Share

8

Author: princessa
last update publish date: 2023-06-17 06:56:04

Della sedang bersantai duduk di depan televisi sambil makan buah-buahan ketika suara ketukan pintu terdengar. Dengan enggan ia berteriak memanggil Imas yang nampaknya tak mendengar. 'Dasar pembantu bodoh, lagi ngapain sih. Lagian siapa sih yang datang siang siang gini, ganggu orang aja.' gerutunya dalam hati. Dengan langkah yang lesu bak orang yang sedang sakit, Della terpaksa membuka pintu karena Imas yang tak kunjung datang dan ketukan pintu yang tak jua berhenti.

"Lama amat sih bukain pintun
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   EPILOG - KESEMPATAN KEDUA

    Lima tahun telah berlalu sejak Kania mendapatkan kesempatan kedua dalam hidupnya.Rumah yang dahulu terasa seperti penjara kini dipenuhi suara tawa.Pagi itu, Kania berdiri di balkon lantai dua sambil memandangi halaman. Seorang anak perempuan kecil berlari mengejar kupu-kupu dengan rambut yang dikuncir dua. Sesekali terdengar suara tawa Cakra yang berusaha menangkap putri mereka sebelum gadis kecil itu berlari terlalu jauh."Mama! Lihat!"Kania tersenyum."Pelan-pelan, Sayang."Anak itu mengangkat seekor kupu-kupu yang hinggap di tangannya, lalu tertawa bahagia sebelum kupu-kupu tersebut kembali terbang.Kania memejamkan mata sejenak.Pemandangan sederhana itu seharusnya terasa biasa.Namun bagi Kania, itu adalah keajaiban.Dahulu ia pernah berdiri di tempat yang sama dengan hati yang hancur. Pernah menangis seorang diri karena kehilangan anaknya. Pernah berharap kematian segera datang karena ia tidak lagi sanggup menjalani hidup.Kini semuanya terasa begitu jauh."Nia."Suara Cakra

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   32

    Kebenaran terbesar akhirnya terbuka.Cakra secara tidak sengaja menemukan bukti bahwa ayah Della pernah mencoba mendekati Kania dengan cara yang tidak pantas.Ia langsung menghampiri Kania."Nia."Kania menatapnya."Apa?""Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?"Kania terdiam."Karena aku tahu Mas tidak akan percaya."Cakra menunduk."Aku akan percaya."Kania tersenyum pahit."Dalam kehidupan yang dulu, aku juga pernah berharap begitu."Cakra mengangkat wajah."Apa?"Kania terdiam.Ia hampir mengatakan semuanya.Tentang kehidupan pertama.Tentang kematiannya.Tentang bagaimana ia kembali.Namun ia belum siap.Cakra hanya bisa melihat air mata Kania."Aku minta maaf."Kania menggeleng."Jangan minta maaf karena sesuatu yang belum kau lakukan."Cakra menatapnya.Kalimat itu membuatnya semakin sadar bahwa Kania menyimpan rahasia yang jauh lebih besar.Waktu berlalu.Kehamilan Della semakin besar.Akhirnya hari kelahiran tiba.Della melahirkan seorang bayi laki-laki.Cakra datang ke rumah

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   31

    Malam itu Della meminta bicara dengan Cakra. Kania mengetahui percakapan itu akan terjadi. Ia tidak mendengarkan dari balik pintu. Tidak perlu. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan Della. Beberapa saat kemudian Cakra keluar dari ruangan. Wajahnya tampak serius."Nia."Kania menoleh."Ada apa?""Della bilang sesuatu."Kania diam.Cakra menarik napas."Dia hamil."Kania menatapnya.Dalam kehidupan pertama, kabar itu membuat dunianya runtuh.Sekarang?Kania hanya tersenyum."Selamat."Cakra terdiam."Kau tidak marah?""Kenapa aku harus marah?""Nia...""Kita bisa melakukan pemeriksaan kalau memang diperlukan."Cakra menatapnya."Kau percaya padaku?"Kania tersenyum tipis."Aku percaya kebenaran akan muncul."Kemudian ia pergi.Cakra masih berdiri di tempatnya.Ia tidak mengerti.Dahulu Kania akan menangis.Sekarang perempuan itu justru tenang.Dan untuk pertama kalinya, Cakra merasa takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum ia sadari sedang menjauh darinya.Kania tidak berniat langsung

