang bertemu dengan bagian depan wajah Aldi begitu dekat.

Aldi mengibaskan rambut Mayang yang menutupi separuh wajah wanita itu.

Memar di daerah pipi dengan sudut bibir yang pecah seketika membuat Aldi kehilangan kata-kata.

"Siapa yang melakukan ini padamu?"

"Bukan siapa-siapa. Aku cuma terjatuh." Kilah Mayang.

"Jangan bohong, Mayang! Ini bekas pukulan!" Seru Aldi tak percaya. "Atau mungkin ini ulah suamimu?"

Mayang lalu menatap mata Aldi dengan ketakutan, melihat sikap gugup itu Aldi yakin jika Mayang mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

"Sekarang ikut aku ke rumah sakit. Lukamu harus diobati!"

"Nggak perlu, mas. Aku bisa mengobatinya sendiri."

"Jangan menolak, Mayang. Ku mohon.." pinta Aldi serius. "Kekerasan dalam rumah tangga itu tidak dibenarkan. Sekarang kita ke rumah sakit dan lakukan visum."

"Jangan, mas!" Bantah Mayang hendak menangis. Air mata mulai membanjiri wajahnya.

"Apa yang kamu takutkan? Suamimu?" Aldi menggeleng kesal sekalipun sedih. "Ada aku disini. Aku akan menjagamu."

Sejenak kedua mata itu saling memandak, Mayang seperti menemukan keyakinan dari pijaran mata pria dihadapannya. Aldi berkata ingin menjaganya. Apakah ini pertanda dari semesta mengirimkan malaikat penjaga untuknya?

Sudah lama Mayang terjebak dalam lingkaran pernikahan yang menyakitkan, tapi dia tak tahu bagaimana cara keluar dari tempat yang tak bahkan tak memiliki pintu ini..

Dan ketika seseorang datang dan memberi celah, Mayang harus segera keluar agar tak selamanya tersiksa.

"Mayang!" Panggil Aldi menyadarkan Mayang yang memandangnya dengan uraian mata.

"Iya, mas. Aku ikut denganmu."

Bersama Aldi, Mayang pergi ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan. Mereka datang terlebih dahulu ke unit gawat darurat untuk mengobati luka milik wanita itu.

"Apa kami bisa melakukan visum, dok?" Tanya Aldi.

"Untuk luka pasien ini?" Dokter tersebut memastikan. "Bisa. Akan kami kerjakan segera."

Sambil menunggu Mayang menjalani visum, Aldi pergi ke depan igd untuk menghirup udara bebas. Rasanya sesak karena melihat wajah Mayang yang hancur babak belur karena ulah suaminya.

Baru saja ingin tenang, Aldi mendapatkan 10 panggilan tak terjawab dari istrinya.

"Astaga!" Kecemasan berubah menjadi rasa kesal. Dia menekan nomor istrinya di ponsel dan menyambungkannya. "Kenapa kamu nelepon aku??"

["Mas dimana? Aku di rumah sakit."]

"Aku lagi ngajar! Kan aku udah bilang tadi siang."

["Mas..] terdengar suara lirihan dari sebrang. [Aku dirawat di rumah sakit.. aku terancam keguguran.."]

"Bagus sekali, Selin. Itu saja keluhan yang kamu bisa banggakan padaku!"

Tut.

Sambungan dimatikan secara sepihak oleh Aldi. Dia yakin jika istrinya hanya membual saja.

Sakit perut, kontraksi dan perdarahan. Aldi hapal betul. Apalagi dokter yang pasti menyuruh istrinya beristirahat total dan menebus obat hingga ratusan ribu.

Setelah itu, Selina akan melenggang meninggalkan kewajiban sebagai istri dengan bermalas-malasan di rumah.

Dan Aldi tak mau termakan drama itu lagi..

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 59

    Aldi sudah terhukum jika dia menyadarinya. Ia terpisah dari istrinya yang setia. Terpisah dari putri yang sudah membuka jendela hatinya.Aldi ingin marah, menuntut semua orang yang memisahkan dirinya dengan Selina dan Alina. Tapi apa Aldi masih memiliki hak akan itu? Sedangkan dia saja tak bisa melakukan apapun.Semua keburukan Aldi tertulis dalam buku harian hitam milik Selina. Tak hanya itu, bukti cctv perselingkuhannya dengan Mayang serta riwayatnya tinggal di penjara sudah menjadi bukti bahwa Aldi memang tak pantas untuk diberikan kesempatan.Terlebih ketulusan dan kesabaran yang Aldi tampilkan pada Selina saat lumpuh rupanya memiliki tepi. Ia kembali lagi ke watak aslinya. Aldi cukup beruntung Selina tak membawa catatan hitamnya ke meja hijau, atau bisa dipastikan dia akan mendekam lagi di penjara.Hari ini, pertemuan kembali Aldi dengan putri kecilnya yang ia panggil Alina.Aulia Alina kini sudah berusia 1 tahun. Dua kaki kecil itu

