LOGIN"Terima kasih sudah mengantar."
Selina menerima Aulia dari gendongan Rama ke dalam pelukannya. Anak kecil itu nampak tidur dengan nyenyak setelah puas bermain sepanjang hari ini."Ini simpan saja untukmu." Rama menyerahkan satu paper bag yang berisikan perhiasan."Kenapa aku yang simpan? Bukannya lebih baik kamu aja yang menyimpannya?" Tanya Selina."Kamu saja. Aku takut cincin pernikahan ini tercecer kalau aku yang simpan. Oh, ya.. desain undangan pernikah"Kamu lihat berita hari ini, mas? Adikmu menjadi terkenal karena skandalnya. Dia dituding menghamili Anggia dan meninggalkannya begitu saja demi menikahi Selina. Astaga!"Nisa tak tahu harus tertawa atau sedih. Ia putuskan untuk menggelengkan kepalanya saja."Sekarang kita tahu kenapa Rama terus menghindari perjodohan. Rupanya karena dia sudah berhubungan dengan Selina."Nisa lantas menoleh ke suaminya yang masih tak bergeming."Mas!" Nisa menyentuh lengan suaminya. "Kok diem aja sih?"Rangga menarik nafas kasar. "Aku nggak konsen, Nisa. Aku lagi sibuk mikirim masa depan perusahaan kita.""Memang ada masalah dengan bisnis kita, sayang?""Nggak ada. Aku keluar sebentar." Rangga bangun dari duduknya."Kamu mau kemana???" Tanya Nisa saat melihat Rangga hendak berlalu."Keluar sebentar.""Hmm.. padahal kamu baru pulang kerja." Nisa yang memprotes tak didengar oleh suaminya.Percuma Rangga
"Aku nggak mengerti maksudmu."Selina mengambil lagi putrinya yang terduduk di kursi tunggu dan memeluknya. Ia memutuskan keluar dari lobi rumah sakit untuk menyegat taksi yang lewat."Tunggu, Selina!" Aldi menahan lengan mantan istrinya.Selina menepis tangan Aldi dan memundurkan tubuhnya. Ia lalu menatap Aldi tajam."Alina akan ikut denganku sambil menunggu gugatan hak asuhku selesai.""Gugatan?" Dahi Selina mengernyit. Aldi sepertinya masih tertidur pulas hingga berbicara sembarangan. "Kamu bicara apa, mas? Aulia akan tetap ada padaku!""Tapi sebagai papa kandungnya aku sudah menggugatmu, Selina. Aku nggak mau putriku diasuh oleh wanita problematik sepertimu.""Aku nggak mengerti cara pikirmu, mas. Kamu yang bermasalah tapi kamu menuduhku problematik!" Selina mendengkus kesal.Aldi tersenyum miring dan mengambil ponselnya. Ia lalu menunjukkan berita terbaru pada Selina."Apa ini?" Selina terperangah
"Dimana suamimu?" Tanya Rama dengan rahang mengeras.Nisa yang sedang menata meja untuk makan malam langsung terkesiap. Ia tergagap melihat Rama yang menatapnya dengan penuh kemarahan."Rama.." tegur Mala."Suruh dia keluar dari kamarnya!" Ucap Rama meninggikan suaranya."Tenang, Rama." Taufan ikut menegur. "Rangga sedang keluar ke kantor. Sebentar lagi dia pulang.""Malam-malam ke kantor?" Rama menatap tak percaya."Sayang.. duduk dulu dan tenangkan dirimu." Ucap Mala lembut.Rama yang kesal menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang keluarga. Setelah melihat tayangan cctv di kantor polisit tadi dia jadi emosi.Mobil yang dipakai adalah miliknya. Tapi pria yang menemui Anggia adalah Rangga. Bukan dirinya.Mala dan Taufan yang mengawal kasus ini ikut memberikan kecurigaan yang sama. Rama dan Rangga memang mirip. Keduanya hanya tertaut usia 2 tahun saja. Tapi sebagai orang tua mereka bisa membedakan keduanya.
