LOGINAldiraga Rahman. Pria berusia 27 tahun, lulusan dari pondok pesantren ternama.
Wajahnya tampan dengan rahang yang tegas. Memiliki struktur mata yang tegas dengan manik mata berwarna hitam yang indah. Belum lagi hidung mancung dan gigi rapinya menjadi daya tarik sendiri bagi raganya yang hampir sempurna. Tapi ada lagi yang membuat Selina tertarik, yaitu kepiawaiannya saat mentartil kitab suci. Mungkin karena lulusan dari sekolah agama, suara suaminya ketika melantunkan pujian begitu indah pada Yang Kuasa. Belum lagi pemahaman agamanya juga patut diperhitungkan. Alasan itulah yang membuat Selina menerima pinangan pria tersebut. Pria yang diharapkannya bisa membawanya menuju surga. Namun rupanya perjalanan pernikahan ini begitu berat. Tak semudah yang ia bayangkan. Aldi yang diharapkannya bisa membimbingnya malah selalu mencercanya. Menghina bahkan memarahinya. Ia yang egois dan selalu ingin memenang sendiri. Berkehendak seperti raja tanpa perduli akan istrinya. Selina yang terkejut lalu mengetahui darimana sifat itu berasal. Ternyata dari Husna yang memang selalu memanjakan anak semata wayangnya. Berkali-kali Selina menurunkan egonya, mengalah dan memberi makan emosi suaminya. Tapi yang terjadi.. harga diri Selina semakin terinjak. Dan pada kehamilannya ini, Aldi berubah total menjadi pria yang berbeda. Menjadi pelit, penuh perhitungan dan selalu mencemoohnya. Seakan kehamilan ini menjadi beban untuknya. Selina memutuskan untuk pergi sendiri ke rumah sakit. Menggunakan ojek, ia sampai ke igd. Ceceran da-rah menembus hingga ke sela pahanya. Noda merah tercetak di rok putihnya hingga membuat Selina memutuskan untuk mampir ke gawat darurat. "Astaga! Darahnya banyak sekali!" Seru dokter yang berjaga. Serina dibaringkan dan diperiksa. Setelah itu, Selina pun dipaksa untuk istirahat di rumah sakit demi keselamatan anak yang dikandungnya. "Nggak bisa rawat jalan aja, dok?" Tanya Selina lemas bukan main. Tiba-tiba saja dia kehilangan semua tenaganya. "Kandungan ibu sangat lemah, bahkan terancam keguguran. Saran saya harus dirawat." Tegas dokter itu tak main-main. Sebuah ucapan yang terdengar sebagai perintah, bukan lagi himbauan. *** Di kampus, Aldi menjadi gundah. Di sesi terakhir jadwal mengajar tak ada Mayang yang biasanya duduk manis di depan sana. Mayang izin karena sakit. Oh, Aldi teringat akan mata yang merah itu.. walau wajahnya tertutup masker, Aldi bisa menebak betapa pucatnya wajah itu. Setelah selesai mengajar, Aldi memaksakan diri mampir ke rumah Mayang. Oleh karena setiap hari diantar pulang, Aldi tahu rumah wanita itu. "Kok sepi, ya?" Gumam Aldi pelan. Tak ada kendaraan yang terparkir di depan. Itu artinya tak ada suami wanita itu disana. Memberanikan diri, Aldi turun dari mobil menuju pintu depan. Pintu berukiran kayu itu diketuk dengan pelan. "Apa mungkin nggak ada orang di rumah?" Ah, Aldi jadi bimbang. Dia gelisah sendiri memikirkan Mayang. Padahal jika dipikir-pikir kenapa juga Aldi harus mengkhawatirkan wanita itu? Mereka kan tak punya hubungan apapun. Atau mungkin ini karena ada perasaan lain yang masih tersisa di hatinya.. "Ah! Aku pulang saja!" Aldi mencoba menepis rasa yang hendak hadir itu. Tepat ketika Aldi membalik diri, pintu kayu tersebut terbuka. "Mas Aldi?" Panggilnya dengan suara pelan tak percaya. Aldi menoleh dan terkejut bukan main. "Mayang?? Apa yang terjadi padamu??" Teriaknya