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 58

    Rintik hujan mulai jatuh ke atas bumi. Awan hitam pekat. Hembusan angin kencang menerpa wajah Rama yang masih berdiam di tempatnya.Tatapan matanya begitu kosong. Teguran dari para manusia yang hulu hilir melewatinya, bahkan ada yang berani menyentuh bahunya sama sekali tak dihiraukan olehnya.Rama menatap nanar makam yang masih tertumpuk dengan tanah berwarna merah. Semakin basah karena hujan yang mulai melanda."Kami tidak tahu apa yang terjadi pada Anggia. Kepergiannya membuat kami terpukul."Suara pria itu lalu mengembalikan kesadaran Rama. Dia lalu memandang pria yang berada di hadapannya. Seorang pria paruh baya."Tapi kami bersumpah akan mencari tahu apa yang menjadi penyebabnya bunuh diri. Cepat atau lambat, kami akan menemukan siapa orang itu." Sambung pria itu tegas.Rama masih tak bergeming. Pandangannya lalu beralih pada wanita paruh baya yang masih menangis meratapi nisan yang bertuliskan nama Anggia. Wanita muda yan

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 57

    "Selina!" Teriak Aldi dengan keras.Selina yang menggendong putrinya berlalu ke dalam mobil yang sudah menunggu di depan sana.Aldi yang bergerak ingin mengejar Selina tertahan karena dua pria bertubuh besar yang menghadangnya."Apa-apaan ini? Ayah menyewa preman untuk menghajarku?" Aldi marah sekali."Tidak. Aku hanya ingin menjemput putri dan cucuku." Jawab Maryono tenang."Apa ayah sudah lupa dengan perjanjian kita?? Ayah tidak diizinkan untuk menemui anakku lagi!""Dan surat perjanjian itu tidak berlaku karena kamu sudah mengingkarinya.""Sial!" Aldi mengumpat hingga membuat Maryono terkejut. "Kalian semua sudah mempermainkanku! Aku nggak akan tinggal diam!""Ternyata inilah watak aslimu, Aldi. Aku pikir kamu sudah berubah karena Selina koma. Tapi ternyata ketulusanmu hanya sementara saja."Maryono memutar tubuhnya dan ikut masuk ke dalam mobil. Sementara Aldi tak bisa mengejar karena tertahan oleh

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 56

    "Wanita brengsek! Sebenarnya apa yang kau rencanakan, hah?" Aldi menghempaskan ponselnya ke dashboard mobil.Percuma ia memaki Mayang. Wanita itu sudah memutus sambungannya."Harusnya aku sudah curiga! Tidak mungkin dia tidak memiliki maksud masuk ke keluargaku! Ah, sial!" Tak henti-hentinya Aldi mengumpat.Ia melarikan mobilnya ke rumah miliknya. Mayang mengatakan jika Alina sudah berada pada Selina. Itu artinya Selina sudha mengetahui semua faktanya. Rahasia yang Aldi simpan selama ini. Begitu juga jati diri Mayang yang sesungguhnya."Sial!" Aldi memukul setirnya dengan kesal. "Aku harus cari alasan!"Dia tahu Selina mudah terpengaruh. Hanya disirami dengan kasih sayang dan dipupuk dengan nyanyian lembut, Selina pasti lebih mempercayai Aldi.Hari ini Aldi akan mengatakan yang sebenarnya jika Alina adalah anak mereka. Tapi Aldi akan menceritakan semuanya dengan versi dirinya. Jangan sampai Selina teringat semua hal buruk yang me

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 55

    "Harusnya dari awal kamu memang pake pengasuh, Aldi! Jangan nyalahin mama!" Ucap Husna tak terima saat Aldi menyalahkannya. "Kan mama bisa lapor padaku kalau Alina demam. Kenapa mama malah mendiamkannya?" "Udah mama bilang jangan bergantung sama mama! Mama udah tua! Kamu juga nggak becus mengasuh anak! Lagipula kamu itu pelit, Aldi. Kamu kan udah punya uang satu miliar kenapa nyari pembantu aja susah!" "Mama!" Mata Aldi sampai melotot. Untung saja mereka tengah berdebat di kamar Alina jadi tak ada yang mungkin mendengarnya. "Jadi sekarang gimana Alina?" Husna mengalihkan pembicaraan. "Ada Mayang yang menungguinya di rumah sakit." "Nah!" Husna terkekeh. "Mama kan udah bilang biarkan Mayang yang mengurus semuanya tapi kamu malah mengusir dia!" Aldi memalingkan wajahnya karena kesal. Kalau bukan demi Alina saja makanya dia menghubungi wanita itu. Apalagi saat Alina bertemu lagi den

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 54

    "Semuanya dalam keadaan normal. Tidak ada masalah."Aldi terheran-heran akan keadaan anaknya. Padahal dia sudah terkejut setengah mati karena Alina mengalami demam. Tapi dokter Fiona bilang bahwa tak terjadi masalah pada anaknya."Tapi anak saya masih demam, dok.." ujar Aldi tak percaya dengan penjelasan wanita ini."Namun suhunya normal, bekas suntikannya juga tidak bengkak. Kuncinya rehidrasi saja yang cukup. Mungkin Alina tidak menyusu dengan baik." Fiona berdoa ditebalkan kesabarannya karena berhadapan dengan pria ini.Aldi sempat memikirkan ucapan dokter ini. Benar juga. Bisa jadi karena pengasuhnya sudah diusir jadi Alina tak terlalu diperhatikan. Apalagi Husna yang tak mau mengurus anaknya."Baiklah."Aldi lalu mengajak putrinya pulang. Baru sekarang dia merasa kerepotan sendiri. Tak ada kereta bayi sehingga ia harus menggendong bayi sepanjang perjalanan keliling rumah sakit. Ah, wajah ini sempat memerah karena ditatap ole

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status