"Rama terjerat kasus?" Rangga terkejut bukan main saat mendengar selentingan gosip dari mulut istrinya."Iya, mas. Aku curi-curi dengar dari obrolan papa dan mama. Katanya keluarga Anggia itu mau nuntut Rama. Mereka nuduh Rama menghamili Anggia." Seloroh Nisa.Rangga yang syok terduduk di kursinya. Ia lalu memijit kepala itu pelan."Kenapa bisa begitu?""Katanya Anggia meninggalkan sebuah surat dan ada barang bukti yang menguatkan kalau Rama adalah pelaku pembunuhannya. Sebenarnya aku juga nggak percaya, tapi kita tinggal menunggu keaslian barang bukti itu aja.""Barang bukti apa itu?"Nisa menggeleng. "Aku juga nggak tahu, mas. Aku nggak berani nanya. Selama kamu pergi aku mematuhi ucapanmu untuk banyak diam di kamar dan nggak banyak bicara."Rangga tak menjawab ucapan istrinya. Ia masih terkejut dengan kabar yang baru saja di dengarnya. Bisa-bisanya Taufan dan Mala tidak menceritakan masalah ini padanya.Oleh
"Pa! Pa!"Wajah Aulia yang berbinar berubah merengek ketika Rama berjalan mendekat kepadanya. Anak cantik ini merentangkan tangannya agar dipeluk oleh Rama. Dengan sigap, Raka mengambil Aulia dalam pelukannya.Rama dan Aldi saling menatap sengit. Terutama Aldi yang sudah mengeras dengan nafas memburu. Emosinya sudah memuncak.Oh, sialan! Lihatlah bagaimana Rama berhasil memenangkan hati putrinya. Bahkan dengan lancang Rama berhasil mendapatkan panggilan Papa dari Aulia. Ia sudah maju satu langkah dengan mendorong Aldi dari posisinya."Kamu dokter, kan? Harusnya kamu tahu kalau harus mencuci tanganmu dulu sebelum menyentuh anak kecil!" Geram Aldi.Selina sampai menoleh. Hebat sekali Aldi mengajari ikan berenang di dalam air. Padahal Aldi saja tadi datang langsung menyentuh Aulia tanpa mencuci tangan terlebih dahulu."Tidak perlu memberitahuku, Aldi. Aku lebih pintar darimu." Sahut Rama dingin. Ia memupuk punggung Aulia dengan kasi
Selina yang panik langsung membawa Aulia ke rumah sakit saat itu juga. Dari hasil pemeriksaan lab, Aulia dinyatakan positif demam berdarah. Inilah sebabnya demam yang melanda anak ini tidak turun juga. Terlebih Aulia juga mengalami mimisan. Sangat berat hati, Selina harus menghubungi Aldi. Bagaimanapun Aulia ini masih putri pria itu. Aldi berhak tahu kondisi putrinya. Rama pun ikut menyusul ke rumah sakit dengan penuh penyesalan. Dia terlambat mengetahui jika putri tirinya sudah dibawa lebih dulu ke rumah sakit. "Maafkan aku, harusnya tadi siang kita langsung membawanya periksa darah." Rama menggerutui dirinya. Padahal demam Aulia sudah masuk hari ketiga, harusnya Rama melakukan pemeriksaan lanjutan pada anak ini. "Nggak apa-apa. Yang penting Aulia sudah ditangani." Sahut Selina menenangkan. "Aku sedang sibuk tadi jadi nggak lihat kalau kamu meneleponku." "Barang yang kamu cari sudah ketemu?"
Aldi sudah terhukum jika dia menyadarinya. Ia terpisah dari istrinya yang setia. Terpisah dari putri yang sudah membuka jendela hatinya.Aldi ingin marah, menuntut semua orang yang memisahkan dirinya dengan Selina dan Alina. Tapi apa Aldi masih memiliki hak akan itu? Sedangkan dia saja t
Rintik hujan mulai jatuh ke atas bumi. Awan hitam pekat. Hembusan angin kencang menerpa wajah Rama yang masih berdiam di tempatnya.Tatapan matanya begitu kosong. Teguran dari para manusia yang hulu hilir melewatinya, bahkan ada yang berani menyentuh bahunya sama sekali tak dihiraukan ol
"Semuanya dalam keadaan normal. Tidak ada masalah."Aldi terheran-heran akan keadaan anaknya. Padahal dia sudah terkejut setengah mati karena Alina mengalami demam. Tapi dokter Fiona bilang bahwa tak terjadi masalah pada anaknya."Tapi anak saya masih demam, dok.." ujar Aldi tak
"Apa boleh aku bertanya satu hal, mas?""Soal apa itu, sayang?""Waktu itu kamu marah sekali padaku.. kamu bilang aku bersekongkol dengan ayah dan ingin menuntut kami di pengadilan. Apa itu maksudnya?" Selina baru memiliki keberanian untuk menanyakan hal tersebut.Aldi