khawatir. Mayang yang menyadari jika Aldi lah yang ada di hadapannya, lekas menutup wajahnya dengan separuh tangan. Begitu juga rambut yang terlihat ini ingin disembunyikannya. "Maaf, mas.." ucap Mayang sedikit panik. Wanita ini bergegas masuk ke rumah dan menutup sedikit pintu. Aldi yang cemas memburu wanita itu masuk ke dalam rumah. Tak perduli jika ini menyalahi aturan dalam bertamu. Aldi sungguh penasaran akan memar yang tercipta di wajah adik kelasnya itu. "Mayang! Tunggu sebentar!" "Pergilah, mas!" Mayang menghindari Aldi mati-matian. Deg! Mayang terkejut ketika tangannya ditahan oleh Aldi. Tubuhnya dibalik dengan mudah, memaksa Mayang bertemu dengan bagian depan wajah Aldi begitu dekat. Aldi mengibaskan rambut Mayang yang menutupi separuh wajah wanita itu. Memar di daerah pipi dengan sudut bibir yang pecah seketika membuat Aldi kehilangan kata-kata. "Siapa yang melakukan ini padamu?" "Bukan siapa-siapa. Aku cuma terjatuh." Kilah Mayang. "Jangan bohong, Mayang! Ini bekas pukulan!" Seru Aldi tak percaya. "Atau mungkin ini ulah suamimu?" Mayang lalu menatap mata Aldi dengan ketakutan, melihat sikap gugup itu Aldi yakin jika Mayang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. "Sekarang ikut aku ke rumah sakit. Lukamu harus diobati!" "Nggak perlu, mas. Aku bisa mengobatinya sendiri." "Jangan menolak, Mayang. Ku mohon.." pinta Aldi serius. "Kekerasan dalam rumah tangga itu tidak dibenarkan. Sekarang kita ke rumah sakit dan lakukan visum." "Jangan, mas!" Bantah Mayang hendak menangis. Air mata mulai membanjiri wajahnya. "Apa yang kamu takutkan? Suamimu?" Aldi menggeleng kesal sekalipun sedih. "Ada aku disini. Aku akan menjagamu." Sejenak kedua mata itu saling memandak, Mayang seperti menemukan keyakinan dari pijaran mata pria dihadapannya. Aldi berkata ingin menjaganya. Apakah ini pertanda dari semesta mengirimkan malaikat penjaga untuknya? Sudah lama Mayang terjebak dalam lingkaran pernikahan yang menyakitkan, tapi dia tak tahu bagaimana cara keluar dari tempat yang tak bahkan tak memiliki pintu ini.. Dan ketika seseorang datang dan memberi celah, Mayang harus segera keluar agar tak selamanya tersiksa. "Mayang!" Panggil Aldi menyadarkan Mayang yang memandangnya dengan uraian mata. "Iya, mas. Aku ikut denganmu." Bersama Aldi, Mayang pergi ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan. Mereka datang terlebih dahulu ke unit gawat darurat untuk mengobati luka milik wanita itu. "Apa kami bisa melakukan visum, dok?" Tanya Aldi. "Untuk luka pasien ini?" Dokter tersebut memastikan. "Bisa. Akan kami kerjakan segera." Sambil menunggu Mayang menjalani visum, Aldi pergi ke depan igd untuk menghirup udara bebas. Rasanya sesak karena melihat wajah Mayang yang hancur babak belur karena ulah suaminya. Baru saja ingin tenang, Aldi mendapatkan 10 panggilan tak terjawab dari istrinya. "Astaga!" Kecemasan berubah menjadi rasa kesal. Dia menekan nomor istrinya di ponsel dan menyambungkannya. "Kenapa kamu nelepon aku??" ["Mas dimana? Aku di rumah sakit."] "Aku lagi ngajar! Kan aku udah bilang tadi siang." ["Mas..] terdengar suara lirihan dari sebrang. [Aku dirawat di rumah sakit.. aku terancam keguguran.."] "Bagus sekali, Selin. Itu saja keluhan yang kamu bisa banggakan padaku!" Tut. Sambungan dimatikan secara sepihak oleh Aldi. Dia yakin jika istrinya hanya membual saja. Sakit perut, kontraksi dan