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   30

    Gelap.Begitu gelap hingga Kania tidak tahu apakah dirinya masih hidup atau sudah benar-benar mati.Tubuhnya terasa ringan.Tidak ada rasa sakit.Tidak ada suara mesin rumah sakit.Tidak ada suara langkah kaki.Tidak ada suara Cakra.Hanya kesunyian.Kemudian sebuah tangisan bayi terdengar.Tangisan yang begitu kecil.Begitu jauh.Kania berusaha meraihnya."Anakku..."Tangannya bergerak, tetapi tidak menemukan apa pun."Maafkan Mama..."Air mata mengalir dari sudut matanya."Maaf..."Kemudian semuanya berubah menjadi cahaya.Kania tersentak bangun.Napasnya memburu.Ia langsung memegang dadanya.Matanya bergerak ke seluruh penjuru ruangan.Langit-langit putih.Tirai berwarna krem.Tempat tidur besar.Aroma parfum yang sangat ia kenal.Kania terdiam.Ini kamarnya.Kamar yang sudah lama tidak pernah ia lihat.Kania menunduk.Tangannya bergerak menyentuh perut.Datar.Tidak ada luka.Tidak ada darah.Tidak ada rasa sakit.Kania langsung bangkit dari tempat tidur.Ia berjalan menuju cermi

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   29

    Malam itu hujan turun begitu deras.Kania berdiri sendirian di depan jendela bungalow.Sudah tidak ada lagi gerakan kecil di dalam perutnya.Tidak ada lagi harapan.Tidak ada lagi alasan untuk menunggu pagi.Sejak kehilangan bayinya, Kania seperti kehilangan separuh jiwanya.Ia masih bernapas.Masih makan.Masih berjalan.Namun dirinya yang dulu sudah tidak ada.Tangannya menyentuh perut yang kini terasa begitu kosong."Maafkan Mama..."Air matanya jatuh."Seharusnya Mama bisa melindungimu."Kania menutup mata.Bayangan bayi yang tidak pernah sempat ia lihat kembali memenuhi pikirannya.Kemudian terdengar suara pintu dibuka.Cakra masuk.Kania tidak menoleh."Kan."Tidak ada jawaban.Cakra berjalan mendekat."Aku membawakan makanan.""Aku tidak lapar.""Kau belum makan sejak pagi.""Aku tidak lapar, Mas."Cakra menghela napas.Ia masih merasa bersalah sejak kejadian yang menyebabkan Kania kehilangan anak mereka.Namun rasa bersalah tidak pernah cukup untuk mengembalikan sesuatu yang t

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   28

    Malam itu hujan turun begitu deras.Kania berdiri sendirian di depan jendela bungalow.Sudah tidak ada lagi gerakan kecil di dalam perutnya.Tidak ada lagi harapan.Tidak ada lagi alasan untuk menunggu pagi.Sejak kehilangan bayinya, Kania seperti kehilangan separuh jiwanya.Ia masih bernapas.Masih makan.Masih berjalan.Namun dirinya yang dulu sudah tidak ada.Tangannya menyentuh perut yang kini terasa begitu kosong."Maafkan Mama..."Air matanya jatuh."Seharusnya Mama bisa melindungimu."Kania menutup mata.Bayangan bayi yang tidak pernah sempat ia lihat kembali memenuhi pikirannya.Kemudian terdengar suara pintu dibuka.Cakra masuk.Kania tidak menoleh."Nia."Tidak ada jawaban.Cakra berjalan mendekat."Aku membawakan makanan.""Aku tidak lapar.""Kau belum makan sejak pagi.""Aku tidak lapar, Mas."Cakra menghela napas.Ia masih merasa bersalah sejak kejadian yang menyebabkan Kania kehilangan anak mereka.Namun rasa bersalah tidak pernah cukup untuk mengembalikan sesuatu yang t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status