perdarahan. Aldi hapal betul. Apalagi dokter yang pasti menyuruh istrinya beristirahat total dan menebus obat hingga ratusan ribu. Setelah itu, Selina akan melenggang meninggalkan kewajiban sebagai istri dengan bermalas-malasan di rumah. Dan Aldi tak mau termakan drama itu lagi..Keluarga Nisa datang ke rumah Taufan. Bukan untuk membela putrinya melainkan meluncurkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Tindakan Nisa sudah jauh keterlaluan. Berulang kali Nisa mempermalukan nama keluarga. Dimulai dari pembatalan pernikahan secara sepihak dengan Rama, lalu menikahi Rangga tiba-tiba. Dan kesalahan saat ini yang sungguh tak bisa ditoleransi lagi. Keluarga Nisa juga sudah mengetahui kasus yang menimpa Rangga. Dan sebagai balasan, kedua keluarga besar sepakat untuk memisahkan keduanya. Rangga sudah mengajukan perceraian, Nisa tak bisa lagi mencegah kepergian suaminya. Keduanya akan berpisah dalam hitungan waktu saja. Nisa tak mendapatkan sepeserpun harta perpisahan. Semua sudah menghilang semenjak Rangga tersandung kasus penipuan. Tak hanya itu, Rangga juga kembali melanjutkan hukumannya di penjara. Mala dan Taufan ingin hukuman Rangga di hentikan. Ya, sudah cukup tiga bulan Rangga menerima banyak pelajaran di sel penjara. Waktunya pria itu pulang ke ruma
"Abortus incomplete." Nurdhita langsung memandang Rama yang tak jauh berdiri di belakangnya. "Kita kuret sekarang." Nurdhita bangkit dari duduknya menuju meja praktek. Ia lalu menginstruksikkan asistennya untuk menghubungi ruang operasi. "OK cito ya, Rama. Masih ada jaringan yang tertinggal di dalam perut Nisa." Nisa yang sudah lemah tak bisa berpikir apa-apa lagi. Pandangannya sudah berubah gelap belum lagi dengan perdarahan di bagian intinya yang sejak tadi tak berhenti. "Jadi, Nisa benar-benar hamil, dokter?" Tanya Mala terkejut luar biasa. Sebuah plot twist dimana Nisa yang selama ini berpura-pura hamil malah memang mengandung. Nurdhita lalu memandang Rama, Taufan dan juga Mala. Ia ikut keheranan. "Apa Nisa tidak memberitahu jika selama ini dia hamil?" Rama menggeleng dan menatap tajam Nisa. "Dia pernah memberitah
Tubuh Nisa menegang seketika. Nafas itu begitu sesak dan memburu. Di atas meja ada video penangkapan dokter Adinda palsu. Dan itu terjadi pada tengah malam sesaat setelah Nisa kembali ke rumah. Dimana klinik tempat Nisa menjalani pengobatan di kepung oleh petugas. "Itu.." mata Nisa menggelepar ketakutan. "Apa artinya aku ditipu oleh mereka?" Rama sampai berdecak kesal. Rubah wanita ini malah tak mau mengaku dan bertindak sebagai korban. Oleh karena itu, Rama tak akan segan lagi. Rama mengeluarkan foto-foto serta sebuah surat. Nisa terkejut. Begitu juga dengan Selina yang baru tahu. "Hampir 3 bulan kamu mengambil peran sebagai wanita hamil. Kamu menyewa seorang wanita untuk menyamar menjadi dokter Adinda. Lalu kamu juga menyewa rumah lama di jalan karang untuk menjadi tempat prakteknya. Belum lagi plang serta peralatan palsu yang terpasang ckckckck.. kamu benar-benar terlibat dalam sindikat kebohongan
"Selina!" Mata Mala melotot seakan menuntut jawaban. Untuk pertama kalinya, Selina bisa melihat kemarahan dalam netra wanita itu. Dan kemarahan itu kini tertuju padanya. "Kemana aja, kamu? Kenapa bisa kamu lalai hingga membuat Aulia berlari dan keluar dari butik? Asal kamu tahu, jika tidak ada Nisa yang mengejarnya mungkin Aulia sudah tersambar kendaraan yang ada diluar sana." Selina tertunduk mendengar kemarahan Mala. Nadanya memang tidak terlalu tinggi. Tapi, suara itu sangat berat seakan penuh dengan penekanan. "Maaf, ma. Ini semua salahku. Tadi aku sedang sholat dan menitipkan Aulia pada mbak Nisa." Jawabnya pelan dengan penyesalan. "Kamu tahu kalau Nisa sedang hamil muda, kan?? Kenapa kamu malah menitipkan anakmu yang sedang aktif pada Nisa?" Mala menarik nafas panjang kesal. "Hari sudah malam." Sela Taufan di antara tiga wa
Selina tak bisa memutuskan. Ia menghubungi Taufan dan Mala sebagai wali dari Nisa. Keduanya yang mendengar kabar jatuhnya Nisa bergegas pulang ke kota malam ini juga. Rama pun ikut menahan proses kuretase kakak iparnya. Ia juga ingin mengetahui kondisi wanita itu yang sebenarnya. Tak hanya itu, Rama pun meminta agar Selina mengirimkan alamat klinik yang saat ini mereka datangi. "Gimana, bu? Apa sudah ada keputusan?" Tanya dokter tersebut. "Kalau kita terlambat bisa-bisa pasien kehilangan nyawanya. Darah yang keluar begitu banyak." "Tunggu sebentar. Saya tunggu mertua saya dulu." Sahut Selina gelisah. Nisa menjerit kesakitan. Selina masuk ke dalam kamar dimana Nisa berbaring disana. Wajah wanita itu tampak pucat. Bulir keringat membasahi dahinya. Ia tampak meremas ujung baju yang ia pakai. "Selina.. perutku sakit sekali.." ucapnya berurai air mata. Selina yang mendengar itu jadi t
Selina melihat jam di ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 7 malam. Adzan sudah lama terlewat. Perjalanan pulang ke rumah bisa mencapai satu jam jika malam begini. Wanita ini mulai gusar. Dia ingin segera menghambakan diri. Layar ponsel diketuknya. Ia mengirim pesan pada Rama jika mereka belum pulang ke rumah. Suaminya itu pun membalas jika akan pulang esok hari. "Selina!" Nisa datang dengan terburu-buru. "Udah, mbak?" "Yang punya nggak ada di tempat. Kita nunggu aja dulu nggak masalah, kan?" "Memangnya mbak nggak kirim pesan tadi?" "Udah. Cuma katanya lagi kena macet." Nisa berdeham. "Lagipula baju itu limited edition. Baju yang memang mau aku pakai untuk acara empat bulanan nanti." "Oh.." Selina terperangah. Dia baru tahu jika akan ada acara empat bulanan untuk Nisa. Ya, maklum saja. Ini adalah cucu pertama mertuanya. Mereka pasti san
Pemain pemula, maklum jika gerakan itu masih meraba-raba. Terasa kikuk dan serba salah seolah-olah mencari dimana titik yang tepat agar keduanya bisa mencapai klimaks.Selina merasa lega setelah Rama selesai dengan urusannya. Dia mendorong pelan bahu Rama hingga terjatuh ke sisinya. Pria
Rama melepaskan tangannya dari wajah Selina. Keduanya mendongak melihat pintu kamar yang digedor dengan hebat bak ingin dirobohkan. Sontak saja Rama dan Selina berdiri untuk mengetahui apa yang terjadi.Ceklek.Pintu kamar terbuka. Selina terkejut mendapati Aulia yang menangis t
Cincin sudah tersemat. Selina meraih tangan Rama dan menciuminya dengan takzim. Sekarang pria ini adalah imamnya. Tempat ia bergantung. Tempat ia mematuhkan diri dan berlindung. Rama tersenyum. Ia mengusap kepala Selina yang tertutup hijab. Pria ini menyentuhnya dan
Mata Rama bengkak dengan lingkaran hitam. Bukannya tertidur nyenyak semalam, Rama maalh tak bisa tidur.Begini rasanya ingin menikah? Detak jantung Rama berdegup tak karuan. Ia antusias tapi juga cemas.. bagaimana jika pernikahan hari ini berjalan tidak sesuai rencana?Semalaman







